Beranda / Romansa / Terjerat Hasrat Bos Baru / Bab 7 Danen Mendekati Marissa

Share

Bab 7 Danen Mendekati Marissa

Penulis: Tusya Ryma
last update Tanggal publikasi: 2025-11-30 11:28:49

Di dalam mobil, Marissa duduk sambil terus memainkan tangannya di dalam saku sweater. Penutup kepala di sweater pun terus ia pakai dengan rambut panjang dan poni dibiarkan terurai ke depan hingga menutupi sebagian wajahnya.

Marissa sangat tidak nyaman duduk berdua di dalam mobil bersama Danendra. Bukan hanya karena kejadian malam itu, tapi juga karena pria itu adalah bosnya di kantor.

"Oh iya, ngomong-ngomong kau sakit apa? Sudah ke dokter belum?" tanya Danendra memecah keheningan di dalam mobil. Ia menoleh, melihat kegelisahan wanita di sampingnya.

"Kalau belum, aku akan mengantarmu ke dokter!" Danendra mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan pada seseorang.

"Karyawan di perusahaanku tidak boleh bolos kerja! Apalagi sekarang keempat rekanmu sedang pergi ke luar kota, sedangkan yang lainnya bekerja lembur! Kalau kau ijin terus, rekanmu akan kewalahan," jelasnya sambil melihat ke depan. Satu tangan menutup ponsel dan kembali memasukannya ke dalam saku jas.

Entah mengapa, di bawah alam sadarnya Danendra ingin mengenal lebih dalam wanita yang pernah tidur dengannya itu. Ia ingin tahu, bagaimana bisa seorang janda beranak satu tapi masih perawan? Bahkan, di tempat tidurnya kemarin ada bercak darah.

'Dia melakukan operasi kewanitaan di mana?' gumamnya dalam hati.

"Ti-tidak! Saya sudah sembuh! Anda tidak perlu khawatir," jawab Marissa, menepis ucapan Danendra.

"Masalah uang, besok saya akan masuk kerja dan mengganti uang Anda! Jadi sekarang, tolong turunkan saya di depan!" tambah Marissa sambil menunjuk ke arah depan.

Danendra pura-pura tidak mendengar permintaannya. Dia masih mengemudikan mobilnya sampai tiba di sebuah klinik dokter. Danendra menepikan mobilnya, lalu meminta Marissa untuk turun.

"Hah???" Marissa masih bingung. Bukankah tadi pria itu ingin mengambil uang dan pakaiannya ke rumah?

'Tapi, kenapa sekarang???'

Danendra sudah turun dari dalam mobil. Sekarang dia menunggu Marissa di luar.

"Turunlah!" pinta Danendra lagi sambil melambaikan tangan. Mengisyaratkan agar Marissa segera turun.

Dengan terpaksa Marissa pun turun dari dalam mobil.

"Maaf, Pak! Kenapa kita turun di sini? I-ini bukan rumah saya!" tanya Marissa masih tidak mengerti. Ia mentap klinik itu dengan heran.

Jawaban dari Danendra selanjutnya membuat Marissa terkejut. "Bukankah kau sakit?"

"Apa??? A-aku ... sa-sakit?"

'Aish, bagaimana ini?'

Yang sakit bukanlah tubuhnya, tapi ....

"Ayo masuk!" Danendra menarik Marissa masuk ke dalam klinik.

"Eh, tunggu, Pak! Saya ... tidak—"

"Selamat pagi, Tuan!" sapa perawat memotong ucapan Marissa. Dia mempersilahkan Danendra dan Marissa untuk masuk ke ruang periksa.

"Dokter Ma sudah menunggu Anda, Tuan! Silahkan masuk," tambah perawat itu lagi.

Tadi di dalam mobil, Danendra sudah mengirim pesan singkat pada Dokter Ma—dokter pribadi keluarganya—untuk meminta jadwal periksa. Sekarang, tanpa mengambil nomor antrian Danendra boleh langsung masuk ke ruangan dokter.

Danendra menarik tangan Marissa masuk ke ruang itu mengikuti perawat.

Di ruang periksa, sudah ada Dokter Ma menunggu kedatangan Danendra. Ia pun segera meminta mereka untuk duduk.

"Tuan! Kenapa Anda yang datang kemari? Padahal, Anda tinggal menghubungi saya, nanti saya yang akan datang ke tempat Anda!" ucap dokter berusia 45 tahun itu.

Ini pertama kalinya dalam sejarah, keluarga dari KJK Group datang ke kliniknya untuk diperiksa. Biasanya Dokter Ma yang datang ke rumah mereka dan memeriksa anggota keluarga konglomerat tersebut.

