เข้าสู่ระบบIvy terdiam. Bibirnya bergetar, tetapi tak ada satu pun kata yang mampu melepaskan diri dari sana. Ia hanya menunduk, berusaha meredam napasnya yang kacau di tengah himpitan rasa bersalah yang mencekik.“Kenapa kamu diam?!” Yurina kembali mendesak. “Jawab aku!”Sebelum retakan di antara mereka semakin dalam, seorang petugas medis menghampiri dengan langkah terburu-buru.“Nona, kami harus membawa pasien sekarang. Salah satu dari kalian yang ingin mendampingi ke rumah sakit, tolong segera bersiap.”Dua petugas dengan sigap memindahkan Lucas ke atas tandu. Tubuh pemuda itu terkulai lemas, hazelnya terpejam rapat, sementara masker oksigen mengembun di separuh wajahnya, menjadi satu-satunya bukti bahwa napasnya masih bertahan.“Lucas...” lirih Yurina.Tatapannya mengekor pada tandu yang mulai dibawa menjauh. Ada kepanikan yang menyuruhnya untuk segera berlari mengejar, namun deretan pertanyaan yang membakar menahan langkahnya untuk tetap di tempat. Sepeninggal para petugas menuju lobi, su
Lucas tidak tahu siapa yang telah merengkuhnya. Tidak tahu bagaimana dirinya berhasil dikeluarkan dari kolam. Bahkan jeritan panik yang mengguncang udara di sekitarnya pun tak lagi mampu menembus pekat yang menyelimutinya.Segalanya terputus, termasuk rasa sakit yang sempat menghajarnya tanpa ampun, seolah-olah dunia telah menariknya menjauh dari segala sesuatu yang masih mengikatnya pada kenyataan.— — —“Lucas! Lucas, bangun!”Suara Ivy bergetar hebat ketika ia menopang kepala Lucas di bahunya. Sambil berpegangan di tangga kolam renang, tangannya yang bebas berkali-kali menepuk pipi pemuda itu, berharap mata hazel tersebut kembali terbuka. Namun Lucas tetap diam. Tidak bergerak sedikit pun.Ivy semakin kalut ketika menyadari napas Lucas nyaris tak terdengar. Dadanya hanya bergerak samar, seolah setiap embusan napas bisa menjadi yang terakhir.“Lucas... Lucas... tolong buka matamu.”“Jangan begini... jangan buat aku takut...”Tidak ada jawaban. Perasaan mengerikan yang sedang menggul
Ivy menarik napas panjang, lalu melontarkan kalimat berikutnya yang tak kalah sinis. “Jangan pernah salah mengartikan perhatian atau kebaikanku sebagai harapan. Aku tidak mencintaimu. Aku tidak menginginkanmu. Dan kamu… bukan orang yang pantas untuk berada di sisiku. Sehebat apa pun kamu berusaha, itu tidak akan pernah mengubah apa pun! “Tolong sadar posisi! Kamu itu cuma atlet yang hidup dari belas kasihan sekolah. Bahkan cederamu sekarang saja belum tentu sembuh. Memangnya apa yang akan kamu lakukan jika beasiswamu dicabut karena sudah tidak bisa berenang?” “Daripada kamu ikut campur di hidupku, lebih baik benahi hidupmu sendiri yang tidak punya masa depan jelas!” Di belakang mereka, Jeno hanya menyunggingkan seringai tipis. Kepuasan berkilat di matanya melihat Lucas akhirnya terdiam di bawah kata-kata paling tajam yang bisa Ivy susun. Ia tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Ivy telah melakukan semuanya untuknya. Luar biasa sekali. “Sudah,” ujar Jeno kepada teman-temannya. “
Lucas tidak menjawab. Ia melangkah mantap menuju balok start di lintasan sebelah Jeno, lalu membungkukkan punggung dan meletakkan kedua tangannya di tepi balok. Rahangnya mengatup rapat ketika posisi tersebut kembali memicu nyeri tajam di bahu kanannya. Mengabaikan rasa sakit itu, Lucas mengunci pandangannya lurus pada permukaan air. Sementara di sudut bar, salah seorang teman Jeno berdiri dan mengangkat tangan hingga suasana di sekitar kolam seketika berubah hening, menanti satu aba-aba yang memecah ketegangan. "Bersiap...!" Di saat yang bersamaan, Ivy melangkah kembali ke area kolam. Namun, sebelum sempat mendekati meja tempat ponselnya tertinggal, pandangannya terkunci pada dua pria yang sudah berdiri di atas balok start. Di detik itu juga, udara seolah lenyap dari paru-paru Ivy. Matanya terbelalak, dia membeku di tempat ketika pandangannya jatuh pada Lucas yang bersiap melompat ke dalam air. Bahu yang belum pulih benar itu seharusnya membuatnya beristirahat, bukan malah dip
Ia berbalik, lalu melangkah kembali memasuki hotel. Di dalam mobil, Ivy menyandarkan tubuhnya yang lelah ke jok belakang. Pandangannya mengarah keluar jendela tanpa tujuan hingga tanpa sengaja menangkap sosok Lucas yang sedang membukakan pintu mobil untuk Yurina. “Aku senang melihatnya baik-baik saja.” Ivy membatin sembari tersenyum pahit. Tanpa berpikir lebih jauh, Ivy mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia mengira Lucas akan pulang bersama Yurina, sehingga dia tidak lagi memedulikan ke mana mobil itu akan melaju. "Mau langsung pulang, Non? Atau mau mampir ke mana dulu?" “Langsung pulang saja, Pak. Saya lelah.” "Baik, Non." — — — Lucas menunggu hingga Yurina masuk ke kursi belakang. Tepat ketika gadis itu hendak menutup pintu, ia menyadari Lucas masih berdiri di luar. "Kamu tidak masuk?" Lucas menggeleng pelan. "Aku masih ada urusan penting. Kamu duluan saja, ya.” Kening Yurina langsung berkerut. "Urusan apa? Sudah malam begini." "Aku akan jelaskan nanti
“Kalian berdua sedang mengobrol apa? Sepertinya serius sekali?” Suara lain yang membaur di antara mereka, otomatis merebut atensi kedua pria itu. Yurina menoleh ke arah Lucas dan Jeno secara bergantian diiringi tatapan yang sarat akan rasa ingin tahu. Sedangkan Jeno, dia segera menghadirkan lengkung ramah di wajahnya sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. “Nona Manis, kamu tidak boleh tahu karena ini urusan laki-laki.” Yurina mengerucutkan bibir, merangkul lengan Lucas, lalu menggoyangkannya dengan lembut dan sedikit manja. “Kamu juga tidak mau memberitahuku?” Senyum Lucas terbit segaris. Dia hampir melepas tangan Yurina dari lengannya, jika saja dia tidak ingat bahwa tindakan tersebut bisa membuat gadis itu malu. “Benar apa yang dikatakan Jeno. Ini urusan laki-laki.” Yurina berdecak sebal. “Dasar curang,” cetus Yurina berpura-pura merajuk, meski akhirnya ia mengalah dan melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Lucas. Pemandangan di depannya mem
Ivy menghela napas panjang. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan dia sangat mengantuk sekarang. Sambil menguap yang entah sudah ke berapa kali, gadis dengan iris sewarna madu itu membolak-balik asal halaman buku paketnya. Berharap beban yang menggelayuti mata segera terdistraksi sehingga dia bi
Di tepi tempat tidur, Ivy duduk terpaku dengan pandangan kosong tertuju pada lantai kamarnya yang dingin. Perlahan tubuhnya mulai meringkuk. Memeluk lutut dengan kedua tangan gemetar, sementara kesedihan menusuk bersembunyi di bawah kepalanya yang tertunduk dalam. Dalam kesuraman itu, isi kepala
Lima Belas Tahun yang Lalu. “Ma, aku pulang.” Prang! “Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!” Ivy membeku di ambang pintu menerima sambutan yang tidak biasa itu. Menatap nanar pecahan vas bunga yang berserakan tepat di bawah kakinya, lalu berpindah ke arah kedua orang tuanya yang sedang berte
"Mau apa kamu! Aku benar-benar akan membunuhmu kalau kau macam-macam!" bentak Ivy ketika Lucas kembali mencondongkan tubuh ke arahnya. “Pinjam sebentar, ya, Cantik.” Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat unt







