LOGINAt twenty-five, Heather Martinez sacrificed everything to take care of her younger sibling at matiyak na may matitirhan sila. Pero dahil sa matinding pangangailangan, she had no choice but to enter a dangerous deal with Theo Skye Dawson, isang malupit at misteryosong aktor na kahit sa isang iglap ay kayang baliktarin ang kaniyang mundo. She knew it was a mistake, but she never expected it to change her life forever. Ikinulong siya ng isang kasal na walang pag-ibig, naging bahagi ng mundo ni Theo kung saan siya lang ang talo. Alam niyang malupit ito, walang pakialam sa nararamdaman niya. Pero paano nga ba pipigilan ang pusong natututo nang umibig kahit hindi dapat? Samantala, si Theo, na matagal nang biktima ng kanyang nakaraan, ginamit lang siya bilang pawn sa isang matagal nang laro ng paghihiganti. Pero paano kung hindi niya inaasahang mahuhulog siya sa babaeng minsang balak niyang sirain? As long-buried secrets unravel and old wounds begin to bleed again, will love be strong enough to overcome the pain? Or will their love itself be the ultimate sacrifice?
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGNakatitig lang si Heather kay Skye, tinatantiya ang bawat kilos at salitang lumalabas sa bibig nito. Sa bawat sagot niya, tila may panibagong patibong itong inihahanda para sa kanya. Pero hindi siya madaling mahulog. Hindi siya papatalo. She leaned forward, resting her arms on the table. "So, Skye, tell me. Ano ba talaga ang goal mo?" Skye smirked, taking another sip of his coffee. "What do you mean?" She rolled her eyes. "Come on. Huwag mong sabihin sa ’kin na wala kang intensyon sa lahat ng ginagawa mo." "Maybe I just enjoy watching you react," he admitted shamelessly.At least he’s being honest. "I should've known," she said coldly. "Para kang bata na mahilig mang-bully ng kalaro niya." "Except you’re not just some playmate, sweetheart," Skye said smoothly. "You’re my wife." Heather scoffed. "Oh, wow. So now you remember?" Skye tilted his head, amused. "Bakit, nakalimutan mo na ba?" Before Heather could answer, may kumatok sa pinto ng gazebo. Agad siyang napatingin, at hi
Pagbalik ni Heather sa mansion, inaasahan niyang tahimik ito tulad ng dati—pero nagkamali siya. The moment she stepped inside, she froze. Dalawang babae ang nasa sala, parehong naka-red na damit na masyadong hapit at maiksi para maging disente. Ang isa ay nakaupo sa tabi ni Skye, halos nakadikit na rito, habang ang isa naman ay nakatayo, nagbubuhos ng alak sa kanyang baso. Parang may malamig na bagay na gumapang sa kanyang dibdib. Ano ‘to? "Welcome home, sweetheart," Skye said casually. Hindi siya agad nakasagot dahil sa nakikita niya. She didn’t care. She shouldn’t care! Pero bakit may kung anong bumara sa kanyang lalamunan? Walang emosyon siyang lumapit at tumingin sa mga babae. Obvious na high-class escorts ang mga ito—magaganda, perpekto ang makeup, at halatang sanay makipaglaro sa mayayamang lalaki for VIP Service. Bayarang mga babae. Naramdaman niyang nakatingin sila sa kanya, pero si Skye ang tinitigan niya. Hanggang ngayon, hindi niya pa rin mabasa ang nasa utak nito
Heather stood still by the large doors of the Dawson estate, her fingers resting near the handle. For days—no, weeks—she had been trapped in this mansion, subjected to Skye’s torment, mind games, and manipulations. Pero ngayon, parang nilalaro nito ang kanyang isip. "You’re free to leave, sweetheart," Skye had said earlier that morning, his voice annoyingly casual as he sipped his coffee. "Go anywhere you want." Hindi siya makapaniwala. "Ano?" "You heard me." He leaned back in his chair, smirking. "You’re not a prisoner, Heather. If you want to go out, be my guest." Her heart raced. This had to be a trick. Napatingin siya sa paligid, expecting to see some sort of trap. But nothing seemed out of the ordinary. Cautiously, she reached for the handle, twisted it—at hindi gaya ng dati, bumukas ito agad. Fresh air hit her face. She took a hesitant step outside, then another, until she was fully past the threshold. She was free. Or so she thought. A Bugatti was already wait
Nakahawak nang mahigpit si Heather sa ilalim ng makintab na lamesang yari sa mahogany, ang buong katawan niya’y naninigas. Sa tapat niya, walang kahirap-hirap na humigop ng kape si Skye, as if he hadn't just ruined her entire life. Lalo lang siyang nag-init nang makita kung gaano ito ka-casual na parang wala lang nangyari. "Eat," he commanded, ang malalim nitong boses ay nagdulot ng hindi kanais-nais na kilabot sa kanyang katawan. "I’m not hungry," she muttered, pushing her plate away. Skye arched a brow, tilting his head as he regarded her. "Oh? Pero kanina lang ay gutom na gutom ka, 'di ba? I heard your worms fighting inside your stomach." Heather scowled. "Nagbago ang isip ko." A slow smirk tugged at his lips. "Suit yourself." He waved a hand, and within seconds, the butlers cleared the table—including her untouched food. Nanlaki ang mga mata ni Heather. "Wait—!"
Heather gritted her teeth, gripping the edge of the marble table in front of her. The words that had just come out of Skye’s mouth echoed in her head, making her stomach churn. "I’m controlling everything around you." Her hands trembled, but she refused to let him see her weakness. She had lost
Heather’s heart pounded as she stood her ground. “I want to see them,” she said firmly, locking eyes with Skye. Skye simply smirked, his arms crossing over his chest. “And I already told you, hindi mo kailangang lumabas.” Her hands clenched into fists. "Huwag mo akong kontrolin as if pag-aari mo
Pagkarating nila sa mansion ni Skye, agad na naramdaman ni Heather ang pagbago ng hangin. It was just the two of them now, maliban sa mga katulong at pinagkakatiwalaan ni Skye na parang mga hangin lang na dumadaan dahil focus lang ang mga ito sa trabaho nila. The silence was suffocating. Tumig
Heather felt like she was suffocating. The wedding hall was grand—filled with chandeliers, elegant floral arrangements, and a long, white aisle leading to the altar. Lahat ng mga bisita ay pawang mga kilalang personalidad sa business world. She could hear their murmurs, their judgmental stares pie












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.