로그인"Kok ada giniannya sich, Jo?" bisik Mila di telinganya yang membuat dia mengulum senyum mendengar itu. Mana tau kalau ada gituannya. Dia yang menghindari hal seperti ini di film romance malah disuguhkan lebih dari apa yang ada di kepalanya. "Hanya untuk pemanis saja, Nyonya." Memang benar, ini merupakan alur dari film walaupun menampilkan tokoh wanita sampai bertelanjang tetapi setelahnya dilanjut dengan alur lain yang mendukung cerita. "Ikh kamu mah! Udah serem, ada beginiannya juga. Sengaja banget 'kan kamu, Jo?" sahut Mila dan Bejo terkekeh mendengar itu. "Kalau tau ada begininya juga saya mah lebih baik mengajak Nyonya nonton film dua kembar yang lucu di rumah. Yang dari jaman ke jaman TK aja nggak lulus-lulus." "Kamu juga ngaruh?" "Iya lah, Nyonya. Normal saya juga. Udah bangun ini, tapi nggak terlalu. Udah ganti kok. Aman!" jawabnya dan kembali fokus dengan film yang mereka tonton saat ini. Posisi Mila masih sama, masih bersembunyi di pundaknya. Namun hal
"Saya aja yang bayar, Jo. Jangan kamu!" Mila menyentuh tangannya menahannya saat hendak membayar. Pergerakan itu sampai menarik perhatian Mbak-mbak yang menjaga meja kasir. Padahal sejak tadi arah mata wanita berseragam itu sesekali memperhatikannya tetapi saat Mila mengatakan demikian, cewek itu auto menoleh ke arah Mila juga. Mungkin dalam hati, cewek itu mulai melihat keserasian mereka. Namun menangkap sesuatu yang berbeda. Mila terlihat lebih dewasa dan dia dengan style anak kuliahan. Bejo mengenakan kemeja sebagai luaran dan kaos hitam di dalamnya. Dia seperti tengah mengajak nonton kakaknya. Tidak tau saja kalau yang ia bawa adalah istri dari majikannya. "Saya aja, Nyonya. Tenang! Nggak akan menghabiskan uang di rekening saya kok, Nyonya. Abis gajian nich! Masih gendut banget," jawabnya santai dan Mila menggelengkan kepala mendengar itu. "Kalau kamu yang bayar, kamu rugi, Jo! Kamu tuh lagi ngerjain tugas dari Mas Saka dan kesini juga karena ajakan dari saya. M
Dia melirik pada kaca spion. Bejo sadar dirinya seperti tengah dipantau. Dia pun mempercepat laju kendaraannya hingga mobil yang ia bawa sedikit berjarak dengan mobil yang diduga mengikutinya. "Kayaknya dia tau kalau lagi kita pantau, Tuan." "Nggak masalah kalau memang tujuannya ke toko roti. Memang itu yang saya inginkan. Istri saya tengah merajuk dan ini yang saya mau. Bejo ada di samping Mila agar bisa masuk lebih cepat." "Maaf Tuan, tapi kalau misal Bejo tidak bisa, kenapa tidak digantikan saja?" "Maksudmu digantikan denganmu? Kamu suka dengan istri saya?" tanya Saka dengan kedua mata menyelidik. "Bukan begitu Tuan, karena memang belum ada hasil. Lebih baik diganti dari pada Tuan juga berharap terus." "Belum waktunya, saya masih percaya sama dia," kata Saka membungkam mulut asistennya. Bejo pun sudah sampai di depan toko roti. Dia melirik kaca spion untuk kembali melihat mobil yang mengikutinya. Dilihat-lihat mobil itu benar-benar sudah tidak ada. Bejo seger
"Apa sich Bejo tuh? Nggak jelas benget! Aku coba panggil Bejo, Bejo, Bejo, nggak mungkin juga dia langsung bisa datang. Memang suka sekali bercanda." Mila meletakkan kembali ponselnya di atas meja kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kerja. Diam Mila memikirkan semuanya. Memikirkan tentang hubungan dengan Saka, Bejo dan para orang tua. "Bagaimana kabar Ayah? Kenapa tidak pernah menghubungi aku?" gumam Mila kemudian beranjak dari sana. Mila kembali bekerja, kembali mengecek bagian produksi dan juga penjualan sampai dimana bertemu dengan seseorang yang cukup dikenal, tapi tidak akrab. Teman lama saat mereka masih sama-sama bekerja di salah satu perusahaan yang kini sudah gulung tikar. Hanya saja saat Mila hendak menyapa, wanita itu seperti cuek padahal tau keberadaannya. Mila pun memilih untuk menjauh dan mengecek laporan penjualan di kasir. "Ini aja Mbak." "Baik." Mile melirik wanita yang diduga temannya tetapi terlihat serius sekali dengan ponsel yang dipegan
Bejo masuk ke dalam mobil setelah Mila duduk di kursi penumpang. Sengaja dia tidak bertanya dan mengajak bicara. Bejo hanya memperhatikan Mila dari kaca yang sengaja dia arahkan pada wajah wanita itu seraya membawa mobil yang dikemudikannya pergi dari sana. Tadi pembicaraan Saka tidak mendapatkan balasan dari Mila. Mila segera pamit setelah dia menjawab dengan patuh perintah dari majikannya tersebut. Rupanya wanita itu melanjutkan aksi diam dan sama sekali tidak membahas pembicaraan dengan Saka tadi. Padahal biasanya Mila akan mengeluh atau kesal hingga membuat wanita itu mengutarakan banyak sekali rencana. Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil terasa hening. Sesekali dia melirik lagi dan mengecek ke belakang. Bejo melihat Mila hanya melamun memperhatikan jalan dengan mata yang terlihat banyak beban. Tahan-tahan! Bejo tetap tak bertanya atau menegur masalah apapun pada wanita itu sampai dimana mobil sudah memasuki area toko roti. Dengan cekatan, Bejo segera turun
"Atau mau tidur dengan Bejo?" Kedua alis Mila menukik mendengar pertanyaan dari Saka. Begitu pun dengan dia yang kini menajamkan indera pendengarannya di tempat yang aman dari pandangan Saka juga Mila. "Anggap saja ini adalah permintaan maafku padamu, Sayang. Aku tau kamu tidak mungkin mau tidur denganku. Aku paham kamu masih marah tapi perjanjian kita untuk Bejo dan tugasnya untuk kita belum berakhir." Mila membuang muka setelah mendengar apa yang Saka katakan. "Aku pastikan kamu akan menyesal melakukan ini, Mas," kata Mila dengan suara lirih penuh penekanan. "Tidak ada yang membuatku menyesal, Sayang. Ini sebuah solusi bagi rumah tangga kita. Aku memang salah tapi lebih salah kalau tidak ada usaha. Yang penting satu, aku setia sama kamu." "Terserah kamu, Mas! Yang penting aku sudah mengingatkan. Selebihnya, bukan lagi urusanku!" kata Mila yang kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar tanpa memikirkan adanya Saka di sana. Tidak perduli mungkin Mila akan ma
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t







