LOGIN"Selama itu membuatmu kembali dalam pelukanku, aku rela melakukan apa saja termasuk mengubah namaku menjadi Adam, bahkan jika itu membuatku harus membunuh seseorang" – Adam Alexander Blackwood – "Kurasa akulah Adam-mu. Kamu tercipta dari tulang rusukku, untukku. Karena itu, aku takkan membiarkanmu berpaling pada 'khuldi' lain." – Adam Valentino Belmont – "Jika aku boleh memilih, aku harap Adam yang ditakdirkan untukku bukanlah kalian berdua!" – Hawa Everalda – Eve awalnya hanyalah seorang sekretaris dari seorang CEO dingin dan perfeksionis, Alex. Namun, segalanya berubah setelah kesalahan satu malam yang memaksanya meninggalkan pekerjaan yang ia andalkan selama 5 tahun itu hingga tak ada pilihan lain selain menerima pekerjaan sebagai manajer seorang aktor terkenal namun problematik, Adam Valentino Belmont. Di tengah usaha Eve menaklukkan Adam yang liar dan penuh drama, kehadiran Alex kembali mengguncang dunianya. Alex datang, membawa tawaran untuk kembali—tidak hanya sebagai sekretaris, tetapi juga sebagai sesuatu yang lebih. Hati Eve pun terbelah. Haruskah ia memilih Alex, pria yang telah melukai hatinya tetapi selalu menjadi bagian dari masa lalunya? Atau Adam, kekasih baru yang problematik tetapi perlahan menunjukkan cinta yang tulus? Dalam konflik ini, cinta, luka, dan obsesi menjadi tali yang sulit dilepaskan. Siapakah yang akan menjadi 'Adam' sejati bagi Eve?
View More"My Amnesia Mafia Husband"
written by haevenly
Disclaimer:
This story is a work of fiction. Names, characters, businesses, places, events, locales, and incidents are either the products of the author's imagination or used in a fictitious manner. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events are purely coincidental.
No part of this book may be reproduced or transmitted in any form or by any means without written information from the author. Plagiarism is a crime.
This is the story MY AMNESIA MAFIA HUSBAND. The whole story is fictional so don't use this to attack me. I am always open to engage in a healthy conversation. I'm just here to share what's on my mind, to enjoy, and to respect everyone. Respect me as well by avoiding mentioning the names or lines of other writers' characters in my works. Don't use my characters' names or lines in other writers' works too. Don't compare me or this story to someone else's work. I'm not here to please anyone (only God).
Sorry for the typographical errors and grammatical errors. I'm still learning how to write good so please bear with me. Loopholes and any errors will be edited once I finish the story. But if you're looking for a perfect story, well, you can't find it here.
This is not affiliated with any school/business/shop/other locales that was mentioned in the story.
The story will tackle about problems, issues, crime, abuse, harm, and explicit situations. But please know that the author doesn't glorify violence. Please be advised that this story isn't for everyone. Read at your own risk.
Note: Because the original chapters I posted before were too long, some will be split into sections. Let me know your thoughts about the story by using our official hashtag #MyAmnesiaMafiaHusband or #MAMHOnGoodNovel on Twitter. Or, you can reach me through my account on Twitter: @haevenlywp
Thank you! Enjoy reading!
