แชร์

Bab 471 Disandera

ผู้เขียน: Sora Archery
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-08 18:55:13

“Ternyata benar dugaan saya selama ini. Pak Bimo tidak mungkin hanya manusia biasa! Lihat saja ukuran keperkasaannya itu sangat besar, tebal, panjang dan berurat!” celetuk Bu RT.

Para warga langsung terdiam syok saat mendengar perkataan Bu RT. Terutama Pak RT kecuali teman geng sosialitanya.

“Bu! Ibu ngomong apa toh?! Kok Ibu tau ukuran punya Pak Bimo?! Apa jangan-jangan Ibu selingkuh dengan dia?!” tuduh Pak RT dengan wajah merah padam.

Bu RT seketika memucat dan langsung menggelengkan kepala
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (14)
goodnovel comment avatar
Iin Ratna
Bimo, kamu tau sndri Darsono itu licik
goodnovel comment avatar
Iin Ratna
coba kamu panggil datuk utk membntu mu bumi
goodnovel comment avatar
Iin Ratna
tenangkan diri mu Bimo. jgn smpe kamu berubah menjadi monster di depan warga
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 554 Gak Tahan Mau Nyoblos

    “Hompimpa alaium gambreng!” seru mereka serentak seraya mengibaskan tangan masing-masing.Hasilnya, Kakek Sugi keluar sebagai pemenang dengan posisi telapak tangan yang berbeda sendiri.“Ahahaha! Rezeki memang tidak pernah tertukar! Kakek duluan ya!” seru Kakek Sugi dengan wajah berseri-seri, melangkah maju menghampiri wanita cantik dan montok tadi, sebut saja namanya Susan. Si gondrong dan si cupu hanya bisa cemberut iri melihat si Kakek yang mendapatkan pelayan plus-plus dari Susan.Yang lainnya terus melakukan hompimpa. Sampai akhirnya Bimo mendapatkan giliran kedua, si gondrong dapat giliran ketiga, dan si cupu malah mendapatkan giliran paling akhir.Si gondrong ketawa cekikikan saat mengetahui si cupu dapat giliran paling apes.”Ahahahaha, biasanya yang paling akhir itu gak enak. Becek ahahahaha!!” Si cupu hanya bisa diam dan tidak menghiraukan perkataan si gondrong.Sementara itu Kakek Sugi buru-buru menurunkan celananya, memperlihatkan senjata kebanggaannya yang cukup besar di

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 553 Reward Wanita Cantik dan Montok

    Si cupu membeku di tempatnya. Kedua mata pria itu terbelalak saat merasakan lendir berbau amis jatuh di dahinya. Rahang transparan bayi semut itu bergetar pelan, mengeluarkan suara geraman tepat beberapa sentimeter dari dada si cupu.KRRR….KRRR…KRRR …Bimo langsung berhenti berlari dan perlahan menoleh ke belakang saat mendengar si cupu menginjak cangkang telur semut raksasa itu. Tangannya mengisyaratkan agar si cupu tidak bergerak sama sekali dan menahan nafas sejenak.Gas berwarna hijau mulai turun menyerupai kabut tebal, mengaburkan jarak pandang dan menyengat mata mereka hingga terasa sangat perih. Waktu di layar tablet yang ada genggaman Si Gondrong terus berkedip merah dan menunjukkan waktu tersisa.00:00:42Beberapa bayi semut yang terkena paparan awal gas hijau itu mulai bertingkah aneh. Mereka mengerang dan kejang, lalu mengibaskan sungutnya secara agresif karena racun yang mulai merusak sistem saraf mereka.SREK! Seekor bayi semut yang mengalami kejang mendadak menabrak

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 552 Gas Beracun

    Tubuhnya seketika bergidik ngeri saat melihat pemandangan mengerikan di depan matanya. Bau cairan ketuban yang amis dan menyengat langsung menyapu indra penciuman mereka. Si cupu nyaris ingin muntah namun pria itu menahannya sekuat mungkin. Terlihat sungut kecil kepala semut yang berlendir dan terus bergerak-gerak dari balik telur yang sudah retak. Meski ukurannya belum sebesar semut dewasa, anak-anak semut yang baru menetas itu masih setinggi dada manusia, dengan rahang capit yang tajam dan tembus pandang. “M-mereka menetas…” ucap si cupu seraya mundur beberapa langkah ke belakang hingga punggungnya menabrak dinding batu. “Jangan bergerak!” peringat Bimo seraya menahan bahu si cupu. “Cairan ketuban mereka masih basah. Pandangan dan pendengaran mereka belum sempurna!” KRAK! KRAK! KRAK! Puluhan telur lain retak secara bersamaan di depan jalan keluar lorong. Lusinan monster kecil yang kelaparan itu mulai merayap melintasi genangan lendir dan bergerak acak tanpa arah. Satu-satuny

