Share

Bab 57

Author: Hibatillah S.
last update publish date: 2024-04-07 09:18:24

Berhari-hari berikutnya Edo terlihat murung. Sepertinya ia tengah menimang suatu keputusan terberat di dalam hidupnya.

"Apakah tidak apa-apa jika aku mengorbankan Gara demi mendapatkan Bella?"

Edo bertanya pada dirinya sendiri melalui pantulan cermin di dalam toilet sekolah yang sepi saat jam mata pelajaran tengah berlangsung.

"Tapi... Tapi Gara itu sahabatku. Aku akan benar-benar menjadi orang sejahat Sabia jika tutut andil di dalam rencananya."

Edo menunduk. Di dalam benaknya terlintas lagi b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 140

    Kumandang adzan Edo terdengar beberapa kali tersensat. Suaranya yang parau itu timbul tenggelam dalam tangisan. Saat kumandang adzan dan iqamahnya selesai wajah Edo benar-benar telah banjir air mata. Ia tak menyangka jika sekarang telah menjadi seorang Papa. Seorang bayi mungil telah hadir di hadapannya begitu nyata. Ya, ini bukan lagi mimpi atau sekedar khayalan. Edo takut-takut menyentuh tangan mungil bayinya yang masih mengepal. Lalu ia mencium pipi anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Bayi itu tampak mengeliat bibirnya bergerak-gerak lucu. Ia pasti mengira ciuman Edo dipipinya adalah asi pertama yang ingin ia hisap. "Selamat datang di dunia jagoan kecil Papa," ucap Edo pelan. "Ya, ampun Papa malah nangis. Harusnya Papa seneng karena sudah bisa bertemu kamu. Maafin Papa ya sayang." Edo tersenyum bahagia saat melihat jari telunjuknya digenggam oleh anaknya. Edo kemudian teringat pada satu-satun

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 138

    Faktanya kepulangan Leo ke markas Hell Devil memang membuat kebahagiaan tersendiri meskipun ada sedikit yang disayangkan. Yaitu Leo tak bisa dimintai keterangan terkait peristiwa yang menyebabkan dirinya celaka. "Coba diingat-ingat lagi Leo. Bukankah kala itu kau pergi untuk menyelidiki tentang ibunya Sabia untuk kasus pembunuhan mamanya Bella?" Tanya Pak Freddy. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa jejak penyeranganmu ditemukan di pinggiran kota? Apa yang kau temukan disana?" Leo tertunduk di depan Pak Freddy. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Berusaha benar mengingat terakhir kali yang terjadi dengan dirinya. "Pak Freddy, sepertinya Leo memang tidak bisa mengingat apapun. Jangan dipaksakan. Nanti dia bisa sakit," kata Gara. "Sepertinya tidak ada orang lain yang bisa diharapkan untuk menuntaskan kasus ini. Kalau begitu aku sendiri yang harus turun tangan untuk menuntaskann

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 139

    "Aku sudah launching Om, ditunggu kadonya." Gara tersenyum setelah membaca pesan singkat itu. "Kenapa Ra?" Tanya Bella. Gara masih tersenyum lebar saat menyerahkan gawainya pada Bella. "Apaan sih yang bikin kamu senyam-senyum nggak jelas begini?" Bella penasaran. Ia pun mengambil gawai Gara dan melihat foto yang dikirimkan oleh sahabat Gara itu. "Ini..." Bella mengamati baik-baik foto itu. "Ini anak Kak Edo?" Tanya Bella tak percaya. "Kecuali kalau Edo nyulik anak orang bisa jadi foto itu bukan anaknya. Ya iyalah itu anaknya Edo, sayang," jawab Gara. "Ih, Gara neyebelin banget sih orang aku nanya baik-baik juga. Aku tuh kaget aja kok Sabia udah lahiran aja. Dia yang lahirannya cepet apa kita yang terlalu sibuk sih?" "Kita yang terlalu sibuk deh kayaknya. Gimana, mau nengokin sekarang atau besok aja?" Tanya Gara. "Kalau besok keburu pul

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 137

    "Leo?" Refleks Gara menyebut nama itu. Leo menatap Gara dengan lekat. "Aduh, kayak nggak asing sama wajahnya. Tapi siapa ya?" Tanya Leo mencoba membenamkan wajah Gara ke dalam ingatannya. "Gara," ucap Gara. "Sagara Rihanda." "Oh, ya benar. Aku baru ingat!" Seru Leo. Ingatannya memang agak buruk setelah kejadian itu. Terutama untuk kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Justru jika kejadian itu telah lama berlalu Leo sangat ingat betul. Seperti bagaimana ayahnya meninggal dan bagaimana ia bergabung dengan kelompok mafia Hell Devil. Gara meletakkan air mineral yang dibawanya ke meja kasir. "Kau jangan pergi. Aku ingin bicara denganmu." "Oke, aku tunggu di luar," jawab Leo. Kebetulan di luar minimarket memang ada meja dan kursi yang sengaja di sediakan untuk pengunjung. Gara menyelesaikan pembelian air mineralnya kemudian buru-buru keluar untuk menyusul Leo.

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 136

    Grep! Gara memeluk Bella dari belakang saat perempuan itu sibuk bersolek di depan cermin. "Aku harus ke sekolah Ra," ucap Bella saat laki-laki yang menjadi suaminya itu meletakkan dagunya di atas pundak Bella. "Aku tau," jawab Gara. "Kalau tau menyingkir dong." Gara tetap tak bergeming. Ia tetap memeluk Bella dengan posesif. "Oh ya aku sudah meminta supir di rumah Papa untuk mengantarkan pakaian untukmu. Mungkin tidak lama lagi datang." Bella memberitahu. "Aku suka begini padahal. Apalagi kalau nempel sama kamu." "Kita sudah nempel semalaman. Sekarang aku mau sekolah jadi lepaskan dulu pelukanmu." Bella sudah menyelesaikan riasan tipisnya. Ia sibuk merapikan alat-alat make up-nya, memasukkan ke dalam laci meja rias. "Aku masih kangen sama kamu," ucap Gara manja. Bella melihat

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 135

    "Tak kusangka selama ini kamu ada di sini," kata Gara sambil meletakkan beberapa barang belanjaan berisi sayur-mayur. "Kenapa, kamu sudah memberikan rumah ini untukku kan?" Tanya Bella. Perempuan itu kemudian membungkar belanjaan yang tadi Gara bawa. "Yah, rumah ini memang milikmu. Sudah jadi hakmu. Tidak ada salahnya kalau kamu menempatinya," kata Gara. "Kamu mau masak apa?" Tanya Gara setelah beberapa saat. Bella masih tak menoleh karena sibuk memisahkan beberapa sayur untuk di simpan ke dalam kulkas. "Kamu mau dimasakin apa? Kamu udah lama kan nggak makan masakanku." Gara mengangguk. "Apapun yang kamu masak aku tetep makan. Kamu masak apa yang menurutmu paling pandai kamu buat." "Aku paling pandai masak mie instan pake telur," gurau Bella sambil terkekeh. "Iya, buat itu aja nggak apa-apa. Cari yang praktis. Kalau kelamaan masak nanti aku bisa kela

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 44

    Gara, Edo, Bella dan keluarga Revan menjadi orang yang paling akhir meninggalkan pemakaman. Rasanya mereka masih tidak percaya jika jasad yang baru saja dikebumikan itu adalah Revan.Ribuan tetes air mata mengiringi kepergiannya. Tak perduli bahkan jika mata telah menjadi sembab karenanya. Seolah tan

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 43

    Gara dan Bella baru datang ke rumah sakit saat Edo tertunduk lesu bersama Mamanya Revan."Tante," panggil Gara. Bocah itu kemudian menyalami Mamanya Revan bergantian dengan Bella.Gara memperhatikan kondisi Revan yang masih terpejam erat."Gimana dengan Revan, Do?"Edo menggeleng sambil meremas rambutny

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 42

    Bella latihan tari hingga sore. Karena sebentar lagi dia dan anak-anak seni tari lainnya akan perform untuk memeriahkan acara hari ulang tahun sekolah.Sepulang dari sekolah Bella langsung mandi dan tidur. Bahkan ia tidur masih menggunakan handuk kimono tanpa berganti baju lebih dahulu. Sepertinya Be

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 41

    "Bel, kantin yok!" Ajak Vanilla."Kalian aja deh. Aku nggak laper," tolak Bella.Ia bukannya tidak lapar. Ia hanya malas menyaksikan Gara duduk sebangku dengan Sabia lalu gadis itu mepet-mepet suaminya sok ngasih perhatian."Yakin?" Tanya Vano."Titip beliin sesuatu nggak? Nanti kamu laper loh. Mumpung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status