Eve menatap Adam dengan lembut. “Bukan itu. Aku cuma ingin menyelesaikan semuanya dengan baik. Pagi itu aku langsung pergi gitu aja, dan Alex juga langsung mengusirku ketika dia baru saja bangun” Adam memejamkan mata sejenak sebelum menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi aku ikut" Eve mengangkat alis. “Adam—” “Ini bukan tawaran Eve” Adam menatapnya serius. “Aku nggak bakal ngebiarin kamu sendirian ketemu sama dia lalu berubah fikiran dan.... berakhir meninggalkanku" ucapnya dengan suara lirih di bagian akhir kalimatnya. Eve yang mendengar ucapan lirih Adam tersenyum tipis lalu memberi isyarat pada pria itu untuk lebih mendekat padanya. Adam yang mengerti menurut dan mencondongkan tubuhnya, memudahkan Eve untuk melingkarkan kedua lengannya di tubuh Adam. "Aku nggak mungkin kembali padanya Adam. Kami tidak pe
Eve yang sedang menyeruput sup hampir tersedak. Dia buru-buru meletakkan sendoknya dan menoleh ke sekeliling, memastikan tak ada orang lain di sekitar mereka lalu menatap Adam dengan mata membesar. "Adam! Kalau ada yang dengar gimana?" Adam tertawa renyah. "Kalaupun ada yang dengar juga nggak papa. Semua juga tau turn on karena pasangan sendiri di pagi hari itu hal yang wajar" Eve terdiam selama tiga detik sebelum memalingkan wajah menutupi semburat merah di kedua pipinya. "Kamu kayak gitu karena kita udah jadi pasangan? Perasaan kemarin pagi nggak begitu deh kamu." Adam mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai dengan santai. "Kemarin juga seperti itu" akunya dengan nada datar. "Cuma aku nggak berani bertindak seperti tadi pagi aja, khawatir kamu ilfeel" lanjutnya Eve terkikik
Eve langsung diam. Dia sudah cukup tahu betapa keras kepalanya seorang Adam. Setelah beberapa saat tanpa perlawanan, Adam tertawa kecil. "Nah gitu dong. Lebih enak kan?" Eve hanya mendengus. Tapi harus diakui, kehangatan Adam membuatnya merasa nyaman. Beberapa detik kemudian, Adam tiba-tiba bicara lagi. "Eve" "Hmm?" "Kamu yakin nggak nyesel kan ya?" Eve diam sejenak sebelum menjawab, "Tanya lagi besok pagi. Kalau aku masih di sini dan belum kabur, berarti aku nggak nyesel" "Deal" Adam tertawa pelan dan mengecup puncak kepala Eve hangat.
Adam tertawa renyah, kembali menjadi Adam yang biasa. "Nggak Eve. Aku nggak mau kamu kecapekan. Jadi kamu cukup mantau aku dari rumah aja mulai sekarang. Aku pergi dulu ya, kamu baik-baik di rumah" Cup! Tanpa aba-aba Adam mengecup kening Eve singkat lalu melangkah cepat meninggalkan ruangan sebelum Eve tersadar dan berteriak protes. ***** Siang harinya Eve tidak bisa tidur siang. Dia berbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan perasaan yang tak menentu. Percakapan dengan Adam tadi pagi terus terngiang di kepalanya. Kata-katanya, tatapan matanya, bagaimana dia mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Alex merebutnya… Sejak kapan Adam menjadi bagian dari hidupn
Mendengar pertanyaan tiba-tiba Adam, tangan Eve mengepal di pangkuannya, menahan rasa sakit, marah juga kecewa yang kembali muncul. Eve menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pelan. "Adam…."
Setelah 2 jam perjalanan mereka tiba di rumah sakit besar yang berada di kota sebelah. Adam bergegas membawa Eve ke ruang praktik seorang dokter yang tampaknya sudah sangat dikenalnya. "Adam, ini dokter kepercayaanmu?" tanya Eve pelan. Adam mengangguk. "A
Eve tersenyum kecil menahan tawa mendengar ucapannya, bisa-bisanya pria ini masih mengatakan bayi 'kita' di saat seperti ini. "Aku nggak bisa menjanjikan apapun Adam. Aku... aku nggak tahu...." ucapnya pelan, dia sendiri juga masih b
“Kamu terlalu dramatis" Eve mendecakkan lidah. “Aku kan aktor, wajar kalau aku dramatis" Adam menyeringai kecil. Eve mendengus, tapi tidak bisa menyangkal kalau ucapan Adam memang terdengar masuk akal, walaupun alasan itu terasa dibuat-buat. “Aku masih bisa memanggil pembantu kalau ada apa-ap












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.