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 551 Ribuan Telur Inkubasi

    “Ayo keluar sekarang!” ajak Bimo setengah berbisik. “T-tapi lewat mana?! Saat ini kita benar-benar terkepung di segala arah!” tanya si cupu mulai terisak, kedua kakinya bergetar dan sampai terkencing-kencing di celana karena ketakutan.“Kita akan melewati lorong sempit di sebelah kanan tebing!” tunjuk Bimo ke arah celah gelap di antara bebatuan, tempat itu tidak masuk di dalam denah tablet.“Semut raksasa itu tidak akan bisa masuk ke sana tanpa menghancurkan dinding batu. Itu satu-satunya akses agar kita dapat mengulur waktu!” tambah Bimo.“Bimo! Senjatanya!” si gondrong mengambil senjata api dari kotak pasokan lalu menyodorkannya ke tangan Bimo.”Apa kamu mengerti cara memakainya?”“Tenang, aku bisa melakukannya,” Bimo menerima senjata itu dan memeriksa dua butir amunisi yang tersisa di dalamnya. BUM! Dinding batu di belakang mereka tiba-tiba bergetar. Debu tanah dan runtuhan kerikil merosot menimpa kepala Kakek Sugi. Di balik lorong belakang yang gelap, samar-samar terlihat mon

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 550 Terkepung

    “Baiklah Bim! Cepat katakan apa yang harus aku lakukan! Aku tidak mau menjadi santapan semut raksasa itu!” bisik si gondrong dengan nafas terengah-engah dan bercucuran keringat.Bimo melirik ke sekeliling celah batu tempat mereka bersembunyi. Di dekat kakinya, ada beberapa bongkahan batu seukuran kepalan tangan. Ide brilian tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.“Semut itu bisa melihat dengan mata seperti kita, makhluk itu dapat merespons getaran dan bau,” bisik Bimo pelan pada si gondrong, si cupu dan teman-temannya yang lain.”Lihat anak buah Big Dragon disana. Kita akan memanfaatkan mereka untuk dijadikan umpan.”Bimo mengambil dua buah batu, lalu menyerahkan satu ke tangan si gondrong.“Saat aku bilang lemparkan, lempar batu itu setinggi mungkin ke arah dinding gundukan tanah tepat di atas kepala dua anak buah Big Dragon. Jangan sampai mengenai mereka, cukup buat bunyi ketukan keras di dinding tanah tersebut,”instruksi Bimo.Si gondrong mengangguk mengerti, tangannya menggenggam batu

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 549 Sarang Semut Raksasa

    “A-apa ini? Itu rumah semut raksasa?!” pekik si gondrong seraya mengucek-ngucek kedua matanya tak percaya.Terlihat banyak sarang semut raksasa berdiri kokoh di sekitar mereka, menjulang tinggi hampir menyentuh langit-langit gua bawah tanah—mungkin setinggi Menara Eiffel di Paris. Dinding-dinding sarang dari gundukan tanah merah itu tampak berlubang di berbagai sisi, mengeluarkan bau tanah basah yang menusuk indra penciuman mereka.Dari balik lubang-lubang besar itu, terdengar suara gesekan berisik yang saling bersahutan.Krek... Krek... Krek…“Suara apa itu?!” tanya si gondrong seraya memegang erat lengannya Bimo dengan tubuh bergetar ketakutan.Suara dengung speaker dari langit-langit gua tiba-tiba menggema keras, menghentikan kepanikan para tahanan yang masih terpaku menatap gundukan sarang raksasa di depan mereka.“Selamat datang di arena Quartell Game di hari pertama kalian,” sapa Bu Maya terdengar bergema di seluruh penjuru ruang bawah tanah. “Area ini adalah Kubah Nest-9. Satu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status