LOGIN"Apa yang anda lakukan disini?”"Hanya berkeliling, kebetulan saya menemukan keberadaan anda disini. Apakah saya mengganggu waktu anda Yang Mulia?""Ah tidak.""Yang Mulia silahkan," ucap Xuemin menyodorkan sepatu pada Lian Wei. Lian Wei dengan enggan memakainya, namun Xuemin memegang salah satu kakinya. Mau tak mau dengan pasrah Lian Wei mengangkat satu kakinya. Xuemin memakaikan sepatu pada Lian Wei dengan hati-hati. Saat ingin meletakan kembali kakinya, Lian Wei tergelincir. "Ah....!" pekiknya. Namun dengan sigap Xuemin menangkap Lian Wei. Hampir saja Lian Wei terjatuh ke tanah berbatu. Mereka saling berpelukan dengan posisi Lian Wei di bawah dan Xuemin di atas. Mata mereka saling menatap tanpa berkedip. Jantung yang berdebar dengan kuatnya. Lama mereka berpelukan dalam posisi itu, membuat Lian Wei tersadar, ia menggerakkan kedua bola matanya dan berdehem. ‘Suara jantung Xuemin kencang sekali,’ batin Lian Wei. "Ekhem...""Ah, anda tidak apa Yang Mulia?" ucap Xuemin membantu L
Keesokan paginya, Mingmei dan para pelayan yang lainnya membereskan aula singgasana. Merapikan meja dan kursi yang digunakan untuk perjamuan kemarin malam. Lian Wei berjalan memasuki aula singgasana dengan hanfu biru muda dengan memakai topeng clear. "Yang Mulia, anda datang?""Iya, aku hanya akan mengambil beberapa berkas dan akan membacanya di taman kekaisaran.""Silahkan Yang Mulia," ucap Mingmei. Segera Lian Wei memilih beberapa berkas. Para tamu sudah tidak ia pedulikan lagi. Mereka bebas melakukan hal lain sendiri di kekaisarannya, asalkan tidak menimbulkan keributan. Setelah selesai memilih, Mingmei segera membawakan berkas tersebut. "Yang Mulia Ratu," panggil seseorang dari belakang. Segera Lian Wei memutar badannya menghadap orang yang memanggilnya. Lian Wei tersenyum pada orang yang memanggilnya. "Yang Mulia Kaisar Wei? Ada apa mencari ku?" sapa Lian Wei lembut. "Maaf mengganggu Yang Mulia Ratu, saya ingin bertanya tentang tempat latihan pasukan kekaisaran. Apakah say
"Lancang!" pekik Menteri Kanan Anming. "Tak apa Menteri Kanan, menggunakan topeng adalah ciri khas kekaisaran kami. Kami tidak bisa menunjukkan wajah asli kami pada orang lain di luar kekaisaran. Mohon untuk memaklumi hal ini Putri Mahkota Quon," ucapnya dengan menegaskan kalimat terakhir. "Wah jadi dia Putri Mahkota Quon?""Iya benar, berani sekali dia pada Kaisar Wanita.""Kudengar dia Putri Kedua Li dengan tempramen yang jahat.""Ah bukankah dia anak haram Selir Ketiga dengan Pangeran Kedua Song?""Maksudmu paman Putra Mahkota Song?""Benar benar, yang melakukan pemberontakan lalu.""Pantas saja sikapnya seperti itu.""Kudengar Putri Pertama meninggal beberapa bulan lalu sebelum perang. Kasihan sekali dia, dia selalu disiksa oleh kakak dan adiknya.""Bukankah dia juga merebut tunangannya Putri Pertama?""Benar benar, tapi Putri Pertama sangat baik. Demi adiknya dia memutuskan pertunangannya dengan Putra Mahkota Quon.""Ah... tapi kan Putri Pertama sudah bertunangan dengan Putra M
"Yang Mulia Ratu Lian Fang Xin tiba!" ucap seorang prajurit mengumumkan kedatangan Lian Wei. Lian Wei masuk ke aula dengan balutan gaun merah terang dengan bordir emas berjalan dengan anggun. Topeng emas yang cantik menutupi wajahnya. Lian Wei sampai pada altar singgasana. "Salam pada Yang Mulia Ratu," ucap mereka serempak. "Bangunlah," ucapnya segera mereka bangun dari posisi membungkuknya. "Terimakasih pada para petinggi Kekaisaran dan juga para rakyat yang bersedia datang ke Kekaisaran kecil dan sederhana kami.""Mohon untuk jangan sungkan, silahkan," ucapnya mempersilahkan duduk juga makan hidangan yang tersedia. Deg... "Suara ini…" bisik Lian Wei pelan.‘Tenanglah Lian Wei, ini bukan pertama kalinya bagimu bukan?’ batin Lian Wei.‘Tidak ini pertama kali aku menghadapi pesta yang melelahkan ini,’ pikirnya. Lian wei berdebat dengan isi kepalanya.Lian Wei berdiri di depan pintu aula, ia menyiapkan mental untuk bertemu kembali dengan keluarga yang meninggalkan dirinya dulu. Be
"Lalu apa berita dari Kekaisaran Song?""Kaisar Song akan turun tahta dan digantikan oleh Putra Mahkota Song, Hong Tiong Wai. Acara penobatannya tiga minggu ke depan.""Baiklah, persiapkan penyambutannya lalu sebarkan undangan untuk seluruh kekaisaran. Pesan topeng terbaik, pastikan seluruh rakyat kita memakai topeng pada saat acara. Jika ada yang melanggar hukum mereka.""Baik, Yang Mulia Kaisar Wanita," ucap mereka berdua lalu pergi dari sana. Lian Wei di nobatkan sebagai Kaisar Wanita, Kekaisaran Lian Fang Xin. Setelah ia berhasil menjadi saudagar kaya raya, ia membuat kerja sama dengan benua lain. barangnya akan dikirim melalui kapal-kapal besar. Panglima Zei Xen naik pangkat menjadi menteri kiri yang akan berurusan dengan bisnis luar dan dalam benua. Sementara Panglima Anming naik pangkat menjadi menteri kanan yang bertugas mengurus pasukan kekaisaran. Tao Mo di angkat menjadi komandan pasukan kekaisaran. Ia juga menikah
"Apa?""Beberapa pedagang dari Song mulai datang. Mereka ingin mengetahui kapan pasar pertama akan dibuka."Lian Wei tersenyum."Lebih cepat dari yang kuduga."Dia berjalan menuju area yang akan menjadi pusat pasar. Di hadapannya, para pekerja sedang memasang tiang-tiang kayu."Kalau begitu, kita harus mempercepat pembangunan jalan."Mingmei mengangguk."Baik."Lian Wei memandang tanah luas di hadapannya. Beberapa minggu lalu, tempat ini masih kosong. Sekarang, perlahan-lahan kehidupan mulai tumbuh."Suatu hari nanti," gumamnya, "tempat ini akan menjadi kota perdagangan terbesar di antara negeri-negeri."Mingmei tersenyum."Dan apa nama kekaisaran ini, Yang Mulia?"Lian Wei terdiam dia belum memberikan nama resmi. Namun, beberapa saat kemudian, sebuah nama terlintas di pikirannya."Lian Fang Xin.""Lian Fang Xin..." Mingmei mengulanginya pelan."Ya."
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg







