Accueil / Romansa / Under His Darkness / 87. Kebimbangan Carina

Partager

87. Kebimbangan Carina

Auteur: Hanana
last update Date de publication: 2025-08-10 19:40:52

Hari kemarin berlalu tanpa kejadian berarti. Tak ada bel gerbang yang berbunyi, tak ada telepon yang berdering tiba-tiba, juga tak ada pesan aneh yang masuk. Namun, bagi Nayla, rasanya tetap melelahkan, tetap menguras emosi, dan tetap menyisakan kebingungan.

Nayla memang berhasil tidur dengan durasi sedikit lebih panjang, tapi bangun pagi ini tetap dengan kepala berat dan tubuh yang seperti belum pulih. Carina masih setia menginap di rumah. Entah untuk membantu mempersiapkan projek stylish, ata
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Under His Darkness   190. Pasukan

    Bengkel tua itu berbau oli dan besi. Dari celah pintu gudang, suara pelabuhan Genova terdengar samar. Derit derek, sirene kapal barang, dan mesin forklift tak pernah benar-benar berhenti beroperasi.Ada satu lampu gantung yang berayun pelan setiap kali angin pelabuhan menggeser pintu gudang. Damian berdiri di depan meja kerja yang penuh peta, kertas, ponsel, dan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan panasnya. Dia nyaris tidak tidur sejak kabar penyerangan di Piacenza. Bahu kirinya masih kaku setiap kali dia mengangkat tangan, tapi rasa itu begitu saja diabaikan.Otaknya terus berputar memikirkan serangan balik yang akan Damian gencarkan dua atau tiga hari ke depan. Jonathan jelas akan menjadi lebih beringas jika Damian masih saja menunda. Jumlah orang dan senjata masih memadai, tapi dia memiliki satu pertanyaan yang belum punya jawaban, yaitu, seberapa kuat Jonathan sekarang?"Kamu belum tidur," kata Enzo dari ambang pintu, membawa dua gelas kopi baru.Damian yang terduduk di kurs

  • Under His Darkness   189. Kematian

    Ponsel itu bergetar berulang kali. Bukan nada getar biasa, tapi pola panjang-pendek yang hanya dipakai untuk satu nomor. Andy.“Halo.”“Damian.”Nada suara Andy terdengar panik. Ada bunyi napas yang belum kembali normal di sela-sela kata-katanya. Damian yang semula duduk bersandar seketika meluruskan punggungnya.“Salah satu markas kita diserang. Piacenza. Tempat yang kalian gunakan untuk pertemuan minggu lalu.”Damian bangkit begitu cepat hingga kursinya bergeser ke belakang. Enzo, yang berada tidak jauh darinya, langsung menoleh. Satu tangan Damian terangkat memberi isyarat agar Enzo mendekat, sementara tangannya yang lain mencengkeram ponsel lebih erat."Kapan?" tanya Damian."Baru saja. Aku dapat kabar dari salah satu jalur cadangan, bukan dari orangmu langsung. Orang yang di sana bahkan sudah tidak bisa dihubungi."Damian berjalan menuju meja, menyingkirkan beberapa lembar catatan yang menutupi layar tabletnya. "Apa saja yang dia laporkan?""Hanya itu. Panggilan terputus di tenga

  • Under His Darkness   188. Hal yang Berbeda

    Hari-hari setelah itu berlalu dengan pola yang mulai Nayla hapal di luar kepala. Tidak ada jadwal pasti, tetapi setiap beberapa hari, biasanya menjelang malam, Andy akan muncul dengan sebuah ponsel di tangan. Layar perangkat itu hampir selalu sudah menyala sebelum sampai kepadanya, menandakan bahwa panggilan video telah lebih dulu tersambung, dan Andy tidak perlu menjelaskan siapa yang menunggu di ujung sana.Nayla pun tidak lagi terburu-buru seperti pada malam pertama. Dia cukup mengangkat kepala, menerima ponsel itu, lalu mencari posisi yang nyaman sebelum wajah Damian muncul dengan penampilan terbaru yang hampir selalu berbeda dari sebelumnya. Terkadang, perubahan itu hanya berupa warna rambut atau model potongan, tapi beberapa kali Damian juga menggunakan piercing. Suatu kali ada tambahan kecil di telinga kanan, beberapa hari kemudian letaknya bergeser ke telinga kiri.Bukan hanya wajah Damian yang terus berubah. Kota-kota yang disebutnya dalam percakapan juga berganti dengan cepa

