เข้าสู่ระบบDans un univers de luxe et de pouvoir, un PDG charismatique voit sa vie basculer lors d'une soirée mémorable. Au détour d'un échange subtil, marqué par la remise symbolique d'un pendentif en jade, il rencontre une femme énigmatique dont le passage éphémère laisse derrière lui une promesse muette et un mystère irrésolu. Hanté par l'intensité de ce moment furtif, il se lance dans une quête obsédante pour la retrouver. Son parcours se heurte à un labyrinthe de mensonges et de dissimulations, tissé par un entourage prêt à tout pour dissimuler des vérités dérangeantes. À mesure que le voile du passé se soulève, chaque rencontre et chaque secret dévoilé ne fait qu'accroître le suspense et la tension entre apparences et réalité.
ดูเพิ่มเติมBab 1
Jam di dinding terus berdetak. Menunjukkan bahwa sudah hampir tengah malam. Melati melirik pintu kamar Arthur yang tertutup rapat. Cahaya biru redup dari monitornya sesekali mengintip lewat celah pintu, disertai bunyi notifikasi yang tak henti berbunyi. Melati sudah menjalin hubungan selama dua tahun, dan ia sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini sepanjang waktu itu. Arthur, seorang streamer yang punya ribuan penggemar, kini sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Dulu, perhatiannya yang penuh semangat terasa begitu istimewa. Namun kini, sebagian besar waktunya ia curahkan hanya untuk papan ketik dan layar komputer. Rasa bosan mulai menyeruak. Melati bangkit berdiri, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Mungkin perlu sedikit 'gangguan' untuk membangkitkan sisi posesif yang tersembunyi di balik ketenangan seorang pemain profesional. Di sudut ruangan, Melati bisa melihat tumpukan barang dagangan game berjejer rapi — bukti nyata popularitas pacarnya itu yang tak terbantahkan. Namun malam ini, ia bertekad menjadi pusat perhatian Arthur, bukan sekadar pengagum setia di layar obrolan. Melati melangkah pelan menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa membuat Arthur mengalihkan pandangannya dari kemenangan gemilang dalam permainan. Mungkin aroma kopi yang kental? Atau cukup suara langkah kakinya yang sengaja dibuat agak keras di lantai kayu? Senyum tipis tersungging di bibirnya. Saatnya menguji seberapa besar 'rasa cinta' yang masih tersisa di balik layar monitor itu. Ia kembali ke kamarnya, bersiap menjalankan rencana yang akan membuat pacarnya itu mau beranjak dari depan komputer. Membuka lemari pakaian, ia mengambil dua potong baju renang. Dengan senyum mungil yang menghiasi wajahnya, ia kembali menuju kamar Arthur, mengetuk pintu pelan sebelum memanggil. “Arthur, bisakah kamu ke sini sebentar?” ucapnya sambil duduk di ruang tamu menunggu pacarnya itu datang. Di dalam kamar, jari-jari Arthur berhenti bergerak di udara. Matanya beralih ke arah pintu. Ia mendengarkan saksama, berusaha mengenali suara yang memanggilnya. Sebuah suara yang akrab terdengar, suara milik orang yang paling ia sayangi. Bibirnya melengkung membentuk senyum nakal saat ia mengenali nada suara itu, yang terdengar sedikit tidak sabar. “Ah, kekasihku,” gumam Arthur dalam hati, matanya berbinar penuh godaan. “Selalu saja tidak sabaran.” Ia bersandar di kursi, meregangkan tubuh yang kaku sebelum bangkit berdiri. Gerakannya sengaja dibuat lambat, seolah ingin memperlama rasa penasaran. Saat berjalan menuju pintu, ia bertanya-tanya ide apa lagi yang sedang disiapkan kekasihnya kali ini. “Apa yang begitu mendesak sampai tak bisa menunggu sampai aku selesai main?” tanya Arthur sambil tersenyum menggoda begitu membuka pintu. Melati menatap Arthur yang baru saja muncul. Ia berdiri sambil membawa barang yang ingin ditunjukkannya. “Aku mau minta pendapatmu soal baju renang ini,” katanya sambil menunjukkan dua potong baju renang itu kepada Arthur. “Yang mana yang paling bagus?” tanyanya lagi sambil menatap lurus ke mata Arthur. “Besok aku mau pakai, soalnya teman-teman mengajak pergi ke kolam renang.” Mata Arthur sedikit melebar saat melihat baju renang yang dipegang Melati. Pandangannya beralih dari satu ke yang lain, meneliti dengan tatapan tajam. Ia melangkah mendekat, tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapan Melati saat ia memeriksa kedua pilihan itu. “Wah, wah,” gumam Arthur pelan, suaranya terdengar berat dan lembut. “Sepertinya ada yang diam-diam merencanakan pesta kolam renang tanpa mengajakku ya?” Ia mengulurkan tangan dan mengambil salah satu baju renang dari tangan Melati, mengangkatnya lebih tinggi untuk dilihat lebih jelas. Itu adalah baju renang berwarna merah cerah yang modelnya cukup terbuka. “Yang ini,” kata Arthur dengan tegas, sifat posesifnya mulai terlihat jelas. “Ini… sangat menarik perhatian orang.” Ia melemparkan baju itu kembali ke arah Melati, lalu beralih melihat pilihan kedua — baju renang berwarna hitam yang modelnya lebih sopan dan tertutup. “Dan yang satu ini…” Arthur terdiam sejenak, jari-jarinya menyentuh kain itu seolah sedang berpikir. “Ini juga bagus. Sederhana, tapi tetap terlihat berkelas.” Arthur menatap Melati dengan tajam, matanya berkilat menyimpan hasrat yang tak terucapkan. “Tapi Sayang…” “Apa?” tanya Melati dengan wajah sedikit bingung. Senyum Arthur makin melebar, matanya berbinar jenaka melihat wajah bingung itu. Ia melangkah semakin dekat, menembus batas ruang pribadi Melati, lalu membungkuk sedikit dan berbisik tepat di telinganya. “Yang mau aku bilang adalah,” bisik Arthur, napasnya terasa hangat menyentuh kulit telinga Melati. “Buat apa kamu pakai salah satu dari itu, kalau kamu tahu aku sama sekali tidak suka kamu pergi ke sana?” Ia mundur sedikit, namun pandangannya tetap tajam dan penuh keinginan menatap wajah kekasihnya. Tangannya terulur, lalu dengan lembut mengangkat dagu Melati agar wajahnya berhadapan tepat dengan wajahnya. “Tapi kalau kamu sudah bertekad ingin pergi ke kolam renang,” lanjut Arthur, suaranya terdengar tegas dan penuh rasa memiliki. “Kalau begitu pakai yang warna merah itu saja. Biar semua orang di sana tahu siapa yang memilikimu.” Ibu jarinya menyentuh bibir Melati dengan lembut, baru kemudian ia melepaskan pegangannya dan mundur selangkah. “Jadi,” kata Arthur dengan nada santai sambil melipat kedua tangannya di dada. “Jadi bagaimana? Kamu tetap mau pergi?” Melati membalas dengan senyum kecil di bibirnya, lalu bertanya balik. “Jadi… aku boleh pergi dong? Kamu tidak keberatan kan?” Mata Arthur sedikit menyipit mendengar nada bicara Melati yang seolah-olah santai itu. Rasa posesifnya kembali bangkit membayangkan kekasihnya pergi bersenang-senang tanpa dirinya. Ia menurunkan lengannya dan melangkah maju lagi, menutup jarak di antara mereka berdua. “Boleh pergi?” ulang Arthur, suaranya terdengar seolah tersinggung tapi hanya bercanda. “Sayang, kamu itu tidak perlu minta izin untuk melakukan apa saja. Kamu bukan anak kecil yang harus minta izin dulu kan?” Namun tangannya langsung bergerak, menggenggam pergelangan tangan Melati dengan erat namun tetap lembut, lalu menariknya mendekat sampai tubuh mereka hampir bersentuhan. “Tapi biar kita sama-sama paham ya,” lanjut Arthur, genggamannya makin erat di pergelangan