The Billionaire's Regret: I Am No Longer Your Fake Wife

The Billionaire's Regret: I Am No Longer Your Fake Wife

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-06-18
โดย:  CelestielleEmpressยังไม่จบ
ภาษา: Filipino
goodnovel18goodnovel
10
2 การให้คะแนน. 2 ความคิดเห็น
12บท
271views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Para kay Kiara Valencia, maliit na sakripisyo lang ang dalawang taon ng pagtitiis sa malamig na trato at pang-aapi ng mayayamang pamilya para sa lalaking mahal na mahal niya. Bilang asawa ng bilyonaryong si Nathan Montenegro, handa niyang harapin ang lahat ng panlalait ng ibang tao, dahil naniniwala siyang sapat na ang marriage certificate nila para patunayan na siya ang legal na Mrs. Montenegro. Pero biglang nagbago ang lahat nang malaman ni Kiara na peke lang pala ang kasal nila. Ang bawat mga pangako ni Nathan ay plano lang pala para makuha nito ang buong mana at yaman ng pamilya Montenegro. Mas masakit pa rito, pati ang sarili niyang pamilya at mga kaibigan ay kasabwat sa panlolokong ito para manatili siyang sunod-sunuran sa bilyonaryo, habang palihim naman palang may minamahal na iba si Nathan. Ngayong siya na ang may hawak ng sitwasyon, gagamitin ni Kiara ang kanyang bagong yaman at impluwensya para simulan ang isang matinding laban sa negosyo laban sa mga Montenegro. Handa siyang bawiin ang lahat ng investments at pabagsakin ang kumpanya ng lalaking sumira sa tiwala niya. Sa oras na magsimulang magkaproblema ang kumpanya ni Nathan at lumuhod ito sa harapan niya para magmakaawa, mananaig ba ang galit ni Kiara, o may puwang pa ang pagsisisi sa pusong tuluyan nang nasaktan at nagbago?

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

CHAPTER 1

Sabrina Scott tampak berjalan keluar dari penjara sebelum senja tiba.

Dia telah dibebaskan sementara dari penjara selama satu hari.

Wanita itu tampak memegang secarik alamat di tangannya dan masuk ke mobil di depan gedung. Dia pun tiba di sebuah rumah besar tua di tengah gunung ketika hari telah hampir malam. Penjaga pintu kemudian membawa Sabrina ke kamar tidur.

Kamar tidur itu gelap gulita. Berbau menyengat seperti darah kental begitu dia masuk. Sebelum mampu menyesuaikan diri dengan kegelapan di ruangan itu, sepasang tangan yang kuat meraihnya ke dalam pelukannya.

Napas panas sontak menyerangnya. “Jadi, kaulah yang mereka kirimkan untuk kunikmati sebelum kematianku, sang gadis panggilan?”

“Gadis panggilan?”

Air mata Sabrina mengalir di matanya.

Dia tiba-tiba merasa ketakutan, dan suaranya bergetar. "Apa kau akan segera mati?"

"Ya! Kenapa? Kau menyesal?” Pria itu menyeringai tipis.

“Aku tidak menyesalinya,” jawab Sabrina sedih.

Memang tiada ruang untuk menyesalinya, karena ibunya sedang menunggu agar diselamatkan olehnya.

Ruangan itu gelap gulita. Sabrina tidak bisa melihat wajah sang pria. Dia hanya tahu bahwa pria itu tidak tampak seperti seseorang yang sedang sekarat. Akhirnya, setelah dua tiga jam, pria itu tertidur.

“Apa dia sudah mati?”

Sabrina tidak memikirkan rasa takutnya lagi, dan dia dengan cepat melarikan diri dari rumah besar itu.

Malam itu hujan turun dengan lebatnya. Dingin. Dia berlari di tengah hujan menuju rumah Lynn.

Saat itu pukul 11 malam dan pintu rumah itu terkunci. Namun, Sabrina dapat mendengar suara gembira di dalam rumah seolah-olah ada sesuatu yang patut dirayakan.

"Buka pintunya! Cepat, buka pintunya dan berikan aku uangnya. Aku harus pergi menyelamatkan ibuku ... Buka pintunya! Buka pintunya!"

Pintunya masih terkunci.

Saat Sabrina menunggu bus di malam badai, dia merasa pusing dan tidak stabil. Akan tetapi dia harus memfokuskan energinya untuk menggedor pintu itu sampai terdengar suara dentuman keras. "Buka pintunya! Buka pintunya! Cepat beri aku uang, aku harus pergi menyelamatkan ibuku …”

Bang! Pintu didorong terbuka, dan tatapan putus asa Sabrina tiba-tiba berubah berbinar.

Orang di balik pintu itu menatap Sabrina dengan tatapan merendahkan dan tampak jijik.

Sabrina tahu bahwa dirinya terlihat lebih buruk daripada seorang pengemis saat itu.

Namun, dia tidak lagi memperdulikan citranya saat itu. Sontak dia melemparkan dirinya ke depan orang yang membuka pintu itu, dan memohon dengan tatapan mengiba. "Aku telah melakukan apa yang kau minta, cepat berikan aku uangnya. Hidup ibuku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kumohon!"

