MasukDavien terdiam sejenak. Pikiran dan jiwanya bergejolak. Petualangannya di dunia modern—mulai dari membalas dendam keluarganya, menundukkan Kelompok Pembunuh Bayangan, hingga mendirikan Surgawi Medika—kini telah mencapai puncaknya. Jika segel dimensi runtuh, semua yang telah dia bangun akan hancur dilindas oleh kekuatan praktisi dari Gunung Terlarang.Davien menatap Orang Nomor Satu dan Jenderal Haryo dengan raut mantap. "Baik. Aku menerima tugas ini. Aku akan pergi ke Dimensi Gunung Terlarang dan merebut Kristal Inti Meteorit Utama itu!" katanya dengan tegas. Orang Nomor Satu berdiri dari kursinya, lalu membungkukkan badannya sedikit sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari kepala negara. "Terima kasih, Davien. Atas nama Republik Valthoria, keselamatan masa depan negeri ini ada di tanganmu."Tiga hari kemudian.Di perbatasan bukit terisolasi Distrik Selatan, sebuah celah pusaran energi spiritual berwarna keperakan membumbung tinggi di antara dua tebing batu raksasa—Gerbang Pemba
Malam merayap makin pekat menyelimuti permukaan Ibu Kota Qivara. Di balik kemudi kendaraan, Argus mengarahkan mobil SUV hitam membelah kawasan terlarang Distrik Pusat, memasuki kompleks berpenjagaan berlapis yang dikelilingi tembok beton tebal bersensor energi.Gedung Nomor Satu.Bangunan bergaya neoklasik yang tampak anggun namun menyimpan nuansa amat dingin itu berdiri megah di pusat komando nasional. Setiap sepuluh meter, prajurit bersenjata khusus dan praktisi berseragam hitam berdiri siaga penuh, mengawasi setiap pergerakan yang melintas.Davien melangkah keluar dari mobil, didampingi Samuel dan Argus yang tetap berada di area pelataran luar sesuai prosedur protokol keamanan. Seorang perwira berpangkat Kolonel membungkuk hormat, mengarahkan Davien menuju ruang rapat tertutup di lantai paling atas.TOK! TOK!Pintu jati berukir lambang negara dibuka dari dalam.Davien melangkah masuk ke dalam aula rapat berkarpet merah tebal. Di tengah ruangan yang luas dan temaram itu, berdiri
Tiba-tiba, rasa hangat dari hawa murni yang sejak tadi menopang tubuhnya surut drastis secara mendadak. Karena terlalu memaksakan diri—ditambah paksaan memanggil energi Kitab Inti Surgawi—membuat meridian di sekujur tubuhnya serasa terbakar.Pandangan Davien mengabur. Kesadarannya goyah, dan tubuhnya mendadak lemas tak bertulang, ambruk miring ke arah tanah kawah yang berbatu.WUSHH!Sebuah bayangan jubah putih keabu-abuan melesat cepat ke dalam kawah. Tetua Yuda, yang baru saja menata kembali sisa energi di dalam tubuhnya, bergerak cepat menahan bahu Davien sebelum tubuh pemuda itu menghantam tanah keras."Tuan Muda Davien!" panggil Tetua Yuda tegang, menopang punggung Davien yang terkulai pasrah."Tuan Muda!" Samuel dan Argus berlari histeris dari tepi kawah, wajah mereka pucat pasi melihat ketua mereka kehilangan kesadaran.Tetua Yuda menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Davien, menguji denyut nadi dan aliran energi di dalamnya. Dia menghela napas panjang dan meredakan ke
Tanpa peringatan, Iblis Teratai Merah memutar pedang raksasanya. Gelombang energi merah pekat berbentuk teratai berdaun lima meluncur cepat menghantam tanah, membelah dasar pelataran lurus mengincar Davien!"Waspada, Tuan Muda!" seru Tetua Yuda.Tetua Yuda dan Tetua Kaelan bergerak serempak. Dua ahli Alam Kekosongan Sekte Pedang Suci itu melompat ke depan, menebaskan pedang mereka secara menyilang. Dua berkas cahaya pedang emas raksasa meluncur membentur teratai merah tersebut.BLARR!Ledakan dahsyat meletus di tengah pelataran. Gelombang kejut merobohkan sisa pilar dan tembok pelindung di sekeliling mereka. Davien memanfaatkan pusaran asap ledakan tersebut, melesat bagaikan kilat dari arah atas, lalu mengayunkan Pedang Inti Es lurus ke pundak kiri Iblis Teratai Merah.SING!Iblis Teratai Merah tidak memutar badan. Tangannya yang dipenuhi otot tebal melayang memukul samping bilah Pedang Inti Es.TRANG!Benturan itu melepaskan hawa dingin yang sempat membekukan lengan baju Iblis Tera
Vanya yang sadar Thorin mulai terdesak tidak membuang waktu. Dia membakar sebagian esensu darahnya, memicu teknik terlarang untuk mempercepat cambuknya. Puluhan bayangan cambuk bergerigi menyapu lurus, melilit pedang panjang milik Tetua Kaelan rapat-rapat!"Kena kau, tua bangka!" pekik Vanya girang. "Thorin, hancurkan dia!"Thorin meraung keras, melompat maju dengan sisa kekuatannya seraya mengangkat kedua kapak raksasanya tinggi-tinggi untuk membelah kepala Tetua Kaelan yang senjatanya sedang terkunci.Namun, wajah Tetua Kaelan tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun."Terlalu naif," desis Tetua Kaelan.Hawa murni yang meluap dari tubuh Tetua Kaelan mendadak membumbung dua kali lipat lebih pekat. Dia tidak menarik pedangnya, melainkan memutar pergelangan tangannya dengan hentakan bertenaga murni.KRAKK!Rantai cambuk bergerigi milik Vanya yang terbuat dari logam langka justru terpelintir hebat di bawah tekanannya. Gelombang energi merambat cepat sepanjang rantai tersebut, lalu meled
Bau amis darah bercampur aroma racun menyeruak makin pekat tatkala Davien melangkah keluar dari Aula Altar. Di belakangnya, Samuel dan Argus mengekor dengan senjata yang masih meneteskan darah segar. Langkah kaki Davien terhenti di lorong penghubung menuju pelataran barat. Dinding-dinding batu di lorong itu terus bergetar hebat, diiringi dentuman energi spiritual yang bersahut-sahutan dari arah luar. "Tuan Muda," panggil Argus seraya memasang telinga. "Gempuran Sekte Pedang Suci di sisi barat makin sengit, tapi jalur ini adalah perimeter pertahanan lapis kedua. Para pelindung teras dan pasukan elit Teratai Hitam pasti mengadang di sini." "Bagus," sahut Davien datar seraya mengencangkan pegangan pada Pedang Inti Es. "Biarkan mereka semua berkumpul." Tepat saat itu, suara langkah kaki bersenjata berat terdengar mendekat dengan cepat dari arah depan. Hanya dalam hitungan detik, belasan bayangan melompat keluar dari belokan lorong utama, mengepung area persimpangan. Di barisan
Sinar matahari sore menembus celah gorden sutra di paviliun kediaman Pratama, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai kayu. Davien duduk bersila di atas ranjangnya, mencoba memfokuskan aliran Qi melalui teknik Napas Kehidupan Tanpa Batas. Namun, untuk pertama kalinya dalam sepuluh
Suasana di koridor menuju ruang rapat utama lantai 50 berubah drastis. Jika di balkon tadi udara terasa segar dan penuh getaran romantis yang halus, maka di depan pintu jati ganda yang menjulang tinggi ini, atmosfer terasa berat oleh bau kertas, kopi mahal, dan ambisi yang busuk.Maya Pratama mengh
"Bagus," lirih Maya, lalu begitu menyadari tatapan Davien, ia kembali berkata," Maksudku ... kau terlihat pantas. Hanya saja, aku tidak menyangka kau akan terlihat sangat berbeda."Maya segera membuang muka kembali ke jendela saat Davien menatapnya lebih lama. Ia tidak ingin Davien tahu bahwa dirin
“N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. P







