Short
ผิดสัญญารักเพื่อนสมัยเด็ก

ผิดสัญญารักเพื่อนสมัยเด็ก

By:  ไอศกรีมCompleted
Language: Thai
goodnovel4goodnovel
10Chapters
6.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

ตอนที่พ่อแม่โทรมาบอกว่า ให้ฉันไปดูหน้าคู่ดูตัวของเพื่อนสมัยเด็กที่บ้านของเขานั้น เจ้าเพื่อนสมัยเด็กคนนี้กำลังนอนหลับสนิทอยู่ข้างกายฉัน ฉันนึกว่าเป็นเรื่องล้อเล่น จึงกระซิบพูดเบาๆ ว่า "สวี่ซิงเหอ พวกเขาบอกว่าจะหาคู่ดูตัวให้นายด้วยล่ะ" เขาครางรับ "อืม" ในลำคออย่างงัวเงีย ก่อนจะรวบตัวฉันเข้าไปกอด "ซินซินเด็กดี เดี๋ยวเธอช่วยหาชุดให้ฉันสักชุดนะ แล้วก็ช่วยเซ็ตผมให้ฉันด้วย" พอเห็นฉันตัวแข็งทื่อไม่ขยับเขยื้อน สวี่ซิงเหอก็ลืมตาขึ้นมาพร้อมกับแค่นหัวเราะ: "เดี๋ยวนะ เป็นอะไรไป? เราสองคนก็เป็นแค่คู่นอนกันไม่ใช่เหรอ เธอคงไม่ได้คิดว่าฉันจะแต่งงานกับเธอจริงๆ หรอกนะ?"

View More

Chapter 1

บทที่ 1

“Bro!!!” Rendi berteriak sambil melambaikan tangan dari pintu kedatangan.

Narendra Alvaro Gunadhya atau yang kerap di sapa Rendra itu pun tersenyum ketika pandangannya berhasil menangkap sosok sang sahabat.

Sesaat kemudian terdengar jeritan histeris dari para gadis yang sedang berbaris menunggu kerabat mereka di pintu kedatangan.

Ternyata jeritan histeris itu ditujukan kepadanya, Rendra tidak mengerti kenapa yang pasti dirinya seperti aktor korea yang sedang mengunjungi Indonesia untuk konser.

“Senyum-senyum sih, Lo! Jadi cewek-cewek pada histeris,” seloroh Rendi setelah pelukan masculin keduanya terurai.

Seperti biasa, hanya senyuman yang diberikan Rendra sebagai balasan meski begitu merindukan sahabat kecilnya itu yang kini sedang melanjutkan pendidikan di Australia.

“Kita jemput Alisha dulu di rumah sakit ya!” cetus Rendi dan sama seperti sebelumnya, Rendra membalas dengan anggukan.

“Ndra! Gue heran deh, bokap lo ‘kan punya Privat Jet kenapa lo masih pake pesawat komersil sih?” celetuk Rendi yang fokus pada kemudi membawa mobil SUVnya keluar dari pelataran parkir Bandara Husein Sastranegara - Bandung.

“Itu ‘kan punya bokap, Ren...bukan punya gue,” balas Rendra santai membuat Rendi merotasi bola matanya jengah.

“By the way, lo langsung dari London ke sini?” Rendi kembali bertanya.

“Nggak...gue pindah pesawat dari Jakarta karena tadinya mau ke rumah dulu tapi ternyata acara midodaremi Aura dipercepat jadi keluarga gue udah keburu ke Bandung,” tutur Rendra menjelaskan.

“Si Aura anak sahabat keluarga Lo itu?”

“Iya … anaknya tante Monica sama om Edward!”

“Bukannya dia masih kuliah ya? Kenapa udah nikah?” kali ini pertanyaan Rendi lebih dalam karena sejujurnya dia pernah menaruh rasa pada Aura namun karena terpisah jarak, Rendi memilih mengubur perasaan itu.

“Mana gue tau! Gue ‘kan jarang pulang,” jawab Rendra seraya mengendikan bahu.

Rendi menyengir seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian kembali fokus setelah melirik Rendra yang ternyata sedang menatapnya dari samping dengan mata memicing skeptis.

Rendi berdeham menetralkan suasana canggung yang terasa pekat, karena insting Rendra mulai bekerja.

“Lo naksir si Aura ya,” tembak Rendra tepat sasaran.

“Tuh pujaan hati, lo!” Rendi berseru mengalihkan pembicaraan dan bersyukur kepada Alisha yang sudah berdiri di gerbang rumah sakit, entah sejak kapan menanti mereka.

Alisha adalah sahabat Rendra dan Rendi yang merupakan anak dari panti asuhan tempat di mana kedua orang tua Rendi dan Rendra mendermakan sebagian rezekinya.

“Lama banget sih! Aku sampe digodain mamang jualan cilok,” omel Alisha setelah menghempaskan bokongnya di kursi penumpang belakang tanpa berniat menanyakan kabar dua pria tampan yang sudah terlebih dahulu duduk di kabin depan.

