เข้าสู่ระบบTrahie. Brisée. Prête à tout réduire en cendres. Isabella Rossi pensait tout avoir : un mari milliardaire issu de la mafia, un bébé en route, une vie de luxe. Mais lorsqu'elle surprend Alessandro DeLuca avec sa maîtresse et que ses mensonges mènent à une attaque brutale qui lui coûte leur enfant, son monde s'écroule. Dans un monde de mensonges, de balles et de secrets de famille, Isabella parviendra-t-elle à renaître de ses cendres pour détruire l'empire d'Alessandro, ou son cœur la trahira-t-il en premier ?
ดูเพิ่มเติม“Astaga, Mas!”
Anya berteriak saat keluar dari toilet karena tiba-tiba Rama, suaminya, langsung mencengkeram lehernya. Membuat wanita itu kesulitan bernapas.
Sejujurnya, bukan kali ini saja Anya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dan kasar dari sang suami. Namun, bukan berarti Anya terbiasa dengan perbuatan Rama yang entah karena apa kali ini.
“Aku sudah bilang, jangan mengadu!” tutur Rama penuh tekanan dan ancaman. “Mulutmu bisa digunakan untuk hal lain, tapi jangan katakan bagaimana bobroknya rumah tangga kita!”
Anya Mera Hanggara dan Rama Hardana menikah karena perjodohan untuk memperkuat bisnis dua keluarga, tanpa rasa cinta sebelumnya. Bahkan rentang usia mereka agak jauh. Perbedaan usia Rama enam tahun lebih tua dari Anya. Namun, ternyata itu tidak membuat Rama bijaksana.
Sejak menikah, Rama dengan tegas mengatakan tidak menyukai Anya. Dia sudah memiliki kekasih bahkan merencanakan akan menceraikan Anya dua atau tiga tahun setelah pernikahan. Ancaman agar Anya tidak membuka mulut dan harus bersikap seolah mereka baik-baik saja.
Anya sempat berharap pernikahan yang dijalani akan berjalan dengan baik, perasaan cinta akan hadir seiring waktu. Akan tetapi, nyatanya Anya harus gigit jari karena sikap Rama tidak menunjukkan kemajuan hubungan mereka.
“A-aku nggak mengadu, Mas–”
“Kalau begitu, dari mana Papa tahu kalau aku sering pulang malam, hah? Pasti kamu yang bilang kalau seminggu kemarin aku tidak pulang!”
Anya tidak bisa menjawab, tangannya berusaha melepaskan cengkeraman Rama. sementara wajahnya sudah memucat.
Untungnya, Rama pada akhirnya melepaskan tangannya. Mungkin pria itu khawatir akan terjadi sesuatu pada Anya dan akhirnya kembali disalahkan.
Sontak, tubuh Anya melorot dan terduduk di lantai sambil terbatuk dengan napas memburu.
“Sumpah, Mas,” ucapnya tersengal. “Aku tidak bilang apa pun–”
“Bohong! Karena ulahmu ini, Mama minta kita tinggal dengan mereka,” tukas Rama. “Dasar gobl0k. Tolol. Kamu pikir dengan kita terus bersama, aku akan tertarik denganmu? Jangan mimpi, Anya.”
Rama berjongkok di depan Anya dan tersenyum sinis. “Aku sudah bilang kalau kamu tidak sebanding dengan Selly.” Pria itu menyebutkan nama sekretaris yang terlibat hubungan gelap dengannya. “Asal kamu tahu. Semalam aku sudah menikah siri dengannya.”
Mendengar itu, hati Anya rasanya perih, bagai teriris.
Memang, rasa cinta itu belum ada, tapi ketidaksetiaan Rama membuatnya seperti tidak berharga. Pria itu bahkan tidak menunggu untuk menceraikan Anya terlebih dahulu sebelum menikahi selingkuhannya itu.
“Mas–”
“Sayangi nyawamu. Tutup mulut,” ancam Rama. “Jangan sampai ada yang tahu soal ini!”
Refleks, Anya mendengus. Ada kemarahan yang menyesaki dadanya dan ia tidak bisa menahannya lagi.
“Dasar pengecut,” gumam wanita itu.
Rama yang baru beranjak beberapa langkah langsung berhenti dan berbalik menghadap Anya.
“Jaga mulutmu!” bentak pria itu.
Anya balas menatap suaminya. Entah atas dasar keberanian dari mana, wanita itu membalas, “Seharusnya kamu menjaga sikapmu lebih dahulu, Mas. Selesaikan dulu urusan kita, setelah itu kamu mau menikah berkali-kali pun aku tidak peduli.”
Wanita itu kemudian berdiri tanpa memutus kontak mata dengan sang suami.
Tiba-tiba Rama mencengkeram rahang Anya. “Tahu dirilah sedikit,” ucapnya penuh penekanan. “Perusahaan ayahmu kalau tidak dibantu Papa, pasti sudah gulung tikar. Kamu itu dijual untuk menjadi istriku. Tidak ada bedanya kamu dengan pelacur!”
Hinaan kembali merasuk ke dalam dada Anya. Sekalipun ia telah bersabar sebagai istri Rama sekaligus menantu keluarga Hardana selama ini, nyatanya nasib baik tak kunjung menghampirinya.
Hari-harinya seperti mimpi buruk.
“Kalau begitu, ceraikan saja aku, Mas,” ucap Anya dengan suara bergetar. “Kenapa masih menahanku di sini?”
Rama terkekeh. “Begitu? Memangnya kamu tidak tahu kalau ayahmu itu masih saja memohon-mohon padaku agar dibantu?” balasnya membuat Anya terdiam. “Sudahlah. Jangan membangkang, turuti saja kata-kataku dan jadilah menantu yang baik untuk orang tuaku sebelum nanti kamu dibuang.”
Pria itu melepaskan cengkeramannya di dagu Anya dan berbalik. “Bereskan pakaianku, besok pagi kita pulang ke ke rumah Papa.” Ia melambaikan tangannya tanpa menoleh. “Aku ke tempat Selly dulu.”
Anya menggigit bibir bagian bawahnya, menahan dirinya agar tidak kelepasan bicara sekali lagi. Tepat saat itu, ponselnya berdenting. Sebuah pesan dari ayahnya masuk.
[Kamu dan Rama kapan pulang? Ayah perlu bantuan Rama di perusahaan.]
Baru saja Rama mengatakan hal itu, ayahnya sudah mengonfirmasi tanpa diminta.
Bagaimana Anya bisa lepas dan Rama tidak menghinanya terus kalau keluarga mereka selalu memohon dibantu memenangkan tender dengan pihak lain? Seperti sekarang ini?
Memang Anya seperti tidak ada harganya di dunia ini, selain sebagai alat transaksi dan samsak khusus.
Ponsel Anya kembali berdering, padahal baru saja diletakan di atas nakas. Kali ini panggilan dari … Selly, selingkuhan suaminya.
Anya sempat menarik napas dalam-dalam sebelum memutuskan menjawab panggilan tersebut. Ia harus mengangkatnya meski enggan karena ia tidak ingin menambah masalah. Selingkuhan suaminya itu bisa saja mengadu macam-macam pada Rama dan berujung kekerasan seperti tadi.
“Apa?” ucapnya pada ponsel.
“Heh, pelakor.” Terdengar suara centil Selly di ujung sana. “Di mana Rama?”
Anya menutup matanya sesaat, menenangkan diri agar tidak membalas ucapan Selly yang tidak penting seperti ini. Tidak ada gunanya.
Namun, sepertinya Anya masih merasa tersinggung karena perlakuan Rama tadi. Karenanya, wanita itu menjawab, “Salah. Kamulah yang pelakor.” Jeda sejenak. “Rama itu suamiku.”
Isabelle povJe me tenais sur le toit, le vent emmêlant mes cheveux et le froid me mordant légèrement les joues. Dans mes bras, je ne portais que des souvenirs et du chagrin, mais c'était la chose la plus lourde que j'aie jamais portée."Salut, mon petit," murmurai-je, la voix brisée. "Je… je sais que tu devrais être là et oui, je sais que ce n'est pas juste."Les étoiles au-dessus semblaient incroyablement lointaines, mais j'ai quand même parlé, comme si l'univers lui-même pouvait m'entendre. "Je promets… Je promets que je prendrai soin de tes frères et sœurs. Je ferai en sorte qu'ils ne connaissent jamais la douleur comme nous et je ferai en sorte qu'ils rient, qu'ils aiment, qu'ils n'aient jamais à craindre le monde comme je l'ai craint sans toi. "Les larmes coulaient sur mes joues, inaperçues du monde d'en bas, mais ici-haut, où l'air était froid et honnête, j'ai senti mon chagrin et ma promesse s'entremêler."Je t'aime", murmurai-je à nouveau, la voix rauque. "Et je le ferai tou
Point de vue d'IsabellaLes contractions commencèrent doucement, presque poliment, comme si mon corps m'avertissait plutôt que de m'ordonner. Je m'attendais à la panique, aux cris, au chaos, mais c'était différent.J'étais calme, sereine et déterminée, comme si mon corps s'était préparé à ce moment depuis toujours.Matteo était réveillé devant moi, comme depuis le début de mon deuxième trimestre. Il ne paniqua pas lorsque les contractions commencèrent, il ne perdit même pas ses moyens. Il me tenait simplement la main pendant que je respirais, que je comptais, tandis que les vagues me submergeaient. Ses yeux étaient grands ouverts, mais fixes, et sa prise était ferme, inébranlable. Sa seule présence me rassurait.« Respire, Isabella », murmura-t-il, la voix rauque d'émotion. « Respire. Je suis là. »« Je sais », murmurai-je en retour, m'accrochant à sa main comme si la lâcher signifiait renoncer à tout ce pour quoi nous nous étions battus. Le trajet jusqu'à l'hôpital fut rapide et sûr.
Matteo pov"Vous pouvez embrasser la mariée."Les mots flottent dans l’air, sacrés et définitifs, alors que je prends une inspiration que je n’avais pas réalisé que je retenais. Ma main trouve la sienne, chaude et stable, et je la porte à mes lèvres avant d'entrelacer nos doigts. Les yeux d’Isabella rencontrent les miens et ils sont si brillants, si vivants et si pleins de la femme que j’ai aimée à travers le chaos, à travers le feu, à travers le pire de tout et soudain, le monde se réduit à rien d’autre qu’à nous deux.La foule derrière nous – le petit cercle intime sur lequel nous avons insisté contre sa mère et la liste d’Abuelita – applaudit doucement. Sa mère, fière et en larmes, rayonne depuis son siège. Abuelita est assise stoïque mais rayonnante, une main pressée contre sa poitrine, les yeux brillants comme si elle imaginait déjà nos enfants courant dans les couloirs de ce domaine.Dom, Kai et Gio se tiennent tous un peu plus grands, essayant tranquillement de ne pas laisser t
Isabelle povJ'ai toujours pensé que la paix serait plus forte avec des feux d'artifice et des applaudissements et un soulagement qui vous envahit comme une tempête qui finit par éclater, mais au lieu de cela, cela ressemble à des matins doux et des mains douces.La tranquille certitude que personne ne viendra nous enlever cette nouvelle paix.Je me réveille à nouveau devant Matteo, ce qui est désormais devenu une constante. Je jette un coup d'œil à mon doigt et à la pierre gravée dessus qui me lie à l'homme que j'aime, je lève la main, la bague captant la lumière du matin. C’est simple et parfait, comme lui quand il ne cherche pas à être fer et feu.La proposition de la semaine dernière ressemble toujours à un rêve et si c’est vraiment le cas, je ne veux jamais m’en réveiller.Je lui jette un coup d'œil, observant la lente montée et descente de sa poitrine à côté de moi. L’homme qui dirigeait autrefois les champs de bataille dort désormais comme quelqu’un qui fait à nouveau confiance
Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม