Share

14

Author: Naomiliana
last update publish date: 2026-04-17 08:15:18
Lian Wei menghampiri pengawalnya, ia mengajaknya masuk ke ruang tamu.

"Aku punya tugas untuk kalian, cari tahu apa yang direncanakan anak dan Selir Kaisar. Jangan sampai ketahuan oleh siapapun, laporkan hal yang mencurigakan padaku."

"Baik nona."

"Besok suruh Qui, Wei Heng dan Xiu Juan ke istana, kalian bisa pergi sekarang."

"Baik nona."

Mereka pergi lewat jendela kamar Lian Wei lalu melompat ke tembok dan menghilang dengan cepat. Lian Wei keluar dan menghampiri kedua kakaknya.

"Maaf membuatmu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Pencinta Cerita
Putra Mahkota Ooonn, kenak Hasutan Rubah betina, astaga....Kaisar juga
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   172

    “Lian Wei, aku harap ini yang terakhir kalinya.”Wang Xuemin seperti berbisik di telinga Lian Wei. Ia tidak ingin kejadian mengantar pemakaman wanita yang dicintainya terjadi lagi, meskipun ini hanya sandiwara. “Aku berharap… kau bisa menemaniku hingga tua Lian’er.”Sementara di Kekaisaran Xu, setelah tiga orang itu melapor pada petugas. Mereka diantarkan ke gerbang istana. Dari gerbang istana, penjaga gerbang mengantarkan mereka ke aula singgasana.“Hei, siapa yang berduka? Kenapa semuanya ditutupi kain putih?” tanya Liu Changhai.“Kakak sepupu, kau harus bersikap sopan.”“Benar Changhai, tanyakan itu saat bertemu Kaisar Xu,” sahut Xiuhuan.Seorang pengawal itu berhenti sejenak dan berbalik menatap ketiganya saat sudah sampai di pintu masuk aula.“Pangeran mohon tunggu sebentar, hamba akan pergi melapor pada Kaisar.”“Baiklah.”Pengawal itu masuk dan memberi hormat dengan berlutut.“Yang Mulia Kaisar, Putra Mahkota Li, Pangeran Kedua Li dan Putra Mahkota Liu ada disini. Mereka memin

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   171

    Lian Wei dan Wang Xuemin beserta rombongannya bergegas menuju Kekaisaran Wu. Mereka tidak melewati Kekaisaran Shang. Tetapi mereka melewati jalur yang lain. Karena lebih dekat jika memotong jalur dibandingkan harus melewati Kekaisaran Shang. Lian Wei memandang keluar jendela, jalur yang asing baginya.“Kenapa kita lewat sini?”“Jalur memotong, ku yakin kau tak ingin ketahuan oleh keluargamu bukan?”Lian Wei masih tidak mengerti.“Jika kita memotong jalur akan lebih cepat sampai.”“Kenapa aku tidak tahu ada jalur ini? kapan jalur ini dibuat?”“Hmm… beberapa tahun lalu, aku tidak ingat kapan ini selesainya.”Di Benua Jiuzhou, posisi setiap kerajaan dan kekaisaran membentuk keseimbangan yang rumit selama ratusan tahun.Di bagian tengah berdiri Kekaisaran Shang, sebuah kerajaan yang berada tepat di jantung daratan. Letaknya yang strategis membuat kekaisaran ini menjadi penghubung bagi hampir seluruh jalur perdagangan dan perjalanan antarnegara. Para pedagang yang ingin menuju utara, sel

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   170

    Xu Kai berlutut di depan peti, biasanya ia selalu bertengkar dengan Lian Wei. Namun kini aula itu begitu sunyi, tidak ada suara hangat yang selalu mengajaknya berdebat. Tidak ada lagi senyum manis yang terukir, hanya mampu menjadi kenangan. Kali ini, ia sadar kepergian Lian Wei Kali ini, bukan sekedar hanya kematian palsu. Namun juga kepergian selamanya dari hidupnya. Ia sadar sampai kapanpun ia tidak bisa memiliki Lian Wei. Ia tertawa kecil sambil menunduk. “Kau benar-benar menyebalkan.” Tidak ada yang menjawab. “Aku masih belum sempat mengalahkanmu dalam adu mulut.” Tangannya mengepal. “Jadi jangan mati.” Kalimat itu membuat para pelayan di sekitar menitikkan air mata. Setelahnya Wang Xuemin mengatur pemberangkatan mereka kembali. Langit pagi diselimuti awan kelabu ketika gerbang utama Kekaisaran Xu perlahan dibuka. Suara terompet duka menggema panjang. Di depan iring-iringan, puluhan pengawal berkuda mengenakan pita putih di lengan mereka. Bendera berkabung berkibar pel

