เข้าสู่ระบบHow would you feel if your long term boyfriend and love of your life chooose your maid over you? What stunts would you pull to tear them apart? If your heart has been broken thrice, would you still take a chance at love, for the fourth time? If you had a slave, would you let her go free, and take everything that was meant for the one person you love and protect- your kid sister? If you were an alpha king, dreadful, powerful, and wealthy, whom every lady drools for, would you accept a bond to an omega and a slave? ***** Melissa Owens is an omega in the Viperine Pack and a slave to Alpha Reuben and his sister, Lizzy. She had been rejected three times by different mates and she had already concluded that the moon goddess is tired of her. It came as a surprise when the 3-time rejected omega was bonded by the moon goddess once again, but this time to the alpha king himself, alpha Enzo. Alpha Enzo was the boyfriend to Lizzy, Melissa's slaver. Lizzy had so much wanted to be his mate and Luna, but on her eighteenth birthday party, alpha Enzo chose Melissa instead, and worst of all, he chose her right before Lizzy's watching eyes. Would Melissa survive the stunt Lizzy and alpha Reuben would pull? How would she forget her past experiences and move on with present reality? Will the alpha king accept or reject her? As some hidden truth is brought to light and false allegations are well crafted to resemble the truth, how would they find a way around?
ดูเพิ่มเติมBab 1. MAHASISWA MISKIN
"Hai Kuli, cepat kemari!”
Terdengar mahasiswa senior memanggil seorang pemuda yang sedang berjalan di selasar Universitas Matrix.
Mahasiswa yang dipanggil kuli tentu saja tidak menoleh, dia tetap terus berjalan menelusuri Selasar menuju kantin.
Kemudian empat orang mahasiswa Senior langsung menghadang langkah Jaka dengan senyum penuh dengan hinaan terlukis di wajah mereka.
Jaka Kelud langsung berhenti dan menatap keempat mahasiswa senior yang menghadangnya dengan tatapan tidak suka.
Meskipun Jaka merupakan orang miskin, dia tetap tidak suka jika ada orang yang bersikap kasar kepadanya.
Jaka masih bisa mentoleransi orang yang menghina kemiskinannya, akan tetapi jika ada yang berniat mengganggunya maka rasa takut dan rendah dirinya akan menghilang seketika itu juga.
Jaka Kelud sendiri merupakan mahasiswa semester dua, sedangkan mahasiswa senior dan teman-temannya yang menghadang Jaka merupakan mahasiswa semester enam dan merupakan ketua BEM Universitas Matrix.
Mahasiswa yang memimpin para mahasiswa senior ini bernama Yoga yang berasal dari keluarga konglomerat, dengan statusnya ini tentu saja dia selalu memandang rendah setiap mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin.
Apalagi dia tahu kalau Jaka Kelud masuk Universitas Matrix ini menggunakan beasiswa yang membuatnya bisa belajar tanpa harus membayar biaya semester dan lainnya.
“Ada apa kak?”Jaka bertanya dengan sopan ke arah mahasiswa yang menghadang langkahnya.
“Kamu ini benar-benar orang miskin yang tidak tahu diri. Kalau dipanggil tuan muda sebaiknya kamu cepat datang dan mendekat, Dasar orang miskin, apa kamu ingin kami hajar terlebih dahulu agar kamu bisa mendengar saat kami panggil?”
“Betul sekali, kalau jadi mahasiswa yang mengandalkan beasiswa itu jangan terlalu belagu, dasar miskin tapi sok bergaya dasar sombong dan tak tahu diri.”
Jaka yang awalnya sudah menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Yoga untuk menanyakan alasan dia dipanggil segera berniat untuk melanjutkannya langkah kakinya lagi ketika mendengar hinaan mahasiswa senior di depannya.
Tentu saja Yoga tidak senang melihat Jaka ingin melanjutkan langkahnya dan seperti menghiraukan perkataannya.
“Berhenti, kamu mau kemana lagi? Cepat kemari,!”
Yoga yang melihat Jaka menghiraukan perkataan anak buahnya segera melambaikan tangannya sambil berteriak dengan menampilkan ekspresi tidak sukanya.
“Cepat menghadap tuan muda.”
Salah seorang mahasiswa senior yang menghadangnya langsung mendorong dada Jaka untuk segera menghadap Yoga.
Tubuh Jaka sedikit terhuyung terkena dorongan mahasiswa senior yang menghadangnya.
Jaka menatap mahasiswa itu dengan tatapan tidak suka terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam.
“Kenapa kakak mendorongku?”
“Ha ha ha ha… lihatlah si Kuli mulai marah, ha ha ha ha…”
Bukannya minta maaf, mahasiswa senior ini malah tertawa penuh dengan hinaan sambil menunjuk ke arah Jaka yang sedang menatap ke arahnya dengan mata penuh tatapan tidak senang.
