เข้าสู่ระบบRuangan itu mendadak sunyi setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kini Linira. Dokter menatap hasil pemeriksaannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Dia benar-benar hamil, para Nyonya.” Linira yang sejak tadi duduk dengan wajah tegang langsung mengangkat kepala. “Apa? Apa yang aku katakan barusan?” Dokter mengangguk lalu melanjutkan, “Usia kehamilannya masih sangat muda, kira-kira dua minggu. Di usia ini, kondisi sangat rawan sehingga perlu dijaga dengan baik.” Kedelapan istri Jude saling berpandangan, tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka akan mendengar kabar seperti itu meskipun kehamilan itu sudah mereka dengar. Linira justru terlihat sangat bahagia. Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri. “Aku benar-benar hamil...” Senyumnya muncul. “Anak Tuan Jude.” wajah Linira terlihat benar-benar bahagia, merasa yakin kalau keberadaan anak itu akan menyelamatkan dirinya. Ia menatap para istri Jude dengan keyakinan yang mulai tumbuh k
Linira menatap Jude dengan wajah kosong. “Jadi... sejak awal kau hanya sok baik? Kau cuma ingin bermain denganku?” Jude kembali menatap sinis dan berkata, “Memangnya perempuan sepertu pantasnya dianggap apa? Sejak awal kau memang sudah menargetkan ku, Kenapa pura-pura jadi korban sekarang? Kau tidak pikir aku ini bodoh sampai tidak tahu niatmu sejak awal?” Seluruh tubuh Linira limbung. Tangannya terkepal erat gemetar, baru menyadari kalau sejak awal dialah yang begitu banyak berhalusinasi. Sudah tidak ada lagi yang bisa dia katakan, apapun yang keluar dari mulut Jude selalu memojokkan dirinya. Linira akhirnya keluar dari balai keadilan dengan langkah yang terasa begitu berat. Di tangannya terdapat surat peringatan yang baru saja diberikan kepadanya, sudah ada tanda tangannya juga. Satu lembar kertas saja, namun bagi Linira, benda itu terasa begitu berat. Namanya kini tercatat dalam daftar pelanggaran dan perbuatan tidak baik yang pernah dilakukannya, bukan cuma sekali s
Wajah Jude seketika berubah. Ia sudah mendengar sebelumnya bahwa penginapan tersebut sedang diperiksa karena menerima banyak laporan mengenai perjudian dan perselingkuhan yang mulai meresahkan. “Ini benar-benar celaka!” Tanpa banyak berpikir, Jude segera mengenakan pakaiannya yang untungnya tidak sulit. Linira yang masih berada di kamar menatapnya dengan bingung. “Tuan Jude, tunggu aku!” “Tidak bisa. Aku harus pergi sekarang.” “Tapi aku belum selesai bersiap, tunggu sebentar!” Jude tidak menjawab, ia langsung keluar melalui pintu belakang yang biasa digunakan para tamu untuk menghindari perhatian. Linira pun membeku. “Tuan Jude!” Pria itu benar-benar pergi meninggalkannya sendirian. Linira menatap pakaian yang masih berantakan di sekelilingnya, tatapannya panik dan bingung. Mengenakan semuanya dengan cepat bukan perkara mudah. Beberapa bagian pakaiannya memiliki banyak lapisan dan pengikat yang cukup rumit. Sementara suara langkah para petugas semakin mende
“Ibu...” Linira menatap Ailin. “Apakah kita bunuh saja Suran dengan tangan kita sendiri menggunakan nama pelayan itu?” Ailin langsung melotot. “Jangan gila. Kau jangan pura-pura tidak tahu kalau orang-orang yang kita bayar sebelumnya terutama para pelayan di kediaman ini sudah bukan lagi orang-orang kita, semuanya berpihak pada Suran. Kalau kita membunuh dia, ataupun jika dia mati bukan karena kita, pada akhirnya kita yang akan celaka.” Linira membuang nafas kasarnya. “Aku sudah benar-benar muak menghadapi Suran. Belakangan ini dia makin sok jago, makin sombong hanya karena dia pewaris sah. Aku tidak mau mengalah terus, aku harus cepat singkirkan dia.” Ailin memijat pelipisnya. Dia sendiri juga merasakan yang sama, tapi sekarang mereka benar-benar tidak bisa banyak melakukan apa yang mereka inginkan. Langkah mereka seolah bisa ditebak oleh Suran, semuanya selalu berakhir gagal. Awalnya dia pikir karena Wulien, tapi ternyata Wulien juga hanya mengikuti semua yang dikatakan S
Malam itu, meja makan Kediaman Hideria dipenuhi berbagai hidangan yang sesuai selera Suran. Gadis itu duduk di tempat biasanya. Di sisi lain meja, Ailin dan Linira juga berada di sana, mau tidak mau ikut makan meski tidak selera. Keduanya terlihat tenang. Namun di balik wajah yang dibuat seolah tidak terjadi apa-apa, mereka menyembunyikan senyum yang penuh harapan. Malam ini seharusnya menjadi akhir hidup bagi Suran. Seorang pelayan baru berjalan mendekat sambil membawa hidangan utama. Tangannya sedikit gemetar. “Nona, hidangan malam sudah siap.” Suran menatap makanan tersebut, kemudian pandangannya berpindah kepada pelayan itu. Wajah wanita itu tampak pucat, keringat dingin terlihat di dahinya. Tentu sama karena gugup dan takut. Suran tersenyum lembut. “Letakkan di sini saja.” Pelayan itu pun menurut. Ailin menundukkan wajah agar senyumnya tidak terlihat, Linira bahkan sempat melirik sejenak pada ibunya. Mereka hanya perlu menunggu beberapa jam lagi, Suran
“Kau... kenapa? Apa ada yang terjadi?” yang Suran, tatapan matanya menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar. Rey menghela nafasnya, mencoba untuk tersenyum meskipun Suran belum tentu akan menyadarinya. “Aku harus pergi,” jawab Rey, suaranya benar-benar berat seolah menggambarkan betapa seriusnya situasi yang sedang dihadapinya sekarang. “Pergi ke mana? Terjadi sesuatu? Butuh bantuan dari Hideria?” tanya Suran, semakin paham bagaimana harus bersikap. Rey sontak menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku akan menghadapi ini sendiri. Aku tidak bisa mengatakan apapun, tapi akan lebih baik kalau keluarganya Hideria tidak terlibat sedikitpun.” Mendengar itu, Suran pun terdiam. Tentu saja dia ingin bertanya lebih banyak lagi, lebih detail, tapi dia juga sadar tidak boleh melakukan itu. Rey tidak mau mengatakannya, lantas apa halnya memaksa untuk bicara? Suran mencengkram tangannya sendiri yang bertautan, menatap dengan tatapan yang mendalam. “Rey, pergilah jika itu diperlukan.







