Share

89

Author: Naomiliana
last update publish date: 2026-05-15 09:32:20

Lian Wei berpura-pura pingsan sampai ia ketiduran. Xiuhuan masih tetap menunggunya bangun. Mingmei datang membawakan makanan. Lian Wei yang mencium aromanya segera terbangun dari tidurnya.

Ia melihat Xiuhuan yang masih setia menunggunya bangun. Ia bangun dengan perlahan, pergerakan itu membuat Xiuhuan menoleh.

Segera ia meletakkan dokumen yang dibacanya lalu membantu Lian Wei untuk duduk.

“Kau sudah lebih baik?”

Lian Wei hanya mengangguk pelan.

“Ayo makan dulu,” ajak Xiuhuan.

Mereka dudu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   249

    “Dimana para pangeran?”Selir Cui dan Kasim Chen saling tatap.“Pangeran—” ucapan Kasim Chen terpotong.“Mereka sedang pergi ke Kekaisaran Wu, ada keadaan mendesak yang harus dibicarakan dengan Putra Mahkota Wu.”“Keadaan mendesak apa?” panik Kaisar Li, berusaha untuk bangun dari posisinya.“Yang Mulia sangat mencemaskan anak-anak. Yakinlah mereka akan baik-baik saja.”“Terimakasih Selir Cui.”Setelahnya Selir Cui pergi dari sana. Ia tidak kembali ke paviliunnya, melainkan pergi ke Istana Timur. Terlihat ia jalan dengan mengendap-endap, lalu meletakkan surat yang dibawanya di dalam sebuah pot bunga.Setelah selesai dengan aksinya ia kembali ke kediamannya. Tanpa ia sadari ada dua orang yang mengawasi mereka. Salah satunya adalah pelayan kaisar dan satunya lagi prajurit yang sedang bertugas. Pelayan kaisar itu adalah Lu Lixin dan tentu saja prajurit itu Tao Mo. Tao Mo segera memberitahu pengawal bayangan untuk menyampaikan berita tersebut. Di sisi lain Lian Wei masih makan bersama de

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   248

    Mereka meninggalkan area pemakaman tanpa menoleh lagi. Langkah keduanya terasa mantap, seolah kesedihan yang baru saja mereka rasakan telah berubah menjadi tekad. Begitu tiba di kediaman Wang Xuemin, semua orang sudah menunggu di ruang pertemuan.“Panggil semua orang kepercayaanku,” perintah Wang Xuemin. “Tidak boleh ada satupun yang terlambat.”“Baik pangeran,” ucap Tianzhi.Tak lama kemudian, beberapa pria berpakaian sederhana memasuki ruangan. Wajah mereka biasa saja, tetapi sorot mata mereka menunjukkan bahwa mereka bukan orang sembarangan. Mereka adalah jaringan pengintai yang selama ini bergerak di balik bayang-bayang.Wang Xuemin membentangkan sebuah peta besar di atas meja.“Kekaisaran Song sedang mempersiapkan perang. Mulai malam ini, kalian akan bergerak untuk mengawasi pergerakan mereka.”Wang Xuemin menunjuk beberapa titik di sepanjang perbatasan.“Tim pertama menyusup ke jalur perdagangan. Aku ingin mengetahui setiap kereta yang keluar dan masuk wilayah Song. Catat jumla

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   247

    “Itu... aku hanya memang tidak suka makan, Kak.”“Ayo pergi.”Sementara itu, di Kekaisaran Wu, Wang Xuemin sedang membaca dokumen. Li Xiuhuan, Li Jianying dan Liu Changhai datang menemui Wang Xuemin karena sebuah surat mendesak yang dikirimkan oleh Wang Xuemin.Belum sempat mereka mengobati luka di hati, sebuah kabar mendesak datang dari garis perbatasan. Kekaisaran Song dikabarkan tengah mengerahkan pasukan dan bersiap melancarkan serangan terhadap tiga kekaisaran besar.Duka belum usai, tetapi perang sudah mengetuk pintu.Ketiganya berdiri lama di depan makam Lian Wei yang berada di pemakaman keluarga kerajaan Kekaisaran Wu. Angin dingin berhembus pelan, seolah ikut meratapi kepergian sang putri.Tianzhi menyuruh mereka untuk segera pergi menemui Wang Xuemin di ruang kerjanya, tetapi mereka masih tidak bergerak.Di sisi lain, Xu Kai memutuskan kembali ke Kekaisaran Xu karena menerima surat dari ayahnya. Dalam perjalanan, ia teringat bahwa hari penerimaan murid baru Akademi Adipati X

