LOGINHappy Reading 🎈
•••••• "Di sini... berat, Papa. Kayvan capek..." Kayvan mendekap leher Arsen dengan isakan kecil. Arsen menatap Bi Lastri, yang terlihat lelah tapi penuh perhatian. "Bi Lastri, terima kasih banyak. Biar malam ini saya yang jaga Kayla dan Kayvan. Bibi istirahat saja. Bi Lastri adalah asisten rumah tangga yang bertanggung jawab untuk dapur dan kebersihan, tetapi ia harus merangkap menjadi pengasuh sejak Arsen memecat dua baby sitter sebelumnya karena mereka sering memukul Kayvan dan Kayla saat menangis. "Tidak apa-apa, Pak Arsen. Biar saya saja yang jaga. Bapak pasti lelah setelah bekerja. Bapak istirahat saja." Bi Lastri tersenyum lembut. "Tidak, Bi. Saya yang harus di sini. Saya ingin memeluk anak-anak saya malam ini. Bibi istirahat ya. Besok masih harus beres-beres. Terima kasih banyak, Bi." Ucap Arsen tegas, namu terdengar lembut. Tak ingin membantah majikannya, wanita paruh baya itu mengangguk, memberikan senyum penuh dukungan, dan segera keluar dari kamar. Kayvan masih terisak kecil di pelukan Arsen, merengek dan memanggil namanya, seolah memastikan Arsen tidak akan pergi. "Papa di sini, Sayang. Papa tidak ke mana-mana. Anak Papa yang pintar, jangan nangis lagi ya." Arsen mencium puncak kepala Kayvan. Tiba-tiba, Kayvan mengangkat kepalanya dan menatap mata Arsen. "Mama... ke mana, Pa? Mama belum pulang?" Kayvan bertanya dengan suara polos. Pertanyaan itu menampar Arsen lebih keras dari pertengkarannya dengan Vina. Hatinya tersentak, teriris melihat anak sekecil Kayvan harus menanyakan sosok ibu yang nyatanya ada di rumah, tapi lebih memilih dunia luar. Arsen menghela napas, mencari kata-kata yang tepat. "Mama... Mama sudah tidur, Nak. Mama lelah. Tapi dengarkan Papa, Sayang. Jangan terlalu mengharapkan Mama, ya. Dia... dia bukan wanita yang baik-baik. Dia tidak pantas untuk kalian." Arsen tidak berusaha menutupi keburukan istrinya. Kayvan mencerna ucapan papanya. Ia menyandarkan kepalanya lagi ke dada Arsen, lalu berbisik perlahan. "Kalau begitu... cari ibu baru saja, Papa. Kayvan ingin dipeluk oleh seorang mama. Dari dulu Mama tidak pernah mau memeluk Kayvan. Mama bahkan sering marah-marah kalau Kayvan menangis..." Permintaan polos dari bibir kecil itu menghancurkan hati Arsen. Ia menyadari bahwa ia telah membiarkan anak-anaknya menderita terlalu lama. Ia harus memperbaiki ini, tidak demi Vina, tapi demi masa depan mereka. Arsen mencium kening Kayvan lama, janji itu terpatri. "Ya, Sayang. Tentu. Papa akan cari ibu baru. Besok, Papa akan mulai mencari ibu baru yang baik, yang mau memeluk kalian, yang mau mencintai kalian sepenuh hati dan membacakan dongeng. Maka dari itu, Kayvan jangan sakit lagi, ya. Harus cepat sembuh biar bisa ketemu Mama baru." Keajaiban terjadi. Mata Kayvan berbinar. Ia segera menghapus air matanya dengan punggung tangan kecilnya dan tersenyum lebar. Senyum itu tulus, seperti mentari pagi. "Benar, Papa? Janji? Kalau begitu... sekarang Kayvan sudah sembuh! Sudah tidak berat lagi!" Kayvan berusaha meyakinkan papa nya. Arsen tertawa kecil, tawa pertama yang tulus setelah berjam-jam tenggelam dalam amarah. Tawa yang didasari oleh harapan baru. "Anak pintar. Tidur sekarang, ya. Papa akan peluk kalian sampai pagi." Arsen membaringkan Kayvan di ranjang, lalu ia bergeser ke ranjang Kayla. Ia berbaring di tengah, memeluk kedua anaknya yang sudah tidur dengan kasih sayang yang mendalam. Malam itu, Arsen tidak hanya memeluk anak-anaknya, tapi ia memeluk kembali tujuan hidupnya-untuk memastikan dua malaikat kecil ini mendapatkan kebahagiaan, bahkan jika ia harus menghancurkan pernikahannya sendiri. ••••• "Vano, Sekarang hubungi Pak Bagas, karyawan divisi Procurement." Perintah Arsen. Vano terkejut, mengangkat pandangannya dari tablet. "Pak Bagas? Ada apa, Tuan?" "Katakan padanya, dia harus segera mempersiapkan diri. Aku dan kau akan tiba di rumahnya dalam waktu setengah jam. Persiapkan segala keperluan untuk akad." Vano terdiam sesaat, memproses informasi yang baru ia dengar. "Tuan... maaf, apa maksud Tuan? Persiapan akad? Tuan baru saja menyelesaikan perceraian." Tanya Vano penasaran. Arsen menatap Vano dengan tatapan tegas yang tidak menerima bantahan. "Aku tahu. Aku akan menikahi putri Pak Bagas, Virly. Anak-anakku tidak boleh kehilangan sosok ibu lagi setelah Vina pergi. Aku butuh istri hari ini juga. Tidak ada waktu untuk berkabung." Vano, yang biasanya tenang, terlihat sedikit terguncang dengan kecepatan keputusan dan moralitas di baliknya, tetapi ia tahu batasannya. Ia adalah bawahan yang setia. "Baik, Tuan. Akan saya hubungi Pak Bagas sekarang." Vano segera menelpon Pak Bagas, suaranya terdengar cemas saat menyampaikan perintah mendadak itu. "Pak Bagas? Ini saya, Vano. Tuan Arsen akan tiba di rumah Anda dalam 30 menit. Beliau ingin segala persiapan untuk akad nikah segera dilakukan." "Ya, hari ini. Tuan Arsen sangat serius." Vano mendengarkan jawaban Pak Bagas yang pasti terkejut. Setelah panggilan selesai, Arsen memberikan perintah berikutnya kepada sopirnya. "Kita ke butik sekarang. Butik La Belle Vie. Pakaian yang sudah kupesan harus kita ambil." Gio menoleh ke belakang, memegang seat belt. "Pakaian untuk akad, Tuan? Tapi... kita belum membicarakannya dengan calon mempelai wanita." Arsen menutup mata sejenak, wajahnya menunjukkan kelelahan yang nyata. "Tidak perlu. Ukuran dan desain sudah kuserahkan pada pemilik butik. Dia hanya perlu menandatanganinya. Aku tidak punya waktu untuk drama pemilihan gaun. Kita harus kembali ke rumah Pak Bagas sebelum jam makan siang." "Baik, Tuan." Tanpa membuang waktu, mobil mewah itu melaju kencang meninggalkan area pengadilan. Di kursi belakang, Arsenio duduk tegak. Ia baru saja bebas dari satu transaksi yang menjijikkan, dan kini ia bergegas menuju transaksi lain yang ia yakini akan menyelamatkan anak-anaknya. Pernikahan ini bukan tentang cinta, tetapi tentang pemenuhan peran dan pelunasan hutang—pernikahan yang dibangun di atas keputusasaan. •••••• Di ruang tamu sederhana itu, ketegangan terasa begitu padat. Telepon dari Vano telah mengonfirmasi waktu kedatangan Arsen, setengah jam lagi. Pak Bagas mondar-mandir, wajahnya pucat. Bu Anisa memegang tangan Virly erat-erat. Virly menarik tangannya, air mata mengalir deras. "Aku tidak bisa, Pa! Aku tidak bisa dengan semua ini! Ini gila! Menikahi orang yang baru kukenal, yang mengancam kita!" "Nak, tolong, terima tawaran ini. Hidup kita akan terjamin. Hidupmu juga. Kalau Papa dipenjara, bagaimana nasibmu, Nak? Siapa yang akan membiayai kuliah mu? Tuan Arsen kaya, setidaknya anak-anaknya butuh ibu yang baik, dan kau adalah orang baik, Sayang..." Pak Bagas berlutut di depan putrinya, memohon. Om dan Tante Virly yang ikut berkumpul juga ikut membujuk. "Virly, setuju saja. Anggap ini pengorbanan, Nak. Minimal kau bertahan satu tahun. Jika dalam satu tahun kau tidak betah, kau boleh mengajukan cerai secara damai. Kami akan mendukungmu." Pak Bagas mengangguk cepat. "Benar, Nak. Papa janji, Papa akan dukung kalau kau tidak bahagia." Kepala Virly terasa seperti meledak. Ia melihat keputusasaan ayahnya dan air mata ibunya. Ia melihat jalan buntu. Dengan air mata yang semakin deras, Virly akhirnya mengangguk pasrah. Pengorbanan itu terasa menusuk jantungnya. Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil mewah berhenti mendadak di depan rumah. Bukan hanya satu mobil, tapi beberapa, termasuk satu mobil van hitam. Pak Bagas segera keluar menyambut. Arsen turun dengan aura mengintimidasi. Ia sudah mengenakan jas mahal yang membuatnya terlihat sangat berwibawa, dingin, dan tegas. Arsen langsung masuk, diikuti oleh Vano, seorang pria berpakaian rapi dan dua pasangan paruh baya—Orang tua Arsen, yang berperan sebagai saksi. Arsen langsung ke intinya, tanpa basa-basi. "Pak Bagas, ini ayah dan ibuku sebagai saksi. Dan ini penghulu. Kita tidak punya banyak waktu." Vano segera menyerahkan paperbag yang dibawanya kepada Arsen. Arsen mendekati Bu Anisa. Arsen memberikan paperbag itu kepada Bu Anisa. "Bu Anisa, tolong suruh putri Anda memakai gaun ini sekarang. Akad akan dilaksanakan secepatnya." Bu Anisa segera menggenggam tangan Virly, yang masih berdiri membeku karena shock. "Ayo, Nak. Demi Papa. Kita ke kamar." Bu Anisa berbisik lembut. Di dalam kamar, tangis Virly kembali pecah. Ia memeluk ibunya erat-erat, seolah itu adalah pelukan terakhirnya sebagai gadis bebas. "Ma... aku takut! Aku tidak mau! Aku tidak mau jadi 'ibu' untuk anak-anaknya!" Virly terisak keras. "Sstt... Nak, dengarkan Mama. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu masih bisa bertemu kami setiap hari. Ingat tujuanmu. Kamu menyelamatkan Papa. Pakai bajunya sekarang, Nak. Mereka sudah menunggu." Dengan hati yang hancur dan air mata membasahi gaun sederhana yang ia kenakan, Virly memakai gaun pernikahan yang dibelikan oleh Arsen—gaun yang terasa seperti pakaian tawanan. Virly kembali ke ruang tamu, wajahnya pucat namun anggun dalam balutan gaun itu. Ia duduk di samping ayahnya. Arsen menatapnya sekilas, tanpa senyum, tanpa kehangatan. "Laksanakan akad sekarang. Kita tak punya banyak waktu." Ucap Arsen kepada penghulu. Pernikahan sederhana dan dingin itu dimulai. Dengan satu tarikan napas, Pak Bagas menyerahkan putrinya. Dan dengan tegas, Arsen mengucapkan ijab kabul. "Bagaimana para saksi, sah?" "Sah!" •••• Jangan lupa untuk tinggalkan komentar yaaa biar semangat hehehe 💙💙💙 Hai🔥💙Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋Happy Reading 🎈 ••••"Sudah, pulang sana!" Desak Virly.Reno mengangguk. "Bye, Sayang!"Virly melambaikan tangan setelah kepergian Reno.Jantung Virly berdegup kencang saat matanya menangkap mobil Arsen yang sudah terparkir di depan pagar. "Sial, semoga Mas Arsen tidak melihat adegan pelukan tadi. Matilah aku!" Ia segera berjalan mendekati mobil itu, membuka pintu depan, dan duduk di samping Arsen."Mas." Virly mencoba tersenyum.Ia mengulurkan tangannya untuk salim pada Arsen. Arsen menerima uluran tangan Virly. Virly menempelkan punggung tangan suaminya ke pipinya, melirik Arsen yang menatap nya datar, lalu melepaskan tasnya.Arsen menjalankan mobil tanpa berkata apa-apa.Virly melepaskan dasi yang mencekik lehernya."Mas, ada air minum? Aku haus. Airku habis."Arsen mengambil tumbler yang tersedia di mobilnya dan menyerahkan ke Virly. Virly minum dengan hati-hati dan mengembalikan tumb
Hai💙💙Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋••••••Arsen mengedikkan bahu, pura-pura tidak mengerti. "Terus aku harus apa? Sebagai seorang ibu, harusnya kau bisa mengurus anakmu.""Aku sebentar lagi akan terlambat!"Virly berharap Arsen mengerti."Aku juga mau pergi bekerja. Bukan cuma kamu yang ada kegiatan." Jawab Arsen sarkas.Mendengar jawaban Arsen yang seolah tak mau membantunya, Virly hanya diam saja. Rasanya percuma meminta tolong kepada manusia seperti Arsen.Ia kembali menjauh dari Arsen, duduk di meja makan, dan menepuk-nepuk punggung Kayvan dengan pelan."Baiklah. Kalau Kay tidak mau ditinggal, aku libur saja hari ini. Arsen, kau memang menyebalkan, tapi aku tidak akan membiarkan anakmu menderita karenamu." Batinnya.Keputusannya telah bulat. Virly pasrah melewatkan kuliah, demi menenangkan anak yang ia jaga.Melihat Virly hanya diam di meja makan, memeluk Kayvan, Arsen menghela napas. Ia berjalan mendekati Virly.Arsen b
Hai💙💙Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋Selamat membaca bagi yaa gaysss. Votee dan komen yang banyak ya! Spam dengan emot ini dulu biar semangat 💙💙 💙 💙 💙 💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙••••••Pagi hari, sekitar pukul 05:30, sebelum anak-anaknya bangun, Virly sudah terbangun terlebih dahulu. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena harus berbagi ranjang dengan Kayvan dan Kayla. Ia menatap kedua anak itu dengan dalam, merasa iba melihat mereka harus menjalani hidup tanpa kasih sayang orang tua yang utuh.Ia segera menuruni ranjang dan berjalan menuju kamar utama. Ia memutar knop pintu dengan malas, tetapi pintu itu terkunci."Mas... Mas Arsen, buka!" Virly mengetuk pelan.Tak ada jawaban. Virly kembali mengetuk pintu dengan kencang, mulai panik karena takut terlambat sekolah."Mas Arsen! Buka! Aku mau mandi! Aku harus berangkat kuliah!"Tak lama, pintu terbuka. Arsen berdiri di sana dengan wajah baru bangun tid
Hai💙💙Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙•••••••Selesai dengan tablet-nya, Arsen memutuskan untuk keluar menuju kamar anak-anak. Begitu ia membuka pintu, ia melihat Kayvan dan Kayla yang sibuk menggambar. Matanya menoleh ke arah ranjang, di sana ada Virly yang membalut tubuhnya dengan selimut." Apakah dia sudah tidur? Ini bahkan baru pukul 7 malam. Apakah istriku merajuk? "Arsen kemudian mendekati kedua anaknya dan duduk di samping Kayla. "Sedang apa, Nak? Gambar apa itu?"Bukannya menjawab, Kayla malah menatap ayahnya dengan serius.Kayla berkata dengan suara polos namun menyentuh. "Papa... Papa tadi memarahi Mama, ya?"Arsen terdiam. Ia tidak menyangka Kayla memperhatikan."Tidak, Sayang. Papa tidak memarahi Mama. Papa hanya bicara tegas." Jawab Arsen."Tapi Mama terlihat murung. Mama sudah capek sekolah dari pagi, dan begitu pulang harus mengurus aku dan Adek lagi. Jadi... bisakah Papa jang
Hai💙💙Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙••••••Follow Ig: wang_shineeHappy Reading 🎈 •••"Halo, Sayang! Sibuk ya? Nanti malam kita jadi keluar kan? Aku kangen banget nih." Suara Reno yang ceria, terdengar jelas.Virly terkejut total. Ia segera melihat layar ponselnya—ternyata memang Reno yang menelpon. Ia langsung mematikan loudspeaker dan berjalan menjauh ke arah balkon, sementara mata Arsen menatap tajam ke punggungnya."Reno, aku tidak bisa untuk malam ini. Ada acara mendadak. Sangat penting." Virly berbisik, suaranya tegang.Reno terdengar menghela napas. "Yah... padahal aku sudah siapkan kejutan. Kalau begitu, kapan Virly bisa? Besok?""Nanti aku kabari. Aku tutup dulu ya. Sampai jumpa." Virly langsung menyudahi panggilan tersebut.••••Virly kembali masuk ke dalam kamar dan langsung mendapatkan tatapan tajam, menusuk, dan penuh amarah dari Arsen.Virly, meskipun gentar, berusaha tidak
Hai💙💙 Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋 Selamat membaca bagi yaa gaysss. Votee dan komen yang banyak ya! Spam dengan emot ini dulu biar semangat 💙💙 💙 💙 💙 •••••• • Kayvan menggeleng. "Kay mau menunggu Mama." Virly menghela napas panjang. Ia menatap Arsen dengan sinis, matanya memancarkan kekesalan luar biasa. "Kenapa kau menatapku sinis begitu?" Ucap Arsen merasa terganggu dengan tatapan itu. Virly mendengus kesal. "Kau tidak punya hati." Arsen langsung memasang wajah tak terima. "Apa maksudmu, Virly? Jaga ucapanmu!" Virly, yang sedari tadi menahan kekesalannya, akhirnya meluapkannya. "Bagaimana bisa kau dengan santainya duduk tadi di bawah, membiarkan Kay menangis sampai sesegukan?! Bahkan sampai sekarang, sudah hampir jam empat sore, Kay belum makan sama sekali! Di mana hati nuranimu, Arsen?!" Ucap Virly, nada nya meninggi karena emosi. "Kayvan yang nakal! Aku sudah bilang dia harus diam dan men







