Mag-log inPolisi baru saja pergi, dan Simon berjanji akan ikut bersama mereka ke kantor polisi besok sebelum meninggalkan tempat itu. Yessica tidak bisa menahan rasa terima kasih kepadanya. Simon telah mencegah Hendar melakukan sesuatu yang lebih parah. "Dia pasti akan menemukanku sendirian pada suatu saat. Aku cuma ragu." Yessica tersenyum kepada Marlin untuk menunjukkan bahwa dia tidak menyalahkannya. Mereka sedang berusaha membantu Intan. Bicara soal Intan. "Di mana Intan?" "Dia pergi sama cowok bernama Agung itu. Katanya semuanya baik-baik saja." Marlin melirik Andree dengan gugup. Mungkin dia khawatir dengan perasaan Andree terhadap Intan. "Dia bilang ada cowok yang ingin dibuatnya cemburu." Mata cokelat Andree bertemu dengan mata Yessica. "Aku dan dia datang ke acara ini cuma sebagai kencan pura-pura." Yessica menarik napas dalam-dalam saat tekanan di dadanya mulai menghilang. Yessica menyukai Intan, tetapi Intan
Mata Kairo bertemu dengan mata Andree. Mereka sepemikiran. Yessica adalah gadis mereka. "Tunjukkan tempat terakhir kamu melihatnya." Stefan meraih lengan Marlin. Marlin membawa mereka ke tempat terakhir kali dia melihat Yessica. "Marlin, coba periksa toilet wanita, untuk berjaga-jaga." Stefan menghela napas dan mengusap rambutnya. Andree yakin mereka semua merasakan firasat buruk yang sama. Stefan mengarahkan mereka untuk berpencar. Andree hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak memanggil nama Yessica saat berlari melewati lorong-lorong gelap. Saat berbelok di tikungan, seseorang menabraknya sampai dia hampir jatuh. "Lihat lihat kalau jalan!" Pria itu terhuyung ke samping lalu terus berjalan. Terdengar erangan lemah dari sudut lorong. Jantung Andree terasa seperti akan meledak dari dadanya saat dia berlari ke sana. "Tidak apa-apa," kata sebuah suara. S
Marlin ingin menyahut dan mendukungnya, tetapi Agung melangkah maju. Saat menatap Intan, bahkan Marlin ikut merinding. Itu bukan tatapan biasa seperti seseorang yang hanya ingin menyingkirkan orang lain. Mata Agung terlihat penuh gairah dan Marlin ikut merasakan panasnya."Sayang, kamu tidak seharusnya berada di sini.""Aku berhak berada di sini.""Benar." Dia meletakkan tangan di bahu Intan dan tubuh Intan gemetar di bawah sentuhannya. "Biar aku antar kamu pulang. Aku yakin temanmu akan memberi tahu teman kencanmu ke mana kamu pergi. Ayo."Tangan Agung turun untuk meraih tangan Intan. Marlin sebenarnya tidak datang untuk menjadi pengganggu mereka, tetapi sekarang dia rela jadi tumbal. Ya, silakan. Marlin tidak tahu apa yang Agung rencanakan terhadap Intan, tetapi apa pun itu pasti lebih baik daripada situasi yang sedang terjadi di pesta dansa ini."Kamu sebaiknya pergi," bisik Marlin sambil mendorong pelan pria Viking seks
Darah Yessica terasa dingin. Gaun itu. Foto-foto itu. Provokasi-provokasi itu. Senyumnya terlihat jahat saat matanya bertemu dengan mata Yessica."Aku melihat kamu menggoda cowok-cowok itu. Tepat di depanku, sengaja mengujiku. Kamu bahkan mau memberikan dirimu kepada cowok mana pun, kecuali aku. Bukan kepada dosenmu."Yessica mengangkat lutut, tetapi Hendar memiringkan pinggulnya agar Yessica meleset dari selangkangannya. Dengan tangan yang lain, Hendar mencengkeram leher Yessica dan menambah sedikit tekanan. Cukup untuk membuatnya tidak bisa bergerak.Jantung Yessica berpacu. Dia melihat ke sekeliling, berharap menemukan seseorang, tetapi seperti di apartemen, dia sendirian dan tidak berdaya."Aku sudah menduga kamu jalang, tapi baru setelah melihat kamu mengisap rudal cowok itu, aku sadar seberapa besar keinginanmu." Jari-jari Hendar melonggarkan cengkeramannya di leher Yessica. "Kamu begitu bernafsu pada rudalnya dan juga bercinta dengannya. Ak
"Aku suka banget lagu ini!" teriak Intan agar suaranya terdengar di tengah musik.Mereka berada di lantai dansa dalam lingkaran kecil, sementara Gresellda duduk di meja dengan wajah seperti baru saja memakan sesuatu yang asam. Yessica berusaha bersikap ramah dan tersenyum kepadanya, tetapi tatapannya kembali ke pintu tempat para pria tadi menghilang.Mereka sedang membicarakan apa? Apakah Tentang pertunangan antara Kairo dan Yessica? Karena itu konyol. Seluruh konsepnya memang konyol. Mereka baru saling mengenal selama beberapa minggu.Bahkan Monalisse sempat mengira Yessica mungkin hamil dan itu satu-satunya alasan seseorang seperti Kairo mau menikahi perempuan seperti dirinya. Tentu saja, itu satu-satunya alasan yang masuk akal. Bukan karena Yessica adalah cinta dalam hidupnya seperti yang diklaim Kairo. Dan itu membuat Jantung Yessica berdegup kencang. Ini benar-benar berantakan."Kalau kamu mau menghampiri mereka, aku bisa mengantarmu," kata Marlin sambil mendekat ke telinganya.
"Apa yang terjadi?" Andree tampak menjadi orang yang paling tidak terguncang oleh perkembangan ini. Pikiran Stefan berputar mencari alasannya. Andree ingin mengklaim Yessica sebagai miliknya. Sekarang Kairo menaikkan taruhannya dengan mengaku bahwa dia dan Yessica sudah bertunangan."Aku bilang kepada Monalisse bahwa Yessica adalah tunanganku." Kairo berbalik, memasukkan kedua tangan ke saku, lalu menyandarkan bahunya ke tiang seolah tidak ada satu pun masalah di dunia ini. "Setelah itu, aku bilang kepada Roma.""Anjing, Kairo!" Kata-kata itu keluar dari mulut Stefan sebelum sempat ditahan. Andree dan Giancha mengangkat sebelah alis mendengar nada suara Stefan. Namun, Stefan tidak bisa menahan diri. "Kamu mikir apa?""Monalisse ingin balikan, sama seperti Gresellda ingin kembali sama kamu." Kairo mengangkat bahu. "Jadi, daripada ngajak jalang itu kencan, aku menempatkan dia di tempatnya."Sindirannya menghantam perut Stefan."Kamu bercanda, kan?" Stefan berdiri. Kedua tangannya mengep
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Sambil duduk tepat di tengah ruangan, Yesica berusaha menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Perasaannya aneh. Padahal jelas-jelas ia sendirian di sana. Semua pintu kantor tertutup rapat, kecuali pintu milik Giancha. Yesica menyilangkan kaki dan menyelesaikan formulir terakhirnya. Ia bersandar di kursi
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
Bagaimana caranya agar tetap tenang kalau ternyata ia benar-benar mendapatkan pekerjaan ini? "Kami ingin menawarkan posisi ini untuk masa percobaan, mulai hari Senin. Apa kamu masih bersedia?" Suaranya lembut namun berwibawa, bergetar di pendengaran Yesica dengan cara yang sangat menggoda. "Tent







