تسجيل الدخولBukan Bejo namanya kalau tidak bisa menaklukkan majikannya. Bejo mendorong Mila ke ranjang hingga tubuh wanita itu terhempas. Kedua mata Mila terperanjat. Tubuh itu begitu ringan terjatuh tanpa ada perhitungan. Namun semua sudah Bejo perkirakan tanpa ada keluhan bagi Mila. Hanya sedikit terkejut tak menjadi masalah. Bejo menyeringai mengkukung tubuh Mila yang basah. Bahkan pakaiannya pun sudah ikut basah tetapi Bejo tidak memperdulikan itu. Mila memandang dengan kedua mata penuh tanya padanya. "Jo..." "Tidak perlu lagi bertanya hal yang sepele, Nyonya! Bukankah sebelumnya kita sudah pernah membahas yang lebih serius? Apa yang saya mau Nyonya sudah tau. Ringan tapi seriusan. Jangan membuat saya tertawa dengan pertanyaan yang tidak perlu lagi ditanyakan!" "Jo nanti kalau Mas Saka ke sini bagaimana?" "Sekarang khawatir Tuan tau?" Kedua alis Bejo terangkat dan jengah dengan pertanyaan itu. "Ya kamu juga yang kena, Jo!" jawab Mila terdengar geregetan padanya. "CK, jangan
"Mila ini lama sekali? Bejo juga kabur kemana lagi? Kebiasaan kalau sedang dibutuhkan tidak standby!" oceh Saka yang masih kerepotan menutupi air, memegang gagang shower yang masih bergejolak kencang. Repot Saka sampai misuh-misuh. Mana penutup air sudah Saka tutup tadi setelah mandi. Jadinya menggenang kalau tidak segera dibuka. Sementara yang ditunggu-tunggu sedang menikmati majikannya yang datang dengan pakaian basah. "Nyonya tidak sadar kalau sudah memikirkan dia? Nyonya turun dengan tubuh yang basah. Bagaimana kalau sampai ada tamu yang tiba-tiba datang dan melihat? Mata saya yang terbiasa saja masih berbinar bagaimana orang lain? Sadarlah kalau tubuh Nyonya terlalu indah untuk dipamerkan!" "Bodoh! Kenapa aku memikirkan dia? Harusnya biarkan saja ya, Jo! Dia jahat sama aku. Susah sedikit saja, aku pikirkan sampai lari-larian. Untung aku tidak jatuh tadi. Ya ampun! Aku sampai tidak memilkirkan apapun yang membahayakan. Benar katamu, aku rugi kalau sampai dilihat orang l
"Mas aku mau mandi. Aku gerah sekali dan aku baru saja pulang dari rumah sakit. Tubuhku kotor. Bagaimana bisa aku membuka kaki dan membiarkan milikku kamu nikmati. Ini sangat tidak enak, Mas. Belum aku bersihkan." Mila berkelit, memberikan alasan agar tidak dimakan oleh Saka. Andaikan milik Mila berkedut meminta tetapi itu bukan pada Saka. Mila sudah memiliki seseorang yang mampu memberikan kepuasan tanpa menyakiti badan dan mental. "Kalau begitu bagaimana jika sambil mandi? Kita bersihkan dulu dan aku akan memakannya Sayang. Lidahku sudah tidak tahan ingin menyapa daging kenyalmu ini," kata Saka seraya mengusap milik Mila dengan gemas hingga Mila meringis mendapati itu. "Mas bisa pelan nggak? Jangan begini!" kata Mila dan Saka terkekeh mendengar ucapan dari wanita itu. "Aku terlalu bersemangat, Sayang. Makanya aku terlalu kencang mungkin bagimu. Maaf ya, Sayang." Saka mengecup pipi Mila lagi dan mengangkat tubuh Mila hingga kedua kaki melingkar di pinggul pria itu. Kedu
"Nggak dong, Nya! Ampun!" Bejo memberikan kedua jarinya pada Mila. Amsyong kalau sampai dipotong. Lagian bukannya malah membuat Mila kehilangan kenikmatan. "Kalau dipotong nanti nggak bisa desah-dedah manja malah repot urusannya, Nyonya!" kata Bejo lagi dan Mila berdecak kesal menanggapi. "Lagian kamu tuh! Udah sana masuk kamar! Aku mau naik dulu." "Siaaaaap!" Bejo menjawab dengan irama hingga Mila menggelengkan kepala. Mereka masuk kamar masing-masing. Tentu saja Bejo tidak membiarkan Mila begitu saja, dia akan memantau apa yang tengah Mila lakukan. Kedua mata melihat pergerakan Mila yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. "Mas..." "Sayang. Kamu baru sampai?" tanya Saka yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk menutupi bagian pinggul saja. "Iya, aku menginap di rumah sakit." "Kamu pasti tidak bisa tidur semalam." Saka mendekati kemudian memeluk tubuh Mila. Wanita itu hanya diam tanpa membalas dan membebaskan Saka melakukan apapun tanpa Mila menyerta
"Tugasnya adalah urus, bantu, dan lindungi. Paham!" perintah Mila pada seorang wanita yang sudah Bejo tunjuk untuk merawat ayah. Bejo merapikan ruangan. Kalau dibilang rajin, tentu saja Bejo rajin. Bahkan sejak tadi Mila sampai melarangnya untuk melakukan ini dan itu. Dia berpikir kalau tidak mungkin meninggalkan tempat ini dalam keadaan yang berantakan. Sampai tempat tidur yang Mila gunakan semalam pun Bejo rapikan lagi. Sekarang wanita itu tengah bicara dengan orang yang akan diberi kepercayaan untuk menjaga ayah. Mila juga sedang menyuapi ayah terlebih dahulu dan memberikan beliau obat. "Dia orang kepercayaan saya! Kamu harus tau siapa yang kamu patuhi selain saya dan Ayah. Apapun yang dia sampaikan, juga harus kamu kerjakan!" perintah Mila dan wanita yang tengah mengenakan seragam perawat tersebut menoleh pada Bejo. "Benar kan, Jo?" tanya Mila dan Bejo memberikan ibu jarinya. "Begitu saja! Kalau ada yang ingin datang selain saya dan juga Nyonya, jangan kamu boleh
"Memang Tuan seharusnya seperti itu dengan Bejo. Jangan terlalu dikasih hati! Bejo akan semakin ngelunjak dan bisa jadi merebut Nyonya kalau Tuan beri kesempatan terus." "Diam kamu, Tama! Tidak perlu banyak memberikan masukan untuk saya! Saya tau apa yang harus saya lakukan. Adanya Bejo bisa membahagiakan Mila dan itu juga bisa membuat Mila bertahan dengan saya. Lagian juga Bejo bisa diandalkan. Saya sendiri percaya dengannya. Ini hanya sedikit gertakan agar dia ingat dan tetap pada koridor yang saya buat." "Tuan terlalu percaya pada Bejo." "Karena kamu sudah pernah ingin merebut Mila dari saya, Tama!" sahut Saka kembali mengingat. Hal itu sepertinya sudah menjadi noda merah di mata Saka yang tidak bisa ditolerir. "Maaf Tuan, saya tidak ada niat seperti itu." "Simpan saja kata maafmu, Tama! Berani kamu membongkar apapun yang kamu tau tentang saya, bukan hanya kamu yang hancur tapi keluargamu satu pun tidak akan tersisa. Kamu tentu tau siapa saya. Apapun bisa saya dapatka
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