"Ah, tidak! Yang akan diperiksa bukan saya! Tapi ini ...." tunjuk Danendra pada wanita di sampingnya.

"Karyawan saya!" jelasnya tiba-tiba

"Karyawan???" Dokter Ma pun sampai terkejut.

Sejak kapan seorang bos mengantar sendiri karyawannya pergi ke dokter?

"Cepatlah periksa! Waktuku tidak banyak," pinta Danendra pada Marissa.

Ia tidak ingin Dokter Ma menebak-nebak tindakannya saat ini. Karena dirinya pun tidak mengerti.

Bisa-bisanya Danendra membawa Marissa pergi ke dokter. Apa dirinya sudah gila?

"Naiklah ke tempat tidur!" Danendra menyuruh Marissa.

Dokter Ma pun mengerti. Ia berdiri dan bersiap memeriksa Marissa. "Silahkan, di sini, Nona!"

"Ah, aku!" Marissa terus menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin diperiksa, karena dirinya memang tidak sakit.

'Ini namanya senjata makan Tuan!'

"Cepatlah! Aku harus segera pergi ke kantor!" ucap Marissa lagi.

"I-iya!" Marissa pun terpaksa berdiri. Ia berjalan menuju meja periksa dengan gerakan yang sangat lambat.

Namun, bukannya ke meja periksa, Marissa malah berjalan terus sampai ke depan pintu keluar. Detik berikutnya, ia kabur meninggalkan tempat itu.

"Eh, mau ke mana, kau?" teriak Danendra pada Marissa. Namun, wanita itu sudah berlari keluar dan kabur.

Marissa sudah pergi dengan menggunakan taksi. Ia tidak ingin diperiksa karena di tubuhnya tidak ada penyakit.

***

Keesokan harinya, Marissa benar-benar pergi ke kantor untuk bekerja. Ia sudah menyiapkan tiga lembar uang berwarna merah, sesuai dengan apa yang dirinya ambil pagi itu.

"Mama, Aku berangkat duluan, ya! Dadah Mama!" teriak anak itu sambil berlari keluar. Dia melambaikan tangan kecilnya pada sang ibu.

"Dadah Ayang!" balas Marissa sambil melambaikan tangannya juga.

Setelah putranya pergi, Marissa pun bergegas pergi ke kantor. Tidak lupa, ia membawa paper bag berisi kemeja dan jas milik bosnya.

Di gedung perusahaan yang besar dan luas, Marissa masuk dan berjalan menuju lift. Di dalam lift, ia ragu untuk naik ke lantai mana. Ia harus mengembalikan uang dan pakaian milik Danendra, sekarang, ataukah nanti, setelah pria itu datang?

"Baiklah! Simpan saja di ruang kerjanya. Nanti tinggal sisipkan keretas berisi beberapa kalimat penjelas!" ucap Marissa pada dirinya sendiri.

Dirasa idenya itu sudah oke, Marissa pun menekan tombol untuk naik ke lantai paling atas.

Ding!

Pintu lift sudah terbuka di lantai atas. Marissa bergegas pergi ke ruang kerja wakil presdir sebelum ada orang yang datang.

Di ruangan yang sangat besar dan mewah, Marissa menyimpan paper bag berisi uang dan pakaian di atas meja teh. Tidak lupa ia menyisipkan keretas putih bertuliskan namanya dan ucapan terima kasih karena sudah meminjaminya uang dan pakaian. Setelah itu, Marissa kembali keluar.

Baru saja keluar dari ruang kerja wakil presdir, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.

"Marissa ... si kembang desa di kantor ini, sedang apa kau di sini?" tanya pria tua yang waktu itu hampir melecehkan Marissa. Senyumannya begitu mengembang, melihat Marissa dari atas hingga ke bawah dengan penuh minat.

"Eh, Pak Jonson?" Marissa terkejut melihatnya pria mesum itu ada di sana.

"Apa kau mencariku?" tanya pria berusia 51 tahun itu. Ia menghampiri Marissa dan semakin mendekat.

"Ti-tidak, Pak! Sa-saya ingin mencari Pak Danen! Ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan tentang pekerjaan di kota C," jawab Marissa dengan asal. Ia hanya beralasan agar Jonson tidak curiga akan kedatangannya ke ruangan itu.

