FAZER LOGINYoon Yena, seorang gadis dengan kehidupan yang tidak menyenangkan harus mengalami sebuah kecelakaan yang menyebabkan hilangnya nyawa dari sang gadis. Akan tetapi, di saat-saat terakhirnya seseorang datang padanya dan menawarkan kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Tanpa berpikir panjang, Yoon Yena langsung mengiyakan tawaran itu dan ketika terbangun, ia berada di tubuh seorang putri Duke yang begitu berpengaruh di sebuah kerajaan yang tidak ia kenal sama sekali. Di balik indahnya dan tenangnya kerajaan itu, ada sisi gelap yang selama ini selalu disembunyikan. Kesempatan kedua ini adalah kesempatan terakhir bagi Yoon Yena untuk tetap hidup di dunia, jika dia menyia-nyiakan kehidupan baru ini, kegelapan tiada batas sudah menantinya di sisi lain. Tanpa disangka pertemuannya dengan seorang bergelar pangeran akan mengubah kehidupannya tapi di balik itu, ada sebuah rahasia sang pangeran yang tidak boleh sampai terungkap jika ingin semuanya berakhir bahagia.
Ver maisIsla’s POV
They say ghosts don’t exist, but they’ve never been blindsided by one in a designer suit and Italian leather shoes. I was running late for the Monday morning meeting—half-asleep, clutching my lukewarm coffee, and praying no one noticed the stain on my blouse from Leo’s jelly toast attack. I slid into my chair just as our CEO, Mike, cleared his throat. “We have a new majority shareholder,” he began, eyes darting nervously around the boardroom. “He’ll be overseeing operations personally. Please give a warm welcome to—” The door opened. I looked up. And my heart stopped. He stepped into the room like he owned it—which, technically, he now did. Lucien Wolfe. Only I didn’t know him as that. Not five years ago. Back then, I only knew him as Luke—the man who kissed me under a Tuscan sunset, who made me laugh like I hadn’t in years, who vanished without warning and took my heart with him. The same man who had no idea he left me with something far more permanent than heartbreak. I gripped the edge of the conference table, my nails biting into the wood. He looked different—taller somehow, broader, sharper around the edges. His dark hair was slicked back now, his jaw tighter, his expression like chiseled ice. But his eyes. God, those eyes. Grey. Cold. Calculating. And still the most beautiful thing I’d ever seen. He scanned the room with all the warmth of a panther selecting prey. And then—he saw me. Our eyes locked. A flicker of something crossed his face—confusion, maybe? Recognition? But it vanished before I could name it. “Thank you, Mike,” Lucien said smoothly, his voice deeper than I remembered. “I’m not here to shake things up… yet. I’m just observing. Continue.” He sat at the head of the table, precisely where he belonged. Alpha. Untouchable. I couldn’t breathe. My mind screamed. Does he remember me? But he didn’t say a word. Didn’t falter. Didn’t even blink. I forced myself to sit still through the rest of the meeting, though I heard none of it. The walls felt like they were closing in. The room was too hot, too bright. Or maybe that was just my panic setting in. The moment Mike dismissed us, I bolted—too fast, too obvious, but I didn’t care. I made it to the hallway, half-jogging toward the elevator, willing the doors to open faster. “Isla.” I froze. His voice was behind me—quiet, commanding, impossible to ignore. Slowly, I turned. Lucien stood just a few feet away, hands in his pockets, watching me like he was trying to place a dream from a lifetime ago. “You look… familiar,” he said, head tilting slightly. “Have we met?” I swallowed. “I—I don’t think so.” He studied me longer, and I felt like I was being dissected under a microscope. “You sure?” “Positive,” I lied. He stepped closer. Not threatening. Not unkind. Just… intense. “Hmm. Maybe I’m mistaken.” You are. Please be mistaken. Please walk away. But he didn’t. “What’s your name?” I hesitated. “Isla. Isla Monroe.” He said it quietly, testing the sound of it on his tongue. “Isla.” The elevator chimed. I turned and stepped inside, desperate for escape. As the doors closed, I met his gaze one last time. Those eyes. That face. That past I’d buried deep. And the secret I had never told a soul. I made it to the bathroom before I broke. Locking myself in the furthest stall, I sat down and pressed a hand to my mouth to muffle the sob that escaped. Lucien Wolfe. Billionaire. CEO. Tech titan. My son’s father. How was this happening? Five years. I’d told myself a thousand times I would never see him again. That what we had was just a summer illusion. That he probably wasn’t even real. But now he was here. Flesh and blood. Standing in my office. And I had a son with his eyes and no idea how to fix this. That night, I tucked Leo into bed and sat beside him as he drifted to