Share

3. Leonard Benitez

Keesokan paginya, Aza terbangun dengan kantong hitam besar di bawah matanya. Ia tidur lumayan larut tadi malam.

Setelah berulang kali ia memikirkannya, masih saja dia tak percaya dengan apa yang di bacanya.

Apakah peta itu tempat keberadaan penyihir kubus yang lainnya? Dan apakah dia seorang penyihir kubus yang di takdirkan?

Berbagai macam pertanyaan mulai mengisi kembali pikirannya namun dari semua pertanyaan itu tidak ada yang menjawabnya!

Itu cukup membuat Aza frustasi, setelah bergulat dengan pikirannya. Aza memutuskan untuk mengikuti jalan di peta itu.

Ia ingin memastikan peta itu, apakah ini nyata atau tidak.

Dengan keputusan bulat, setelah pulang sekolah, Aza akan menelusuri tempat terdekat di daerahnya.

                                    ⚛⚛⚛

"Eum ... seperti habis belokan terus lewat beberapa rumah lagi," gumam Aza sambil berjalan ke belokan yang ada di hadapannya.

Semakin dekat dengan area kubus abu-abu, Azareel mencium bau besi yang sangat kuat.

Azareel melihat petanya lagi, dan terus berjalan, hingga sampai di satu rumah yang sangat berantakan.

Lelaki itu melihat halaman rumah yang di penuhi dengan besi, di tengah-tengah tumpukan itu, ia melihat seorang anak remaja yang duduk terdiam sambil memandangi tumpukan besi dengan linglung. Aza merasakan suasana canggung hingga ia membuat suara batukan kecil agar si anak remaja mengetahui keberadaanya.

"E ... eh? Mencari siapa? Di sini bukan tempat barang rongsokan," ucap remaja lelaki itu sedikit gugup. Aza tidak yakin mengapa dia begitu gugup.

"Aku tidak mencari barang rongsokan, namun aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu," kata Azareel.

"Silakan tanyakan saja, semakin cepat semakin baik, aku sangat sibuk sekarang,"

"E ... bisakah kamu membawaku masuk terlebih dahulu?" Aza berkata dengan canggung.

"Apa susahnya berbicara langsung di sini?" kata lelaki itu sambil menepuk pantatnya yang di tempeli oleh tanah.

"Ini sedikit privasi, orang-orang memiliki telinga," kata Aza sambil menatap lelaki bertubuh berisi itu dengan serius.

Lelaki itu mulai melangkahkan kakinya menuju Aza dan membukakan pintu pagar, "Ok silakan masuk," kata lelaki itu.

Aza tidak merasa tersinggung atau sebagainya, karena dia mengetahui, orang asing yang ingin berbicara privasi itu sangat berbahaya, apalagi sendirian di rumah, siapa yang akan mengira jika Azareel di anggap sebagai orang jahat oleh lelaki itu.

Setibanya di ruang tamu, lelaki itu duduk di sofa kemudian menyuruh tamunya untuk ikut duduk juga.

"Bukankah tidak kenal tidak sayang?" tanya Aza basa-basi.

"Aku Leonard Benitez, ada apa? Cepat katakan apa yang kamu inginkan."

"Ok aku akan langsung ke intinya, apa kamu pernah bermimpi aneh? Bertemu binatang aneh," tanya Aza to the point.

"Mimpi? Tiga hari yang lalu aku mendapatkan mimpi aneh," jawab Leo seadanya.

"Apakah itu mempi bertemu dengan binatang aneh?" tanya Aza.

"Ya, aku bertemu dengan chimera, awalnya di mimpi itu aku mengira akan di makan oleh hewan mitologi itu, tapi siapa yang mengira hewan itu berbicara dan bahkan memberikan sebuah kalung,"

"Kalung? Apakah itu kalung dengan bandul kubus?" 

"Ya."

"...."

Setelah pernyataan Leonardo memenuhi alat pendengaran Aza, lelaki berambut coklat gelap itu mulai memancarkan sinar mata yang tidak percaya.

"K ... kamu beneran penyihir kubus abu-abu?" tanya Aza tak percaya, matanya seakan-akan mengatakan, jangan mengatakan hal yang tidak tidak.

"Aku rasa ... ya ... Apa kamu lihat di halaman rumahku banyak besi yang berserakan?" Aza hanya menganggukkan kepalanya singkat.

