로그인Sesaat sebelum masuk tol, Dayat membelokkan mobil SUV besar itu ke sebuah pelataran rumah makan yang cukup ramai. Setelah mereka mendapatkan meja di sudut yang agak tenang, Dayat memberikan buku menu kepada Gita. "Git, kamu pesan duluan aja ya, samain aja minumnya sama aku. Aku ke depan sebentar, mau telepon Luki buat konfirmasi barang tadi," ucap Dayat memberi alasan. Gita mengangguk antusias. "Oke, Mas. Aku pesan ayam bakar ya!" Dayat melangkah menjauh menuju area parkiran yang lebih sepi, lalu segera mendial nomor Luki. Begitu diangkat, suara tawa Luki langsung menyambutnya. "Halo, Luk. Lo tadi bilang apa aja ke Mbak Niken? Dia sampai nanya-nanya ke lo gitu," tanya Dayat tanpa basa-basi, suaranya dipelankan agar tidak terdengar orang lewat. Luki terkekeh di seberang telepon. "Santai, Yat. Mbak Niken cuma mau mastiin doang, bener nggak lo ada proyek di luar kota beberapa hari ini. Dia kayaknya protektif banget sama adeknya." "Terus lo jawab apa?" kejar Dayat cemas. "Ya gue ja
Dayat berdeham, berusaha menetralkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. Ia melirik Niken yang masih berdiri dengan santai, meski tatapannya seolah bisa menembus isi kepala Dayat. Niken bukan sekadar pelanggan biasa; wanita ini sudah pernah merasakan sendiri betapa "cekatan" dan "nikmatnya" servis Dayat saat memperbaiki instalasi di rumahnya waktu itu."Itu, Mbak... si Gita katanya pengen ikut. Kebetulan saya ada kerjaan di villa bosnya Luki buat beberapa hari," jawab Dayat dengan suara agak serak.Niken mengerutkan dahi, tampak sedikit heran. Ia tahu Dayat memang ahli di bidangnya, tapi ia tak menyangka adiknya bisa langsung lengket begitu saja. "Lho, kok bisa? Sejak kapan kalian berdua jadi sedekat ini? Perasaan baru kemarin saya kenalin," tanya Niken dengan nada ramah namun penuh rasa ingin tahu.Belum sempat Dayat menyusun kalimat jawaban, Gita justru menyambar dengan polosnya. "Ya sejak Mas Dayat benerin bohlam di kamar Mbak kemarin itu, terus berlanjut pas aku sendirian di ruma
Dayat menghentikan motornya tepat di depan pagar rumah Niken. Gita turun dari boncengan, namun jemarinya masih menempel di jaket Dayat seolah enggan menjauh."Mas, beneran ya nanti malam jemput aku? Aku tunggu di depan komplek ya biar nggak ketahuan Mbak Niken pas keluar," ucap Gita dengan mata yang berbinar penuh harap.Dayat membetulkan posisi helmnya lalu mengangguk kecil. "Iya, nanti malam aku kabarin kalau sudah di depan komplek. Standby saja ponselnya."Mendengar jawaban yang sedikit datar, Gita justru mengguncang pelan lengan Dayat, mencoba memastikan komitmen pria itu. "Beneran ya, Mas! Jangan ditinggal lho ya! Awas kalau aku sudah dandan tapi Mas malah jalan sendirian!"Dayat menghela napas panjang, melihat kegigihan Gita yang luar biasa sejak di warkop tadi. "Iya, Git. Yang penting kamu izin dulu sama mbakmu ya, bilang mau ke mana gitu. Jangan sampai dia nyariin pas kamu nggak ada.""Siap, itu urusan gampang. Yang penting Mas Dayat jemput aku," jawab Gita dengan senyum
Dayat memarkirkan motornya di depan toko material besar yang sudah menjadi langganannya. Dengan teliti, ia mengeluarkan catatan spesifikasi yang diberikan Natasya tadi. Satu per satu barang ia pesan, mulai dari kabel-kabel kualitas premium, sakelar model terbaru, hingga perlengkapan CCTV tambahan untuk area villa. Setelah memastikan setiap item tidak ada yang terlewat dan semua barang dalam kondisi siap kirim, Dayat menyelesaikan pembayaran menggunakan uang dari amplop Natasya. "Bang, kirim ke alamat ini ya. Pastikan sore ini sudah sampai, jangan sampai telat karena besok pagi mau langsung saya bawa keluar kota," pesan Dayat tegas kepada kepala gudang toko tersebut sambil memberikan secarik kertas berisi alamat rumah Natasya. "Beres, Mas Dayat. Langsung kita muat habis makan siang ini," jawab si penjaga toko. Merasa urusan belanja sudah aman, Dayat tidak lantas pulang. Ia teringat kabar dari Luki soal pencairan uang yang dijanjikan hari ini. Tanpa membuang waktu, ia segera memacu
Dayat tetap memasang wajah tenang, meski dalam hati ia cukup terkejut dengan ketelitian Linda. Ia memperbaiki kerah kemejanya sambil menatap Linda santai. "Oalah, soal itu. Gita itu adiknya temenku, Lin. Kemarin temenku itu minta tolong banget buat jemput dia pagi-pagi," jawab Dayat dengan nada yang sangat meyakinkan. Linda menyipitkan mata, seolah ada sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya. "Temen? Tapi kemarin aku liat sendiri kamu baru keluar dari kamar kosnya dia, Yat. Bukan cuma di depan gerbang." Tanpa jeda, Dayat langsung menimpali dengan suara yang masih stabil. "Iya, kemarin aku kebelet banget, jadi numpang ke kamar mandinya sebentar sebelum berangkat. Pas banget keluar kamar mandi, ya ketemu kamu itu." Linda membuka mulutnya, tampak ingin memberikan tanggapan lagi atau mungkin mengajukan pertanyaan yang lebih menyudutkan. Namun, belum sempat sepatah kata pun keluar dari bibir Linda, Dayat sengaja melirik jam tangannya dengan gerakan yang agak terburu-buru. "So
Dayat keluar dari kamar mandi dengan kaos yang sudah terpasang rapi, meski rambutnya masih sedikit berantakan. Ia mendapati Gita baru saja mengunci pintu depan sambil menjinjing sebuah kantong plastik putih yang mengeluarkan aroma gurih."Siapa yang datang, Git?" tanya Dayat, suaranya pelan karena masih merasa sedikit waspada.Gita menoleh, raut wajah tegangnya tadi sudah berganti dengan senyum santai. "Oalah, ternyata GoFood, Mas. Pesanan Mbak Niken buat aku, katanya takut aku kelaparan ditinggal sendiri," jawab Gita sambil meletakkan plastik itu di atas meja tamu.Gita membuka bungkusnya, aroma makanan hangat langsung memenuhi ruangan. "Makan berdua yuk, Mas. Tapi Mbak cuma beli satu porsi nih, kayaknya nasi goreng spesial."Dayat berjalan mendekat lalu mendaratkan tubuhnya di sofa empuk itu kembali. Ia menatap makanan itu, lalu melirik ke arah Gita dengan tatapan menggoda. "Boleh saja... tapi ada syaratnya. Aku mau kalau disuapin sama kamu," ucap Dayat sambil nyengir.Mendengar itu