sleep. His tiny hand clutched my fingers, his lashes long and dark against his cheeks. He was the only good thing that had come from that heartbreak. He didn’t know who his father was. I’d never spoken his name. How could I, when I didn’t know who Lucien Wolfe really was until recently—until his face started popping up in Forbes articles and tech magazines? I’d thought about reaching out. A hundred times. A thousand. But how do you explain to the richest man in the country that you had his child and never told him? And how do you admit that you were scared? That you didn’t know if he’d want the baby, or hate you for keeping it? Now the choice was being ripped from my hands. He was here. And the past I’d worked so hard to bury was clawing its way to the surface.Anna melirik ke arah Camille dan dengan penuh amarah, ia menganggukkan kepala kepada kedua pengawal, memberi sinyal pada mereka untuk melepaskan Camille. Kedua orang itu melepaskan Camille dengan kasar. “Bersyukurlah karena sang tuan besar telah kembali!” Anna menghentakkan kaki keluar dari ruangan itu diikuti dengan kedua pengawalnya. Camille yang terduduk di lantai memegangi kedua tangannya yang terasa sakit sebelum akhirnya ia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu. Gadis itu berlari menuju ruangan tempat sang duke berada. “Papa?” panggil Camille dari balik pintu. Pintu itu terbuka dan Duke Kranz terlihat terkejut melihat penampilan putrinya. “Astaga! Putriku! Apa yang terjadi padamu?” Belum sempat Camille menjawab, tiba-tiba dari belakangnya Anna menghampirinya dan memegang bahu Camille. “Camille! Kenapa kamu lari begitu saja? Aku sedang mengobati luka-lukamu dan kamu langsung pergi begitu saja!” “Luka-luka? Apa yang terjadi pada putriku, Anna?” tanya Duke Kranz deng
Camille berjalan kembali ke kediaman Kranz sendirian. Sepanjang perjalanan, ia tidak henti-hentinya memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Allen dan ia hanya bisa berharap bahwa Allen tidak melakukan hal yang tidak diinginkan.Setibanya di kediaman Kranz, Anna terlihat sudah menunggunya sambil memegang sebuah kipas kecil di tangannya. Ekspresinya terlihat datar dan tidak menunjukkan emosi apapun.“Nyonya…”“Bagus sekali, Camille Kranz.”Anna membuat sebuah gestur dan dari belakangnya muncul dua orang pengawal berbadan besar yang langsung menariknya dengan kasar ke dalam sebuah ruangan.“Lep
“Aku sungguh tidak menyangka akan menemukanmu disini bersama dengan pedang mulia, Celeste… Seth.” Allen berbalik badan dan di hadapannya berdiri seseorang yang sangat familiar baik di kehidupan ini mau pun di kehidupannya yang asli. "Ashe… bagaimana bisa…" "Apa kamu sungguh tidak ingat? Ketika pedang terkutukmu itu bertemu dengan pedang surgawi?" Seketika layaknya sebuah film yang diputar ulang, bayang-bayang masa lalu terulang di dalam kepala Allen atau saat ini adalah Seth. "Kamu…" Kala itu, langit berwarna merah dan ada begitu banyak bala tentara surgawi dan dunia bawah tengah berperang dalam perang terbesar yang ada dalam sejarah para malaikat dan iblis. Seth yang saat itu memimpin pasukan melaju dengan kendaraannya yang membara menerobos pasukan yang ada dan tujuannya hanyalah satu. Pemimpin dari pasukan malaikat, Nathanael. Sang malaikat tengah berdiri di atas kendaraannya dengan pedang yang diarahkan ke arah Seth. "Seth Morningstar." bisik Nathanael. Dalam sekejap, peda
“Silvie Bastien, istri dari Thomas Bastien adalah seorang penyihir. Lebih tepatnya ia memiliki darah penyihir dalam tubuhnya yang membuatnya dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa.”Sebuah jawaban yang telah dinantikan oleh Camille akhirnya terjawab. Ternyata itulah alasan mengapa Silvie Bastien atau Duchess Bastien bisa melihat Yoon Yena yang berada di dalam tubuh Camille Kranz.“Sekarang semuanya terjawab.”“Silvie Bastien telah melakukan sebuah hal yang fatal. Lyenna… Putriku tersayang… Harus kehilangan nyawanya demi ‘tumbal’ yang Silvie butuhkan demi mencegah datangnya kehancuran…”
“Hentikan semua ini!”Sebuah suara yang familiar terdengar dari belakang kerumunan orang itu. Kerumunan itu terbuka dan Ashe berjalan ke arah Duke Kranz dan kedua perempuan itu diikuti oleh seora
"Duchess Bastien dilukai seseorang!" teriak salah seorang yang sedang berlari-lari."Kami sedang mengejar pelakunya"Raut wajah Camille m
“Aku dengar Duke Bastien ditemukan di saluran irigasi dengan keadaan yang sangat menyedihkan.” Camille dan Allen mengendap-endap ke dekat kedua orang itu untuk menguping. Di taman itu ada banyak semak belukar dan sepertinya taman itu memang jarang didatangi orang. Keduanya bersembunyi di balik sebu
“Nona Camille Kranz… Kamu bukan berasal dari sini.”Camille terkejut dan mundur selangkah setelah mendengar omongan Duchess Bastien.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.