tangan itu saat ia membungkuk sampai bibirnya tinggal beberapa senti saja dari bibir Melati. “Besok kalau kamu pakai baju renang merah itu… pastikan semua orang yang melihat tahu bahwa kamu milikku.” Tangan kirinya bergerak naik, menyisir rambut Melati ke belakang lalu memegang tengkuknya, mendongakkan sedikit kepala itu agar menatap tepat ke matanya yang penuh gairah. “Dan kalau ada yang menatapmu terlalu lama atau berani mendekat,” geram Arthur pelan dan rendah, “Kamu ingatkan saja mereka, siapa sebenarnya pasanganmu.” Melati yang mendengar nada suaranya berubah dan tahu betul pacarnya sedang dalam mode posesif, hanya mengangguk patuh. “Baiklah.” Mata Arthur bersinar puas bercampur hasrat mendengar jawaban itu. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Melati, dan lekuk tubuh kekasihnya yang menempel rapat padanya. Genggamannya di pergelangan tangan itu mengerat sebentar, sebelum akhirnya ia melepaskan dengan berat hati, jari-jarinya seolah enggan melepas kulit halus itu. “Bagus,” gumam Arthur, suaranya terdengar berat karena menahan gairah yang hampir meledak. “Senang sekali kita sepaham.” Ia mundur selangkah, memberi jarak di antara mereka berdua supaya ia bisa sedikit menenangkan diri. Arthur mengacak-acak rambutnya dengan tangan, gerakan yang justru membuatnya makin terlihat tampan dan menarik. “Kamu harus tidur sekarang,” katanya, nada bicaranya kini lebih lembut namun tetap terdengar memerintah. “Besok harimu pasti akan panjang dan melelahkan.” Arthur berbalik hendak kembali ke ruang gamenya, tapi berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menoleh ke belakang dan menatap Melati lewat bahunya. “Dan Sayang?” tambahnya sambil tersenyum nakal. “Kenakan baju tidur yang cantik dan manja ya. Nanti aku mungkin akan menyusul ke kamarmu,” katanya dengan nada menggoda. Dengan ucapan terakhir itu, ia menghilang kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Melati sendirian dengan hati yang berdebar dan rasa hangat yang masih tersisa di tempat tangannya tadi memegang.Sophia avait déjà enduré bien des épreuves depuis son arrivée chez Reeder Corp. Néanmoins, rien ne l’avait préparée à l’épreuve qui allait la mettre en face d’un dilemme qui dépasserait tout ce qu’elle avait imaginé. Un jour, alors qu’elle pensait pouvoir enfin prouver ses compétences par son travail, Clara – toujours implacable dans ses manigances – envoya une convocation inhabituelle. Selon le message, Sophia devait se rendre dans un bureau excentré, dans un quartier discret de la ville, pour rencontrer un certain Monsieur Girard. Le message précisait que la signature d’un contrat avec cet individu était indispensable pour finaliser un partenariat crucial pour Reeder Corp, condition sine qua non pour la pérennité du département de design auquel Sophia appartenait. Sinon, son emploi risquait d’être compromis.Sophia se sentit d’abord déconcertée et indignée : comment pouvait-on lui imposer une rencontre avec un homme dont la réputation laissait planer des non-dits douteux et, pour ne
Alexander Reed, PDG de Reeder Corp, avait toujours été un homme déterminé, guidé par ses propres principes. Mais il y avait une personne dans sa vie qui semblait capable de le faire vaciller : sa grand-mère, Margaret Reed. Femme d’une grande influence et d’un caractère bien trempé, Margaret avait toujours eu des idées bien arrêtées sur ce qui était bon pour sa famille, et surtout pour Alexander.Depuis quelque temps, Margaret s’était mise en tête qu’il était temps pour Alexander de se marier. Elle ne comprenait pas pourquoi son petit-fils, à la tête d’une entreprise florissante, n’avait pas encore trouvé une épouse. Et elle n’hésitait pas à lui rappeler son “manque de priorité” à chaque occasion.Un soir, Alexander était assis dans le salon familial, un verre de whisky à la main, profitant d’un rare moment de calme. Margaret entra dans la pièce, son regard déterminé et son pas assuré.— Alexander, nous devons parler, dit-elle en s’asseyant sur le fauteuil en face de lui.Alexander lev
