เข้าสู่ระบบKarena kesalah pahaman yang terjadi akhirnya aku dinikahi dengan seorang pria lumpuh berparas tampan. Pria yang berhasil membuatku jatuh hati bersamaan dengan kekurangan yang ada padanya. Namun disebabkan oleh pernikahan itu, hidupku yang awalnya aman dan tenang kini berubah drastis, setiap hari aku harus menerima setiap hinaan serta cacian mertua dan iparku, ditambah lagi perlakuan mereka yang tidak pernah memanusiakan aku. Bingung harus mengadu pada siapa, aku hanya gadis miskin, buruk rupa yang datang dari kampung, aku merupakan wanita sebatang kara itu sebabnya mau tidak mau aku harus tetap bertahan dengan pernikahan ini. Walau pun duri-duri penderitaan terus menghujam dengan tajam, namun aku yakin bahwa penderitaanku akan menemui titik akhir. Ya, seperti yang aku katakan semua penderitaan akan berakhir, itulah yang aku harapkan saat mengetahui bahwa suamiku ternyata hanya berpura-pura lumpuh untuk menjalankan satu misi rahasia. Lantas apa yang terjadi dalam lika-liku perjalanan rumah tanggaku?
ดูเพิ่มเติม"Allison! Allison!! Allison!!!" Nellie called, snapping me out of my reverie.
"Huh? Sorry, what were you saying? I kinda got distracted," I answered, glancing at her.
Rolling her eyes, she said "No kidding. Do you know how many times I called you? What were you even-" she paused as she turned to look behind her and shook her head.
"Now I get it! Pretty Boy just walked in," she teased.
"Nellie! I've told you to quit calling him that," I reprimanded with mock horror.
"Well he is pretty and you of all people know it," she answered laughing while I simply shook my head at her good-naturedly.
My eyes darted to the figure who stood only a few metres away from Nellie and I, surrounded by a flock of girls as usual. Watching as one of the girls seductively placed her hand on his arm, I could feel a twinge in my chest.
Derris Fox or Pretty Boy as Nellie called him was the golden boy here at Ridgeway Academy. Born with a silver spoon in his mouth, he'd gained instant fame as well after getting a role on the hit TV series, ‘Back From Juvie’ when he was six.
Now eighteen and incredibly hot, he'd found his place in the entertainment industry (and in the heart of every girl, young and old) as an actor, model and musician.
Needless to say, Derris was awesome. And then there was me.
I've had a crush on Derris since the day I first saw him and overtime, my feelings progressed into love. When I was twelve, I was lucky enough to be admitted into Ridgeway Academy after passing the scholarship exams. Coincidentally, it was also the school Derris attended.
I've been Derris’ classmate for almost six years now and he's never once noticed me. Not like I'd blame him though. He always has girls hanging around him and I'm definitely not his type.
Seventeen, five foot four with my long red hair being my only distinctive feature, I've managed to attract the attention of literally nobody. So it's really not Derris’ fault.
He has the heart of literally every girl in school and me? I'm just your totally normal average high school geek, with no outstanding features whatsoever, who has a mega crush on America's golden boy.
You see, nothing special there. Besides, Derris only hangs out with rich tall beautiful leggy blondes and unfortunately, I'm neither of those things. Still, a girl can dream right?
"Allie, you zoned off again!" Nellie groaned and I sheepishly glanced back at her.
"Sorry, Nel," I answered with a pout.
"Whatever!" she rolled her eyes as she leaned against her locker.
"You know, you should totally go talk to him."
"Yeah right. Why would I do that?"
"Um, let's see. One, you've had a crush on him…for like forever. Two, he's standing right there. And three, I'm totally sick of this."
"Sick of what exactly?" I arched my eyebrow at her.
"This, you. You're always putting yourself down. No matter I tell you how beautiful you are, you don't believe me. You think you're ugly because you don't look like them," she pointed towards the girls flocking around Derris. "Allison, listen to me. You're beautiful just the way you are. Now, you need to talk to him."
"I can't do that.
"Why not?"
"I can't do it, Nellie. I mean, look at him and look at me. He'll probably make fun of me. I-I can't!"
Nellie sighed. "Whatever you say, Allie. I should probably get going. Mrs. Randall said she wanted to talk to me before class started."
"Okay. See you."
"Later, Allie," she said with a wave before heading in the direction of the Art class.
As Iwatched her go, I shook my head and sighed. Nellie would probably never understand how I felt. Then again, how would she? She was much taller than me, had the most beautiful strawberry blonde hair and had parents who were well off. She had everything it took to be popular in Ridgeway but still chose to hang out with me, a poor lonely nerd.
She was the best friend that I could ever ask for but there were some things that even she could never understand.
I sighed again before turning my attention back to Derris who was still talking to the girls.
If only he would just look at me, just once...
Oh well, not all wishes come true I guess.
I grabbed what I needed for my next class from my locker and closed it. Noticing that my shoelaces had come loose, I bent to tie them when the bell suddenly rang startling me.
Uh oh! I have History next and the teacher, Mr. Jones is very strict.
Taking a glance at my shoelaces and back at my wrist watch, I decided my shoes could wait. I couldn't risk getting detention.
I rose to my feet and started walking quickly in the direction of the History class. In my haste, I accidentally tripped on one of my loose shoelaces and soon found myself falling.