“Maaf Non...gue harus jemput tuan muda ini dulu,” ujar Rendi seraya menyikut lengan Rendra.

“Apakabar Alisha ....” Lain halnya dengan gadis itu, Rendra malah menanyakan kabar.

“Baik...grandma Mery sama granpa Salim apa kabar?” Alisha balik bertanya.

“Eh...cangkir bandrek, Lo ditanya Rendra kabar, bukannya tanya balik gimana kabar Rendra malah nanya kabar grandma sama grandpanya! Sakiiiiiit...hati Abang, Dek.” Rendi berkelakar, dia berakting seolah menghujamkan pisau tak kasat mata tepat di jantungnya.

Alisha terkekeh mendengarnya, ada benarnya ucapan Rendi namun gadis tangguh seperti Alisha akan selalu memiliki jawaban. “Eh...kobokan rumah makan padang! Rendra ‘kan ada disini ya pasti dia baik-baik aja lah,” balasnya tidak mau kalah.

Rendra tertawa pelan mendengar pertengkaran lucu kedua sahabatnya.

Mereka bertiga memutuskan untuk langsung menonton film hollywood yang menceritakan tentang beberapa superhero yang tergabung dalam suatu organisasi penyelamat dunia sebelum pulang ke rumah sebab setelah bertemu keluarga pasti Rendra akan terus dikintilin para sepupu atau berada dalam pelukan sang mama.

Keseruan mereka masih berlanjut setelah film berakhir, ketiganya memutuskan untuk menyantap hidangan steak sebagai makan malam.

Banyak hal yang tiga sekawan itu bicarakan, kelakar lucu pun sering terlontar dari mulut Rendi yang selalu bisa mencairkan suasana.

“Ndra! Lo anter Alisha pulang ya, gue ada perlu sama adek gue dulu! Mobil, besok gue ambil di rumah Kakek, lo!” Rendi yang baru saja mengakhiri panggilan telepon, berkata demikian.

“Oke!” balas Rendra seraya menerima kunci mobil dari Rendi yang langsung pergi setelah berpamitan.

“Well...Tinggal kita berdua,” cetus Rendra membuat Alisha mendongak dari orange jusnya.

“Pulang sekarang yuk! Udah malem, nanti bunda Neni nyariin.” Gadis yang sudah menghabiskan dua gelas orange jus itu pun berdiri diikuti Rendra.

Seperti pria sejati, Rendra membuka pintu mobil untuk Alisha lalu gadis itu langsung membungkuk dengan menekuk satu kakinya ke belakang layaknya seorang putri Kerajaan dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.

Lagi-lagi Rendra dibuat tersenyum oleh tingkah Alisha.

Keheningan terasa pekat selama perjalanan pulang, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Sha.…”

“Ndra.…”

Panggil keduanya berbarengan, memecah keheningan namun malah menimbulkan kecanggungan.

“Kamu dulu,” ujar keduanya bersamaan lagi.

Rendra dan Alisha tertawa renyah.” Kamu dulu deh,” pinta Alisha yang sudah memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Rendra.

“Kamu aja dulu!” balas Rendra setelah melirik Alisha sekilas.

“Sampai kapan kamu di London?” Satu pertanyaan akhirnya keluar dari bibir Alisha.

Terdengar biasa saja namun sarat makna.

Rendra menginjak rem ketika trafficlight menunjukan warna merah.

“Kenapa?” Bukannya menjawab, Rendra malah balik bertanya.

“Kamu betah banget di London...,” balas Alisha sama sekali tidak menjawab pertanyaan Rendra.

Rendra terkekeh, kemudian menginjak pedal gas karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.

“Aku juga enggak tau sampai kapan, yang pasti aku ingin punya perusahaan sendiri sebelum pindah ke Indonesia,” tutur Rendra yang malah membuat Alisha kembali bertanya.

“Kenapa? Papa Andra punya banyak perusahaan dan pastinya papa Andra mengharapkan kamu sebagai pemimpinnya.” Alisha memanggil papanya Rendra dengan sebutan papa Andra karena Alisha sudah diangkat anak oleh kedua orang tua Rendra dengan dibiayai segala kebutuhan hidup dan sekolahnya hanya saja tidak tinggal serumah karena pertimbangannya adalah Alisha bukan muhrim bagi papa Andra dan Rendra.

“Hanya ingin membuktikan kalau aku bisa tanpa bayang-bayang papa.” Rendra menjawab penuh percaya diri.

“Kereeeen....” Alisha mengangkat kedua jempolnya lantas mereka berdua tertawa.

“Setelah itu apa?” entah kenapa Alisha bertanya demikian karena yang pasti, dia merasa jawaban Rendra tadi belum lengkap.

“Setelah itu, aku akan melamar seorang gadis,” jawab Rendra membuat Alisha refleks bertanya, “Siapa?”

“Kamu!” balas Rendra cepat tanpa perlu berpikir.

Tentu saja mata Alisha melebar sempurna, dia tidak percaya dengan indera pendengarannya sendiri.