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   246

    “Kalian apa yang terjadi pada kalian?”“Ini kami tadi masuk ke dalam jebakan lalu berhasil keluar dari sana,” ucap Lien Hua beralasan.Senior tidak curiga akan hal itu, karena banyaknya jebakan di hutan racun tadi membuat mereka mempercayai ucapan kedua rubah ini. “Cih!” decih Xue Yan kesal dengan mereka. “Sudah cepat masuk barisan,” perintah senior. Mereka berdua berjalan ke samping Lian Wei, karena kebetulan barisan di sebelah Lian Wei masih kosong. Lien Hua memperhatikan wajah Lian Wei. Ia sempat terkejut melihatnya. Namun ia menjadi lebih lega setelah melihat tahi lalat di pelipis kiri Lian Wei. ‘Kupikir jalang itu masih hidup,’ batin Lien Hua.‘Ini, dia bukan jalang itu. Dia kan sudah mati terkuras darahnya. Tidak mungkin bisa selamat dari hal itu, semua orang di istana sudah mengetahui kabar meninggalnya putri pertama,’ batin Lien Hua meyakinkan diri.‘Lien Hua, Mayleen tunggu pembalasanku,’ batin Lian Wei dengan tangan yang terkepal kuat menahan untuk tidak menyerang kedua

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   245

    “Tapi kenapa akademi memiliki hutan ini?” tanya Xue Yan. Mereka semua terdiam, tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Hingga akhirnya Lian Wei yang menjawabnya.“Konon hutan ini adalah jalan satu-satunya menuju Kolam Teratai Emas. Kolam Teratai Emas itu memiliki banyak khasiat, namun jika di konsumsi orang itu akan kehilangan kesadaran dan menjadi tidak terkendali. Sifatnya hanya pemakaian luar saja,” jelas Lian Wei.“Apakah seberbahaya itu, Li Xinhua?” tanya Xue Yan.“Tidak jika seorang ahli bela tinggi yang memiliki tingkat ketinggian yang setara atau hampir menyamai dengan dewa.”“Itu sangat mustahil,” ucap Mingmei.“Aku baru tahu ada hal seperti ini. Tadi kau bilang hutan ini adalah jalan satu-satunya. Berarti untuk masa kini harusnya ada jalan lain untuk sampai pada kolam?” tanya Xie Nian ragu.“Kau benar Xie Nian. Tapi aku tidak tahu jalan lainnya. Hanya Kaisar Li dan Adipati Xinxi yang mengetahui jalan ini.”“Berarti kedua orang yang curang tadi…”“Kau benar Xue Yan, mereka p

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   244

    “Menarik sekali anak-anak itu,” ucap seorang pria dari menara terbengkalai, lalu ia segera pergi dari jendela tersebut. Lian Wei dan Xue Yan jauh tertinggal dengan yang lain namun keberuntungan selalu berpihak pada mereka. Lian Wei melihat dua kelinci putih sedang bersembunyi. Ia menyuruh agar Xue Yan jalan perlahan lalu Lian Wei menebarkan bubuk putih di depan mereka. Tak lama kelinci itu terjatuh. “Ah Li Xinhua bukankah kita tidak boleh membunuh dengan racun?”“Kau tenang saja mereka hanya tertidur. Ini satu untukmu, kita harus segera mencari cara jalan keluar dari sini.”“Li Xinhua kau dapat apa?” tanya Mingmei.Lian Wei menunjukan buruannya.“Wah kelinci, aku hanya dapat burung,” ucap Mingmei.“Yang penting dapat.”“Li Xinhua… ini beneran untukku?”“Iya untukmu, ayo pergi sebelum gelap.”“Wah terimakasih, ayo pergi.”Mereka semakin memasuki hutan mencari jalan untuk mencapai Kolam Teratai Emas. “Berhenti!” seru Lian Wei tiba-tiba.Tanpa menunggu penjelasan, ia memungut sebuah b

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   65

    Mayleen menghampiri Lian Wei. “Kak maaf aku terlalu senang, jadi tidak sadar aku membeli sebanyak ini.” “Tidak masalah, ayo kembali.” “Baik kak.” Mereka pergi dari pasar dan segera kembali ke istana. Tidak ada obrolan, Lian Wei hanya diam dan membaca buku. Sementara Mayleen sudah tertidur karena

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   63

    Saat itu Jianying datang ke Paviliun Sakura dengan membawa manisan kastanya. Mendengar keributan di dalam membuatnya berlari masuk kedalam kamarnya."Putri?!""Putri anda kenapa? Tolong buka pintunya putri!""Ada apa?""Pa-pangeran Kedua, putri…"Brakkk…"Lian’er!"Jianying menendang pintu dengan k

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   61

    Xiuhuan berjalan lebih dulu di susul oleh Jianying, mereka duduk di gazebo milik Lian Wei. Sementara Tabib Luo dan Mingmei masih menunggu di dalam."Ada apa kak?""Menurutmu apakah mungkin Putri Kedua begitu kejam?"'Ah kakakku yang bodoh ini,' batinnya."Aku tidak tahu kak, kita tidak bisa menuduh

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   56

    "Apa yang terjadi disini?" suara berat menginterupsi."Kakak?" Lien Hua menoleh ke arah sumber suara."Adik? Apa yang terjadi padamu?" Xiuhuan membantu Lien Hua untuk bangun."Kak, aku ingin mengunjungi kakak pertama. Kudengar dia terluka dan belum makan, tapi mereka melarangku.""Ini sudah perinta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status