  • Under His Darkness   187. Naif

    Malam berikutnya datang tanpa membawa banyak perubahan.Setelah menyelesaikan mandi, Nayla keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sepenuhnya basah. Dia sedang memeras bagian ujung ketika terdengar ketukan pelan dari pintu. Hingga dua kali suara itu berulang, dia akhirnya menjawab. Tanpa mengulang ketukan ketiga, daun pintu pun akhirnya terbuka.Andy berdiri di ambang pintu. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak membawa tablet atau dokumen kerja. Sebuah ponsel berada di tangannya dengan layar perangkat yang sudah menyala dan menampilkan wajah seseorang dalam sambungan video.“Damian.” Hanya satu kata yang meluncur dari mulutnya sebelum akhirnya Andy berbalik pergi.Nayla buru-buru meraih ponsel yang Andy taruh begitu saja di atas nakas. Handuk yang tadi berada di atas kepalanya hampir saja terlepas. Dia bahkan harus menangkapnya kembali sebelum benda itu jatuh ke lantai.“Damian?”Tidak ada jawaban langsung.Nayla mengusap rambutnya yang basah, lalu merapikan seadanya se

  • Under His Darkness   186. Tidak Ada Kabar

    Beberapa hari sudah berlalu sejak malam itu, dan rumah ini perlahan mulai terasa seperti miliknya sendiri. Nayla hapal suara pintu dapur yang berderit setiap pagi, tahu jam berapa sinar matahari mulai menembus jendela-jendela besar di ruang depan, bahkan sudah punya tempat duduk favorit di teras belakang.Nayla masih membawa kehangatan dari telepon terakhir mereka. Cara suara Damian turun satu oktaf, cara mata Damian menyorot dengan tajam nan hangat, semua sering muncul begitu saja di benaknya. Kadang, di tengah aktivitas paling biasa sekalipun, Nayla bisa tiba-tiba tersenyum sendiri tanpa sebab.Sudah beberapa hari berlalu sejak malam terakhir Damian menghubunginya. Tidak ada panggilan baru, tidak ada pesan yang tiba-tiba muncul di layar, bahkan tidak ada kabar singkat yang bisa membuat Nayla berhenti menebak-nebak keadaan di seberang sana. Namun, setiap kali pikirannya mulai bergerak ke arah yang tidak dia inginkan, Nayla selalu memaksanya kembali pada satu hal yang paling sederhana

  • Under His Darkness   185. Celah Jendela

    Enzo beranjak ke arah jendela, sementara Damian masih memperhatikan layar tablet. Satu jari Enzo menyingkap tirai selebar tak lebih dari dua sentimeter. Dia bisa melihat keluar dari celah sempit itu, tapi tetap tidak terlihat dari luar."Ada orang di seberang," katanya denan suara rendah.Damian mendekat, berdiri di sisi lain jendela yang sama. Di bawah sana, seorang pria berdiri di depan toko yang sudah tutup. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket, diam, dan selama beberapa saat, pria itu tetap tidak melakukan apa-apa selain berdiri. .Enzo menggeser posisinya sedikit, lalu menoleh ke arah layar gawai. "Sekarang ada dua lagi. Di ujung jalan."Sorot mata Damian langsung jatuh ke titik yang Enzo sebut. Dua sosok pria tengah berjalan pelan. Posisi mereka sedikit berjarak, tapi arah mereka sama. Keduanya menuju losmen ini."Ada tiga," gumam Damian."Bersenjata?" tanya Enzo."Tidak kelihatan," jawab Damian, "tapi anggap saja iya."Damian lantas mundur dari jendela, lalu memeriksa isi

  • Under His Darkness   123. Ciuman

    Rumah sewa Nayla sunyi ketika Damian membuka pintu. Lampu ruang tamu menyala lembut. Begitu pintu terbuka setengah, Nayla muncul dengan kaus tipis dan rambut disanggul seadanya.“Damian.” Matanya langsung menyapu wajah Damian. Diam sepersekian detik, lalu alisnya mengerut.“Wajahmu…” lanjutnya pela

  • Under His Darkness   110. Tunduk

    Isak pertama begitu pendek, hampir tidak kentara. Hanya ada getaran kecil di pundak Nayla. . Sambil masih memeluk, Damian tidak berkata apa pun. Dia hanya memiringkan tubuh, menciptakan ruang agar wajah Nayla bisa bersembunyi di lekukan bahu dan lehernya.Malam ini menjadi bukti bahwa tubuh Damian

  • Under His Darkness   109. Di Dalam Pelukanku

    Begitu pintu tertutup rapat di belakang mereka, kesunyian kamar menyelimuti seperti kabut yang menekan dada. Nayla belum sempat membuka mulut ketika Damian tiba-tiba menariknya ke dalam dekapan kencang. Bukan pelukan lembut, melainkan himpitan kokoh yang sengaja menenggelamkan tubuh Nayla ke dalam

  • Under His Darkness   108. Cara Damian

    Setitik air mata diam-diam luruh saat Nayla berdiri di depan wastafel. Tubuhnya tampak memunggungi semua orang. Sungguh, hatinya sudah tidak kuat untuk melepas sedikit saja beban.Tidak. Nayla tidak berlebihan. Perasaan ambigu Nayla atas Nathan bukanlah sesuatu yang dia lebih-lebihkan. Nayla hanya

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status