“Siapa?” Alisha mengulang pertanyaannya.

“Kamu...Alisha Prameswari Putri,” jawab Rendra mantap.

“Kenapa? Kamu menyukai pria lain?” Rendra mematikan mesin setelah memarkirkan mobilnya di halaman panti, lalu menyerongkan tubuh menghadap Alisha menuntut jawaban.

Alisha menggelengkan kepalanya disertai senyum malu-malu dan wajah merona.

Beberapa saat keduanya tenggelam dalam tatapan satu sama lain sambil saling melempar senyum.

Selama ini Rendra memang tidak pernah menyatakan cinta meski sudah sejak kecil menyukai Alisha yang memiliki sikap bersahaja dan kagum dengan ketegarannya meski dibuang oleh kedua orang tua sejak kecil.

Rendra merasa kalau menyatakan cinta kepada Alisha tidak bisa main-main karena gadis itu adalah saudara angkatnya.

“Oke...aku tunggu!” Tidak disangka gayung bersambut, Alisha berkata demikian disertai senyum merekah di bibirnya.

Alisha bergegas turun dari mobil setelah membuka pintu, tidak ingin Rendra melihat wajahnya yang pasti sudah merah seperti tomat.

Jantung Alisha berdegub kencang dengan perasaan membuncah bahagia, gadis mana yang tidak menyukai pria tampan, pintar, cerdas dan merupakan anak Konglomerat seperti Rendra bahkan Alisha sudah menyukai Rendra semenjak pertama kali mereka bertemu dua puluh tahun yang lalu tapi bukan karena semua yang tadi disebutkan, tapi karena Rendra memiliki hati yang baik dan tulus meski dia memiliki semua yang disebutkan barusan.

“Apa tadi dia lagi ngelamar aku? Apa dia serius? Jadi selama ini dia menyimpan rasa suka padaku? Pantas saja dia selalu perhatian.” Alisha bicara sendiri saat sudah sampai di kamarnya.

“Aaarrrrggghhh....” Alisha membenamkan wajahnya pada bantal untuk meredam teriakan bahagia.

Sementara di luar sana, Rendra masih menatap kamar Alisha yang tampak terang setelah gadis itu masuk.

Ucapan Alisha yang terakhir sebelum turun dari mobil masih berdengung di telinganya.

Kedua sudut bibir Rendra tertarik ke atas membentuk lengkung senyum merasa lega karena mengetahui bahwa ternyata Alisha pun merasakan hal yang sama.

Tidak berapa lama lampu di kamar Alisha pun padam, barulah Rendra menyalakan mesin mobil kemudian menginjak pedal gas menuju rumah sang kakek tersayang namun baru saja akan memasuki komplek perumahan Kakeknya, ponsel Rendra berbunyi nyaring.

“Abang di mana?” suara lembut sang mama terdengar.

“Udah dekat rumah kakek, Ma.…”

“Putar balik sayang, Kita semua ada di rumah oma Reta...Abang ke sini ya, kami tunggu .”Ucapan sang Mama terdengar aneh, bahkan suara lembut itu bergetar seperti habis menangis.

Dan apa maksud Mama Rena yang menyebutkan mereka semua menunggunya di sana?

Kami yang dimaksud mama Rena itu siapa?

Beragam pertanyaan berputar di benak Rendra namun hanya keberadaannya di sana lah yang bisa menjawab itu semua, maka dia memacu kendaraannya lebih kencang agar bisa cepat sampai di rumah oma Reta-neneknya Aura.

Banyak mobil sudah terparkir rapih di garasi rumah oma Reta yang luas dan Rendra hapal betul siapa pemilik mobil tersebut.

Senya keluarganya sedang berkumpul di sini, tapi kenapa?

Bukannya acara adat yang dilakukan sebelum pernikahan akan dimulai besok?

Ketika Rendra baru melangkahkan kaki memasuki rumah oma Reta dari pintu utama yang terbuka lebar, suara tangis pilu seorang wanita terdengar menggema di rumah megah itu.

Oma Reta sedang tidak sadarkan diri dikelilingi oleh para keluarganya sementara tante Monica-mamanya Aura sedang menangis tersedu dalam pelukan om Edward-suaminya.

Suara ambulan membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh dan sorot mata mereka langsung tertuju pada Rendra yang berdiri mematung tanpa suara di ambang pintu.

“Abaaaang...,” panggil mama Rena seraya melangkah mendekat.

“Sini Mama sama papa mau bicara ....” Mama Rena menarik tangan si sulung untuk duduk di ruang tamu sementara om Edward dan perawat yang baru saja turun dari ambulan membawa oma Reta ke rumah sakit.

“Ada apa Pa? Ma?” Rendra yang sudah duduk di singel sofa menatap kedua orang tuanya secara bergantian.

Di sofa lainnya ada sang kakek Rony-ayah dari mama Rena, om Ricko-sahabat papanya sekaligus adik ipar dari mama Rena dan ada juga om Aras-adik bungsu mama Rena yang menatapnya dengan tatapan seolah bumi sedang dalam invasi alien dan hanya Rendra lah yang bisa menyelamatkan.

Andra berdehem sebelum membuka suaranya. “Abang...calon suami Aura pergi begitu saja dengan mantan pacarnya keluar Negri. Lelaki itu meninggalkan Aura di detik-detik hari pernikahan sedangkan persiapan acara sudah seratus persen rampung, tidak mungkin kalau pesta ini batal hanya akan membuat malu dan mencoreng nama baik om Reta dan om Edward juga tante Monica,” tutur papa Andra menjelaskan dan Rendra semakin tidak mengerti kenapa sang papa harus repot-repot menjelaskan hal ini kepadanya.

“Sebagai anak paling besar, Papa minta dengan sangat agar Abang bersedia menjadi calon suami pengganti untuk Aura menyelamatkan nama baik keluarga mereka juga demi mempererat tali persahabatan keluarga kita dengan keluarga om Edward,” sambung papa Andra dan seketika tubuh Rendra menegang.

“Aura anak yang baik dan cantik, dia juga pinter, Bang...kamu enggak akan menyesal menikah sama dia, Mau ya Bang!” Sang Mama membujuk dengan nada memohon yang sulit untuk Rendra tolak.

“Tapi Maaa....” Tapi Rendra berusaha menolak meski tak sanggup menyempurnakan kalimatnya.

“Mama mohon sayang...menikah dengan Aura, ya? Ya? Ya?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
10 Chapters
บทที่ 1
ตอนที่พ่อแม่โทรมาบอกว่า ให้ฉันไปดูหน้าคู่ดูตัวของเพื่อนสมัยเด็กที่บ้านของเขานั้น เจ้าเพื่อนสมัยเด็กคนนี้กำลังนอนหลับสนิทอยู่ข้างกายฉันฉันนึกว่าเป็นเรื่องล้อเล่น จึงกระซิบพูดเบาๆ ว่า "สวี่ซิงเหอ พวกเขาบอกว่าจะหาคู่ดูตัวให้นายด้วยล่ะ"เขาครางรับ "อืม" ในลำคออย่างงัวเงีย ก่อนจะรวบตัวฉันเข้าไปกอด "ซินซินเด็กดี เดี๋ยวเธอช่วยหาชุดให้ฉันสักชุดนะ แล้วก็ช่วยเซ็ตผมให้ฉันด้วย"พอเห็นฉันตัวแข็งทื่อไม่ขยับเขยื้อน สวี่ซิงเหอก็ลืมตาขึ้นมาพร้อมกับแค่นหัวเราะ: "เดี๋ยวนะ เป็นอะไรไป? เราสองคนก็เป็นแค่คู่นอนกันไม่ใช่เหรอ เธอคงไม่ได้คิดว่าฉันจะแต่งงานกับเธอจริงๆ หรอกนะ?"ฉันตั้งตัวไม่ทัน ทำได้เพียงขยับตัวกลบเกลื่อนความกระอักกระอ่วนฉันไม่กล้าแม้แต่จะสบตากับสวี่ซิงเหอ จึงผลักเขาออก แล้วก้มลงเก็บเสื้อผ้าที่กองอยู่บนพื้นขึ้นมาใส่"เสิ่นจูซิน มองหน้าฉันสิ" สวี่ซิงเหอใช้มือเท้าคางมองมา แววตาฉายแววหยอกเย้า "เธอคงไม่ได้คิดไปเองจริงๆ หรอกนะว่าเราเป็นแฟนกัน?"ในหัวของฉันมีแต่คำว่า 'คู่นอน' วนเวียนอยู่ มือไม้สั่นจนติดตะขอชุดชั้นในไม่ติดสักทีสวี่ซิงเหอดึงผ้าห่มออก เผยให้เห็นกล้ามเนื้อเอวที่ผอมเพรียว
Read more
บทที่ 2
ทันใดนั้นแม่ก็เปลี่ยนเรื่องพูด: "จริงสิซินซิน คือว่า... เดี๋ยวคู่ดูตัวของซิงเหอจะมาแล้วนะ ครั้งนี้คุณลุงสวี่กับทุกคนให้ความสำคัญมาก เห็นว่าซิงเหอวางแผนเตรียมการมานานแล้ว ซิงเหอยังบอกอีกว่า กลัวฝ่ายหญิงเขาจะอึดอัด ถ้ามีลูกที่เป็นผู้หญิงอยู่ด้วย เธอคงจะไม่เกร็งเท่าไหร่""แม่กับน้าสวี่สนิทกันมาตั้งกี่ปี วันนี้มาแล้วก็เลย..." แม่มองหน้าฉันอย่างลำบากใจ ทำท่าเหมือนจะพูดอะไรบางอย่างแต่ก็กลืนลงคอไปฉันขานรับ "อืม" แล้วฝืนฉีกยิ้มกว้าง: "วางใจเถอะแม่ ก็แค่ช่วยบิ๊วบรรยากาศ พูดเชียร์ๆ หน่อย หนูรู้งานน่า"แม่มองฉันด้วยสายตาปวดใจ ใช่สิ... ก็รูปคู่ของฉันกับสวี่ซิงเหอยังวางอยู่บนหัวเตียง ของทุกชิ้นที่เขาให้ ฉันเก็บรักษาไว้อย่างดีราวกับสมบัติล้ำค่า ยิ่งไม่ต้องพูดถึงสมุดบันทึกที่เขียนระบายความรักไว้ยิบยับจนปิดไม่มิดเล่มนั้น แม่จะไม่ดูออกได้ยังไง?พวกเราเดินกลับบ้านกันเงียบๆ จังหวะที่เปิดประตูบ้าน ฉันก็พูดโพล่งขึ้นมาว่า: "เดือนหน้าพ่อจะเกษียณแล้ว เราย้ายไปอยู่ที่ไห่หนานกันเถอะค่ะ"ฉันมองแม่ที่กำลังตกตะลึง แล้วยิ้มอ้อนวอน: "ก็พ่อกับแม่วางแผนจะไปเกษียณที่นั่นอยู่ตลอดเลยไม่ใช่เหรอคะ อีกอย่างห
Read more
บทที่ 3
ดูเหมือนสวี่ซิงเหอจะเพิ่งเรียกสติกลับคืนมาได้ เขาคงจำได้ว่าปีนั้นมีคนมาสารภาพรักกับฉัน เขาที่ร้อนรนจนทนไม่ไหว แอบดื่มเหล้าย้อมใจ แล้วขโมยกำไลหยกประจำตระกูลมาเคาะประตูบ้านฉันกลางดึก ร้องห่มร้องไห้โวยวาย แถมยังคุกเข่าอ้อนวอนขอให้ฉันสวมกำไลวงนี้ไว้เขาขยับเนกไทให้คลายออก ถอนหายใจยาวอย่างโล่งอก ก่อนจะหันมายิ้มให้ฉัน: "เมื่อกี้ฉันตื่นเต้นมากไปหน่อย ของ… ที่ฉันให้ไปแล้วไม่มีเหตุผลต้องเอาคืนหรอก... เธอเก็บไว้เถอะ""ไม่เป็นไร ฉันจะคืนให้ เดี๋ยวกลับไปเอาที่บ้านมาคืนเดี๋ยวนี้แหละ" ฉันลุกขึ้นยืนพูดแทรก น้ำเสียงราบเรียบ "จะรีบไปรีบมา ไม่ทำให้เสียเวลาหรอก"ไม่รอให้ใครทันได้ทักท้วง ฉันหยิบกระเป๋าแล้วก้าวยาวๆ เดินออกจากบ้านทันทีตอนที่ฉันกลับมาพร้อมกับกำไล ขณะที่กำลังจะเคาะประตู ก็ต้องชะงักเพราะเสียงโห่ร้องต้อนรับดังขึ้น... "ยินดีต้อน..."รอยยิ้มของสวี่ซิงเหอแข็งค้างทันทีที่เห็นหน้าฉัน "ทำไมเป็นเธอ?"ดูเหมือนเขาจะคิดไม่ถึงว่าฉันจะกลับมาอีก และคงคิดไม่ถึงว่าฉันจะเอากำไลมาคืนจริงๆ เพราะตอนที่ฉันยื่นกำไลใส่มือเขา สวี่ซิงเหอทำหน้าไม่อยากจะเชื่อ แต่สุดท้ายเขาก็เก็บมันไป แล้วกระซิบข้างหูฉันเบ
Read more
บทที่ 4
"เธอไปมีแฟนตั้งแต่เมื่อไหร่?" เท้าซ้ายฉันก้าวพ้นประตูไปแล้วแท้ๆ แต่สวี่ซิงเหอกลับคว้าตัวฉันไว้ "ทำไมฉันไม่เห็นรู้เรื่อง?"ต่อหน้าคนเยอะขนาดนี้ แถมยังมีหลินอีอยู่ด้วย หน้าฉันร้อนผ่าวด้วยความอาย ฉันสะบัดตัวออกอย่างแรง: "ฉันจะมีแฟนหรือไม่มีแล้วมันเกี่ยวอะไรกับนาย?"ฉันตะคอกกลับด้วยความโมโห "พ่อแม่ฉันยังไม่เห็นว่าอะไรเลย นายมายุ่งอะไรด้วย!""ซิงเหอ!" คุณลุงสวี่กดเสียงต่ำ ดุอย่างจริงจัง "นั่งลงเดี๋ยวนี้! ทำตัวไม่รู้กาละเทศะเลย"ฉันถือโอกาสโค้งลาพวกผู้ใหญ่ "คุณลุงคุณน้า สวัสดีค่ะ"เสียงหวานใสแฝงความนัยของหลินอีดังไล่หลังมา: "จูซินสวยขนาดนี้ แถมยังขึ้นเวทีแสดงบ่อยๆ รอบตัวคงมีหนุ่มๆ มาจีบไม่ขาดสายแน่ๆ...” "เรื่องมีแฟนก็คงเป็นเรื่องปกติแหละเนอะ เมื่อกี้ฉันยังเห็นรอยจูบแดงๆ ที่ใต้ผ้าพันคอของน้องเขาอยู่เลย"เหมือนจะรู้ตัวว่าพูดอะไรที่ไม่ควรพูดออกไป เธอชะงักไปครู่หนึ่ง ก่อนจะทำท่าเขินอายแล้วแก้ตัว: "พวกเราเด็กศิลปะนิสัยอาจจะไม่เหมือนกันน่ะค่ะ พวกเราวาดรูปก็จะเงียบๆ เรียบร้อยหน่อย ส่วนพวกเด็กนาฏศิลป์เขาก็จะค่อนข้างเปิดเผยน่ะค่ะ...” "แต่ฉันก็เคารพการตัดสินใจของลูกผู้หญิงทุกคนนะ"หลังจ
Read more
บทที่ 5
"แต่ว่า..." แม่ขมวดคิ้ว อ้าปากเหมือนจะพูดอะไร "ซินซิน ลูก..."ฉันก้มลงดูนาฬิกา "เอาหน่าแม่ หนูพูดจริงนะ" "หนูสบายดีแล้วก็มีสติครบถ้วน ไม่ต้องห่วงหนูหรอก" "พ่อกับแม่ต่างหากที่ควรจะห่วงเรื่องเงินๆ ทองๆ ที่ต้องใช้ได้แล้ว"ฉันจุ๊บแก้มแม่เบาๆ "หนูมีธุระ ขอตัวก่อนนะคะ"พอคิดว่าเวลาและการจากลาอาจจะช่วยเยียวยาแผลใจได้ จิตใจฉันก็สงบลงมาก ความรักที่ฉันมีให้อย่างศรัทธาและร้อนแรง แม้จะไม่ได้เอ่ยปากบอกออกไป แต่อย่างน้อยก็ไม่ได้เสียหน้าเดิมฉันคิดว่าฉันกับสวี่ซิงเหอจะจากกันด้วยดี แต่ฉันคิดไม่ถึงเลยว่า ฉันจะเข้าห้องไม่ได้ฉันยืนอยู่หน้าประตู กดรหัสผ่านซ้ำแล้วซ้ำเล่า[รหัสผิดพลาด] [รหัสผิดพลาด] ......ไฟโทสะลุกโชนขึ้นในใจทันที หลังจากเคาะประตูแล้วไม่มีคนตอบ สติก็เริ่มกลับมา ฉันถึงเพิ่งนึกได้ว่าควรโทรหาสวี่ซิงเหอสัญญาณสายไม่ว่างดัง ตู๊ด ตู๊ด ตู๊ด แล้วสายก็ตัดไป พอฉันโทรสายที่ห้า สวี่ซิงเหอก็ส่งข้อความมา: [เดทอยู่ ห้ามกวน]ฉันถอนหายใจเฮือกใหญ่ กลั้นใจไม่ให้สบถคำหยาบออกมา แล้วพิมพ์กลับไป: [รหัสผ่าน]วินาทีถัดมา เครื่องหมายตกใจสีแดงตัวเบ้อเริ่มก็ทิ่มแทงนัยน์ตาฉัน สวี่ซิงเห
Read more
บทที่ 6
ขอบตาของฉันร้อนผ่าวขึ้นมาทันทีหนึ่งชั่วโมงให้หลัง ฉันตรวจสอบจนแน่ใจแล้วว่าในบ้านหลังนี้ไม่มีของชิ้นไหนที่ฉันอยากจะนำติดตัวไปด้วยอีกแล้ว สวี่ซิงเหอก็ทำกับข้าวเสร็จพอดี ยกออกมาวางเต็มโต๊ะ กับข้าวมากมายวางเรียงรายอยู่ตรงหน้าฉันยังแอบคิดในใจว่า บางทีวันหน้าเราอาจจะยังเจอกันในฐานะเพื่อนธรรมดาได้ เพราะถึงยังไงก็มีความผูกพันกันมาตั้งหลายปีฉันยื่นมือออกไป จังหวะที่ตะเกียบกำลังจะคีบอาหาร ก็ต้องสะดุ้งสุดตัวเมื่อสวี่ซิงเหอตะโกนขึ้นมาว่า "อย่าเพิ่ง!"