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   169

    Pergerakan mereka membolongi peti mati itu terhenti. “Kau tidak harus masuk kedalam,” ucap Wang Xuemin. “Benar, kau bisa menyelinap pergi dan membiarkan peti ini tetap kosong,” sahut Xu Kai. “Tunggu disini,” ucap Wang Xuemin lalu pergi dari sana untuk mengambil jubah. Keheningan terjadi antara mereka, rasa canggung diantara mereka sangat kentara. Setelah pengakuan itu mereka belum berbicara lagi. “Perkataan ku kemarin berlaku selamanya, jika kau membutuhkan aku… aku akan datang.” ‘Sebisa mungkin hal itu tidak akan terjadi,’ batin Lian Wei. Bukan jawaban yang datang namun hanya senyuman lembut. Wang Xuemin datang dengan jubah hitamnya. Kemudian ia memakaikan jubah itu pada Lian Wei. “Sudah, di luar aman. Kita bisa pergi sekarang tanpa ketahuan.” Setelah mengatakan itu Wang Xuemin dan Lian Wei segera pergi dari sana. Meninggalkan Xu Kai yang harus membereskan hal ini. Sementara Xu Kai mengunci peti matinya, Wang Xuemin dan Lian Wei berjalan mengendap-endap menuju kediaman Wan

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   168

    “Yang Mulia... Putri Wang telah meninggal.” Suasana berubah kacau. Tangisan para pelayan pecah. Beberapa pejabat yang menunggu di luar tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sementara Xu Kai hanya terduduk mematung. Meskipun ia mengetahui rencana ini sejak awal, mendengar kalimat itu tetap membuat dadanya terasa sesak. Sedangkan Wang Xuemin ia tetap berdiri disisi Lian Wei. Diam. Tangannya perlahan menggenggam jemari perempuan itu yang sudah dingin. Tak seorangpun melihat jemarinya yang sedikit gemetar. ‘Ini hanya sandiwara, namun rasa takut dan sedih ini begitu nyata,’ ucapnya dalam hati. Tes… Air matanya jatuh. “Gawat, tiga kekaisaran akan berperang karena kematian sang putri.” Semua orang meninggalkan kediaman Lian Wei dan mulai mempersiapkan acara pemakaman untuk Lian Wei. Mingmei memandikan dan mendandani ‘jasad’ Lian Wei. “Kau berbohong padaku putri.” Mingmei kembali menangis saat selesai mempersiapkan Lian Wei. Tabib Luo masuk kedalam. “Nona Mingmei, putri

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   167

    “Bawa aku ke Kekaisaran Wu.” “Dengan senang hati permaisuriku,” ucap Wang Xuemin. “Kalau begitu aku antar kau kembali, sekalian akan kuberikan pilnya.” “Baiklah.” “Xu Kai, jangan sampai satu helai rambutnya rontok,” ancam Wang Xuemin. “Kau tenang saja.” Setelahnya mereka kembali, di perjalanan kembali mereka mampir ke rumah tabib pribadi Xu Kai. “Ini, ingat jangan terlalu banyak dimakan.” “Baiklah aku mengerti.” “Lian Wei…” panggilnya ragu. “Hmm?” “Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu?” “Ya aku sudah yakin.” “Kudengar ketiga kakakmu sedang dalam perjalanan kesini.” “Benar.” “Kau tidak ingin bertemu dengan mereka?” “Ada hal yang lebih penting dan harus dilakukan demi mencapai satu tujuan dibandingkan dengan bertemu tapi hanya terjebak dimasa lalu.” “Aku mengerti, ayo kuantar kembali.” Mereka berjalan dengan keheningan, hujan sudah reda. Menyisakan udara dingin yang menusuk tulang. Xu Kai melepas jubahnya dan memakaikannya pada Lian Wei. Lian Wei menoleh pada Xu Kai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status