LOGINMila termangu mendapatkan pertanyaan darinya. Istri dari Saka itu tengah menginjak ujung jurang yang bisa membuat wanita itu dengan mudah jatuh jika tidak segera dia tarik kembali. Namun Bejo berharap dengan apa yang dia sampaikan membuat Mila paham dan tak tergiur dengan penawaran itu. "Iya ya, Jo. Kalau memang Tama mengkhianati Mas Saka yang sudah bertahun-tahun menjadikannya tangan kanan, bisa jadi menusukku juga. Tidak mungkin Tama mengatakan itu tanpa tujuan." Mila memejamkan kedua mata sedangkan dia menyeringai mendengar apa yang Mila sampaikan. Tanpa banyak menjelaskan Mila sudah paham apa yang ia maksud. "Tidak usah dipikirkan lagi! Ini saya bawakan makanan buatan Bibi dan juga sabun-sabun milik Nyonya siapa tau mau mandi." "Makasih banyak ya, Jo. Udah bayar rumah sakit? Tadi kamu pulang ada Mas Saka nggak?" tanya Mila dan Bejo menganggukkan kepala. "Ada Tuan tadi, Nya. Cuma ya gitu, Tuan sibuk dan nggak bisa datang katanya. Mungkin besok atau lusa. Jika tidak
"Nyonya kecapekan, stress juga, hingga membuat kondisi tubuh Nyonya lemah. Saya tidak menghubungi Tuan karena semalam panik dan tidak sempat membawa hape juga dompet." "Sudah bisa pulang? Saya tidak bisa ke rumah sakit. Kalau di rumah masih bisa melihat tetapi kalau sudah di sana, saya tidak bisa mampir karena ada meeting penting hari ini." "Baik, nanti saya akan sampaikan pada Nyonya. Kebetulan Nyonya menanyakan anda dan mencari anda. Kalau untuk kepulangan Nyonya, saya belum tau." "Katakan saja saya sibuk!" sahut Saka hingga Bibi yang ada di sana nampak tercengang mendengar jawaban dari sang majikan. Terlihat Saka pun segera pergi dari hadapan mereka dan Bejo tersenyum getir mendapati itu. "Sekarang paham 'kan Bi? Masih mau membela Tuan?" tanyanya dan Bibi menganggukkan kepala. "Iya ya, Jo. Ya ampun padahal Nyonya sakit tapi Tuan nggak ada panik-paniknya sama sekali. Bibi yang mendengar Nyonya sakit aja agak syok. Ini kok sama sekali nggak ada tanggapan apa-apa. Tuan tuh
"Pasien mengalami keguguran di usia kandungan yang memasuki empat minggu. Ini disebabkan karena pasien terlalu stres atau terjadinya kelainan pada janin." DEG Bejo menarik nafas dalam mendengar apa yang dokter sampaikan. Jadi.... Bejo sampai sulit membuka suara, bibirnya kelu untuk berucap dan mendadak sulit menelan salivanya. Entah kenapa, ada sudut hatinya yang merasa gagal saat mendengar ini. Gagal menjaga, gagal membahagiakan, gagal membuat Mila bahagia walaupun di dalamnya akan ada kehancuran yang wanita itu Terima saat kedapatan bukan mengandung anak Saka. "Saya harap saat menyampaikan pada pasien nanti lebih hati-hati dan pelan-pelan saja karena mental pasien sedang down saat ini. Kalau begitu, silahkan selesaikan administrasinya agar pasien bisa segera dipindahkan ke ruang rawat inap!" "Baik, Dok." Masih basah, bukan hanya pakaiannya saja tetapi juga hatinya mendadak seperti tersiram air hingga ikut kedinginan. Bejo kembali menarik nafas dalam dan memijit peli
Bejo menghela nafas panjang setelah menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi. Dia diam menatap pohon yang bergoyang disapu oleh angin malam yang kencang. Sssrrrppp.... Akh.... Seruputan panjang begitu sangat nikmat terasa kala kopi buatannya sudah melewati tenggorokan. Manis, pahit, seperti hidupnya yang terkadang manis dan terkadang seperti memakan barang brotowali. Hanya saja memang dia tak pernah mengeluhkan apapun. Satu puntung rokok menemaninya. Jarang-jarang memang dan itu menandakan kalau beban di kapalanya yang harus dia pikirkan cukup besar. Bejo menyandarkan tubuhnya di dinding samping rumah. Setiap sesapan nikotin yang masuk ke dalam mulut dan keluar melintasi hidungnya begitu sangat dia nikmati sampai dimana rintik hujan tiba-tiba turun membasahi bumi. "Tumben hujan, udah lama banget padahal nggak ujan. Wangi banget lagi," gumamnya. Cuaca semakin syahdu tetapi lama-lama tak bisa kalau dia tetap di sana. Bulir air yang jatuh mengenai kakinya membuat dia m
"Kamu tuh bicara apa sih, Jo? Air mata aku langsung surut tau nggak denger kamu ngomong begitu." Mila mengusap air mata seraya menatapnya dengan sangat kesal. Wanita itu pun nampak tak suka dengan pertanyaannya mengenai Bapak mertua. "Lagian sedihnya beda aja. Terus selesai ngomongin Bapak mertua. Eh kejer banget. Apa nggak pikirannya kemana-mana saya, Nya." "Nggak benget pertanyaan kamu!" sahut Mila kemudian menarik diri darinya. Namun Bejo santai saja menaggapi itu. Bejo mengusap air mata Mila membantu wanita itu menyurut kesedihan. Itu yang sebenarnya menjadi tujuan Bejo juga. Selain memang asal bertanya, Bejo juga tidak ingin Mila larut dalam kesedihan. "Apa masih sakit bokongnya, Nya?" tanyanya dengan sangat perhatian sekali. "Lumayan sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Makasih ya, Jo." "Sama-sama." "Tapi aku nggak habis pikir, segitunya Mamah sama aku. Sedih tapi lebih ke benci sama beliau." "Bukannya bagus ya, Nya? Siapa tau setelah ini Nyonya bisa hamil." "Ta
"Mamah kenapa, Pah?" "Sakit perut. Keracunan makanan, lagian apa-apa nggak dilihat dulu. Main makan aja," jawab Papah sarkas sekali membuat Mamah berdecak lirih mendengar itu. Saka melirik Mamahnya tetapi ditahan oleh Papah. Langkah Saka pun terhenti kemudian menoleh pada Papah dan mundur agar tak terdengar Mamah. "Ada apa, Pah?" "Kenapa langsung ke sini? Kenapa nggak pulang ke rumah Istrimu? Apa kamu sudah melihat bagaimana keadaannya? Dia pulang dalam keadaan yang lemah dan wajah yang pucat. Papah hubungi sejak tadi tetapi tidak ada jawaban dari Mila." Terlihat gurat kekhawatiran dari wajah papah yang begitu nyata dan Saka hanya menghela nafas berat melihat itu. Saka diam tak menanggapi dan itu membuat papah berlaku tegas pada putra beliau. "Kamu itu kalau sudah tidak suka, maka lepaskan! Jangan kamu buat Mila menderita! Papah lihat kamu itu sama sekali tidak perhatian lagi dengan istrimu. Kamu tuh maunya apa, Saka? Kasihan Mila, Saka!" "Hanya sedikit ada masalah r
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







