تسجيل الدخول(ออโต้ & นามิ) ออโต้ ผู้ชายแบดบอย ที่สาวๆ หมายปอง อายุ 29 ปี สูง189 นิสัยเงียบขรึม มีความเป็นผู้นำสูง คำไหนคำนั้น รักน้องชายมาก นามิ อายุ22 สูง169 สาวสวยคณะบริหาร ผู้ได้รับฉายาว่า คนสวยจีบยากแห่งคณะบริหาร นิสัย ดื้อเอาแต่ใจ ตรงไปตรงมา ไม่ยอมใคร ชอบเอาชนะ ออโต้ เป็นพี่ชายของออสติน พระเอก ในเรื่อง MyDear วิศวะตัวร้าย นะคะ
عرض المزيدLampu di bar elit itu redup, namun memantulkan berbagai macam warna di dinding kaca, membuat tempat itu terlihat seperti dunia yang berbeda penuh cahaya, aroma alkohol mahal, dan orang-orang yang berusaha melupakan kehidupan mereka di dalam bar penuh maksiat dan kepalsuan itu.
Ara Davinci tidak datang untuk mabuk, bersenang-senang, atau mencari masalah. Ia hanya ingin duduk sebentar setelah hari yang melelahkan di mansion terkutuk milik orangtuanya itu. Ia meneguk milkshake vanilanya, milkshake di bar seharga tiga juta per gelas karena Ara bukan penggemar alkohol. Rambut hitamnya tergerai, kulit pucatnya memantulkan cahaya neon, dan pakaiannya malam itu membuat banyak mata sulit berkedip crop top cokelat ketat dengan manik ungu, rok pendek kulit, dan boots hitam selutut. Ara tidak mencoba terlihat seksi ia hanya ingin terlihat kuat. Dan sayangnya, kekuatan itulah yang menarik perhatian seseorang yang seharusnya tidak ia temui malam itu. Arcel Arshaka. Pria itu duduk di VIP, jaraknya hanya beberapa meja dari tempat Ara duduk. Jas biru tua terpasang rapi, rambut hitamnya disisir ke belakang, dan tatapan dinginnya seperti predator yang sedang mengamati mangsa yang baru masuk ke dalam radar. Asisten pribadinya sempat berbisik, “Pak, itu Ara Davinci, putri dari…,” Namun Arcel mengangkat tangan, menghentikan. “Aku tidak peduli siapa dia,” balasnya datar, namun matanya tidak lepas dari sosok wanita yang kini sedang menggoyang-goyangkan sedotan di gelasnya. “Yang jelas, dia menarik.” Arcel bukan pria yang terbiasa menunggu atau menebak. Kalau ia menginginkan sesuatu, ia akan mengambilnya. Dan malam itu ia menginginkan Ara Davinci. “Permisi.” suara berat itu terdengar tepat di samping Ara. Ara tidak menoleh. “Kalau mau duduk, semua kursi di sini kosong. Jangan nebeng kursi aku.” Arcel tersenyum kecil. “Menarik.” Ara menggulir ponselnya tanpa peduli. “Aku bukan hiburan, Mas. Silakan jalan.” Arcel duduk saja tanpa diminta. Aroma parfum maskulin yang mahal menguar dari tubuhnya. Ara langsung mendongak, siap marah, namun matanya bertemu dengan mata hitam pekat yang dalam dan mematikan. Tatapan itu membuat jantungnya berhenti sepersekian detik. “Kenapa kamu duduk tanpa izin?” tanya Ara dengan nada dingin. “Karena aku tidak butuh izin untuk mendapatkan sesuatu yang aku mau.” Ara mendengus, memutar bola mata. “Tipe cowok yang sok berkuasa. Aku alergi.” Arcel tidak tersinggung. Justru bibirnya melengkung samar. “Nama kamu siapa?” “Ara,” potongnya cepat, “dan itu saja yang perlu kamu tahu.” “Ara…” Arcel mengulangi pelan, seolah merasakan nama itu di lidahnya. “Aku Arcel.” “Aku tidak tanya.” Dan di situlah Arcel semakin tertarik. Pria-pria seperti Arcel terbiasa dipuja, diburu, atau minimal disambut senyum menggoda. Tapi Ara? Ia bahkan tidak peduli. Lebih parah ia terlihat jengkel. Arcel mengambil selembar kertas dari saku jasnya cek kosong. Ara yang melihat itu langsung menaikkan alis. “Aku tidak jual diri.” Nada Ara tegas, jelas, dan menusuk. “Tentu.” Arcel memainkan pulpen. “Tapi aku tetap ingin tawar sesuatu.” Ara menyilangkan tangan, menatapnya tajam. “Aku tidak tertarik.” “Belum tentu.” Arcel menulis sesuatu di cek itu, lalu mendorongnya ke arah Ara. “Satu milyar.” Ara membeku. Semua suara musik dj, semua lampu neon, semua bau alkohol hilang. Yang terdengar hanya suara detak jantungnya sendiri. Ia menatap angka di cek itu. Lalu menatap Arcel seperti ingin melempar gelas ke kepalanya. “Maaf,” ucap Ara pelan namun sangat tajam. “Apa kamu pikir aku semurah itu?” Arcel menyandarkan tubuh, menatap Ara dari ujung rambut hingga ujung sepatu boots nya. “Tidak murah,” katanya tenang. “Hanya berharga. Dan aku ingin menghabiskan malam denganmu.” Ara langsung berdiri, kursinya bergeser keras. “Kayak gini ya cara kamu ngelihat perempuan? Dari harga? Dari tubuh?” Arcel berdiri juga, masih lebih tinggi dari Ara. Tatapannya tidak berubah masih datar, masih gelap, namun ada sesuatu yang baru: obsesi. “Aku hanya ingin yang aku mau,” jawabnya. Ara mencengkeram cek itu lalu menempelkannya ke dada Arcel. Dengan tekanan. Dan dorongan. “Tahan cek murahanmu,” katanya dingin. “Aku tidak akan tidur dengan laki-laki seaneh dan sekotor kamu.” Arcel tersenyum miring, bukan karena senang ditolak tapi karena ia baru menemukan wanita yang tidak bisa ia jinakkan secepat biasanya. “Aku suka kamu,” katanya. “Masalah kamu.” Ara berbalik. Namun baru dua langkah Ara pergi, Arcel menggenggam pergelangan tangannya. Tidak keras, hanya menahan. “Ara.” “Lepas,” desis Ara. Arcel mendekat sedikit. “You are mine, baby girl.” Ara menoleh, menatapnya dengan tajam, jari tengah, Ara mengangkatnya tanpa ragu tepat di depan wajah Arcel. “Dalam mimpi lo, brengsek!” Ia melepaskan tangan Arcel dan pergi begitu saja. Arcel terdiam… lalu tertawa pelan. Tawa yang sangat berbahaya. “Baik,” gumamnya. “Kalau itu yang kamu mau.” Ia merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. “Cari semua tentang wanita bernama Ara Davinci,” perintahnya datar. “Malam ini juga.” Ara keluar dari bar dengan langkah cepat, masih mendidih, masih ingin menendang sesuatu. Udara malam yang dingin tidak cukup untuk menurunkan panas emosinya. “Dasar cowok sinting,” umpatnya. Ia hendak menyeberang ke parkiran ketika tiba-tiba seseorang memanggil namanya. “Ara?” Ara berhenti. Suaranya familiar. Terlalu familiar. Seseorang berdiri di bawah lampu jalan, wajahnya setengah gelap, tapi Ara mengenalnya dari cara pria itu memanggil namanya. “Lo ngapain di sini?” tanya Ara terkejut. Pria itu melangkah maju. Dan sebelum Ara sempat bertanya lagi. Seseorang dari belakang menutup mulut Ara. Ara terkejut, tubuhnya ditarik brutal ke arah gang samping. Ia berontak keras, namun tangan yang menekap mulutnya semakin kuat. “Ara Davinci?” suara kasar itu bertanya. “Akhirnya ketemu juga.” Ara menendang, memukul, menggigit apa pun. Namun genggaman itu semakin kuat. Seseorang lain muncul di depan, memegang sesuatu yang membuat Ara membatu. Pisau. Lampu kelap kelip dari bar memantul di bilahnya. “Akhiri cepat,” ujar salah satu dari mereka. Dan Ara baru sadar Arcel bukan satu-satunya masalahnya malam itu. Sementara itu, di dalam bar, ponsel Arcel bergetar. Asistennya berkata dengan suara gemetar “Pak saya menemukan sesuatu tentang Nona Ara Davinci. Anda harus lihat ini. Ara sedang.” Arcel berhenti berjalan. Matanya menyipit. Detak jantungnya berubah. “Sedang apa?” Asistennya menelan ludah, terdengar panik. “Sedang dalam bahaya besar, Pak. Anda harus cepat.” Namun kalimatnya terpotong oleh suara Arcel, seperti sesuatu jatuh keras ke tanah di sisi Ara. Dan suara itu semakin dekat….Semakin dekat…. Sebelum akhirnya. Seseorang memanggil nama Arcel dari belakang. Dengan satu kalimat yang mengubah segalanya. “Arcel, lo telat…..!”ออโต้อุ้มคนตัวเล็กในท่าเจ้าสาว แต่ไม่ลืมที่จะหันมาบอกจิ๋วจิ๋ว “เดี๋ยวพ่อกลับมาเล่นด้วยนะ พาแม่ไปทำน้องก่อน”เหมี่ยว!“พี่ออโต้พูดอะไร” ตีแขนเขาเบาๆ อย่างหมั่นไส้“ก็บอกจิ๋วจิ๋วไว้จะได้เตรียมตัวจะได้รู้ว่ากำลังจะมีน้อง”“ถ้ามีขึ้นมาจะตามใจขนาดไหนก็ไม่รู้” นามิโอบแขนเรียวที่ลำคอแกร่ง มองสบตาคมกริบของเขา “ตามใจสุดๆ แน่นอนครับ”“จะกลายเป็นทั้งบ้านมีหนูดุอยู่คนเดียว”ออโต้หัวเราะ วางคนตัวเล็กลงบนเตียงนุ่ม “ลูกคนแรกจะเอาผู้หญิงรึผู้ชายว่ามาครับ” นามิหัวเราะ “พี่จะเก่งอะไรเบอร์นั้นค่ะเลือกเพศลูกได้ด้วย”เขายิ้ม ล้มตัวลงนอนบนเตียงกว้าง นามิตามไปนอนหนุนแขนสามี แล้วกอดเขาแนบชิดไม่ห่าง “แล้วพี่ละคะ อยากมีลูกสาวรึลูกชาย” มือเรียวปลดกระดุมเสื้อเขาลูบไล้ไปตามลอนsixpackเล่นไปตามประสา“จริงๆ พี่อยากมีลูกสาวเอาไว้บ่นน้องชายสักคนนะ มีพี่สาวน่าจะดี จะได้ช่วยดูแลน้อง แม่สวยขนาดนี้ ถ้ามีลูกสาวแสนสวยเอาไว้อ้อนสักคนก็คงดี”“ไม่หวงแย่เหรอคะ”“หวงสิ ใครมาจีบตามถึงบ้านแน่”“น่ากลัวชะมัด ตัวเองยังเอาลูกสาวคนอื่นมานอนกอดได้เลย” ฉันพูดแกล้งหยอกเขา และจุ๊บ! “พี่เอามาทำเมีย ไม่ได้มานอนเกิดเฉยๆ ซะหน่อย พี่ให้
“พี่ๆ น่ารักกันจังเลยนะคะ ดูสนิทกันมากเลย มีพี่น้องนี่ดีไปอีกแบบนะคะ เป็นลูกคนเดียวเหมือนหนูบางทีก็เหงาเหมือนกัน” “เห็นแบบนี้ก็ดีแล้วเพราะฉะนั้นตอนเรามีลูก ควรจะมีลูกแฝดนะดีไหม” ออโต้หันมามองสบตาพูดกับแฟนคนสวยของเขา “ดีครับพี่ผมเห็นด้วยอยากอุ้มหลานแล้วอะ ขอหลานชายนะครับ หลานสาวผมเป็นห่วงต้องตามรับตามส่งอีกเดี๋ยวมีหนุ่มมาจีบ” อาร์เดลพูดยิ้มแย้มอารมณ์ดี “เนี่ยนิสัยคนเจ้าชู้นามิดูไว้ เอาไปสอนลูกอย่าให้เข้าใกล้ หวงขึ้นมาเชียว” ออสตินพูด“พี่ออสตินผมไม่เคยเจ้าชู้เลยครับ ไม่เคยนอกใจใครเลยนะครับ เพราะไม่เคยมีแฟน” “นามิอย่าไปฟังสองคนนี้เจ้าชู้สุดๆ มีแต่พี่นี่แหละที่คอยห้ามตลอด” ออโต้พูดยิ้มๆ “โห!” อาร์เดลหัวเราะ ส่ายหัว“อะไรอาร์เดล ฉันพูดอะไรผิด นายกับออสตินที่สุดแล้ว”“พี่ก็ที่สุดเหมือนกันรึเปล่าคะ” นามิถามออโต้ขึ้นมาบ้าง“พี่ที่สุดมานานแล้วครับ แต่มาหยุดที่หนูไง”“กูตาย กลับเถอะพี่ออสติน ไม่ไหวแล้วพี่ออโต้มีมุมนี้ได้ไง”ออสตินกับอาร์เดลพากันหัวเราะ ออโต้ยักคิ้วให้น้องทั้งคู่ แล้วหันมายิ้มให้นามิ เขาเปลี่ยนไปเพราะเธอคนนี้จริงๆ สามปีต่อมา ออโต้กับนามิแต่งงานกันและใช้ชีวิตกันอย่างมีค
“ฉันว่าพี่เคเดนพร้อมกว่านะ มาโน่นละ อยู่ด้วยกัน มหาลัยก็เดียวกัน แค่เรียนกันคนละคณะคิดถึงเก่ง หมั่นใส่ว่ะ” นามิปากคว่ำใส่เพื่อนแกล้งหยอกเล่น “พี่เคเดนสวัสดีค่ะ” นามิเอ่ยทักทาย“นามิเป็นไงบ้างทุกอย่างโอเคแล้วใช่ไหม” เคเดนเป็นห่วงเพราะรับรู้เรื่องราวมาจากเดลล่าตลอด“เรียบร้อยดีแล้วค่ะพี่ คุณพ่อก็กลับมาจำทุกอย่างได้เหมือนเดิมแล้วค่ะ น่าจะพักผ่อนอีกสักเดือนก็กลับไปดูแลร้านได้เหมือนเดิมแล้วค่ะ”“เออ! นามิแล้วสาขาที่ดีซีล่ะ ยังจะทำต่อไหม” เดลล่าถาม“ไม่ทำดีกว่าคุณพ่อจะขายน่ะ แล้วก็ย้ายมาอยู่ที่ไทยเป็นหลัก ญี่ปุ่นก็ค่อยบินไปดูบ้าง ท่านอยากอยู่ใกล้ฉันกับคุณแม่ด้วย”“ดีแล้วแบบนี้แกจะได้ไม่ต้องเป็นห่วง” “อืมแล้วพี่มาหาเดลมีอะไรคะ” เดลล่าหันไปถามเคเดน “เปล่าพี่มาหาเฉยๆ จะมาถาม นามิเรื่องคุณพ่อด้วย”“ขอบคุณพี่เคเดนที่เป็นห่วงนะคะ งั้นจีบกันไปก่อนนะคะ นามิขอตัวไปห้องน้ำก่อน” เคเดนยิ้มให้เธอ ตอนเย็นนามิเลิกเรียนแล้วรีบกลับไปที่บ้านออโต้ ตามที่นัดกันไว้ คนตัวเล็กรีบอาบน้ำแต่งตัวแล้วออกไปกับเขา สองคนมาถึงร้านที่ออโต้จองไว้ พี่ออสตินกับพี่อาร์เดลมาถึงแล้ว “สวัสดีค่ะพี่ๆ” นามิเอ่ยทักทายทั้งคู่ ออ
เช้าวันต่อมา นามิ คุณพ่อคุณแม่ของเธอ ได้ยื่นคำร้องต่อศาลผ่านทนายและศาลได้เรียกไต่สวน คุณหมอมายืนยันต่อหน้าศาลให้คุณพ่อถึงอาการป่วยของท่าน เรนนี่กับคุณแม่ของเธอยังยืนยันว่าคุณพ่อได้ยกทุกอย่างตามพินัยกรรมให้พวกเธอทั้งคู่ตอนที่ท่านยังมีสติสัมปชัญญะครบถ้วนดี “คุณเออิกิ คุณพอจะจำได้บ้างไหมว่าคุณได้ทำพินัยกรรมไว้รึเปล่า” ศาลถามคุณพ่อของนามิ“ผม ไม่แน่ใจครับ”“คุณลองพยายามคิดดูหน่อย ว่าคุณได้ทำไว้ไหม ก่อนที่คุณจะป่วย”คุณเออิกิ พยายามคิดอย่างหนักจนเกิดอาการ ปวดหัวจี๊ดขึ้นมา ท่านเซนิดหนึ่งแล้วกุมขมับ “ปวดหัว”เรนนี่กับมินตรามองมาที่เออิกิ แล้วลอบยิ้มให้กัน คุณหมอรีบเข้าไปดูอาการของคุณพ่อของนามิทันที “คุณเออิกิรู้สึกเป็นยังไงบ้างครับ” “ผม ผมปวดหัว”นามิกับคุณแม่ เดินไปหาคุณพ่อของเธอทันทีด้วยความเป็นห่วง“คุณพ่อคะ ไม่ต้องพยายามคิดแล้วนะคะ ไม่เป็นไรค่ะคุณพ่อ ไม่เป็นไรแล้วนะคะ ใจเย็นๆ” นามิลูบหลังท่านอย่างปลอบโยน คุณนานาจับมือสามีแน่นอย่างต้องการให้กำลังใจ คุณพ่อมองสบตา นามิ แล้วภาพในหัวฉายความคิดออกมาเป็นฉากๆ มันย้อนกลับไปว่าก่อนหน้านี้เขาทำอะไรบ้าง คุณเออิกิมีท่าทีตื่นเต้น มีสีหน้าดีใจอ






المراجعات