"Nah! Itu karena aku tidak sengaja mencobanya, aku hanya iseng-iseng saja, namun siapa yang bilang itu bakal seperti itu," jelas Leo.

"Kamu tau aku mempunyai ini dari siapa?" tanya Leo yang mulai waspada, tangannya sedikit demi sedikit memancarkan cahaya abu-abu tipis.

"Tenang-tenang! A ... aku tidak bermaksud begitu, aku juga penyihir, hanya saja semua ini sangat tidak mungkin, penyihir itu hanya mitos dan juga, mungkin kita akan terbunuh jika orang lain mengetahui bahwa kita mempunyai kekuatan atau kita akan menjadi bahan penelitian," kata Aza yang masih belum bisa menerima kenyataan.

"Hei! Bukti sudah ada di depan mata! Mengapa masih tidak percaya?" tanya Leo.

"Tidak ... tidak mungkin, penyihir itu tidak ada kan? Hidden world juga tidak ada kan? Apa itu vampire, peri hutan, manusia serigala!"

Leo yang mendengarpun mulai jengah dengan teman dadakannya ini.

"Hei hei hei ... Sudah ku katakan, terima kenyataan yang ada di depan mata!" Kata Leo sedikit membentak.

Lelaki berambut cokelat gelap itu secara mendadak mulai meraih bahu Leonard dan berkata,"Gak mungkin kan? Apa aku sedang berhalusinasi? Apa aku sudah gila?"

"Bodoh! Tentu saja kamu waras! Jika kamu gila, mungkin kamu kesini tanpa menggunakan celana dalam,"

"Bener juga," kata lelaki berambut cokelat gelap itu sambil duduk diam melihat ke gelas dengan tatapan bingung.

"Bearti aku adalah penyihir kubus biru?" tanya Aza lagi.

"Kamu kubus biru? Sepertinya iya, oh benar! Kamu tahu aku di sini apakah kamu punya insting?" Leo bertanya dengan antusias.

"Aku mendapat petunjuk dari peta," Jawab Aza yang masih linglung.

"Jadi, apa kamu sudah menemui yang lainnya?"

"Kamu yang pertama," kata Aza.

"...."

"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" tanya Leo setelah hening selama secangkir teh.

"Ini agak konyol, aku berniat untuk mempertemukan penyihir kubus lainnya," kata Aza, ada jejak keraguan dari suaranya.

"Itu ide yang menarik, aku jadi penasaran dengan dunia tersembunyi itu," kata Leo, namun matanya menunjukkan keraguan, karena dia benar-benar kurang yakin akan ada dunia yang seperti itu. Aza hanya diam mendengarkan dari samping.

"Tapi ... kekuatan sihir di sini sangat tipis, sulit bagi kita untuk mengembangkan sihir," gumam Leo.

"Jadi ... kita harus menemukan dunia itu?"

"Tidak ada pilihan lain."

                                     ⚛⚛⚛

Azareel memutuskan untuk bertukar nomor telepon dengan Leo, dia memiliki firasat jika ia akan sangat terjerat dengan lelaki bertubuh besar itu.

Lelaki itu merasa lucu sekali jika mengingat dirinya yang kurang percaya diri di depan orang baru, seperti bukan dirinya saja, baru kali ini dia sangat terbuka dengan seseorang, apakah itu pertanda bahwa dia akan sangat dekat dengan lelaki itu?

Lelaki itu membuang semua pikirannya dan mulai melangkahkan kakinya ke supermarket, ia ingin membeli segelas susu pisang untuk menghilangkan haus, Leo sepertinya terlalu bersemangat hingga lupa menjamunya sebagai tamu.

Ah lupakan yang penting saat ini tenggorokan Aza sudah menemui surganya.

Sangat nyaman, sebenarnya lelaki itu kurang menyukai susu pisang, karena hanya ada susu pisang yang tersisa, Azareel bisa apa? 

Setibanya dia di rumah, kedua orang tuanya seperti biasa menyambutnya dengan hangat.

"Aza udah jalan-jalannya?" tanya Aubrey.

"Udah Bu," jawab aja sambil mencium pipi kanan ibunya.

"Mandi, kemudian makan bersama," kata Aubrey yang kini mulai sibuk lagi dengan makanan di atas meja.

"Baik Bu!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status