Share

12-2. Ranjang Berderit

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-16 14:14:46

Rasa malu Tiara perlahan meleleh bersama kehangatan yang merayap naik ke tubuhnya. Setelah aku puas menandai bagian bawahnya, aku bangkit merangkak ke atas ranjang, menyejajarkan tubuh kekarku dengan tubuh moleknya yang kini gemetar halus. Targetku beralih, mengarah langsung pada dadanya yang naik turun berkejaran dengan napasnya yang kian pendek.

Kubenamkan wajahku di tengah gundukan kenyal yang elok itu. Aroma tubuh istri mudaku—perpaduan antara sabun mandi murah, aroma bedak bayi, dan wangi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
belum kelar2 nih masalah intimnya...bikin orang baca jadi.....ahhh sudahlah..
goodnovel comment avatar
Manissss
nggak habis2 nih istri muda ...
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   72. Tiara Tidak Boleh Tahu

    "Tapi kamu harus tetap makan makanan yang bergizi, Tiara," peringatku tegas."Habis ini, Bang. Aku mau ambil nasi capcai dan ikan dorang goreng tepung nanti. Abang juga makan, dong."Kami akhirnya kembali ke meja setelah mengambil makanan masing-masing. Aku duduk di hadapannya, memperhatikan Tiara yang mulai menyantap nasi dengan lahap, melupakan sejenak kombinasi semangka saus tomatnya yang aneh tadi.Suasana lounge yang tenang menemani makan siang kami, namun pikiranku tetap tidak bisa lepas dari urusan Rully Sondang di Pekanbaru. Kunyahanku terasa hambar karena menahan dongkol.Di sela suapannya, Tiara tiba-tiba mendongak dan menatapku penuh selidik."Bang, masalah di Pekanbaru apa sih? Ada masalah dengan pembukaan lahan? Atau konflik tapal batas sama masyarakat adat lagi?"Aku meletakkan sendok, lalu meminum air putih untuk menetralkan keteganganku. Sorot mataku menatapnya lurus, memastikan tidak ada kepanikan yang lolos

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   71. Kabar Gembira, Tapi...

    Pagi harinya setelah sarapan, kami langsung menuju rumah sakit terdekat dari hotel. Untung saja malam sebelumnya aku sudah mendaftar secara online, jadi antrean kami tidak terlalu panjang.Di dalam ruangan yang sejuk itu, Tiara tampak gugup saat diminta berbaring di brankar. Dokter kandungan dia seorang wanita paruh baya yang ramah dan mulai mengoleskan gel dingin di perut rata Tiara, lalu menempelkan stik USG di sana. Mataku dan mata Tiara kompak tertuju pada layar monitor hitam-putih di samping brankar."Kita lihat sama-sama ya, Pak, Bu," ujar dokter sambil menggerakkan alatnya dengan teliti.Dokter tersenyum dan menunjuk sebuah titik kecil berbentuk kantung di layar. "Nah, ini dia. Bisa dilihat ya? Ini adalah kantung kehamilannya. Masih sangat kecil, tapi posisinya bagus dan menempel dengan sempurna di dinding rahim."Tiara langsung menoleh menatapku dengan haru. "Bang..." bisiknya lirih, menggenggam tanganku erat.Aku membalas ge

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   70. Minta Seribu Candi

    "Abang..." panggilnya sembari mengeratkan pelukan pada tubuh polos kami yang terbungkus selimut hotel."Hmmm...?""Seharusnya bulan ini aku haid. Apa aku hamil ya, Bang? Kita sudah menikah dua bulan. Tapi, aku belum cek sih," bisiknya ragu, ada binar harapan sekaligus kecemasan di sepasang matanya.Mendengar penuturannya, kantukku yang baru saja mau datang seketika menguap. Menikah dua bulan dan dia terlambat bulan? Otak bisnis dan logika bekuku langsung berputar cepat, menimbang segala kemungkinan.Seorang pewaris dari rahim wanita yang sepenuhnya tunduk padaku jelas merupakan investasi masa depan yang sempurna.Aku merenggangkan pelukan sedikit agar bisa menatap wajahnya dengan jelas. Kuusap pipinya yang mendadak merona merah dengan ibu jari, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kepuasan yang jarang kuperlihatkan."Besok kita ke dokter kandungan terbaik di kota ini. Nggak usah pakai tespek murahan," kataku tegas, tan

