分享

Bab 6

作者: Dinwa
last update publish date: 2026-06-15 17:26:08

Aku tersenyum tipis. Marie masuk dengan langkah ragu, tangannya gemetar saat memegang nampan teh. "Nona... ada banyak kiriman hadiah di bawah. Dan... Duke Montague kembali datang. Beliau terlihat sangat mengerikan."

​"Biarkan dia menunggu. Kirim dulu surat ini lewat kurir resmi istana agar semua orang tahu bahwa aku, Lavinia Whitmore, yang membuang Duke itu sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun," kataku tenang.

Setelah membiarkannya menunggu selama dua jam di aula bawah, aku akhirn
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 7

    ​Begitu pintu aula agung dibuka, suasana berubah menjadi mencekam. Seluruh bangsawan Kekaisaran Blackwood berdiri di sana, namun atmosfernya seolah membeku saat aku melangkah masuk dengan menggandeng lengan Putra Mahkota. Gaun merah darah yang kukenakan sengaja menyingkap bagian punggung, tempat tato mawar hitam itu berada yang sekarang tampak sedikit bercahaya di bawah kulit porselenku akibat suhu tubuh yang mencapai 38.7°C. ​Mataku langsung terjatuh pada sosok di sudut aula. Alaric Montague. Ia berdiri kaku, wajahnya yang rupawan tampak hancur saat melihatku. Di sampingnya, berdiri sosok yang membuat sistemku berdenyut aneh. Vincent Valerius. ​Vincent adalah pria dengan identitas yang rumit. Di mata publik, dia adalah tangan kanan kepercayaan Alaric Montague. Namun, sebagai Lavinia yang didukung sistem dan pernah membaca novelnya, aku tahu kebenaran yang lebih dalam bahwa Vincent adalah ‘Bayangan Kerajaan’ yang merupakan pengawas rahasia yang ditugaskan langsung oleh Kaisar u

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 6

    Aku tersenyum tipis. Marie masuk dengan langkah ragu, tangannya gemetar saat memegang nampan teh. "Nona... ada banyak kiriman hadiah di bawah. Dan... Duke Montague kembali datang. Beliau terlihat sangat mengerikan." ​"Biarkan dia menunggu. Kirim dulu surat ini lewat kurir resmi istana agar semua orang tahu bahwa aku, Lavinia Whitmore, yang membuang Duke itu sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun," kataku tenang. Setelah membiarkannya menunggu selama dua jam di aula bawah, aku akhirnya turun. Alaric Montague berdiri di sana, masih dengan wajah hancur seperti semalam, namun kali ini ia tampak lebih putus asa. "Lavinia! Aku sudah menerima surat itu dan aku merobeknya!" Alaric melangkah maju, mencoba mencengkeram tanganku, namun aku mundur dengan anggun. "Aku tahu aku telah menjadi bajingan. Aku tahu aku telah menyakitimu demi wanita yang ternyata hanya menggunakan aku. Tapi tolong... beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan mengusir Clarissa, aku akan melakukan apa pun!"

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 5

    Malam itu benar-benar menjadi titik balik yang tak terelakkan. Di dalam kereta kuda kerajaan yang berlambang singa emas, suasana terasa jauh lebih menyesakkan daripada di aula pesta yang riuh tadi. Bukan karena udara yang sempit, tapi karena aura Putra Mahkota Adrian Blackwood yang duduk di hadapanku terasa begitu mendominasi, seolah-olah ia sedang mengklaim setiap inci oksigen yang aku hirup.​Adrian melepaskan kancing teratas seragam militernya dengan kasar, tampak berusaha mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Efek berada di dekatku saat kutukanku sedang aktif ternyata mulai memengaruhi dia juga. Meskipun dia memiliki energi sihir yang kuat, gairah yang terpancar dari mawar hitam di bahuku bukanlah sesuatu yang bisa ditepis dengan mudah oleh logika ksatria mana pun.​"kamu benar-benar berbahaya, Lavinia," suara Adrian pecah dalam kesunyian kereta yang bergerak dinamis. Mata birunya yang tajam menatapku, seolah sedang menelanjangi semua rencana yang ada di kepala kecilku.

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 4

    Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut bawahku, sebuah paket misterius tiba di depan pintu kamar.​Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah botol kecil berbahan kristal berisi cairan perak yang berkilau seperti serpihan bintang yang dicairkan. Di bawah botol itu, terselip sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas:​"Untuk meredam panasmu malam ini, Mawar Kecil. Jangan sampai kamu pingsan sebelum dansa pertama dimulai."​Aku menghirup aroma kertasnya. Bau kayu cendana dan sihir yang dingin seperti aroma yang sama dengan yang kuhirup di dalam kereta Adrian kemarin. Aku tersenyum tipis. Ternyata sang Putra Mahkota jauh lebih perhatian, atau mungkin jauh lebih posesif,

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 3

    Di dalam kereta, aku menghela napas panjang. "Itu tadi sangat dramatis, Yang Mulia."​Adrian tidak langsung menjawab. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pinggangku, lalu menatapku dengan senyum miring yang terlihat sangat kekanakan namun berbahaya.​"Kamu benar-benar wanita yang merepotkan, Lavinia," gumamnya. "Tapi kurasa, aku mulai menyukai kerepotan ini."​Aku tersenyum puas. Satu target sudah masuk perangkap. Sekarang tinggal menunggu ulang tahunku yang ke-18.Rahasia kutukan ini belum sepenuhnya tuntas, dan aku tahu, malam itu akan menjadi malam yang jauh lebih liar dari jamuan makan siang ini.***Kereta kuda Putra Mahkota akhirnya berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Whitmore. Adrian tidak langsung melepaskanku.Ia menatapku lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus membiarkanku pergi atau membawaku sekalian ke istananya.​"Istirahatlah, Lavi

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 2

    Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar nafsu; ini adalah rasa lapar yang menyakitkan.​"Lavinia? Hei, jawab aku! Kamu sakit?"​Suara Adrian Blackwood terdengar tepat di atas kepalaku. Tangannya yang kuat menahan pinggangku agar tidak merosot ke tanah.Aroma tubuhnya campuran antara sandalwood dan udara musim dingin yang masuk ke indra penciumanku, memberikan kelegaan sesaat yang memabukkan.​Aku mendongak pelan. Mata biru laut Adrian tampak sangat jernih di bawah sinar matahari sore. Dia tampan, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki ekspresi yang sedikit polos, jika memperhatikannya cukup lama.​"Yang Mulia..." bisikku, sengaja membiarkan suaraku terdeng

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status