"Ibumu telah meninggal, jadi kau tidak lagi membutuhkan uang." Orang yang membuka pintu itu melemparkan sebuah foto berbingkai hitam keluar, lalu dengan kejamnya menutup pintu.

"Apa?" Sabrina tercengang dan masih dalam hujan.

Beberapa saat kemudian, dia berteriak keras, "Ibu …!!!!"

“Ibu … Maaf aku terlambat, ya? Aku melewatkan waktu untuk menyelamatkanmu! Ibu sudah meninggal … Ibu sudah meninggal …” Sabrina memeluk potret peti mati ibunya, meringkuk di tengah hujan, dan bergumam pada dirinya sendiri.

Dia kemudian merangkak dan mulai menggedor pintu seperti orang gila. "Pembohong! Aku telah melakukan apa yang telah kujanjikan kepadamu, tetapi kau tidak menyelamatkan ibuku. Kembalikan ibuku! Pembohong! Seluruh keluargamu akan mati mengenaskan. Pembohong! Pembohong! Pembohong! Kukutuk agar seluruh keluargamu mengalami kematian yang mengerikan!”

Sabrina kemudian jatuh pingsan di luar pintu Lynn Residence.

Tiga hari telah berlalu begitu sang wanita terbangun. Rupanya dia berada di dalam penjara lagi.

Sabrina dikirim ke area perawatan medis ketika dalam keadaan koma akibat demam tinggi. Demamnya turun setelah tiga hari, dan dia dikembalikan ke penjara semula.

Beberapa narapidana wanita datang dan mengelilinginya.

"Kupikir dia dibebaskan setelah ditebus, tetapi dia rupanya kembali masuk hanya dalam tiga hari …?"

"Kudengar dia dipinjamkan untuk dipermainkan semalaman."

Pemimpin geng wanita berbadan tegap itu menjambak rambut Sabrina dan tertawa terbahak-bahak. “Betapa baiknya kehidupan yang dimiliki wanita ini! Kalian lihat aku memukulinya sampai mati hari ini!”

Sabrina bahkan tidak mengedipkan mata.

Ah, biarkan saja mereka memukulinya sampai mati. Jika memang harus demikian, tentu akan sempurna bagi wanita malang itu untuk bersatu kembali dengan ibunya.

Saat geng wanita itu mulai menanggalkan pakaian Sabrina, sebuah suara keras datang dari pintu. "Hei! Apa yang sedang kalian lakukan?"

Pemimpin geng wanita itu langsung tersenyum meminta maaf. “Sabrina sedang sakit. Kami hanya mengkhawatirkannya.”

Sang petugas tidak menjawab tetapi meneriakkan kode penjara Sabrina. "Tahanan 036, keluar!"

Sabrina berjalan keluar dan bertanya dengan acuh tak acuh, "Apa lagi salahku sekarang?"

"Kau telah dibebaskan." jawab petugas itu begitu saja.

"Apa?" Sabrina mengira dirinya berhalusinasi. Sampai ketika dia keluar dari pintu penjara, barulah dia menyadarinya. Itu nyata.

Dia menangis dengan air mata kebahagiaan dan bergumam, “Ibu! Aku tidak bisa menyelamatkanmu, tetapi bisakah kau memaafkanku? Aku akan melihatmu sekarang. Di mana kau dikuburkan …?”

"Kau Nona Scott?" suara seorang pria bertanya dengan dingin.

Tampak seorang pria berjas berdiri di depan Sabrina, dan sebuah mobil hitam diparkir tepat di belakangnya. Pria lain dengan kacamata terlihat samar-samar di dalam mobil sambil mengawasinya.

Sabrina mengangguk. “Ya, betul. Dan kau …"

Pria itu tidak menjawab tetapi berbalik dan berbicara dengan sopan kepada pria berkacamata yang duduk di dalam mobil itu. "Tuan Muda Sebastian, ini benar dia."

“Bawa dia kemari!” perintah pria di dalam mobil itu.

Sabrina yang masih bingung tampak didorong masuk ke mobil dan duduk di sebelah pria berkacamata. Dia segera merasakan aura pembunuh yang dingin datang darinya.

Sabrina merasa hidup matinya saat itu ada di tangannya.

"Aku Sebastian Ford." Pria itu memperkenalkan dirinya dengan dingin.

Sabrina tidak mampu menahan diri untuk bergidik. Kemudian dia bertanya dengan lembut, "Aku belum dibebaskan ... Tetapi aku akan menerima hukuman matiku, ‘kan?"

"Aku akan membawamu untuk mendapatkan akta nikah!" Sebastian bahkan enggan untuk menoleh pada Sabrina sekali lagi.

Sabrina tiba-tiba merasa suaranya tidak asing. Kedengarannya seperti orang yang meninggal malam itu.

Namun, pria di rumah besar tiga hari lalu yang berhubungan dengannya itu benar-benar telah meninggal.

"Apa katamu?" Sabrina berpikir dia salah dengar.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.


ความคิดเห็น

Lady Inkfinite
Lady Inkfinite
Literally recommended!
2026-06-16 21:32:50
2
0
Reina Craves
Reina Craves
Nice book!!!!
2026-06-15 07:39:46
1
0
12
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status