"Aku tidak membenci cinta, aku hanya takut jatuh terlalu dalam… karena jatuh membuatku sadar betapa kerasnya tanah saat aku terhempas."~Latisha~.."Kenapa nggak bilang dulu?" suara Latisha terdengar pelan, tapi jelas sarat dengan perasaan yang campur aduk. Mereka sudah berada di kamar, hanya berdua. Lampu redup menyorot wajahnya yang masih menyimpan rasa curiga.Sagara yang duduk di ujung ranjang menarik napas panjang sebelum menjawab. "Kamu tahu, kan? Kejutan itu bukan buat diumumin. Saya cuma pengin nunjukin kalau saya punya usaha… punya effort buat bertahan sama kamu."Kalimat itu membuat Latisha bangkit dari posisi tidurnya. Ia duduk bersila, menatap Sagara lurus-lurus dengan sorot mata penuh tanda tanya."Yakin, Pak?" tanyanya, datar namun menusuk.Sagara mengernyit, agak bingung dengan intonasi istrinya. "Kenapa nanya gitu?"Latisha tersenyum miring, pahit. "Bapak ingat nggak, hubungan kita satu bulan terakhir ini jauh dari kata baik-baik aja? Kita bahkan nyaris bercerai. Dan
Latisha mendongak, menatap Sagara penuh selidik. Suaranya bergetar ketika menyebut satu nama, "Mbak Clara?"Tentu saja, setelah semua kejadian akhir-akhir ini, ia tidak bisa begitu saja menaruh percaya pada orang lain. Sagara mungkin terlihat meyakinkan, namun rasa takutnya masih lebih kuat."Clara?" alis Sagara terangkat, sorot matanya bingung."Bukankah bapak mau balikan—""Saya dan Clara sudah selesai tujuh tahun lalu," potong Sagara tegas, matanya tak lepas dari Latisha, seolah ingin memastikan istrinya mengerti. Ada ketegasan sekaligus ketulusan yang terasa dalam ucapannya.Namun Latisha tetap terdiam. Ada sesuatu di kepalanya yang terus bergolak. Ia ingin percaya, tapi luka-luka masa lalu membuat langkahnya tertahan.Sagara menarik napas panjang, lalu menatap Latisha dengan ekspresi yang sulit ditebak antara jengkel dan sayang. "Saya kadang penasaran, sebenarnya apa sih yang muter di kepala kamu ini?" gumamnya sambil mengetuk lembut dahi Latisha dengan jemarinya.Latisha hanya m
“Saya tahu kamu masih muda. Kamu masih punya banyak hal yang ingin kamu kejar, banyak mimpi yang mungkin belum sempat kamu wujudkan.” nada Sagara terdengar tenang, tapi ada getaran samar yang membuat Latisha spontan menunduk menatapnya.Kening Latisha berkerut. “Terus?”Sagara menahan napas sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi… saya mau minta satu hal dari kamu. Boleh?”Latisha menatapnya bingung. Jemarinya yang tadinya sibuk di pelipis Sagara kini terhenti, seakan ikut membeku bersama suasana. “Apa?” tanyanya hati-hati.Sagara tidak langsung menjawab. Tatapannya tak lepas dari wajah muda istrinya, seolah mencari keberanian untuk melepaskan kata-kata yang selama ini tertahan.“Apa, Pak?” ulang Latisha pelan, kali ini lebih lembut.Sagara menghela napas panjang, lalu berkata lirih, “Jangan lari lagi dari saya, Sha.”Latisha mengerjap, tak siap dengan jawaban itu.“Saya tahu kamu belum sepenuhnya terbuka sama saya. Kadang kamu menghindar, pura-pura sibuk, pura-pura nggak peduli. Tapi…” su
“Ibu balik sore nanti,” ujar Latisha pelan, melangkah menghampiri Sagara yang sedang duduk di ruang tengah.Pria itu terlihat lelah. Punggungnya bersandar di sofa, mata terpejam, seakan tubuhnya baru saja dipaksa menanggung beban yang berat. Saat mendengar suara Latisha, matanya perlahan terbuka, menoleh pada sosok yang berdiri di sampingnya.“Kok mendadak?” tanyanya heran. Ia ingat betul ibunya sempat bilang akan tinggal sedikit lebih lama di sini.“Ayah kangen, katanya,” jawab Latisha singkat. Senyum samar tersungging di bibir Sagara, meski hanya sesaat. Namun Latisha cukup peka untuk menangkapnya.“Ambilkan ponsel saya di ruang kerja, boleh?” ucap Sagara tiba-tiba, membuat Latisha mengerutkan dahi bingung.“Untuk apa?” tanyanya.“Saya mau minta tolong Kevin, biar dia yang antar Ibu ke bandara.”Latisha mengernyit. “Bapak sibuk?”Sagara menggeleng pelan. “Tidak… cuma kepala saya sedang pusing.”Latisha terdiam sebentar, lalu berkata tegas, “Tapi saya ikut Mas Kevin antar Ibu ke band
"Saya baru tahu… selera Bapak ternyata seperti dia."Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Latisha, dingin namun penuh luka. Ia segera membuka pintu mobil dengan terburu-buru, langkahnya tergesa menuju area basement apartemen yang remang.Hatinya kacau. Sejujurnya, ia kesal setengah mati. Selama ini, Latisha pikir menikah dengan Sagara setidaknya akan bebas dari drama perempuan masa lalu. Ia yakin pria itu berbeda tidak tertarik pada hal-hal seperti itu. Bahkan selama satu tahun bekerja di perusahaannya, tak sekalipun Latisha mendengar kabar Sagara dekat dengan perempuan mana pun.Tapi nyatanya, hari ini ia justru dipaksa menelan kenyataan pahit.Meski begitu, Latisha tahu itu bukan sepenuhnya salah Sagara. Mereka menikah bukan karena cinta, melainkan karena kebutuhan. Sebuah kesepakatan dingin yang seharusnya tidak melibatkan hati. Namun, siapa yang bisa menjamin? Empat bulan berbagi atap, berbagi ruang, bahkan berbagi ranjang… apa mungkin benar-benar tidak ada perasaan yang tum
“Saya ke sana dulu,” pamit Sagara pelan.Belum sempat ia melangkah, jemari Latisha refleks menahan pergelangan tangannya.Di tengah pesta yang megah dengan gemerlap lampu kristal, aroma bunga segar, dan denting musik orkestra yang syahdu, Latisha justru merasa begitu asing. Semua orang tampak saling mengenal, tertawa, dan berbaur dalam hangatnya percakapan.“Kemana?” tanya Latisha lirih, menengadahkan wajahnya.Sagara melirik ke kanan. Empat pria berjas rapi tampak bercengkerama sambil mengangkat gelas kristal mereka. Tawa mereka terdengar ringan, bercampur dengan riuh rendah tamu undangan.“Itu rekan bisnis saya. Sebentar saja, hanya menyapa,” ujarnya lembut, mencoba meyakinkan.“Janji,” ucap Latisha pelan, hampir berbisik, seolah takut suaranya tenggelam dalam hingar-bingar pesta.Sagara tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya, sebentar.”Dengan berat hati, Latisha melepaskan cekalannya. Matanya tak lepas mengikuti langkah Sagara, hingga punggung lelaki itu menghilang di antara kerumun