في قبضة الجنرال : عشق خلف أسوار الاحتلال

في قبضة الجنرال : عشق خلف أسوار الاحتلال

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-06-16
Oleh:  ملاك Ongoing
Bahasa: Arab
goodnovel18goodnovel
10
7 Peringkat. 7 Ulasan-ulasan
17Bab
1.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

جميع الأحداث، الشخصيات، والأسماء الواردة في هذه الرواية (بما في ذلك دولتي "فلاجليتا" و "رسلاي") هي من محض خيال الكاتبة، ولا صلة لها بالواقع أو بأشخاص حقيقيين أو دول موجودة بالفعل أو حتى صراعات حقيقيه كل هذا مجرد خيال ولا يمت للواقع بصلة . و​إنّ استخدام المصطلحات العسكرية أو قصص النزاعات داخل العمل يخدم السياق الدرامي والروائي فقط، ولا يعبر عن آراء سياسية أو تأييد لأي أحداث واقعية. * المقدمه * " في قبضة الجنرال" ليست كل الحروب تُخاض بالسلاح...فبعضها يبدأ بنظرة، ويستمرّ بقلبٍ يحاول النجاة من شخصٍ كان من المفترض أن يكرهه. هي لم تكن سوى فتاةٍ بسيطة، سُلب منها وطنها وحريتها، لتجد نفسها أسيرة داخل عالمٍ لا يشبهها، بين أناسٍ لا يتحدثون لغتها، وقلوبٍ امتلأت بالقسوة والسلطة. أما هو..ذلك الرجل الذي ارتجفت المدن خوفًا من اسمه، والذي اعتاد أن ينال كل ما يريده دون نقاش. بارد... قاسٍ... وغامض بطريقةٍ مخيفة. كان محتلًا اعتاد أن يأخذ كل شيء بالقوة، حتى ظنّ أن المشاعر أيضًا يمكن إخضاعها للأوامر لكن وسط كل تلك القسوة، كانت هناك هي " الفتاة التي لم تخشَ النظر في عينيه، ولم تنحنِ له كما فعل الجميع. ومنذ اللحظة الأولى، تحولت من مجرد فتاةٍ عابرة...إلى نقطة ضعفه الأخطر. لكن الأمور لا تسير دائمًا كما نخطط لها فحين تتحول الكراهية إلى تعلّق، والخوف إلى أمان، تبدأ الحرب الحقيقية... حرب القلب. لتبدأ بينهما حربٌ من نوعٍ آخر؛ حربٌ بين قلبٍ يحاول المقاومة، ورجلٍ لم يتقبل يومًا فكرة أن يقع في الحب.. فهل يمكن لقلبين يقف بينهما وطنٌ كامل أن يلتقيا؟ أم أن الوقوع في قبضة الجنرال كان قدرًا لا مهرب منه؟ ​

Lihat lebih banyak

Bab 1

1: مهمه مستحيلة

Ikrar Talak

Bab  1 

"Kutalak Kamu Riri Danu Subrata, mulai saat ini kita bukan lagi suami istri!"

Deg

Benarkah yang kudengar ini? 

Suami yang selalu kudukung, deminya aku meninggalkan keluargaku. Dengan mudahnya mengucapkan talak? 

Syok? Tentu saja. Air mataku berlomba turun kebawah, bak air terjun. Hatiku jangan ditanya lagi. Sakit.

"Mas!" ucapku lirih. Kutatap mata kekasih halalku, eh, bukan lagi, Dia sudah bukan suamiku lagi, yang sudah membersamaiku tiga tahun ini. 

Apa salahku? Bagai dipukul palu godam sakitnya hatiku, ibarat kaca pecah, sudahlah pecah remuk pula. Meski berharap ini cuma mimpi, namun rasanya tak mungkin ini mimpi. Ini nyata. 

