LOGIN“Bawa aku ke tempat kalian menemukan jejak itu,” perintah Wang Xuemin kepada pengawal.“Baik, Yang Mulia.”Beberapa pengawal langsung menaiki kuda. Lian Wei dan Xiuhuan pun mengikuti dari belakang.Tidak sampai seperempat jam, mereka tiba di sebuah jalan kecil yang mengarah ke hutan.Xiuhuan turun dari kudanya.“Di mana?”Pengawal menunjuk ke tanah.“Disini.”Lian Wei ikut turun. Ia berjongkok dan mengamati tanah yang masih lembab.Benar saja, ada bekas roda kereta. Namun, setelah diperhatikan lebih teliti, alis Lian Wei berkerut.“Ini bukan jejak kereta.”Xiuhuan menoleh.“Apa maksudmu?”“Lihat,” ucap Lian Wei menunjuk bekas roda tersebut.“Bekasnya terlalu dangkal. Kereta yang membawa beban berat seharusnya meninggalkan jejak lebih dalam.”Xiuhuan berjongkok di sampingnya.“Jadi seseorang sengaja membuatnya?”“Benar,” ucap Lian Wei, lalu menyentuh tanah di sekitar jejak tersebut.“Dan jejak ini masih baru.”Tiba-tiba—Sret!Tak!Sebuah anak panah melesat dari balik pepohonan.“Lindu
“Kalau begitu… kali ini aku akan melihatnya sendiri.”Setelahnya Xiuhuan pergi untuk bersiap ke Kediaman Wang di barat kota, tidak jauh dari Istana Shang.Sementara itu di tempat lain, Lian Wei baru saja selesai membaca laporan dari salah satu pengawalnya, tak lama pintu kamarnya diketuk.Tok… tok… tok…“Masuk.”Mingmei membuka pintu dan berjalan masuk.“Nona, ada pesan dari kediaman Putra Mahkota.”Lian Wei mengangkat alis.“Xiuhuan?”Mingmei mengangguk dan menyerahkan sebuah surat.“Putra Mahkota mengatakan bahwa beliau akan datang ke Kediaman Wang besok pagi.”Lian Wei membuka surat itu.Hanya ada beberapa baris kalimat di dalamnya. Namun, satu kalimat membuat sudut bibirnya terangkat.“Persiapkan pedang kembarmu.”Lian Wei terkekeh pelan.“Sepertinya dia akhirnya ingat.”Mingmei menatapnya bingung.“Mengingat apa, Nona?”“Latihan.”“Latihan?” ucap Mingmei bingung, ia tidak tahu jika Lian Wei dan Xiuhuan diberikan pedang kembar.“Pedang kembar.”Mata Mingmei menyipit, lalu ia melih
“Yang Mulia, Putri Agung sudah tiada. Putri yang mana, yang anda bicarakan?”“Kau tahu apa? Sudah kembalilah.”Kaisar Li mengusir Kasim Chen pergi.“Baik Yang Mulia.”Lalu Kasim Chen pergi dari sana, sementara itu Xiuhuan dan Jianying masih berjalan-jalan di taman.“Apa menurutmu kita beritahu ayah soal Li Xinhua ternyata adalah Lian Wei?”“Kak, kurasa ayah sudah tahu.”“Apa maksudmu?”“Ayah sangat berhati-hati, tapi sikapnya tadi saat adik memegangnya, ayah begitu yakin dan percaya. Bahkan ayah tidak membantah adik sedikitpun.”“Kau benar, mungkin saja ayah sudah tahu.”“Ibu juga sudah tahu, firasat seorang ibu tidak pernah salah.”“Ibu Selir tahu?”“Ya.”Lama mereka terdiam hingga akhirnya Xiuhuan memecah keheningan.“Jianying, apakah menurutmu adik masih mau memaafkan aku?”Jianying terhenti.Tak lama ia menoleh pada kakaknya yang sedang memandang lurus pada pohon persik yang berguguran.“Pohon itu tadinya banyak buahnya, Lian’er suka memanjat di pohon itu. Sekarang setelah dia per