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   69. Konsisten

    Ciuman di antara kami tak bisa terelakkan lagi. Telapak tangan kiriku mencengkeram pinggul rampingnya, sementara tangan kananku merayap naik, meremas dadanya yang terasa semakin padat dan penuh sejak dia kuperistri—buah dari sentuhanku yang tak pernah absen setiap malam. Remasan yang awalnya lembut mulai berubah kasar dan menuntut, memicu gairahnya hingga memuncak. Aku memuntir dan mempermainkan puting dadanya yang membusung keras di balik kain tipis baju tidurnya, membuat tubuh Tiara seketika menegang. "Ahhh... Abanghh..." Tiara mendesah, meremas bahu kekarku erat saat kepalanya terdongak ke belakang. Deru napasnya memburu, memohon penyatuan yang lebih dalam. "Apa sakit, Sayang?" gumamku. Pertanyaan bodoh sengaja kulontarkan pada istri mudaku ini. Wanita yang kuambil dari kalangan bawah dengan status perawan. Dulu aku yang mengajarinya bagaimana menikmati surga dunia, menuntunnya dari yang sama sekali tidak tahu

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   68. Jangan Minta Maaf

    Malam itu, Karina yang sedang menggulir media sosialnya mendadak tercekat dan menjatuhkan ponselnya."Ada apa, Karin?" tanya Rendra.Ponsel itu jatuh tepat di depan meja Tiara. Tiara menatap layar yang menyala dengan mata membelalak dan jantung yang mendadak berdegup kencang karena syok."Ada apa, Sayang?" Aku menatap istriku yang memungut ponsel Karin."Itu, Bang..." Tiara menyerahkannya dengan tangan gemetar.Video itu menampilkan Tiara yang sedang menari seksi saat shimmy chest. Sebuah video amatir. Tiara memang memang menari demi mencari uang untuk nakan bukan menjual diri. Namun, narasi di unggahan tersebut menyudutkannya seolah dia wanita nakal. Bonar memang sudah menerima masa lalunya, karena itulah pria itu menikahinya dengan status mulia sebagai istri sah.Karina langsung tersenyum tipis, sementara Rendra mendadak salah tingkah dan berdeham canggung. Atmosfer di meja makan restoran Menteng ini seketika berubah mence

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   67. Masa Lalu Mengusik

    Karena waktu pertemuanku dengan Rendra masih lama, aku dan Tiara kembali ke hotel dengan mendorong koper berisi barang-barang kami.Sambil meletakkan kopi dan jajanan kekinian yang kami beli di booth mal."Bang, kalau kosnya nanti sudah menghasilkan, aku mau bergabung dengan kemitraan kopi di dekat rumah saja, boleh enggak, Bang?"Aku menyesap kopiku sejenak lalu menatapnya santai. "Boleh saja kalau kamu mau belajar bisnis, tapi biar Abang yang modalin, tidak perlu tunggu hasil kos-kosan.""Satu-satu dulu, Bang. Aku enggak enak sama Teh Sari. Ngomong-ngomong, Abang berikan aset juga tidak ke Teteh? Ya, supaya tidak ada iri dengki saja."Aku menghentikan sesapan kopiku, lalu menatap Tiara lekat-lekat. Pertanyaannya yang tiba-tiba membawa nama istri pertamaku membuat suasana mendadak agak canggung, namun aku tahu dia hanya ingin memastikan posisinya aman."Sari sudah punya bagiannya sendiri, rumah dan ruko di Pekanbaru it

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   3. Butuh Pewaris

    Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghi

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   2. Calon Duren

    Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpa

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   1. Denting Kelambu

    Alert! Seluruh nama tokoh, alur cerita, serta latar tempat dalam kisah ini merupakan karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, peristiwa, maupun lokasi dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja. Cerita ini ditulis untuk tujuan hiburan da

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   12-3. Ranjang Berderit

    Aku langsung membungkam bibir mungilnya dengan lumatan yang semakin panas, dalam, dan menuntut. Tidak ada lagi ruang untuk keraguan. Tiara membalasnya dengan sisa-sisa tenaganya, mengikuti irama ciumanku yang kian menggebu. Kubenamkan wajahku kembali ke ceruk lehernya yang kini bas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status