"Kemasi barang-barangmu, angkat kaki dari sini!" hardiknya kasar. Namun enggan menatapku, hanya tangannya yang menunjuk kearah pintu. Aku terpaku ditempat. Rasanya kakiku melemah, tak ada tenaga untuk melangkah. Padahal aku sangat mencintainya. Deminya aku meninggalkan kemewahan. Deminya aku bertahan meski caci maki sumpah serapah selalu dilontarkan ibu dan adiknya. 

"Dasar benalu!"

"Tiga tahun aku memperjuangkan rumah tangga kita, tapi apa yang Kamu buat dibelakangku, hah!"

"Kurang baik apa keluargaku padamu, tapi apa balasanmu? Benar kata ibu. Ternyata selama ini kau merampas uang jatah ibu. Keterlaluan Kamu Riri! Istri tak tau diri!" Suaranya meninggi. Aku terkejut bukan main. Tak tau diri katanya.

Wajahnya mengeras, tumpahkan lagi, Mas. Biar aku tahu apa alasanmu menalakku? Batinku.

Aku belum bersuara sama sekali, biarlah ia semakin kesal dengan diamnya aku. Aku tidak merasa buat kesalahan. Aku keluar pun tadi sudah izin sama dia. Aku memang pulang membawa motor baru. Apa karena motor itu?

Motor itu kubeli untuk memudahkan berjualan online. Toh aku juga tak ingin membebaninya. Karena Mas Tama juga harus bertanggung jawab terhadap adik dan Ibunya

Ia beranjak lalu keluar dari kamar dengan membanting pintu. Aku terduduk bersandar dilemari. Kuremas bajuku, mencoba menguatkan hati yang tengah pilu. Padahal aku bukanlah tipe istri yang banyak menuntut, selama ini selalu kusesuaikan gayaku dengan gaji pemberiannya.

Jatahku hanya dua juta untuk sebulan sedangkan untuk ibunya dia selalu memberi 10 juta. Entah untuk apa uang itu, setiap bulan selalu habis, bahkan tak jarang akhir bulan ia sudah hutang sana sini.

Aku memanfaatkan ponsel untuk berjualan online, meski tak begitu banyak pelanggan tapi cukuplah untuk menambah kebocoran uang belanja. Meski serumah dengan ibunya, akulah yang selalu belanja untuk kebutuhan dapur. 

Sangat tidak adil memang. Beruntungnya mobil Mas Tama tidak kredit lagi.

Dua hari yang lalu ia baru saja menerima bonus tahunan. Entah mengapa ia memberikannya untukku. Ku pikir itu memang untukku makanya aku nekat membeli sepeda motor baru. 

Kuseka lagi air mata yang enggan berhenti. Terdengar diluar suara ibu dan Mita adik Mas Tama.

"Begitulah kalau punya istri orang miskin Tam, ada uang langsung beli ini itu. Tak bisa menabung. Dasar udik!" terdengar suara ibu yang mengataiku. 

Udik? Kupindai tubuhku. Ya aku memang sedikit udik. Itu karena aku mengikuti keuangan yang diberikan Mas Tama.

Ceklek

"Masih belum siap? Apa perlu kami bantu?" suara Mita terdengar menjijikan ditelingaku. 

Ku paksa untuk berdiri mengambil dan koperku. 

"Kasihan ya, Bu. Sudah miskin, sekarang gelandangan. Oh sayang, cantik-cantik kok gelandangan!" Mita terus mencibirku. 

Kuhentikan kegiatanku, ku tarik napas dalam lalu kulihat wajahnya yang tersenyum mengejek ke arahku.

"Apa belum puas kalian menyakiti aku?" kutatap tajam matanya.

"Aduh, Ibu. Mita takut, lihat itu matanya menyeramkan sekali!" Ia malah meledekku. Ibu yang seharusnya mengajarkan baik pada anaknya pun ikut mengejekku.

"Mana mungkin kami puas, gembel! Manusia tak jelas sepertimu memang pantas di sakiti. Tak sudi punya ipar kampungan sepertimu!" 

Sombong sekali dia. Baiklah, Aku akan pergi dari sini dan membalas perlakuan mereka.

Koper ku isi dengan baju seadanya saja, lalu kuseret keluar sembari menunggu taksi.

"Taksi!" panggilku. Taksi menepi aku menatap kembali kerumah yang pernah kutempati itu sebelum naik kedalam taksi.

"Kemana, Mbak?" tanya sopir ramah. 

"Perumahan Kencana Indah, Pak." jawabku. Sopir mengangguk.

Aku kembali menangis, tak mudah untukku melupakan ini, dan lagi apa yang membuat Mas Tama tega menceraikan aku. Selama ini hubungan kami tidak ada masalah. Sejahat apapun adik dan Ibunya, aku tak pernah mengadu, semua kusimpan dalam hati. Aku tau ia sangat menyayangi ibunya, aku harus bisa menjaga perasaannya. 

Sampai aku didepan gerbang rumah nomor 10. Sebelum menekan bel, tampak Pak Jaja keluar dari pos satpam, mungkin ia sudah melihatku.

"Nyonya Riri!" ucapnya. Aku mengangguk ramah. Setelahnya Pak Jaja mengambil alih koperku. Aku segera masuk tak sabar ingin menumpahkan sedihku ini.

"Riri! Tumben, sudah kesini? Biasanya dua minggu sekali." Mama menghampiriku. Aku langsung memeluknya sambil menangis. Mama sepertinya heran, namun memilih membalas pelukanku. 

Setelah puas menangis, Mama menarikku duduk di sofa. Ia menghapus sisa air mataku.

"Sudah tenang?" 

Aku mengangguk.

"Ceritalah, Mama siap mendengarkan!" ucapnya lembut. 

Aku mulai menceritakan apa yang kualami dirumah mertua. 

"Sudah mama duga. Kamu tau? Itulah alasan kami tak begitu setuju, karena Tama ini sangat condong pada ibunya," ujar Mama. Aku cukup terkejut. Selama ini aku pikir mereka tak setuju karena Mas Tama dari keluarga sederhana.

"Mama, bukankah baik kalau pria menyayangi ibunya? Sama seperti Kak Akmal, dia sangat menyayangi Mama." Aku mengagumi kakakku karena kasih sayangnya pada Mama sangat luar biasa, bahkan ketika ia sudah menikahpun dan Kak Nadia juga tampak bahagia tak pernah merasa cemburu pada Mama. 

Hingga aku melihat Mas Tama yang begitu menyayangi ibunya, membuatku tersentuh. Aku pun bersedia menjadi kekasihnya dan dilamar menjadi istrinya. 

Karena orang tua yang tidak setuju. Aku menutupi jati diriku. Saat itu hanya Kak Akmal waliku, karena papa menolak menikahkanku dan menyerahkannya pada Kak Akmal.

Pernah aku ingin membuka jati ditriku yang sebenarnya, tapi keserakah akan uang, membuatku mengurungkannya hingga tiga tahun usia pernikahan kami.

Namun kali ini, akan kutunjukkan siapa diriku sebenarnya. Yang selalu mereka hina dan rendahkan.

"Kakakmu berbeda, Nak. Mama tidak mencampuri rumah tangga mereka. Dan Mama tak pernah membicarakan Nadia dibelakang. Lain dengan Ibu mertuamu, ia selalu ikut campur, dan gayanya sudah melebihi uangnya," jawab ibu panjang. 

Aku mengernyitkan dahi. Kok Mama bisa tahu gaya hidup mertuaku? Bukannya selama ini aku tak pernah cerita pada mama?

"Kamu pikir dari mana uangnya kalau bukan dari suamimu. Gaji Tama itu cuma 15 juta. Itu saja tak sanggup mencukupi gaya ibunya," lanjut mama lagi. Aku semakin heran saja. Mungkinkah mama menyelidikinya?

"Mama tau dari mana? perasaan Riri nggak pernah cerita deh." Aku menatap serius Mama.

Mama menghela nafas kasar. "Ibu mertuamu itu ikut geng arisannya mama." 

"Apa?"

Kaget aku, sontak mama menutup telinganya. 

"Arisan mama itukan mehong, sekali ketemunya saja musti punya puluhan jeti." Aku tau persis pergaulan mama dulu sebelum aku menikah, aku pernah ikut dengan mama. 

"Jangan-jangan dia kenal mama?" Tiba-tiba aku jadi takut kalau ibu tau aku anak mama.

Mama tertawa. "Ya nggaklah, mana mungkin dia tau. Mama itu selalu waspada. Waktu mereka main kesini. Sengaja mama copotin itu fhoto-fhoto yang ada kamunya." 

Ah! Syukurlah! Aku belum siap saja untuk mengungkap diriku sekarang. Biarkan saja nanti perlahan.

Aku beristirahat sejenak. Tiga tahun tak kunikmati fasilitas ini. Kini saatnya aku kembali seperti dulu.

Memanjakan diri, tidak mengerjakan lagi pekerjaan rumah, seperti yang kulakukan tiga tahun belakangan ini dirumah mertua. Hatiku kembalu berdenyut kala mengingatnya.

"Tunggu pembalasku!" 

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

Ulasan-ulasanLebih banyak

shahad
shahad
وين التكملة ياحبي
2026-09-30 00:23:58
1
0
Salwa Ali
Salwa Ali
هل القصه مكتملة؟
2026-06-18 04:21:28
0
1
Aya Ahmed
Aya Ahmed
قصتها مختلفه وحلوة أول مرة أشوف قصه زيها ...
2026-05-25 03:59:02
0
0
Mohammed Ahmed
Mohammed Ahmed
الرواية تحفه بس عايزين أكتر من فصل في اليوم بقا أكتر شخصية قلقان منها هو الملك
2026-05-18 16:53:30
0
0
ملاك
ملاك
الرواية جديده أتمنى تقولوا رأيكم فيها ♡♡
2026-05-17 07:20:59
0
0
17 Bab
1: مهمه مستحيلة
في قلب إحدى أضخم الممالك الأجنبية، تلك التي تمتاز بجمال ساحرٍ أخّاذ وأمنٍ لا يخترق، تتربع مملكة "فلاجليتا".لم يجرؤ أحدٌ قط على غزوها، بفضل الهيبة الطاغية لملكها وجيشها الذي لا يقهر، لا سيما بوجود قائد جيشها الأسطوري.​​كان يجلس بشموخٍ وثقة معهودة خلف مكتبه البسيط، غارقاً في تدوين ملاحظات دقيقة على أوراق مبعثرة أمامه. قاطع خلوته طرقٌ على الباب، فأجاب بصوته الجهوري الذي يحمل رنة السلطة:"تفضل..."​دلف الضابط أندرو وأدى التحية باحترام عسكري قائلًا:"أيها القائد يلسر، المدير يطلب رؤيتك الآن لأمر في غاية الأهمية."​رفع يلسر بصره ببرود وهدوء كعادته، وأجاب باقتضاب:"حسناً يا أندرو، يمكنك الانصراف.""أمرك أيها القائد."​نهض يلسر بعد أن تأكد من إيداع أوراقه في الخزانة الحصينة، واتجه صوب مكتب المدير. طرق الباب خفة، فأتاه الإذن بالدخول. تقدم بخطوات ثابتة وأدى التحية العسكرية، ثم استهل الحديث بجدية وثقة:"فيمَ طلبتني يا سيدي؟"​أجاب المدير بنبرة حازمة وآمرة:"اجلس أولاً، أيها القائد يلسر."​امتثل يلسر وجلس في ترقب منتبه، ليبدأ المدير حديثه بهدوء مريب:"قائد يلسر، أنت تعلم يقيناً أنني أضع ثقتي ا
Baca selengkapnya
2: شرارة حرب
أردفت فيروز بتأييد لم يخلُ من نبرة الخوف:"بالطبع، بالطبع.. تالا محقة تماماً فيما قالت!"​هنا، تبدلت ملامح مياسين فجأة، وظهر عليها التأثر الشديد والحسرة وهي تقول:"في الحقيقة.. لقد كنتُ حزينة وكئيبة طوال الأيام الماضية، وكل ذلك بسبب 'دوكي'!"​رددن جميعاً بصوت واحد يملؤه الاستنكار والتعجب:"'دوكي'..؟! ومن يكون هذا؟"​أجابت ببساطة متناهية وكأنها تتحدث عن أمر بديهي:"أجل، 'دوكي'.. حبي الأول والأخير!"​تنهدت بحزن عميق لثوانٍ، قبل أن تتحول ملامحها فجأة إلى قطة شرسة مستعدة للهجوم، وهتفت بهنّ:"اسمعي أنتِ وهي.. سأرحل الآن، لكن عقابكنّ لم ينتهِ بعد. لا تقلقن، ستنلن جزاءكنّ لا محالة، والأيام بيننا.. وداعاً!"​انصرفت من أمامهن بخطوات غاضبة، بينما ظلت النسوة يرقبن أثرها بخوف وتوجس مما يخبئه القدر لهنّ على يدها. حينها، قالت شمس بنبرة يائسة:— "لقد كان يوماً أسود ذلك الذي صادقناها فيه، وجاءت لتسكن في قريتنا!"​ولم يكن من الجميع إلا أن هزوا رؤوسهم بالموافقة، مؤيدين كلامها بقلوب ملؤها الحسرة_____________________في صباح اليوم التالي بزغت خيوط الشمس الأولى لتعلن بداية يوم جديد، بينما كان هو لا يزال
Baca selengkapnya
3: احتلال
تقدم يلسر بخطوات واثقة يتردد صداها في الردهة، طرق الباب ودلف ليقف أمام المدير بهيبته المعتادة. رمقه المدير بنظرة ملؤها الضيق والتوتر، ثم هتف بنبرة حادة: "استمع إليّ جيداً يا يلسر.. لقد وافق الملك على شرطك، وهو الآن ينتظر منك البدء في تنفيذ المهمة في أسرع وقت ممكن!" ​اتسعت عينا يلسر بذهول تام، وتجمدت ملامحه للحظات وكأن صاعقة قد هبطت عليه، وصاح بنبرة لم تخلُ من عدم التصديق: "ماذا؟! هل تمزح معي؟ أوافق الملك حقاً على ذاك الشرط؟ يا إلهي.. ما الذي يحدث في هذا العالم؟ لا أستطيع استيعاب الأمر حقاً!" ​زفر المدير بملل وضيق وكأنه يود إنهاء هذا اللقاء بأي ثمن: "نعم يا عزيزي، عليك أن تُصدق الواقع وتتقبله. والآن، انصرف إلى عملك فوراً، فلدى كل منا مهام كثيرة يجب إنجازها." ​رمقه يلسر بنظرة أخيرة شابتها الحيرة والدهشة، ثم غادر الغرفة بخطوات متسارعة، وعقله يدور كالمحرك؛ فقد حان الوقت لإتمام تجهيزات المهمة الأغرب في تاريخه العسكري!!!!! ___^____^____^ في صباح يوم الخميس، خيّم ترقبٌ ثقيل على أرجاء دولة "رسلاي". احتشدت جموع الصحفيين أمام القصر الرئاسي، ينصبون كاميراتهم ويوجهون ميكروفوناته
Baca selengkapnya
4: صافرة البداية
"ستظلون هنا دون حراك.. ابقوا في أماكنكم حتى ينهي قائدنا تفتيش باقي المناطق ويأتي إلى هنا بنفسه." انتهى يلسر من جولته المرهقة التي استمرت أربع ساعات كاملة، مرّ خلالها على كل بقعة في البلاد، يلقي ذات الكلمات الباردة ويمضي، حتى وصل أخيراً إلى قرية *** ​توجه إلى تجمع الرجال أولاً، وضع سماعة الترجمة المتطورة على أذنه، ثم زفر بملل وضيق قبل أن يرتدي قناع الجدية المصطنعة ويهتف: ​ "أصغوا إليّ جميعاً.. أنا القائد المسؤول عن هذه المهمة. وبالتأكيد تعلمون سبب تواجدنا هنا؛ ديونكم المتراكمة هي التي أتت بنا." ​تابع بنبرة حادة طفيفة: "نحن لن نؤذيكم. في الحقيقة، لا أدري لِمَ أمرنا الملك باحتلالكم ونحن لن نجني منكم فائدة تذكر، لكننا لن نمسكم بسوء. لم نعد نعيش في العصور الحجرية؛ نحن الآن دول متقدمة تؤمن بأن الحرية حق للجميع، وأن الاستبداد والاضطهاد ليسا من أسلوبنا . لا يهمنا إن كنتم مسلمين أو مسيحيين أو حتى بلا ديانة، فلكل شخص معتقداته. لكن، اسمعوا وانصتوا...... إن شعرتُ بأي بادرة غدر منكم، أعدكم بأنني سأتخلى عن كل هذه المبادئ التي ذكرتها، وسأؤذيكم بأبشع الطرق الممكنة.. هل فهمتم؟" ​سا
Baca selengkapnya
5: فتاة ثرثاره مزعجه
ثم انفجرت فيه بضيق وحنق لم يعهدهما في حياته : "أنا ألعب.. أتريد أن تأتي لتلعب معي؟!" ثم أكملت بغضب طفولي: "يا سيد، ما شأنك بي؟ من دون كل هذه الجموع من الفتيات، تركت الجميع وركزت معي أنا فقط؟ يا له من حظٍ عاثر! ربي.. أنت ومعدتي عليّ في وقت واحد؟ لم تجد هذه المعدة المتخلفة وقتاً لتعلن جوعها إلا الآن؟ وبعد ذلك، لماذا تتدخل أنت يا سيد الاحتلال؟ حقاً.. لماذا يحشر الناس أنوفهم في حياة الآخرين؟ فليترك كل واحد غيره في حاله، أنا مثلاً كان من الممكن أن يحدث معي..." ​قاطع ثرثرتها التي انطلقت كالسيل، وهتف بعصبية وصوتٍ جهوري: "اصمتي أيتها السمراء!" ​شهقت ريحانة بخضة، ووضعت يدها على صدرها وهي تردف بتأثر وحزن مصطنع: "سمراء؟ أنا في النهاية يُقال لي سمراء؟ أم أنك لأنك تعيش وسط فتيات شاحبات البياض تأتي لتتكبر علينا؟ أنتم جميعاً لستم سوى بقع من الطلاء الأبيض لا قيمة لها! وهل هناك أصلاً جمال يضاهي جمال الفتيات السمراوات؟ السمار هو نصف الجمال يا مَن تُشبه ' الطلاء الأبيض ' أنت! وبعد ذلك، من أنت أصلاً لتقول لي هذا يا صاحب العينين الزرقاوين؟ هذا الـ...". ​زفر يلسر بعصبية وغضب، وصرخ فيها وهو
Baca selengkapnya
6: دهاء الملك ومكر القائد
​ساد صمت مرعب، قطعته كلمات يلسر التي استمرت بجدية: "سنعيدهنّ إليكم بعد انقضاء الاسبوع ليعرف الجميع أن الاحتلال قد تم بشروطنا. أعدكم، وهذا وعد شرف مني، أن الفتيات سيعُدن سالمات ولن يمسهنّ سوء. أما إذا رفضتم هذا الشرط، فسيتم تدمير الدولة عن بكرة أبيها، ولن نرحم أحداً.. والآن، اتخذوا قراركم." ​انفجرت الساحات بالهمسات المحتقنة والمشاورات الساخنة في كل محافظة وقرية. وفي قرية**** حيث تجلس ريحانة وقلبها يكاد يتوقف من الصدمة، انتهت المشاورات أخيراً. ​وقف رجل من كبار القرية، بملامح جامدة وصوتٍ جهوري سمعه الجميع عبر أجهزة الترجمة والنقل، وقال بثقة هزت أركان المكان: ​ "لقد قررنا.. ونحن نعلن قرارنا أمام الجميع الآن:.." حبس الجميع أنفاسهم، وصار وقع نبضات القلوب مسموعاً وسط ذلك السكون الموحش، حتى نطق الرجل بكلماتٍ خرجت كأنها جمرٌ يحرق الحناجر: " نحن موافقون على شروطك أيها القائد.. خذ فتياتنا لثلاثة أيام، ولكن تذكر وعدك جيداً، إذا مسست شعرة واحدة منهن، فلن تجد في هذه الأرض إلا مقبرة لجنودك!" ​نزلت الكلمات على الفتيات كالصاعقة، وتعالت صرخات مكتومة وبكاءٌ مرير، بينما التفتت ريحانة لصديقته
Baca selengkapnya
7: بدأ عشقي لمُحتل
جثا يلسر على ركبتيه على الأرض ، ورفع رأس ريحانة ليضعها فوق قدمه بحرص وكأنها قطعة من الماس يخشى كسرها. صرخ بنبرة ارتجف لها الجميع من فرط القلق وهو يضرب وجنتيها برفق : " أيتها السمراء.. استيقظي من فضلك، هيا!" ثم التفت للخلف زافراً بغضب وصياح في جنوده : "أحضروا الماء.. أسرعوا!" ​هرول الضابط بذهول، فلم يسبق له أن رأى قائده بهذا الذعر من أجل "رهينة"، وعاد بقارورة الماء ليتلقفها يلسر منه وينثر قطرات باردة على وجهها الأسمر الرقيق. ​تململت ريحانة، ورمشت عيناها عدة مرات قبل أن تفتحهما بتعب، لتجد تلك العيون الزرقاء غارقة في بحر من الخوف والقلق فوق رأسها مباشرة. في تلك اللحظة، لم يدرك يلسر أن قلبه المتمرد قد أعلن استسلامه، وأن كل مشاعر العالم قد تكثفت في صدره لأجل هذه الفتاة التي ظهرت في حياته منذ ساعات فقط. ​تاهت ريحانة في زرقة عينيه، وارتسمت على ثغرها ابتسامة واهنة لم تفهم سرها؛ فالدقائق المعدودة التي قضتها معه أنبتت في قلبها بذرة حب بدأت تنمو بسرعة مخيفة. ​تنفست الصعداء حين رأى وعيها يعود، وقال بنبرة هادئة حملت راحة حقيقية: "جيد أنكِ بخير.. لقد أُصبْتُ بذعر حقيقي عندما ر
Baca selengkapnya
8: خجل وارتباك
نظر بتمعن في عينيها المليئه بالقلق قائلاً بصوت أجش هادئ : " يلسر....اسمي يلسر " نطق بكلماته وكأنه يمنحها مفتاح روحه لأول مرة، جاعلاً من اسمه جسراً يربط بينهما بعيداً عن ألقاب القادة والجنود. ​استطردت ريحانة بنبرة يملؤها الرجاء وقالت بصدق: "أرجوك يلسر.. اجعلني أرى جُرحك، لا تهمله أكثر." تسمر يلسر في مكانه وهو يراقب بريق القلق في عينيها الواسعتين، كان وقع اسمه "يلسر" على لسانها بنبرتها الرقيقة أشد تأثيراً من كل الهجمات التي واجهها في حياته ​أومأ لها يلسر بتعب، فخلف هذا الجمود كان هناك رجل يذوب أمام اهتمامها، وقال بصوت خفيض: "حسناً.. تقدّمي خلفي."ثم أعطى أندرو أمراً سرياً بنقل الفتيات لغرف التبديل، وقاد ريحانة إلى غرفة طبية للطوارئ ملحقة بالقصر، تحتوي على أحدث المعدات والمستلزمات. جلس على حافة الفراش وأسند رأسه للأمام بوهن، قائلاً بنبرة يكسوها همٌّ ثقيل: "هيا.. تفضلي، عالجي الجرح." ​تحركت ريحانة بخفة، وسرعان ما وجدت صندوق الإسعافات وأدوات الجراحة الحديثة. بدأت بتعقيم الجرح أولاً، ثم شرعت في خياطته بتركيزٍ عالٍ. أما هو، ففي غمرة ألمه، كان يغرق في عالم آخر؛ استمتع بلمساتها
Baca selengkapnya
9 : الوسيم والأميرة
لتتجه ريحانة نحو الخارج بخطواتٍ هادئة، بينما كانت الفتيات يسِرن خلفها في صفّين منتظمين؛ وفي الصفٌّ تتقدمه ريحانة بعدما أصرت جميع الفتيات على ذلك، وكأنهنّ رأين فيها القائدة التي أعادت إليهن شيئًا من الثقة وسط خوفهن، وصفٌّ آخر تتقدمه فتاةٌ أخرى. كانت دقات قلوبهن تتسارع كلما اقتربن من باب الحفل، والخوف يختلط بالتوتر والترقب. وما إن دخلن القاعة حتى خيّم الصمت للحظات. التفتت الأنظار نحوهن دفعةً واحدة كان الحفل ضخمًا بصورةٍ مبهرة؛ أضواء فاخرة، موسيقى هادئة، وأشخاص من مختلف الدول يرتدون أفخم الملابس. رجالٌ يتمتعون بهيبةٍ وأناقة لافتة، ونساءٌ يبدون كأنهن خرجن من مجلاتٍ عالمية، لكن رغم ذلك... خطفت الفتيات الأنظار فور دخولهن. ظهرت الدهشة بوضوح في أعين الحاضرين، خاصة بعدما رأوا كيف تحولت تلك الفساتين إلى تصاميم راقية وفخمة. أما ريحانة... فلم تكن ترى أيًّا من ذلك كانت عيناها تتحركان بين الوجوه بسرعةٍ وتوتر تبحث عنه هو فقط 'مُحتلّ وطنها'ومحتلّ قلبها بطريقةٍ أخافتها رغم مرور أقل من يومين فقط ثم هتفت بشرود : " أين هو ؟ ألن يأتي ؟ " كانت تحاول إقناع نفسها أن ما تشعر به مجرد وهمٍ
Baca selengkapnya
10: هدوء ما قبل العاصفة
ليتوقفا في منتصف القاعة بين الأزواج الذين يرقصون على أنغام الموسيقى الهادئة.وما إن انتبهت ريحانة إلى أنها ما تزال تمسك يده، حتى تركتها بسرعةٍ شديدة، وكأنها أفاقت فجأة على ما تفعله.اشتعل وجهها بحمرة خجلٍ قوية، بينما شعرت بحرارةٍ غريبة تنتشر في أنحاء جسدها كله.حتى قلبها كان يخفق بعنفٍ أربكها.حاولت التظاهر بالهدوء، فبدأت تنظر هنا وهناك بعيدًا عنه، وكأنها تبحث عن أي شيءٍ يشغلها عن النظر إلى عينيه.ثم قالت بتوترٍ واضح، محاولةً تغيير الموضوع:"لِمَ أصبح الجو حارًا هكذا فجأة..؟"ابتسم يلسر فورًا، وقد فهم ارتباكها وخجلها دون أن تقول شيئًا آخر.كانت محاولتها البريئة للهرب من إحراجها لطيفة بصورةٍ جعلت قلبه يلين أكثر.لكنه، رغم سعادته، كان عاجزًا عن تجاهل السؤال الذي ينهش تفكيره منذ قليل.لذلك نظر إليها بجديةٍ حقيقية وقال بصوتٍ هادئ:"لماذا فعلتِ ذلك يا ريحانة؟"رفعت عينيها إليه بتوتر، بينما تابع هو بنبرةٍ ممتلئة بالحيرة:"لماذا اخترتِني أنا؟ وأنتِ تعلمين أنني مجرد مُحتلٍّ لدولتكم."اقترب منها خطوةً صغيرة، ثم أردف بصوتٍ خافت أكثر :"أخبريني يا ريحانة... لا تصمتي."ساد الصمت بينهما للحظات أما
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status