Closing my eyes as I waited for the pain I was about to feel, I found myself opening them when I felt someone's hands grip my waist. My cheeks instantly reddened.
Twirling around to see who saved me and possibly thank them, I let out a gasp as I realized that my saviour was none other than DERRIS FOX!!!
SUAMIKU PURA-PURA LUMPUH UNTUK MEMBALAS IBUNYA (11)"Saya bahkan tidak pernah lumpuh.""Lalu selama ini?" Mas Zain mendekat, ia berdiri di depanku membuat aku harus mendinggakkan wajah ini sedikit agar bisa melihat pahatan wajah tampan itu."Terimakasih." Satu kata yang keluar dari mulutnya membuat air mata yang sejak tadi kutahan keluar jaga. Dia memelukku dengan sebelah tangan kekarnya mencoba mengelus rambut ini dan mengecupnya beberapa kali.Sungguh! Aku sedang tidak bermimpi, bagaikan rumahku yang hancur utuh kembali. Aku merasa bahwa perjuanganku selama ini tidak sia-sia.Tangisanku semakin pecah, bahkan aku mulai sesegukan, bayangkan saja, sudah lama aku tahan semua air mata ini akhirnya berhasil kutumpahkan di dada bidang seseorang yang membuatku bertahan sampai sekarang."Apa kau begitu menderita selama ini?" tanya pria itu. Aku hanya diam tidak merespon, masih nyaman berlama-lama berada di dalam peluknya."Bahkan kau tidak bisa menghentikan tangismu." Mendengar hal itu tang
SUAMIKU PURA-PURA LUMPUH UNTUK MEMBALAS IBUNYA (10)"Apa ibu ingin aku putar sekarang, di sini terdapat pengakuan ibu mengenai rencana jahat dan perlakuan-perlakuan kejam ibu."***"Shanti, kenapa kau diam saja ayo jawab," kak Dewi mengoyangkan tubuhku membuat aku tersadar dari lamunan, tenyata sejak tadi aku hanya melamun. Lagi pula aku tidak akan berani mengatakan semua itu, aku takut di usir dari rumah ini, nanti aku mau tinggal di mana, di tambah lagi Mas Zain yang sangat membutuhkan aku."Kenapa? Kak?" tanyaku bingung, jujur aku tidak mendengar ucapannya tadi."Apa pipimu sakit akibat tamparan tadi?" tanya wanita itu, dan aku hanya menggelengkan kepalaku pelan."Kau tidak perlu takut, aku bisa melaporkan dia juga, ah sepertinya menyenangkan jika Tania juga ikut masuk penjara!" jelas Kak Dewi."Dewi! Berani sekali kau!""Tidak mengapa kak, aku baik-baik saja," aku mencoba meyakinkan membuat Kak Dewi tersenyum sinis."Dasar wanita bodoh," katanya sambil memukul kepalaku pelan."Ah
SUAMIKU PURA-PURA LUMPUH UNTUK MEMBALAS IBUNYA (9) "Itu untuk siapa Buk," tanyaku saat ibu membuka pintu kamar dengan samangkuk bubur berada di tangannya."Ini untuk Zain!" jawabnya lalu menyerahkan nampan itu di tanganku."Tolong dihabiskan," katanya lalu pergi.Aku menatap Mas Zain cukup lama sedangkan dia hanya diam saja."Kenapa?" "Ibu ingin membunuhmu, Mas!" "Apa maksudmu?"Aku menghela napas pelan kemudian berjalan ke arah pintu dan menutup rapat-rapat.Setelah itu aku kembali mendekati Mas Zain dan menunjukkan sebuah rekaman."Mungkin kau akan lebih percaya ini dari pada ucapanku," kataku yang mulai memutar rekaman itu perlahan.Rekaman itu hanya berdurasi 10Menit, itu sebabnya aku tidak perlu susah payah untuk menunggu dan menjelaskan langsung pada Mas Zain. Ini sudah cukup menjawab.Ketika pelahan demi perlahan rahasia terdengar di balik rekaman itu, Aku bisa melihat perubahan wajahnya yang sedikit lebih tegang. Rahangnya mulai mengeras dengan mulut terkatup rapat-rapat.
SUAMIKU PURA-PURA LUMPUH UNTUK MEMBALAS IBUNYA (8)"Kau bisa racuni makanannya, buat seolah-olah Si buruk rupa yang melakukan itu, bukankah selama ini dia yang memberi makan Zain? Jadi kurasa wanita buruk rupa itu cocok dijadikan kambing hitam."Tubuhku bergetar sangat hebat saat mendengar pembicaraan dua orang di dalam sana. Mengapa mudah sekali kata-kata itu keluar dari mulutnya, seolah menghabisi nyawa seseorang itu bukanlah perkara besar."Kau benar, mengapa selama ini aku tidak kepikiran, ya?" Ibu malah bertanya sedemikian rupa bukannya membantah.Oh, tuhan, ternyata selama ini aku hidup bersama dengan manusia yang kejam. Tidak salah ibu membenci Mas Zain, akan tetapi menjadi salah ketika ibu berniat membunuhnya.Padahal, pria itu tidak tahu sama sekali apa yang telah terjadi padanya selama ini, dia pikir ibu adalah ibu kandungnya. Bagaimana caranya aku menceritakan semua ini pada Mas Zain?Aku menjauh dari depan pintu kamar ibu, dari jauh aku melihat Clara. Ternyata wanita itu s


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม