LOGINNayla tumbuh dalam rumah yang dulu hangat, kini dingin karena kehadiran seorang “saudara tiri” yang mencuri segalanya—perhatian, kasih sayang, bahkan cinta. Sejak kehadiran Vania, anak dari istri baru ayahnya, Nayla tak lagi dianggap. Ia hanya bayangan, pembantu tak bergaji di rumah sendiri. Vania manis di luar, tapi iblis di balik senyuman. Ia tahu cara bermain perasaan dan menjatuhkan Nayla tanpa harus menyentuhnya. Satu-satunya yang membuat Nayla bertahan adalah ketenangannya—dan lelaki bernama Reno. Namun saat Vania mulai mengincar Reno juga, Nayla dihadapkan pada dua pilihan: menyerah seperti biasanya, atau melawan dengan caranya sendiri—tenang, cerdas, dan tepat sasaran. Di balik luka yang ditorehkan keluarga dan cinta yang diperebutkan, akankah Nayla mampu merebut kembali tempatnya—sebagai anak, sebagai perempuan, dan sebagai seseorang yang layak dicintai? ---
View MoreNayla memandang cincin yang melingkar di jarinya. Matanya basah, bukan hanya karena haru, tapi juga karena beban yang semakin berat. Cinta Reno memang tulus, tapi dunia mereka tak semudah itu menyatukan dua hati. Bukan hanya tentang perbedaan latar belakang, tapi tentang luka-luka yang belum sembuh di masa lalu—dan orang-orang yang belum rela melepaskan genggamannya. Di malam yang tenang itu, Nayla menatap langit dari balkon kosnya. Angin berhembus pelan, membawa suara pesan yang baru masuk ke ponselnya. Ia membuka layar dan matanya menyipit. Dari Amanda: > “Kau pikir dia sungguh mencintaimu? Lucu sekali. Tunggulah, semua akan tahu siapa kau sebenarnya.” Nayla menggertakkan gigi. Tangan kirinya mengepal di sisi tubuhnya. Sejak Amanda tahu hubungan mereka serius, perempuan itu makin nekat. Tadi siang saja, Amanda sempat muncul di kantor dan mempermalukannya di depan staf lain dengan menyiratkan kalau Nayla ‘perempuan perebut suami orang’. Meski tidak benar, fitnah itu menyebar cepa
Amanda duduk dengan anggun, menyilangkan kaki dan memainkan cangkir tehnya dengan jari-jari runcing yang berlapis kuteks nude. Ia terlihat nyaman, seolah rumah ini sudah dikenalnya lama. Bahkan, ketika Ibu Reno menyodorkan sepiring kudapan, Amanda tersenyum manja dan berkomentar, “Masih enak seperti dulu, Tante. Tante memang nggak pernah berubah.”Tawa ibu Reno terdengar renyah, membuat suasana mendadak lebih akrab... untuk Amanda. Nayla hanya mengamati dalam diam. Ia duduk tepat di sebelah Reno, tapi rasanya seperti orang asing.“Jadi, Nayla kerja di mana?” tanya Amanda dengan nada basa-basi.“Aku masih fokus bantu usaha kecil Ayah di rumah,” jawab Nayla tenang.Amanda mengangguk, matanya menyorot. “Keren ya. Perempuan mandiri yang mau mulai dari nol. Tapi... capek ya?”“Capek itu biasa. Yang penting halal dan dari hati,” Nayla membalas sambil tersenyum.Reno tersenyum kecil mendengar jawabannya, tapi Amanda tidak menyerah. Ia terus menggiring percakapan, menyisipkan masa lalu diriny
Pagi itu, Nayla sudah terbangun sejak subuh. Ia berdiri lama di depan cermin, memperhatikan wajahnya yang mulai tampak lebih dewasa. Lingkar mata yang dulu tampak gelap kini mulai memudar, digantikan sorot mata yang lebih hidup. Tapi pagi ini, ada keresahan di sana—perasaan asing yang menggigilkan jemari. “Nay,” suara Vania terdengar dari balik pintu. “Aku bantu nyiapin meja makan, ya.” Nayla membuka pintu, tersenyum tipis. “Iya, makasih ya.” Mereka berjalan ke dapur bersama, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada keheningan canggung di antara mereka. “Kamu deg-degan?” tanya Vania pelan sambil mengambil sendok dan garpu. “Banget,” jawab Nayla jujur. “Bukan karena Reno, tapi keluarganya.” Vania berhenti sejenak. “Kamu pantas buat dia, Nay. Kalau mereka nggak bisa lihat itu… mereka yang rugi.” Nayla menoleh, menatap Vania. Ada ketulusan di mata adik tirinya itu, dan itu membuat hatinya menghangat. “Terima kasih, Van.” “Anggap ini... pengganti semua luk
Tiga belas jam perjalanan akhirnya membawa Nayla kembali menginjak tanah kelahirannya. Bandara Soekarno-Hatta terasa lebih hangat dari biasanya, mungkin karena kali ini ia pulang bukan sebagai anak yang terbuang, tapi sebagai perempuan yang sudah berdiri di atas kakinya sendiri. Reno menjemputnya di pintu kedatangan. Saat pandangan mereka bertemu, waktu seakan berhenti. Mereka tidak langsung berpelukan. Hanya saling menatap, lalu tersenyum—penuh rindu yang tertahan. “Kamu berubah,” kata Reno pelan. “Jadi lebih dewasa?” “Jadi lebih kuat,” jawab Reno. “Tapi kamu tetap Nayla-ku.” Nayla menatap matanya lekat. Ia ingin percaya, tapi luka-luka kecil dalam hatinya belum sepenuhnya sembuh. --- Di rumah, suasana hening saat Nayla melangkah masuk. Bu Rika berdiri canggung di depan pintu, matanya berkaca-kaca. Sementara Vania duduk di kursi ruang tamu, terlihat berbeda dari terakhir kali Nayla melihatnya—lebih sederhana, lebih tenang. “Selamat datang di rumah, Nay,” kata Bu Rika lirih.
Dua hari sebelum keberangkatan Nayla ke Jakarta, semua dokumen sudah ia siapkan rapi. Surat rekomendasi dari dosen, tiket pesawat dari panitia, hingga surat izin dari kampus. Tapi satu dokumen penting masih belum lengkap: fotokopi kartu keluarga yang harus ditandatangani orang tua sebagai syarat le
Hari pengumuman seleksi paper nasional akhirnya tiba. Di ruang kelas yang sunyi, Nayla menatap layar ponselnya dengan jantung berdebar. Ia hampir tak percaya saat melihat namanya tertera sebagai salah satu dari 20 peserta terbaik dari seluruh Indonesia.Namanya—Nayla Putri Wibisana—berdiri kokoh di
Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa, namun hati Nayla tidak lagi sama. Ia mulai menyadari bahwa menunggu keajaiban dari orang-orang yang tak pernah benar-benar melihatnya adalah sia-sia. Bila selama ini ia bertahan hanya karena harapan bahwa ayahnya akan sadar, kini harapan itu mulai memud
Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi saat Nayla berangkat ke kampus. Di rumah, ia sudah terbiasa menjadi bayang-bayang. Tak ada sapaan hangat, tak ada bekal yang disiapkan. Bahkan ayahnya pun hanya lewat tanpa menoleh, sibuk dengan dokumen di tangannya.“Van, kamu mau Papa antar ke kampus?” tany












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.