Masuk“Wang Xuemin! Aku tidak mau mati meninggalkan uang yang kudapatkan dengan susah payah!”“Jangan bergerak terus, kau bisa lepas dariku,” ucap Wang Xuemin kesusahan karena Lian Wei terus bergerak.Mereka terus memasuki lorong yang sempit, Lian Wei terus berteriak. Pegangan Wang Xuemin lepas dari Lian Wei karena terlalu kuat arusnya.“Aaaa… Wang Xuemin! Kenapa kau melepaskan aku! Lihat saja jika sudah keluar nanti!” pekik Lian Wei sementara hanya pasrah saja, ia sudah memperingatkan Lian Wei agar tidak bergerak sembarangan.Lian Wei terus terbawa arus, hingga akhirnya ia jatuh di atas air yang dangkal. Brak!“Aduh… punggungku,” rintih Lian Wei sakit. “Aaaa…” terdengar suara pekikan Wang Xuemin.Segera ia bergeser sedikit ke kanan, guna menghindari Xuemin yang sebentar lagi akan ikut terjun ke bawahBrak!Namun Lian Wei salah posisi, seharusnya ia tidak bergeser. Wang Xuemin jatuh tepat diatasnya dengan posisi tengkurap.Cup... Satu ciuman mendarat di bibir cantik Lian Wei. Tubuh merek
“Dia adalah murid inti terakhirku. Bakatnya sangat luar biasa, dia juga paham dengan ilmu medis. Ilmunya sama persis dengan Mendiang Permaisuri, mungkinkah gadis Li ini berasal dari keluarga kalian?”Xiuhuan dan Jianying terdiam.“Mungkin saja kerabat jauh, kami harus menemui dia dulu, permisi Tuan Adipati,” ucap Xiuhuan dan menarik Jianying keluar dari sana.“Ada apa sebenarnya kak?”“Jangan bahas disini, ikut denganku.”Setelah perbincangannya dengan Duke Xinxi, Xiuhuan mengajak Jianying ke gunung belakang. “Siapa Li Xinhua itu kak?” Kakak mengenal dia?”“Tidak, aku tidak sempat melihat wajahnya. Namun dari apa yang kudengar dia sedang mengajari murid meracik obat.”“Sama persis dengan yang dilakukannya di rumah, aroma kamarnya pun penuh dengan herbal,” ucap Jianying mengingat kebiasaan adiknya.“Bisa jadi dia ada disini dan belum meninggal.”Jianying menatap pada Xiuhuan, ia mengguncang tubuhnya kuat.“Kak, apa yang kau katakan itu benar? Apa Lian'er ada disini?”“Aku kurang yakin
‘Kenapa aku tidak tahu Mayleen selicik ini?’Sementara itu di Paviliun Herbal, Lian Wei dan Luoyang sedang mendata murid baru. Beberapa teman seperguruan juga ikut membantu, mereka membantu adik junior mereka berbaris dengan rapi.“Adik seperguruan, mereka sudah berbaris dengan rapi,” ucap senior disana. Ia lebih dulu masuk ke dalam akademi seblm kahirnya pindah ke Paviliu Herbal.“Kakak seperguruan tolong bantu aku mengabsen mereka dulu. Aku mau lihat herbal di dalam dulu.”“Baik, adik.”Setelah menyerhkan daftar nama itu Lian Wei masuk ke dalam. Luoyang menghampiri adik seperguruan itu.“Adik seperguruan, aku mau melapor pada Guru Besar dulu. Apa kau bisa menangani ini sendiri?”“Kau tenang saja kakak pertama, serahkan urusan disini padaku.”“Baiklah kalau begitu, cari aku jika terjadi sesuatu.”“Baik.”Setelah mengatakan itu Luoyang pergi dari sana, senior yang mengabsen bernama Xue Yi. Tak lama setelah ia selesai mengabsen Lian Wei keluar dari dalam.“Salam, kenal semuanya. Aku a
Bawahan tadi langsung mengirimkan pesanan milik Mayleen ke akademi, ia langsung menyerahkan langsung padanya.Saat ini Mayleen sedang berada di taman belakang. Suasana gelap dan banyaknya pohon rimbun membuatnya tidak terlihat.Pria itu datang dengan membawa barang yang diminta Mayleen, ia langsung memberikan uangnya. Setelah transaksi itu selesai Mayleen segera kembali kediamannya.Keesokan paginya, saat murid-murid sedang berlatih seperti biasanya. Terdengar suara tapak kaki kuda yang berlari kerah akademi.Suara kuda yang melengking menarik perhatian mereka. Suara kuda itu terdengar sangat banyak, sehingga mereka berkumpul untuk melihat keadaan. Beberapa murid juga langsung berlari untuk membuka gerbang akademi.“Ada apa ribut-ribut?” tanya Xie Nian.“Itu bukankah Tentara Xinxin?” Xue Yan. Tentara Xinxin berjajar rapi dengan kudanya di depan gerbang masuk akademi. Lalu tibalah seorang pria tampan dengan membawa pedang. Ia turun dari kudanya dan berjalan dengan gagahnya. “Wahhh ap
“Kakak ada apa?” tanya Mayleen.'Gawat apa Xiuhuan mengenali Lian Wei?’ batin Xu Kai cemas. “Tidak ada, kakak akan berada disini untuk sementara waktu,” ucapnya.“Kakak akan menginap disini?” Tanya Lien Hua yang diberi anggukan kepala oleh Xiuhuan. “Tuan Adipati, apakah anda tidak keberatan?” tanya Xiuhuan pada Adipati Xinxi. “Tentu saja tidak, Putra Mahkota,” ucapnya. “Siapkan kamar untuk Putra Mahkota,” ucap Adipati Xinxi pada pelayan di belakangnya. “Baik tuan.”“Kakak ayo aku ajak berkeliling,” ucap Mayleen dengan menggandeng lengannya Lien Hua juga menggandeng lengannya.Setelahnya mereka pergi dari sana, semua murid kembali pada aktivitas masing-masing.Sementara itu di tempat Lian Wei, Xie Nian mendudukannya dengan hati-hati.“Li Xinhua kau sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Xie Nian sambil mendudukannya di ranjangnya. “Iya sudah lebih baik, terimakasih.”“Ini minum dulu,” ucap Xie Nian menyodorkan gelas air minum. “Kau kenapa?” tanya Xie Nian bingung. “Aku tidak
Setelah selesai mandi ia keluar dengan hanfu biru muda. Xie Nian dan Mingmei menghampirinya.Mingmei membantu Lian Wei menyisir rambut, sementara Xie Nian membantu merias wajah pucatnya.“Sudah didandani tapi tetapi saja pucat, kau tidak boleh pergi jauh dari kami.”Lian Wei hanya tersenyum mendengarnya.“Kau jadi ikutkan, Li Xinhua?” tanya Xie Nian.“Tidak kau pergi saja lebih dulu. Aku akan menyusulmu nanti,” ucap Lian Wei tenang.“Ah tapi?”“Tenang saja aku sudah lebih baik. Aku akan berdiam diri sebentar disini.”“Baiklah, cepat menyusul jika sudah selesai ya. Aku pergi dulu, sampai nanti.”Klap!Suara pintu tertutup, hanya menyisakan Lian Wei dan Mingmei di dalam kamar itu.“Nona, apa anda mau pergi?”“Pergi, seluruh murid harus berada di sana. Jika tidak pergi, itu sudah bertindak tidak sopan pada putra negara ini.”‘Putri anda kenapa?’ batin Mingmei yang tidak sanggup ia katakan.Tok… Tok…Suara ketukan jendela terdengar, Mingmei segera memeriksanya. Terlihat Yelu yang berdiri
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu







