로그인ฝาแฝด 'เจียงหยูหมิง' และ 'เจียงหยูหยาง' มักฝันถึงตัวพวกเขาในอีกโลกจึงนำความรู้ที่ได้มาสร้างตัวในฐานะร่างทรงเทพพยากรณ์จนค้นพบพลังแปลกประหลาด เมื่อความลับถูกเปิดเผยจึงถูกพรากจากกันเพื่อนำไปเป็นภาชนะบรรจุแก่นวิญญาณเซียนที่สวรรค์และอเวจีต่างก็ตามล่ามากว่าพันปี ทั้งคู่ถูกบังคับให้แยกเส้นทางเพื่อเรียนรู้พลังและอดีตชาติของตน ระหว่างนั้นฝาแฝดก็เข้ามาพัวพันกับเรื่องราววุ่นวายของโลกบำเพ็ญเพียรแห่งฟ้าดินมากมายดั่งมีสิ่งชักพา ทั้งสองต้องพยายามอย่างหนักในเส้นทางของตนเองเพื่อที่จะได้กลับมาอยู่พร้อมหน้าสองพี่น้องกันอีกครั้ง
더 보기Hujan deras menghantam atap-atap rumah di Desa Tanjung Biru, sebuah desa kecil yang damai di tepi Laut Tengah.
Kilat menyambar, menerangi langit kelam yang seolah menangis bersama dengan para penghuni desa yang bersembunyi di balik dinding-dinding rapuh. Desa yang dulunya tenteram, kini diselimuti kecemasan dan ketakutan yang tak terungkapkan.
“Bu, apakah mereka akan datang ke sini?” tanya Gema dengan suara bergetar, matanya menatap keluar jendela yang buram oleh air hujan.
Dewi Sri Lestari, ibu angkat Gema, memeluknya erat. Wajahnya yang selalu tenang kini memancarkan kecemasan yang jarang terlihat. “Aku tidak tahu, Nak. Tapi kita harus siap. Apapun yang terjadi, kau harus tetap kuat.”
Kata-kata itu seakan tak mampu menghapus ketakutan yang menggerogoti hati Gema. Sejak kecil, dia selalu merasa aman dalam dekapan ibunya, namun malam ini, kehangatan itu terasa jauh, seperti bayangan yang perlahan memudar di tengah kegelapan yang merayap.
Gema mencoba mengingat masa-masa sebelum ini, ketika desa mereka masih tenang dan jauh dari konflik. Sebuah dunia di mana dia bisa bermain dengan anak-anak lain, memetik buah-buahan liar di hutan, dan belajar kultivasi jiwa di bawah bimbingan Dewi Sri Lestari.
Tapi semua itu berubah sejak kemunculan Sajak Abadi, yang digemakan oleh Pertapa dari Wilayah Tengah.
“Kau tahu tentang Sajak Abadi, Bu? Apakah benar itu tentang aku?” Gema menatap ibunya, berharap jawaban yang menenangkan.
Dewi Sri Lestari tersenyum lemah, meski hatinya penuh kekhawatiran. “Sajak itu telah ada sejak ribuan tahun lalu, diwariskan dari mulut ke mulut. Tidak ada yang tahu pasti artinya, Nak. Tapi... ada yang percaya bahwa sajak itu adalah pertanda dari akhir perang ini.”
Gema menelan ludahnya. Perang antara Benua Barat dan Benua Timur telah berlangsung selama ribuan tahun. Sihir kuno dari Barat dan kultivasi jiwa dari Timur terus beradu, menghancurkan segala yang ada di tengah-tengahnya.
Desa Tanjung Biru, yang awalnya jauh dari konflik, kini tak lebih dari sekadar sasaran empuk bagi pasukan yang terus mencari jalan untuk memenangkan perang yang seolah tiada akhir.
“Dunia kita sudah terlalu lama terpecah belah, Bu. Apakah benar aku bisa menghentikan semua ini?” Gema bertanya, suara rendahnya mengandung keraguan.
Dewi Sri Lestari mengangguk pelan, lalu meraih wajah Gema, menatap dalam-dalam ke matanya. “Gema, kau mungkin masih muda, tapi aku percaya ada sesuatu yang besar di dalam dirimu. Sesuatu yang bahkan aku tidak bisa sepenuhnya mengerti. Kau harus percaya pada dirimu sendiri.”
Tiba-tiba, pintu rumah mereka didobrak dengan keras. Seorang prajurit, dengan baju zirah penuh lumpur dan darah, berdiri di ambang pintu. Nafasnya tersengal-sengal, dan tatapannya penuh dengan ketakutan.
“Mereka datang! Pasukan dari Barat! Mereka sudah di tepi desa!” teriaknya panik.
Gema merasakan jantungnya berdebar kencang. “Apa yang harus kita lakukan, Bu?”
Dewi Sri Lestari segera bergerak. “Kita harus pergi sekarang! Gema, kau harus lari ke hutan, aku akan menahan mereka di sini.”
Gema memegang lengan ibunya erat. “Tidak, Bu! Aku tidak akan meninggalkanmu!”
Wajah Dewi Sri Lestari menegang sejenak, lalu dia menatap Gema dengan penuh cinta dan keberanian. “Kau harus pergi, Gema. Aku tidak bisa membiarkanmu tertangkap. Mereka tidak boleh tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Gema menggeleng, air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku tidak bisa meninggalkanmu, Bu! Kita harus pergi bersama!”
Suara dentuman keras terdengar dari luar. Tanah bergetar, dan suara jeritan mulai terdengar semakin dekat. Pasukan Barat telah tiba, membawa kehancuran dan kematian dalam langkah mereka.
“Gema!” Dewi Sri Lestari membentak, suaranya pecah oleh rasa sakit. “Dengarkan aku! Pergilah sekarang! Cari Raden Jayabaya di Kerajaan Langit Timur. Hanya dia yang bisa membantumu mengerti siapa dirimu dan apa yang harus kau lakukan!”
Dengan enggan, Gema mulai melangkah mundur, hatinya berat. Tapi sebelum dia bisa menjawab, pintu depan rumah mereka dihancurkan, dan pasukan musuh menyerbu masuk. Pedang mereka berkilat, siap untuk menumpahkan darah.
Dewi Sri Lestari mendorong Gema keluar dari pintu belakang. “Lari, Nak! Jangan lihat ke belakang!”
Gema berlari, air mata mengalir di pipinya, mendengar suara pertempuran yang pecah di belakangnya. Dia ingin berbalik, tapi kata-kata ibunya bergema di telinganya. Dia harus pergi. Dia harus bertahan.
Gema terus berlari, menyelinap di antara pepohonan, mencoba mengabaikan rasa takut dan kesedihan yang mencengkeram hatinya. Namun, suara bentrokan pedang dan teriakan dari rumahnya terus menghantuinya.
“Gema!” Suara ibunya terdengar samar, seolah memanggilnya dari jauh. Gema berhenti, terengah-engah, kakinya gemetar.
“Bu!” teriaknya putus asa, meski dia tahu tidak ada jawaban yang akan datang.
Hujan semakin deras, seolah langit menangis atas tragedi yang tengah berlangsung. Gema terjatuh ke tanah, tubuhnya gemetar. Dia merasa hancur. Dunia yang dia kenal telah lenyap, ditelan oleh api perang yang tak terpadamkan.
“Tolong... Bu...” Gema meratap, memeluk tanah basah di bawahnya. Dia ingin kembali, ingin menyelamatkan ibunya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia hanyalah seorang pemuda, tidak lebih dari bayangan di tengah perang yang telah menghancurkan segalanya.
Namun di dalam hatinya, terngiang-ngiang Sajak Abadi. Kata-kata yang mengerikan namun penuh harapan. Pahlawan Pratama, nama yang dibisikkan angin...
Gema bangkit perlahan, menyeka air matanya. Di tengah kesedihan dan ketakutan, dia merasa ada sesuatu yang membara di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa dia abaikan.
Dia mengingat kembali kata-kata ibunya. “Cari Raden Jayabaya...”
Dengan langkah yang berat namun penuh tekad, Gema mulai berjalan menuju arah Timur. Hatinya hancur, tetapi di dalam kepedihan itu, ada kekuatan yang mulai tumbuh. Kekuatan untuk mengakhiri perang ini, untuk menyatukan dua benua yang telah lama bermusuhan.
Dan meski dia tidak tahu bagaimana caranya, dia tahu satu hal pasti: dia tidak akan membiarkan pengorbanan ibunya sia-sia.
Malam itu, di tengah hujan yang tak kunjung reda, Gema Pratama memulai perjalanan yang akan mengubah nasib dua benua besar. Sebuah perjalanan yang dipenuhi oleh darah, air mata, dan kehancuran.
Namun di balik semua itu, tersimpan harapan baru untuk Nusantara. Harapan yang bersemayam dalam sosok seorang pemuda yang tak terduga, yang akan menghadapi kegelapan, tragedi, dan kematian dengan keberanian yang tak tergoyahkan.
บทนำปฐมบทตำนานเทพศัสตราวุธ"ก็อย่างที่ข้าว่าไป ศิษย์น้องสะใภ้ เจ้าจะรับนางไว้หรือไม่?"คุณชายเฟิงจูยิ้มยิบหยีโบกพัดกลมอยู่ในเรือนน้ำหมึกดำ"เจ้าจะบอกว่าสุนัขทมิฬที่พวกข้าเคยสู้ด้วยในคุกวงกตใต้สมุทรนอกจากจะไม่โกรธที่พวกข้าทำมันตาบอดไปข้าง แต่ยังอยากจะติดตามรับใช้ข้าเนี่ยนะ?" เจียงหยูหมิงถามซ้ำด้วยความเหลือเชื่อ กับคนที่เคยทำร้ายตัวเองย่อมต้องหนีไปให้ไกลสิ คงไม่ใช่ว่าอยากจะหาโอกาสแก้แค้นหรอกนะ"ถูกแล้ว นางบอกว่าตอนนั้นนางโดนการกระตุ้นกู่เข้าครอบงำทำให้ขาดสติ อีกทั้งนางก็ตั้งครรภ์อยู่ด้วยจึงต้องการสารอาหารมาเลี้ยงลูกๆ ในท้อง สัญชาตญาณทำให้นางดุร้ายเป็นพิเศษ นางนึกถึงสภาพตัวเองในตอนนั้นก็ละอายใจนัก วางใจได้ นางเพียงแค่อยากตอบแทนบุญคุณเจ้า" คุณชายเฟิงจูเล่าสิ่งที่หมาป่าโลกันตร์แปลออกมาให้ฟังเมื่อตอนยังอยู่ที่หุบเขาร้อยอสูร"ตอบแทนบุญคุณ?" เจียงหยูหมิงยิ่งงงหนักกว่าเดิม นี่มิใช่ต้องเป็นความแค้นหรอกรึ"ข้าไม่ค่อยเข้าใจเท่าไร แต่นางบอกว่าหากไม่ได้น้ำของเจ้าช่วยไว้คงถูกศิษย์น้องเล็กสังหารไปแล้ว ไม่มีโอกาสรอดชีวิตจนคลอดบุตรธิดาออกมาได้"เจียงหยูหมิงหันไปมองว่าที่ฆาตกรด้านข้างด้วยสายตาแห่งผู้ชน
จิ้งจอกหิมะพรมจูบโลมเลียทั่วทั้งใบหน้างดงามของเจ้านาย มือที่เต็มไปด้วยกรงเล็บแหลมคมฉีกกระชากอาภรณ์ของตน แต่เมื่อวางลงบนร่างของอีกฝ่ายกลับประดิดประดอยถอดออกด้วยความทะนุถนอม เมื่อไม่มีส่วนใดของใบหน้าแดงก่ำที่เขายังไม่ได้ประทับริมฝีปากลงไปอีก ไป๋ซีหลางก็เลื่อนใบหน้าลากลิ้นที่เดี๋ยวเย็นเดี๋ยวร้อนเหมือนไอเย็นของยอดเขาหนันซานเริ่มจะต้านทานไฟวิญญาณที่ลุกโหมกระพือไว้ไม่อยู่ ลิ้นลากไล้ไปถึงใบหูแดงก่ำตวัดซอกซอนทุกซอกมุมและสันนูนของกระดูกอ่อนก่อนจะขบเม้มไปที่ติ่งหูนุ่มนิ่มปลายเขี้ยวแหลมคมที่ลากผ่านก่อนจะงับเข้าที่ติ่งหูกระตุ้นความรู้สึกแปลกใหม่ที่ทำให้เจียงหยูหยางสะดุ้งตัวโยน จิ้งจอกหิมะปลดอาภรณ์ของเขาไปจนถึงชั้นในแล้วมือซุกซนก็ลูบไล้บีบคลึงไปทั่วอย่างหิวกระหายดั่งจิ้งจอกที่อดอาหารมานาน แม้จะรุกรานอย่างหนักหน่วงแต่ไป๋ซีหลางก็ระมัดระวังเป็นอย่างดี ปลายกรงเล็บแหลมคมไม่เคยเฉียดกรายเกี่ยวเนื้อเนียนนุ่มเลยสักครั้งไป๋ซีหลางเห็นอีกฝ่ายตอบสนองก็รัวลิ้นโลมเลียดูดดุนติ่งหูทั้งสองข้างจนมันแดงช้ำ เจียงหยูหยางถูกกระตุ้นซ้ำๆ จนต้องแอ่นตัวขึ้นมารับสัมผัสเร่าร้อนของเขา มือน้อยกำใบหูจิ้งจอกไว้แน่นระบายความรู้ส
บทพิเศษห้องหอที่แท้จริงทันทีที่ประตูเรือนสองบานปิดลงทั้งสี่ก็กลับไปสู่ห้องหอที่แท้จริงของตนที่เรือนนอนในเกาะน้ำหมึก สองร่างพัวพันเกี่ยวกระหวัดตั้งแต่เท้ายังไม่ถึงพื้น อาหารทิพย์ที่พวกเขากินเข้าไปละลายเป็นสารอาหารทันที ช่วยหล่อเลี้ยงร่างกายให้กระชุ่มกระชวยมากกว่าเก่า ลั่วถิงลู่ยกร่างของเจียงหยูหมิงขึ้นนั่งบนโต๊ะน้ำชาจนจอกสุรามงคลที่เตรียมไว้ตกกระจายเกลื่อนพื้น ถึงกระนั้นสองร่างก็ยังไม่แยกจากกัน ริมฝีปากร้อนรุ่มสองคู่ยังคงแย่งกันกลืนกินอีกฝ่ายอย่างหิวกระหายดั่งเมื่อสักครู่ไม่ได้เพิ่งจะกินมื้อใหญ่มาลั่วถิงลู่เอื้อมมือข้างหนึ่งไปหยิบป้านสุราที่ไม่ได้ตกกระเด็นไป แล้วเกี่ยวคล้องแขนกับอีกฝ่าย เจียงหยูหมิงที่ตกอยู่ในกองเพลิงร้อนเร่าเข้าใจว่าอีกฝ่ายต้องการจะทำอะไร มือข้างที่ถูกคล้องแขนจับป้านสุราร่วมกับลั่วถิงลู่ สุรามงคลรินรดระหว่างจุดประสานเชื่อมต่อ ทั้งสองผละจากกันเล็กน้อยเพื่อให้สุราได้มีช่องทางเข้าสู่โพรงปากที่เชื่อมประสาน ลิ้นร้อนทั้งสองยังคงพัวพันแย่งกันดูดกวักสุรามงคลที่รสชาติเหมือนกับร่างกายของอีกฝ่ายสองแขนเกี่ยวพันคล้องกันเพื่อร่วมดื่มสุรา ประสานสัญญาแห่งรักนิรันดร์ สัญญานี้กลับ
คำอวยพรจากแดนไกลจบลง ก็ได้ฤกษ์ยามแห่งงานมงคลบ่าวสาวสองคู่ร่วมถือผ้าแดงจูงคู่ของตนเดินเข้าเรือนหลักไปหยุดอยู่เบื้องหน้าผู้ใหญ่ที่พวกเขาเคารพรัก อาจารย์จงหานถึงกับออกจากการจำศีลชั่วคราวเพื่อมาช่วยดำเนินพิธีการแห่งชีวิต แม้เขาจะเหนื่อยล้าง่วงงุนเพราะยังจำศีลไม่เสร็จดี แต่สีหน้าและน้ำเสียงกลับเบิกบานเป็นอย่างยิ่ง"สองดวงใจโยงเป็นหนึ่ง ไม่แยกจากชั่วนิรันดร์ จากวันนี้ไป สามีภรรยามีใจเดียว เป็นตายมิพลัดพราก ผูกพันธนาแม้สิ้นลม บ่าวสาวคำนับ คำนับที่หนึ่ง คำนับฟ้าดิน"สองแฝดหันมามองหน้ากันแล้วก็หัวเราะออกมาก่อนจะหันหน้าเข้าหากันแล้วคำนับกันเอง เจ้าบ่าวทั้งสองเห็นเข้าก็ยิ้มอ่อนอย่างขบขันแล้วทำตามพวกเขา ฟ้าดินก็อยู่ตรงนี้แล้วไม่ใช่รึไง พวกเขาไม่จำเป็นต้องมีสามหนังสือหกพิธีการยิ่งใหญ่คับฟ้าเพื่อประกาศให้ใต้หล้าได้รับรู้ เพราะฟ้าดินร่วมเป็นสักขีพยานด้วยกัน ณ ที่นี่แล้วแม้สองฝาแฝดจะไม่ได้หลอมรวมเป็นหนึ่งกับฟ้าดิน แต่สำหรับพวกเขา ไม่ว่าจะเป็นเมื่อใดฟ้าดินนี้มีเพียงกันและกันเท่านั้น"คำนับที่สอง คำนับบิดามารดา บรรพบุรุษ"ทั้งสี่ลุกขึ้นยืนแล้วหันทิศทางไปยังสองสามีภรรยาสกุลเจียงที่นั่งอยู่ด้านหน้า ถัด
ชีวิตของเฟยจูสงบเงียบขึ้นมาก ถึงขนาดที่เรียกได้ว่าเงียบสนิท หลายปีมานี้กลายเป็นตัวเขาที่ต้องทำสิ่งที่ไม่ชอบทำอยู่บ่อยๆ เฟยจูก้าวเข้ามิติเวลาออกจากบรรพตของตนเพื่อเดินทางไปยังหุบเขาร้อยอสูรเฟยจูมองออกมาจากมิติ ภาพที่เขาเห็นเหมือนเดิมทุกครั้ง มีเพียงสะเก็ดไฟอันเป็นดั่งสัญญาณหล่อเลี้ยงชีวิตบนใบหูทั้งส
บทพิเศษบนหลังคามีดวงดารา ห้วงนภามีหนเดียวเด็กชายตัวน้อยวัยห้าปี ผู้มีใบหน้างดงามโดดเด่นเกินวัยลอบมองออกไปนอกประตูเรือนในยามดึกดื่น เมื่อไม่เห็นผู้ใดเด็กน้อยก็ลากตั่งตัวเล็กที่สุดในเรือนออกมาด้วยความทุลักทุเล กว่าจะลากตั่งออกไปนอกเรือนได้ก็เล่นเอาหอบ แต่เด็กชายไม่ได้หยุดพัก เขาลากตั่งไปจนถึงผนังด้
"ข้า…ข้า..." ลั่วถิงเหยียนมือสั่นสะท้านจนปึกกระดาษร่วงหล่น คนฉลาดมักถือดี บัณฑิตมักถือตน ลั่วถิงเหยียนที่ผู้อื่นบอกว่าฉลาดเกินใครมาตั้งแต่ยังเล็ก บัดนี้เขาถูกหักหลังหลอกลวงโดยบรรดาคนที่เขาไว้ใจ เมื่อมาคิดอีกทีก็เห็นสายสนกลในมากมาย แต่เป็นตัวเขาในตอนนั้นเองที่ทำตัวเป็นคนตาบอด ไม่ยอมเห็นความเป็นจริงท
"เฮ้อ! ไป๋ซีหลาง เจ้าดูสิ วันนี้ผู้อาวุโสจ้าวก็เมาเละเทะอีกแล้ว ข้าล่ะสงสารนางจริงๆ"เจียงหยูหยางนั่งเท้าคางอยู่ในกระท่อมหลังน้อยบนยอดเขาหนันซานทอดมองไปไกลยังสำนักบรรพตหมื่นมรรคาในแคว้นไป๋หู่ ไป๋ซีหลางนั่งฟังอยู่ข้างๆ อย่างตั้งอกตั้งใจ ที่จริงเขากำลังตั้งใจมองใบหน้างดงามน่ารักน่าเอ็นดูเจ้านายต่างหา