เขาวิ่งเหยาะๆ เข้ามาหาอย่างรีบร้อน ก่อนจะยื่นจานแบ่งใบเล็กๆ ทรงกลมให้ฉัน: "เธอกินแค่อย่างละคำก็พอนะ ที่เหลือฉันจะรีบห่อไปให้หลินอีตอนที่มันยังร้อนๆ อยู่"สวี่ซิงเหอชูจานใบจิ๋วที่เส้นผ่าศูนย์กลางยังเล็กกว่าฝ่ามือขึ้นมา: "เธอรีบชิมสิว่าอันไหนอร่อยที่สุด อันไหนอร่อยฉันจะได้ตักไปเยอะหน่อย” "ส่วนอันไหนที่เธอกินแล้วไม่อร่อย ฉันก็จะไม่ห่อไป ทิ้งไว้ให้เธอกินก็แล้วกัน..."เพล้ง! ฉันขว้างตะเกียบลงบนโต๊ะอย่างแรง มือของเขายังค้างอยู่กลางอากาศฉันลุกขึ้นยืนพรวดพราด ขาเก้าอี้ครูดไปกับพื้นส่งเสียงกรีดแหลมบาดหู น้ำเสียงของฉันสั่นเครือ: "สวี่ซิ
Read more
บทที่ 7
เธอถือโอกาสสอดแขนคล้องแขนสวี่ซิงเหออย่างเป็นธรรมชาติ แล้วยิ้มหวานหยาดเยิ้ม ดูอ่อนหวานนุ่มนวลถึงขีดสุดฉันยิ้มตอบตามมารยาท วางขวดไวน์ในมือลงกับพื้น สูดลมหายใจเข้าลึกๆ จากนั้นก็หันกลับไปจดจ่อกับการคุยกับรุ่นพี่ต่อ โดยไม่ทันสังเกตเลยว่า สวี่ซิงเหอที่อยู่ด้านหลังยังคงจ้องมองมาที่ฉันด้วยสายตาที่ละไปไหนไม่ได้ฉันดื่มไวน์แดงไปสองแก้ว แต่สติยังครบถ้วนดี ตอนที่ลุกไปเข้าห้องน้ำ ก็ถือโอกาสเติมหน้าไปด้วย เห็นทุกคนคุยกันว่า เดี๋ยวจะพากันไปเยี่ยมอาจารย์ ซึ่งหนึ่งในนั้นก็คือผู้หลักผู้ใหญ่ในสมาคมนาฏศิลป์ที่ฉันเคารพ สมัยเรียนท่านเอ็นดูฉันมาก ยังไงฉันก็ต้องไปพอเช็คความเป๊ะของเมคอัพเสร็จ ฉันก็ผลักประตูห้องน้ำออกมา…"จูซิน?" หลินอีในชุดเดรสสีขาวปรากฏตัวขึ้นอย่างเฉิดฉายฉันตอบรับ: "สวัสดีค่ะ"จังหวะที่กำลังจะเดินสวนกัน เธอกลับคว้าข้อมือฉันไว้หมับ ฉันเจ็บจนพยายามจะสะบัดออก แต่กลับพบว่าผู้หญิงที่ดูบอบบางน่าทะนุถนอมคนนี้ แรงเยอะจนน่าตกใจหลินอีมองซ้ายมองขวา พอเห็นว่าปลอดคน ก็โน้มหน้ามากระซิบข้างหูฉัน: "เธออยู่กินกับสวี่ซิงเหอมาตั้งครึ่งปี พอฉันกลับมาปุ๊บ ทุกอย่างก็พังทลาย เธอคงโกรธมากส
Read more
บทที่ 8
สวี่ซิงเหอมองสำรวจฉันที่ไร้รอยขีดข่วน: "ทำไมเธอถึงไม่เป็นอะไรเลย? อีกอย่าง นิสัยเธอฉันยังไม่รู้อีกเหรอ? ตอนเด็กๆ ก็ห่วงเล่น ลากฉันไปอยู่สวนสนุกจนพ่อแม่ต้องแจ้งตำรวจ สุดท้ายก็เป็นฉันไม่ใช่เหรอที่ต้องคอยตามเช็ดตามล้างให้ตลอด!" "เธอเป็นพวกเจ้าคิดเจ้าแค้น โกรธที่หลินอีแย่งของของเธอไป... เธอเลยทำเรื่องบ้าๆ แบบนี้!" "ขอโทษหลินอีเดี๋ยวนี้!"สายตาของผู้คนรอบข้างที่มองมาทางฉัน เต็มไปด้วยความสงสัยและดูถูกเหยียดหยามฉันแค่นหัวเราะออกมาหนึ่งที "ได้สิ ฉันจะขอโทษ"สวี่ซิงเหอมีท่าทีอ่อนลง: "เธอก็บอกเองว่าไม่มีแฟน ครั้งที่แล้วเธอก็แค่ประชดว่า...""ฉันขอโทษนะ" ฉันพึมพำเบาๆ ก่อนจะตะโกนลั่น: "ขอโทษพ่อแกสิ!"ฉันง้างมือเล็งไปที่แก้มอีกข้างของหลินอีที่หลบอยู่หลังสวี่ซิงเหอ แล้วตบฉาดลงไปเต็มแรงฉันสะบัดข้อมือเบาๆ: "เดี๋ยวฉันจะส่งคลิปเสียงลงในกลุ่มแชท"ฉันเสยผมที่ยุ่งเหยิงเล็กน้อยให้เข้าที่ เผยรอยยิ้มการค้าที่เป็นเอกลักษณ์: "เชิญทุกคนรับฟังและพิจารณากันได้ตามสบายเลยก็แล้วกันนะ"คืนนั้นฉันกลับบ้าน ต่อมาฉันก็นัดไปหาอาจารย์เป็นการส่วนตัว เมื่อจัดการทุกอย่างเรียบร้อย ความมั่นใจในใจก็เต็มเปี่ยม ฉ
Read more
บทที่ 9
"ส่วนความรู้สึกที่ฉันมีให้เธอ มันคือ...""สวี่ซิงเหอ" ฉันพูดแทรกด้วยน้ำเสียงราบเรียบราวกับกำลังคุยกับคนแปลกหน้าที่บังเอิญผ่านมา "เราเป็นแค่ 'คู่หู' กันไม่ใช่เหรอ?” "ขอให้นายเจอคู่หูที่เข้าขากันได้ดีกว่านี้ก็แล้วกัน"ฉันยังมีเรื่องต้องทำอีกเยอะ สุดท้ายฉันก็พูดทิ้งท้ายว่า: "เลิกติดต่อฉันได้แล้ว ตอนที่นายลบเพื่อนฉัน นายทำแบบไม่ลังเลเลยนี่ ตอนนี้จะมาตามตื๊อทำไมอีก"ฉันนึกขึ้นได้ เลยเสริมไปอีกคำ: "น่ารำคาญ"ไม่รู้ว่าเป็นเพราะได้เกษียณ หรือเพราะอากาศที่นี่ดีต่อสุขภาพจริงๆ สีหน้าพ่อกับแม่ดูสดใสขึ้นมาก ถ้าไม่ใช่เพราะต้องกลับไปจัดการเรื่องโอนบ้านช่วงตรุษจีน พวกท่านคงไม่อยากกลับไปแล้ว"งั้นหนูกลับไปจัดการเองก็ได้" ฉันพูดพลางก้มดูเอกสารในมือ "หนูจัดการได้น่า"พ่อกับแม่หันมองหน้ากัน "ช่างเถอะ พ่อกับแม่ไม่วางใจ อีกอย่างบ้านสวี่เขาชวนไปกินข้าววันไหว้ส่งเจ้าด้วย กินเลี้ยงเสร็จแล้วเราค่อยกลับมาฉลองวันส่งท้ายปีเก่าที่นี่ เวลากำลังพอดีเลย"ฉันไม่ได้เจอสวี่ซิงเหอมาเกือบครึ่งปีแล้ว ที่แท้ คนที่ฉันเคยคิดว่าขาดเขาไม่ได้ ก็ไม่ได้สำคัญขนาดนั้น"ซินซินมาแล้วเหรอจ๊ะ! สวยขึ้นเป็นกองเลย!" น้าสวี
Read more
บทที่ 10
"เราเคยคุยกันเรื่องแต่งงานไม่ใช่เหรอ?” "เธอลืมไปแล้วเหรอ? เราเป็นเพื่อนรักที่โตมาด้วยกันนะ สัญญาว่าจะแต่งงานกันตอนโต ตอนเล่นพ่อแม่ลูก เธอก็เป็นแม่ ฉันเป็นพ่อ...” "แถมเรายังคบกันเกือบปี ช่วงเวลานั้น เรา... มีความสุขกันมากไม่ใช่เหรอ..."ความเย่อหยิ่งจองหองที่มีเมื่อครู่พังทลายลงจนหมดสิ้น สวี่ซิงเหอเริ่มมีน้ำเสียงสะอื้น: "พวกเรา... เกือบจะได้แต่งงานกันอยู่แล้วไม่ใช่เหรอ?” "ครั้งนี้เธอต้องแกล้งพูดประชดเหมือนคราวที่แล้วแน่ๆ ใช่ไหม?"พ่อตบโต๊ะดังปัง ลุกขึ้นยืนทันที: "นี่แกหมายความว่าซินซินโกหกแกงั้นเรอะ? จะบอกว่าพวกเราทั้งบ้านรวมหัวกันหลอกแกหรือไง?” "ฉีเหยียนน่ะเป็นคนดีมาก ให้เกียรติพวกเราเสมอ ถึงแม้ซินซินจะเพิ่งตอบตกลงคบหากับเขา แต่พวกเราทั้งบ้านก็เชื่อมั่นว่า สองคนนี้จะคบกันไปจนถึงขั้นแต่งงานแน่นอน..."ฉันกลัวพ่อจะโกรธจนล้มป่วย เลยรีบเข้าไปลูบหน้าอกพ่อเบาๆ ให้ใจเย็นลง: "สวี่ซิงเหอ ต่อไปอย่าได้เอาเรื่องสัญญาหมั้นหมายวัยเด็กมาพูดอีกเลย" "มันก็แค่เรื่องล้อเล่นในวงเหล้าของผู้ใหญ่ ถือเป็นจริงเป็นจังไม่ได้" "นายเป็นคนพูดเองนะ ลืมไปแล้วหรือไง?"สุดท้ายงานเลี้ยงก็จบลงอย่างไม่น่าอ
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status