“Cepat pergi sana menghadap tuan muda Yoga!”
Sekali lagi mahasiswa senior yang menghadangnya menghardik dan terlihat tidak sabar melihat sikap Jaka.
Jaka memandangi keempat mahasiswa senior di depannya dan Yoga yang sedang menatap ke arahnya bersama anak buahnya yang lain dengan silih berganti.
Akhirnya Jaka menghela nafas berat sebelum akhirnya berjalan ke arah Yoga dan menyapanya.
“Hallo kak, ada apa kakak memanggilku.”
“Nah begitu baru anak yang baik, Jadi orang miskin itu jangan belagu. Apa kamu tidak ingin tetap kuliah di Universitas ini? Belikan aku rokok di minimarket, ini uangnya.”
Yoga melemparkan uang lembaran seratus ribu rupiah ke wajah Jaka dengan ekspresi penuh dengan penghinaan tergambar jelas di wajahnya, setelah menyampaikan perkataan penuh dengan ancaman.
Dengan cepat Jaka pergi ke minimarket yang ada di dekat Universitas untuk membeli rokok pesanan Yoga dengan perasaan kesal, setelah memungut uang seratus ribu rupiah di lantai.
Tak lama kemudian Jaka sudah kembali dan menyerahkan sebungkus rokok dan korek api kepada Yoga dengan tatapan datar.
Dalam hati Jaka sebenarnya sangat marah dan benci diperintah oleh Yoga, tapi dia menyadari keadaan dirinya yang hanya mahasiswa miskin bisa kuliah di Universitas ternama ini saja dengan jalur Beasiswa.
Jaka tidak ingin membuat keributan yang akan membuatnya mendapatkan poin dan beasiswa yang didapatkan akan dicabut oleh pihak Universitas.
Hal ini bagi Jaka bukanlah sesuatu yang memalukan, yang penting dia tidak disuruh melakukan perbuatan jahat atau abnormal.
“Ambil kembaliannya untuk kamu saja, sana cepat pergi baumu itu mengganggu penciuman kami.”
Yoga melemparkan uang lima puluh ribu rupiah kembalian membeli rokok ke lantai seperti sebelumnya saat dia menyuruh Jaka untuk membeli rokok.
Hati Jaka langsung memanas melihat sikap arogan kakak seniornya ini, dengan menahan sabar Jaka mengambil uang lima puluh ribu rupiah itu di lantai kemudian pergi meninggalkan mereka tanpa banyak bicara.
“Ha ha ha ha…. dasar pecundang tetap saja pecundang, makanya jadi orang itu jangan terlalu belagu.”
Suara tawa anak buah Yoga menggema di selasar Universitas berbasis teknologi yang sangat ternama di kota Jakarta ini.
Sementara Yoga dan teman-temannya tampak memandangi punggung Jaka sambil bergosip menghinanya.
Dengan cepat Jaka meninggalkan Yoga dan yang lainnya, melanjutkan perjalanannya ke kantin untuk makan siang.
Selepas berkuliah, Jaka yang mesti mencari tambahan langsung menuju area konstruksi tempatnya bekerja paruh waktu dengan bis.
Tak berselang setengah jam, kini terpampang di hadapannya sebuah area konstruksi gedung apartemen lima puluh lantai yang sedang dalam pembangunan.
“Hai Jaka, kamu sudah datang ayo cepat ganti pakaianmu kita mulai kerja.”
“Siap.”
Begitu memasuki lokasi konstruksi, Jaka sudah disambut seorang mandor proyek dengan ramah.
Ketekunan dan sikap kooperatif Jaka selama bekerja di lokasi konstruksi membuat semua rekan kerjanya sangat menyukainya.
Apalagi tidak suka bicara dan tidak suka membantah setiap perintah mandor atau rekan kerjanya yang meminta bantuan.
Bekerja di lokasi Konstruksi adalah pekerjaan paruh waktu yang dilakukan Jaka Kelud Setiap pulang Kuliah, lebih tepatnya Jaka mulai bekerja pukul empat sore hingga sepuluh malam.
Saat ini Jaka Kelud sudah berganti pakaian kerja dengan helm keamanan terpasang di kepalanya untuk menghindari benda kecil jatuh menimpanya yang akan menyebabkan kecelakaan yang tidak perlu.
Waktu berlalu dengan cepat tidak terasa jam kerja Jaka hampir selesai, saat ini waktu sudah menunjukkan waktu pukul sembilan malam yang berarti satu jam lagi jam kerja Jaka Kelud sudah selesai.
Saat ini Jaka sedang asyik dengan pekerjaannya mengambil batu batu bata dan dipindahkan ke sebuah troli yang akan dibawa ke atas menggunakan crane.
Pada saat sedang asik membungkuk untuk merapikan batu bata di depannya sambil menunggu troli crane yang baru saja naik menuju lantai dua puluh turun lagi untuk kembali mengangkut batu bata, tiba-tiba dari langit turun hujan batu bata.
Brak brak brak…
“Jaka...!”
“Jaka…!”
***
Author's POV"You can come over now, atleast Enzo won't following you up."Lizzy's voice giggled over the communication line."I really hope so. But I have to go met him now, I'll get back to you once I'm done with him."Lizzy sighed defeatedly, and retorted." Make it quick, then."" I'm right on it."Drake replied and hung up the phone.A devilish smirk quickly spread a across his entire face and he began to mutter."Here I come, Your Royal Highness."Then he took something in his hands, and stormed out of his room.When he reached the door to the Royal quarters, he smiled at the guards."I have to discuss something very crucial with His Highness, so let me in."The guards looked at each other, the confusion on his face was so obvious, that Drake mistakenly left out a chuckle. They opened the door and he walked in."Your Highness, it's my deepest pleasure to see you. And….apologies to barging in.""You can seat Drake."The alpha king responded coldly, still wondering in his mind,
Author's POVMelissa watched as the king drove out of the palace. She still couldn't fathom what was so important to him.She had reasoned that since their Royal wedding is in three days time, maybe the king has some things that he needed to get them sorted.That thought also reminded her that there were things that she also needed to sort out.At such a crucial point in her life as her wedding, she needed Erica, who is the one person that has got her back all along. Erica had not visit her again since the last time that she visited.Now that the wedding is just three days away, she needs Erica by her side.Melissa left where she was and went inside the house to go grab her phone. She dialed the number that Erica had given her the last time they met.The phone began to ring and she waited patiently for Erica to pick the call. After a few more rung, she didn't pick up, so the call disconnected.She redialed the number almost immediately and waited for her to pick it up. The same thing
Author's POVMelissa went to the king's inner chambers to meet with him, to he wasn't there on the bed.She searched for him in the adjoining room, but he wasn't there as well. So she decided to go look for him in his room. Since she wasn't so sure that he would be there, she opened the door and let herself in without knocking.Alpha Enzo had a towel wrapped around his waist when she walked in. "Who is there?"His voice bellowed across the room as he spoke.He left where he was and and moved towards the door."You're naked."She uttered the obvious, more of a statement than a question."I think everyone has to get naked to be able to take a shower."Yeah, it's just that I didn't know you'll be here, having a shower."Her eyes lingered a bit on his abs, and she began to drool over every detail, and every contour of his abdomen. This was one of her weakness."You said you were looking for me."His deep voice shook her out of her fantasies."I came to check up on you." "Oh! Nice of you
Author's POVDrake had not been able to rest since the night that Enzo was attacked.Though he went to the Royal quarters and to see the king, he seemed deeply disturbed.The fact that he wasn't with the king the night he was attacked, seemed to disturb him a lot."You don't have to disturb yourself too much, Drake. As you can see, I'm perfectly fine."The king had assured Drake when he visited him."Besides, the Defense minister informed me a few hours ago that there's a lead to finding the source of the attack. I have ordered a full investigation already. Every minutest details will be thoroughly investigated within the shortest time possible."The king braced himself on the bed. Drake seemed to be uneasy, especially as the king began to talk about investigations and finding a lead."My king, I think that the most important thing now for you is to rest and….."The king interrupted him before he could complete his statement."The most important thing isn't to rest at this point Mr. D
Melissa's POV"Make sure to inform me once the Alpha is back."I instructed the guard that manned Enzo's quarters that night.He bowed to me and walked back to his post.I wanted to go back to my room, but not a trace of sleep could be anywhere near my eyes.I decided to spend some time outside the house
Chapter 29:Melissa's POVI slowly forced my eyelids open to find myself still laying in bed. Grabbing my phone from the bedside, I quickly glanced at its screen, it was six thirty in the evening. I tried to get out the bed, but it was still difficult, the tiredness was just too much.I don't know how
Melissa's POV: Drake had just left the training ground. From the look on his face, it seemed something important just came up. I wish it's not anything connected with his father's health. If it is, then it shouldn't be anything negative. Beta Brian is a good man, and I think Enzo is quite aware of
Drake's POV The rumors were true. Unlike the popular opinion that rumors are always lies. This time, the rumors were actually true. I've been away from my pack for sometimes. When away, I heard that the alpha of our pack was mated to the most beautiful creature the entire pack has ever seen. That so
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็น