"Owh, masalah pekerjaan! Kau bisa membicarakannya denganku!" jawab Jonson dengan penuh godaan. Itu membuat Marissa semakin takut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 431 Selesai

    Tidak terasa, waktu berlalu sangat cepat. Marissa dan bayinya sudah keluar dari rumah sakit setelah beberapa hari dirawat. Fanny pun sudah pulang dan hidup bersama suami dan anaknya di Kota K. Sekarang, Marissa dan keluarga kecilnya tinggal di rumah yang sangat bagus dan mewah yang sudah dibuat dari jauh-jauh hari oleh Danendra. Mereka hidup bahagia tanpa ada yang mengganggu. "Mama, kalau Baby Damar sudah besar, nanti dia akan merebut mainanku, dong! Di sekolah juga ada teman kami yang bilang kalau adiknya selalu mengacau, merebut mainan, dan menangis! Aku dan Izela tidak suka punya adik seperti itu!" ucap Michael yang saat ini sedang duduk di taman belakang bersama ayah dan ibunya, juga Drizela dan bayi Damar (singkatan dari nama ayah dan ibunya, Danendra dan Marissa). Mereka berlima sedang bersantai sambil menikmati udara pagi yang sejuk dengan rumput hijau dan bunga-bunga yang bermekaran di taman belakang rumah. "Husss, jangan bicara seperti itu! Kaka Michael dan Kakak Izel

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 430 "Terima kasih, Sayang!"

    Benar saja, setelah dokter memeriksa Fanny, ternyata wanita itu akan melahirkan. "Aahhh, bagaimana bisa? Kami ke sini untuk menjenguk Marissa, sama sekali tidak membawa apapun! Perlengkapan untuk bayi, kami tidak membawanya. Bagaimana ini?" Darius terus menggerutu. Ia tidak tahu harus berbuat apa menghadapi persalinan istrinya yang mendadak itu. "Tidak apa-apa! Masalah itu, kau jangan khawatir. Kalaupun bayinya lahir sekarang, ada perlengkapan bayi kami yang belum dipakai. Selain itu, pihak rumah sakit juga menyediakan perlengkapan bayi untuk bayi yang lahir mendadak seperti ini!" Danendra mencoba menenangkan Darius. Mereka berdua duduk di depan ruang persalinan Fanny. Danendra sampai meninggalkan istrinya demi menemani Darius yang terlihat panik. Beberapa menit kemudian, dokter memanggil Darius dan meminta ayah dari sang calon bayi untuk masuk ke dalam ruangan. "Bagaimana ini? Aku tidak berani ...." Darius benar-benar sangat takut. Ia tidak ingin masuk ke dalam ruangan itu dan

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 429 Tanda-Tanda Melahirkan

    Di sebuah ruangan persalinan yang cukup tenang, terdengar suara tangisan bayi diiringi ucapan syukur dari para dokter dan ayah sang bayi. Danendra merasa lega, bayi yang baru saja dilahirkan oleh istrinya berjenis kelamin laki-laki. Bayi itu sangat sehat dengan suara tangisan yang begitu kencang. "Selamat, Nona! Bayi Anda laki-laki!" ucap dokter yang membantu persalinan Marissa. Bayi yang baru lahir itu segera diletakan di dada ibunya agar mencari ASI-nya sendiri. "Owa ... owa ... owa!" Bayi itu terus menangis sambil bergerak-gerak di dada Marissa. Danendra sampai terharu saat melihatnya. Di luar ruangan, Ambar dan suaminya, Wilyam, juga anak kembar—Drizela dan Michael—masih harap-harap cemas menunggu kabar dari dalam ruangan itu. Mereka tadi sempat mendengar suara tangisan bayi dari dalam sana, tetapi belum ada satu orang pun yang keluar dan memberitahu mereka. "Tadi itu suara apa, Nek? Apa suara kucing?" tanya Michael sambil mendongak menatap neneknya yang terlihat kh

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 428 Kontraksi Palsu

    Pagi ini, dunia terasa sangat indah. Marissa bangun dari pelukan pria yang semalaman menemaninya. Mereka menghabiskan waktu bersama tanpa mengenal lelah. Entah mengapa, hari ini menjadi hari yang sangat istimewa bagi Marissa. Bukan hanya karena semalaman mereka menikmati kebersamaan sebagai suami istri, tetapi juga karena semua kendala dalam hidupnya sudah berhasil dilalui dengan baik. Sekarang, Marissa merasa hidupnya begitu damai. Ia punya suami yang sangat mencintainya, juga kedua anak kembar yang sangat lucu, serta satu calon bayi yang masih ada di dalam kandungannya. Belum lagi mertua yang kini sudah merestui hubungan mereka. Selain itu, ada kakek dari pihak ayah yang baru ditemuinya belum lama ini. Semua itu benar-benar membuat Marissa sangat bahagia. "Ennnh, Sayang! Mau ke mana?" ujar Danendra sambil memejamkan mata. Ia melingkarkan tangannya di perut buncit istrinya. "Jangan dulu bangun. Aku masih mau seperti ini!" ucap Danendra lagi tanpa membuka matanya. Marissa yang su

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 427 Istana Megah

    Di dalam mobil, Marissa terheran ketika melihat jalanan yang tidak sama dengan jalan menuju tempat tinggalnya. "Eh, kita mau ke mana dulu? Tidak langsung pulang, ya?" tanya Marissa pada suaminya yang duduk di sampingnya. Selain ada Danendra dan Marissa, ada juga Drizela yang duduk bersama mereka, sedangkan Michael duduk di kursi depan bersama Asisten Anas yang sedang mengendarai mobil. "Hehe!" Danendra tersenyum. Ia sangat bangga bisa mengajak Marissa dan anak-anaknya tinggal di rumah baru yang sudah dibuatnya dengan waktu pembangunan yang cukup lama. Mungkin rencana pembangunannya sudah ada saat Marissa hamil anak pertama. Hanya saja, saat itu Marissa dan Danendra ada masalah, jadi pembangunan rumah itu dihentikan sementara waktu. "Nanti juga Sayang akan tahu!" jawab Danendra masih dengan senyum lebarnya. "Apa kita akan pergi berbelanja dulu? Atau ... mengajak anak-anak bermain?" tebak Marissa sambil melihat ke arah anak-anaknya. Mereka pun balas melihat Marissa. Dari

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 426 Mama Pulang

    "Minggir! Minggir!" "Semuanya minggir!" Petugas kepolisian bergegas menahan orang-orang yang akan mendekat. Mereka semua memegang ponselnya masing-masing, lalu merekam kejadian tersebut, di mana tubuh seorang pria tergeletak di aspal dengan genangan darah yang terus keluar. "Ah ...." Melihat hal mengerikan itu, akhirnya Marissa tidak kuat lalu pingsan. Tuan Lim yang ada di sampingnya pun segera memeluk dan menahannya agar tidak terjatuh. Dari depannya, Danendra berlari, lalu menghampiri Marissa yang terlihat lemah. "Apa yang terjadi? Marissa kenapa?" tanyanya dengan cemas. Danendra melihat Marissa memejamkan mata. Ia semakin panik, lalu memanggil bawahannya dan memintanya untuk segera membawa Marissa ke rumah sakit. Di dalam mobil, Danendra begitu cemas, bukan hanya karena melihat kejadian mengerikan yang terjadi pada Ken, tetapi juga karena melihat istrinya yang saat ini tidak sadarkan diri. Tuan Lim sudah menceritakan kronologi kejadiannya pada Danendra, dan ia pun semakin

  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 58 Pelayan Lain Merasa Iri

    "Mama! Apa benar Mama sakit karena memikirkan aku? Aku baik-baik saja di sini bersama bos Mama!"  Yang Mario tahu hanya itu. Pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu adalah bos ibunya di kantor. Mereka pernah bertemu sebelumnya dan mereka pernah menginap di apartemennya. Itulah yang membuat M

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 34 Danen yang Selalu Berubah-Ubah

    Danendra masih membolak-balik buku menu di tangannya. Jemarinya berhenti di beberapa halaman, lalu menunjuk satu per satu dengan ekspresi datar. “Apa kau suka yang ini? Atau yang ini?” tanyanya. Marissa melirik sekilas, tetapi tidak benar-benar membaca. Matanya mengikuti gerak jari Danendra, se

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 97 Lebih Hangat dari Sebelumnya

    Semenjak kejadian malam itu, Fanny tidak pernah lagi menghubungi Marissa, tidak juga mengangkat teleponnya, bahkan tidak mau bertemu dengan Marissa lagi walau teman baiknya itu sudah datang ke rumah atau bahkan menjemputnya di kantor. Fanny benar-benar menghindar.Sekarang, terasa ada jarak di anta

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Terjerat Hasrat Bos Baru   Bab 186 Tidak Mengganggu Marissa

    Di depan rumah Fanny, Marissa turun dari dalam taksi sambil memegang kunci rumah. Ia masih berdiri di samping taksi sambil melihat Fanny yang masih ada di dalam taksi. "Apa kau yakin mau pergi menemui Ethan? Aku sedikit khawatir! Lebih baik, aku ikut denganmu!" Marissa ragu dengan hal itu. Ia p

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status