Sophia avait espéré que son intégration au département de design de Reeder Corp marquerait un nouveau départ, une opportunité de prouver son talent et de construire un avenir meilleur pour ses enfants. Mais dès ses premiers jours, elle sentit une tension palpable autour d’elle. Clara, fidèle à son attitude hostile, semblait déterminée à lui rendre la vie impossible.Sophia remarqua rapidement que certains collègues la regardaient avec méfiance, chuchotant entre eux lorsqu’elle passait. Elle tenta de ne pas y prêter attention, mais les murmures devenaient de plus en plus fréquents. Un jour, alors qu’elle travaillait sur un projet, deux collègues, Lisa et Marc, discutaient à voix basse près de la machine à café.— Tu as entendu parler de la nouvelle ? demanda Lisa, jetant un regard furtif vers Sophia.— Oui, répondit Marc. Clara dit qu’elle a été recrutée uniquement parce que le PDG a insisté. Apparemment, elle n’a pas du tout le niveau.Lisa hocha la tête, son ton devenant plus critiqu
Sophia se tenait devant les grandes portes de la maison familiale, le cœur alourdi par un mélange de nostalgie et de nervosité. Ce lieu, autrefois rempli d’émotions contradictoires, représentait une partie de son passé qu’elle avait soigneusement évité pendant des années. Mais aujourd’hui, elle avait décidé d’y revenir, principalement pour ses enfants. Les triplés, curieux et insouciants, serraient ses mains alors qu’elle inspirait profondément avant de sonner à la porte.Lorsqu’Anna ouvrit, un sourire sarcastique illumina son visage. Ses yeux parcoururent rapidement Sophia et ses enfants, un mélange de surprise et de mépris dans le regard.— Eh bien, regarde qui est de retour, dit Anna d’une voix pleine de moquerie. La grande disparue. Franchement, je croyais que tu avais quitté ce monde pou
Cinq années avaient passé, presque aussi vite qu’un souffle de vent. Milan avait offert à Sophia et à ses triplés un refuge et un nouveau départ. Elle avait exploré le monde du design avec passion, suivant des cours, créant des projets inspirants, et trouvant dans cette ville une partie d’elle-même
Sophia avait disparu des quartiers animés depuis cette fatidique confrontation familiale. C’était comme si elle s’était effacée de la surface visible de la ville, se réfugiant dans un modeste coin où personne ne viendrait la chercher. Elle avait trouvé du travail comme ménagère dans une petite entr
Quelques semaines s’étaient écoulées depuis cette nuit mystérieuse dans l’hôtel. Sophia Carter avait tenté de reprendre le fil de sa vie, mais une étrange fatigue et des nausées matinales persistantes commencèrent à éveiller ses soupçons. Bien qu’elle n’ait jamais imaginé une telle possibilité, ell
La soirée battait son plein dans l’un des hôtels les plus prestigieux de la ville. Les lustres scintillaient, projetant des éclats de lumière sur les murs ornés de dorures et de fresques élégantes. Les invités, parés de leurs plus beaux atours, se mêlaient dans une ambiance où le luxe et l’excès ré


















Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.