“Lalu pertanyaannya siapa orang itu?”“Kita harus cari tahu orang yang berhubungan Hong Li Hao.”“Oh ya, bukankah Kaisar Song memiliki Putra Mahkota?” tanya Xiuhuan. “Putra Mahkota, anak Kaisar Song tidak tertarik pada tahta ayahnya, dia tidak mungkin menggerakkan pasukan kecuali terpaksa,” jawab Lian Wei. “Masalah ini tidak bisa ditunda lagi. Kasim Chen sebarkan undangan untuk para pejabat istana untuk menghadiri rapat negara segera,” titah Jiazhen. “Ba—” ucapan Kasim Chen terpotong.“Tidak bisa ayah, mereka akan menambah kewaspadaan pada kita,” ucap Xiuhuan.“Lalu apa rencanamu Nona Li?” tanya Jianying. “Melonggarkan penjagaan yang terlihat di mata, namun sangat ketat yang tidak terlihat oleh mata,” ucapnya serius. “Maksudmu? Penjagaan oleh pasukan bayangan?” ucap Wang Xuemin.“Ya, pasukan Xinxin banyak penjaga bayangan dan bandit pasar.”“Bandit pasar?” besok semua orang.“Tuan, kami sudah menghubungi Xiaowen. Dia akan bersiap ketika anda memberi perintah,” ucap Anming yang ba
“Selir Cui, apa benar kau meracuniku?”Selir Cui masih tetap tidak mengakuinya.“Yang Mulia! Mana mungkin aku meracunimu, aku begitu mencintaimu!”“Kalau begitu, tabib segera tes cangkir itu.”Deg…Tubuh Selir Cui merosot jatuh.Segera tabib mengetes teh itu, ia memasukan beberapa bahan ke dalam tehnya. Lalu ia mengeluarkan jarum perak dan memasukan jarum itu ke dalam tehnya. Saat mengangkat jarum itu, jarumnya berubah warna menjadi hitam. “Ini?” kaget Selir Wu.“Selir Cui, ternyata kau benar meracuni Yang Mulia Kaisar!” pekik Selir Wu kaget.“Selir Cui, kenapa kau begitu ingin membunuhku?”“Tidak! Yang Mulia, dengarkan penjelasanku!”Selir Cui merangkak di bawah kaki Li Jiazhen.“Lepaskan!” ucap Kaisar Li dengan menghempas tangan Selir Cui.Mereka semua sudah tahu rencana busuk Selir Cui, namun mereka sedang memainkan peran seolah terjebak dalam permainan.“Tabib, racun apa sebenarnya itu?” tanya Jianying.“Mohon ampun Pangeran Kedua, di dalam teh ini memang benar terdapat racun. Ta
Keesokan paginya setelah sarapan bersama, Lian Wei, Xiuhuan, Jianying dan Xuemin hendak pergi ke tempat latihan untuk membicarakan tentang pemberontakan. “Ayah kami akan mendiskusikan tentang pemberontakan Hong Li Hao, apa ayah bisa pergi bersama kami setelah sarapan?” tanya Xiuhuan“Hmm hari ini ada rapat dengan para menteri, kau laporkan tentang pemberontakan itu dahulu. Lalu saat malam hari, kita akan membicarakan tentang rencana.”“Baik ayah.”“Jadi selama ini apakah kalian sedang mempersiapkan pasukan untuk pemberontakan itu?”“Benar ayah, maafkan aku tidak memberitahu tentang ini lebih dulu. Aku khawatir akan kondisi ayah yang masih belum pulih,” jawab Jianying.Lian Wei dan Wang Xuemin juga ikut makan bersama. Sandiwara ayah dan anak sudah berakhir malam itu. Hari ini Lian Wei kembali seperti saat ia bertemu dengan Li Jiazhen sebagai Li Xinhua.“Yang Mulia, anda sakit?” tanya Lian Wei.“Ya, ayah sakit. Tabib tidak bisa mendeteksinya,” ucap Xiuhuan.“Bolehkah, hamba mengeceknya
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg







