LOGINEthan berdiri mematung di samping tempat tidur dengan raut wajah yang menggelap total. Tatapan matanya terkunci rapat pada wajah Tiffany yang masih memucat di balik selimut tebal rumah sakit. Suasana di dalam ruang perawatan privat itu mendadak hening membeku, hanya diselingi oleh bunyi desis tipis dari saluran pendingin udara dan ritme lambat alat pemantau detak jantung di sudut ruangan.Tiffany mengepalkan kedua tangannya di bawah lipatan kain selimut, merasakan sapuan hawa dingin yang kian menusuk hingga ke tulang.Suara rendah suaminya yang tadi mengulangi kata kontrak masih bergema nyaring di dalam kepalanya, memicu rasa bersalah yang amat besar sekaligus ketakutan yang tak mampu ia jelaskan. Ia melihat bagaimana dada tegap Ethan naik turun meluapkan napas berat, menahan gelombang amarah dan kekecewaan yang bergejolak hebat di balik jas mewahnya."Kamu pikir selama lima tahun ini aku cuma menganggapmu sebagai barang pajangan di dalam rumahku?" desik Ethan dengan suara serak y
Senyum di wajah Ethan sirna seketika.Binar kebahagiaan yang beberapa detik lalu memancar begitu terang di sepasang mata obsidian milik pria itu mendadak luntur tanpa sisa, tergantikan oleh pekatnya kegelapan emosi yang teramat dingin. Garis-garis rahangnya yang sempat melunak kembali menegang keras, mengatup rapat hingga otot di pelipisnya bertaut tajam. Hawa hangat yang memenuhi ruang rawat privat itu menguap begitu saja, berganti ketegangan mencekam yang membuat udara terasa sangat berat untuk dihirup.Dia menatap Tiffany dengan tajam.Tatapan itu begitu menghujam, memancar langsung dari kedalaman jiwanya yang mendadak terluka oleh ucapan singkat dari bibir sang istri. Ethan membeku di tempat duduknya, tidak menggerakkan satu otot pun sewaktu kata-kata mengenai sisa masa kontrak lima tahun itu mengudara di antara mereka. Pria itu menatap wanita yang terbaring di atas ranjang dengan raut ketidakpercayaan yang amat sangat, seolah baru saja dihantam oleh kenyataan paling pahit di
Genggaman hangat telapak tangan Ethan yang membebat tangannya terasa begitu nyata, menyalurkan getaran emosi yang teramat dalam di dalam ruang rawat yang sunyi. Namun, alih-alih larut dalam luapan kebahagiaan yang dipancarkan oleh suaminya, benak Tiffany justru makin dipenuhi oleh gelombang keraguan yang membendung seluruh rasa sukanya. Matanya tetap tertuju pada tautan kedua tangan mereka di atas selimut putih, memperhatikan bagaimana kulit jemarinya yang pucat begitu kontras dengan warna kulit Ethan yang hangat.Rasa mual di perutnya memang sudah mereda secara drastis setelah tim medis memasukkan obat pereda nyeri melalui selang infus.Namun, kejujuran bahwa ada kehidupan baru berusia lima minggu yang tumbuh di dalam rahimnya membuat kepala Tiffany mendadak pening luar biasa. Bayang-bayang masa depan yang tadinya tersusun amat rapi di dalam otaknya kini mendadak berantakan tanpa arah. Satu demi satu pertanyaan besar mulai berdatangan, menghantam ketenangannya dengan daya rusak ya
Ethan melangkah melewati pintu geser yang terbuka lebar, membiarkan keheningan ruang perawatan privat membungkus seluruh indranya secara perlahan. Bunyi ritmis monitor detak jantung yang berdetik halus di sudut ruangan menjadi satu-satunya suara yang membelah kesunyian malam. Hawa dingin dari pendingin udara terasa berembus tipis, membawa wangi antiseptik lembut yang melebur bersama aroma wewangian khas milik istrinya.Pria itu menghentikan langkahnya sejenak di tepi tirai putih yang tersingkap, menatap sosok wanita yang terbaring di atas ranjang RS dengan dada berdebar kencang.Tiffany terbaring kaku di bawah selimut tebal warna putih bersih, tubuhnya yang ramping tampak begitu ringkih di tengah luasnya tempat tidur. Selang infus terpasang rapi di punggung tangan kirinya, meneteskan cairan bening yang bekerja mengembalikan kesegaran fisiknya. Wajah cantiknya tak lagi sepucat saat berada di lobi pesta tadi, namun sisa-sisa kelelahan hebat masih terukir samar di sekitar matanya.Et
Ethan mematung seketika di tengah lorong ubin putih yang dingin.Tangan kanannya yang tadinya mencengkeram kerah baju sang dokter kini terlepas begitu saja, tergantung kaku di udara sebelum akhirnya terkulai lemah di samping tubuh tegapnya. Kata-kata dokter senior itu bergetar hebat di dalam kepala Ethan, menggema berulang-ulang tanpa jeda hingga meruntuhkan seluruh dominasi dan wibawa yang biasa ia pamerkan di depan publik. Kalimat sederhana itu menghantam kesadaran sang tiran bisnis dengan daya rusak yang jauh lebih dahsyat daripada kejutan mana pun di dunia finansial.Informasi itu seolah ribuan volt listrik yang menghantam otaknya secara mendadak.Napas Ethan tertahan rapat di tenggorokan, membuat dadanya yang bidang membeku tanpa ada pergerakan sedikit pun. Pandangan matanya yang tajam bagaikan elang kini mendadak kehilangan fokus, menatap kosong ke arah wajah dokter senior di depannya. Pria yang tidak pernah gentar menghadapi gertakan musuh-musuhnya itu mendadak terlihat lua
Derap langkah kaki Ethan yang membentur ubin putih lorong UGD mendadak terhenti saat pintu geser di depannya berbunyi klik pelan. Seolah-olah waktu ditarik kencang, perhatian Ethan terhisap sepenuhnya ke arah celah pintu yang perlahan terbuka. Hawa dingin dari dalam ruang penanganan menyembur keluar, membawa aroma antiseptik yang tajam dan menusuk hidung.Sesosok pria berjas putih panjang yang merupakan dokter senior sekaligus rekan sejawat Tiffany melangkah keluar dengan raut wajah santai.Dokter senior itu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menarik napas dalam-dalam lalu memasang senyum lebar yang sangat cerah. Tidak ada riak kecemasan atau raut panik sedikit pun yang terpancar dari wajah pria paruh baya berkacamata tebal tersebut. Sikap santai dokter itu berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan hawa ketegangan mematikan yang menyelimuti seluruh lorong sejak tadi.Melihat senyuman lebar itu, bukannya merasa tenang, napas Ethan justru makin terengah ol
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas







