แชร์

Bab 53

ผู้เขียน: Junn_Badranaya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-14 22:48:55

Sepasang mata Bara Mahesa berbinar terang dan memancarkan antusiasme yang tak terbendung.

Di hadapannya, Davien pun menunjukkan reaksi serupa, meski ekspresinya tetap tenang, kilatan di matanya mengisyaratkan bahwa ia telah menemukan potongan teka-teki yang dicari.

Mereka saling pandang sesaat, sebuah komunikasi tanpa kata terjadi di antara dua pria itu sebelum akhirnya Davien mengangguk kecil, memberikan lampu hijau.

Bara kembali memusatkan perhatian pada ponselnya. Suaranya kini terdengar j
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 120

    Fang Richard, Ketua Sekte Kabut Hitam, segera bertanya lebih tegas dan memastikan kebenaran dari ucapan mematikan itu. "Katakan sekali lagi dengan jelas! Apakah kau benar-benar melihatnya sendiri?!" bentak Ketua Fang, suaranya menggelegar laksana guntur di malam hari, membuat api obor di dinding aula bergoyang hebat hampir padam. "Tetua Mo memiliki ranah di Alam Fana. Bagaimana mungkin Giok Kehidupannya bisa hancur tanpa ada tanda-tanda peringatan sebelumnya?"Murid yang melapor itu langsung ketakutan setengah mati di bawah tekanan aura sang ketua. Tubuhnya gemetar hebat laksana daun yang diguncang badai, dan wajahnya memucat tanpa menyisakan setetes darah pun. Dengan suara yang tersendat oleh rasa ngeri, dia langsung bersumpah dengan laporannya bahwa dirinya tidak berbohong sedikit pun."S-Saya bersumpah demi langit dan bumi, Ketua! Saya tidak berani berbohong! Saya sedang membersihkan rak Aula Leluhur ketika tiba-tiba mendengar suara retakan yang sangat keras. Saat saya melihat k

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 119

    "Apakah di dekat markas kalian ada sekte lainnya? Davien bertanya lagi dengan nada suara yang datar.Tetua Mo yang masih gemetar sambil memegangi dadanya, buru-buru menjawab dengan suara parau agar tidak kembali memicu kemarahan pemuda itu. "T-Tidak ada, Tuan ... di wilayah luar Lembah Tengkorak itu, hanya ada sekte kami," jawabnya terbata-bata. Dia menelan ludah yang terasa pahit sebelum melanjutkan, "Lagi pula, sekte lainnya terletak di bagian yang lebih dalam dari Gunung Terlarang. Mereka adalah sekte-sekte kuno yang menutup diri dari peradaban luar dan tidak pernah mencampuri urusan duniawi kecuali hanya sedikit."Davien mengangguk pelan dan menyerap informasi tersebut. "Sekte Kabut Hitam berada di tingkat berapa?" "Sekte Kabut Hitam hanya termasuk ke dalam sekte kelas bawah dan hanya menguasai wilayah pinggiran gunung, Tuan. Bahkan kkekuatannya sangat jauh jika dibandingkan dengan sekte-sekte lain yang berada di bagian dalam," aku Tetua Mo jujur. "Lalu, berapa anggotanya dan

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 118

    Di mata orang lain, gerakan Tetua Mo mungkin sudah termasuk sangat cepat, seperti kilatan bayangan yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang. Tapi di hadapan Davien, serangan itu terlalu lambat dan bahkan terlalu mudah untuk dihadapi maupun dihindari. Cahaya ungu samar dari pedang itu tiba lebih dulu dan memancarkan bau busuk yang cukup menyengat ke udara sekitar, merontokkan dedaunan kering yang dilewatinya. Sekilas saja Davien tahu bahwa itu adalah senjata beracun tinggi yang sengaja ditempa dengan bisa ular pemakan jiwa atau racun korosif sejenis. Tapi Davien tidak takut sedikit pun. Alih-alih melompat mundur atau menarik senjata untuk menangkis, dengan santai dia mengulurkan tangan kanannya ke depan dan menyambut mata pisau yang mematikan itu.TAP!Dengan ketepatan yang luar biasa, Davien menangkap batang pedang itu langsung dengan telapak tangan telanjangnya. Udara di sekitar kepalan tangannya bergetar hebat saat energi dari tebasan itu diredam secara paksa. Tetua Mo benar

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 117

    Tetua Mo marah besar mendengar ucapan Davien. Seluruh otot di wajahnya yang keriput menegang, dan sepasang matanya yang kelam melebar, memancarkan kilat kebencian yang mendalam. Meskipun apa yang dikatakan oleh pemuda itu memang benar, tapi mana mungkin dia mau menerima hinaan itu begitu saja di depan orang luar? Walaupun dia adalah tetua terlemah dari empat tetua lainnya, di dunia luar dia tetaplah sosok menakutkan yang mendapat penghormatan besar, ditakuti oleh para penguasa kota, dan disembah oleh ratusan murid di dalam sektenya. Jadi bagaimana mungkin dia mau menerimanya begitu saja dari seorang pemuda yang bahkan belum genap berusia tiga puluh tahun?"Bocah kurang ajar! Kau hanyalah katak di dasar sumur yang baru melihat sedikit dunia!" Suara Tetua Mo bergetar hebat dan serak oleh amarah yang membakar dadanya.Dengan geram, dia menunjuk wajah Davien dengan jarinya yang kurus laksana cakar elang, "Tutup mulutmu sekarang juga dan minta maaf kepadaku secara berlutut!"Energi keru

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 116

    "Baik, sekarang juga aku akan ke sana."Suara Davien terdengar begitu dingin melalui pelantang telepon dan segera mengakhiri percakapan singkat yang menegangkan dengan Bara. Tidak ingin menunda waktu lagi, Davien segera berangkat detik itu juga menuju ke titik koordinat yang dikirim oleh Bara lewat pesan singkat beberapa saat yang lalu. Tubuhnya bergerak laksana kilat perak, melompati atap-atap rumah mewah, dan membelah kegelapan malam dengan kecepatan yang melampaui batas nalar manusia biasa. Jantungnya berdegup tenang, namun setiap jengkal ototnya telah terisi oleh energi spiritual yang siap meledak.Beberapa saat kemudian, dia sudah tiba di sebuah tempat sepi yang dikelilingi oleh gedung terbengkalai di pinggiran kota. Lokasi itu bagaikan kuburan beton, dinding-dinding yang runtuh dipenuhi coretan usang, pecahan kaca berserakan di atas tanah, dan tanaman liar merayap di setiap sudut struktural yang hancur. Kegelapan di tempat ini begitu pekat, hanya diterangi oleh sisa-sisa ca

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 115

    Setelah Reina pergi meninggalkan ruangan VIP dengan langkah kaki yang dipenuhi secercah harapan, keheningan kembali menguasai restoran mewah tersebut. Davien tidak langsung beranjak dari kursinya, dia menatap cangkir teh yang kini telah mendingin dan merenungkan setiap untai perkataan Reina. Tanpa membuang waktu lebih lama, Davien langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bara Mahesa. Di ujung telepon, Bara menjawab dengan nada suara yang penuh hormat dan kesiapan mutlak."Selamat sore, Tuan Besar Davien. Ada perintah yang bisa saya laksanakan?" ujar Bara di seberang sana.Davien tidak berbasa-basi. "Kau sedang di mana sekarang, Bara?""Saya sedang berada di markas divisi logistik, Tuan. Memeriksa beberapa dokumen pengiriman bahan baku obat," jawab Bara dengan patuh."Tinggalkan dulu pekerjaanmu," perintah Davien, suaranya terdengar berat dan tidak menerima bantahan. "Aku ingin bertemu dengannmu sekarang juga. Datanglah ke Restoran Awan, ruang VIP lantai atas."Bara mengangguk

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 11

    Aris memegang pipinya yang mulai membiru, menatap ke depan dengan ekspresi kosong yang perlahan berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap.Davien berdiri di sana, tangannya masih terangkat sedikit di udara. Wajahnya tetap tenang, sedingin es, seolah-olah ia baru saja melakukan tindakan yang paling

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 9

    Maya berbalik, keningnya berkerut. "Dia bersamaku. Dia memiliki izin khusus dari Keluarga Pratama untuk menjagaku di manapun.""Mohon maaf, Nona Pratama. Ini adalah kediaman Keluarga Barata, bukan Keluarga Pratama. Standar keamanan kami berbeda. Tanpa undangan, pria ini tidak bisa lewat," penjaga l

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 14

    "Inspektur!" Refleks Davien yang luar biasa membuatnya segera menangkap bahu dan pinggang Reina, membiarkan kepala gadis itu bersandar sejenak di dadanya yang bidang.Hening tercipta selama beberapa detik. Reina bisa merasakan detak jantung Davien yang stabil dan kuat, sementara Davien bisa menciu

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 13

    Gema langkah kaki sepatu bot yang tegas memecah keheningan pasca-ketegangan di aula hotel. Belum sempat debu dari keruntuhan harga diri keluarga Dirgantara mengendap, pintu besar kembali terbuka. Sederet personel kepolisian masuk dengan formasi taktis, namun sosok di garda terdepanlah yang membuat

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status