LOGINภรรยาในอุดมคติเป็นเช่นไร'ดาริน'ก็ฉันนั้น ครอบครัวสุขสันต์มีลูกด้วยกันถึงสามคน ใครต่างก็พากันอิจฉาชีวิตคู่ไร้ที่ติ ทว่าหลังภาพงดงามนั้น 'พังยับ' ไม่เหลือชิ้นดี
View MoreHujan turun tanpa henti malam itu, seakan langit ikut menangis bersama seorang wanita yang berdiri di atas sebuah jembatan di pinggiran kota. Angin menusuk tulang, dingin merayap seperti rasa putus asa yang telah lama menghuni hatinya. Entah sudah berapa lama ia menyusuri jalan yang sunyi tanpa alas kaki, Wajahnya basah, entah karena hujan atau air mata yang tak lagi mampu ia bedakan. Di tangannya tergenggam erat sebuah foto kecil yang sudah mulai kusut—foto seorang anak perempuan yang tersenyum lebar sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.
Arsya Asyanti, itulah nama wanita yang saat ini sedang dalam keputus asaan. Malam ini, ia berniat menjadikannya sebagai nama terakhir yang tertulis dalam berita esok hari. Setelah berhenti cukup lama di atas jembatan, Kakinyapun perlahan melewati pagar pembatas. Di bawah sana, sungai mengalir deras, gelap, dan sepi. Seperti hidupnya saat ini. Tidak ada lagi yang bisa ia genggam. Tidak ada lagi yang bisa ia perjuangkan. Reysa telah tiada. Dunia telah menghancurkannya, dan satu-satunya yang tersisa hanyalah kehampaan. "Maafkan Mama, Reysa... Maafkan Mama....Mama terlalu lelah..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar oleh angin malam. Tubuhnya mulai condong ke depan, bersiap melepas semua beban hidupnya, bersama dengan gengaman tangannya. Tapi takdir kadang datang dalam bentuk yang tak disangka. Suara hentakan sepatu memecah keheningan, menjejak genangan air tanpa peduli basah. Dalam hitungan detik, tangan pria itu berhasil mencengkeram tubuh Arsya sebelum ia terjun ke dalam gelapnya arus. Arsya meronta lemah, tubuhnya gemetar dan basah kuyup. Tapi pria itu lebih cepat. Ia menariknya ke sisi aman jembatan, memeluknya erat seolah mencoba menahan dunia agar tidak runtuh di sekitarnya. “Jangan lakukan itu...,” ucap pria itu dengan suara serak, separuh panik, separuh ketakutan. Ia masih memeluk Arsya dengan erat, memastikan wanita itu tak kabur dari pelukannya. Arsya tidak menjawab, tapi masih terus berusaha memberontak dengan lemah. Perlahan kepalanya terkulai di dada pria itu, dan sebelum ia bisa mengatakan apapun, tubuhnya lunglai. Matanya menutup perlahan. Suara dunia memudar. Kegelapan perlahan mengambil alih kesadarannya. Semua menjadi senyap. Tapi di balik keheningan itu, alam bawah sadarnya membawa Arsya kembali, jauh ke masa lalu. Ke masa di mana segalanya belum hancur. Sinar matahari sore menyusup melalui jendela kamar mungil itu. Arsya, yang saat itu baru berusia dua puluh tiga tahun, tertawa lepas sambil merapikan pakaian bayi mungil di rak. Perutnya sudah membuncit, usia kehamilan memasuki bulan ketujuh, membuat ia sedikit kesulitan dalam bergerak. Di sudut ruangan, Bima suaminya sedang memasang lukisan kayu bertuliskan nama, Reysa Pradipta. “Kalau nanti anak kita bandel kayak kamu gimana?” tanya Arsya sambil memanyunkan bibirnya, mengusap perutnya dengan lembut. Ia kembali pada sisi ranjang, setelah merapikan pakaian bayi. Bima mendekat dan mencium keningnya. “Kalau dia bandel kayak aku, berarti dia cerdas. Tapi kalau dia manis dan penyayang kayak kamu, berarti dia anugerah.” Bima menarik senyum bibirnya, manatap istrinya. Arsya tertawa kecil, lalu mengangguk mendengar jawaban suaminya. Saat itu, mereka tinggal di rumah sewa kecil di pinggiran kota, tapi kebahagiaan begitu sederhana dan nyata. Mereka tidak punya banyak harta, tapi punya banyak cinta. Mereka saling mengisi, menjalani hari dengan sederhana. Arsya memasak makanan sederhana setiap pagi, membangunkan Bima dengan senyum, dan menunggu suaminya pulang dengan senyuman dari balik pintu. Bima, meski tidak sempurna, selalu berusaha menjadi suami yang setia dan ayah yang penuh harapan. Saat Reysa lahir, dunia Arsya menjadi sempurna. Ia belajar menjadi ibu dari nol, bangun di tengah malam untuk menyusui, mengganti popok dengan tangan gemetar, dan menangis saat Reysa demam dan rewel. Tapi semua rasa lelah itu terbayar lunas saat anak kecil itu memanggilnya "Mama" untuk pertama kali. Bima juga tampak begitu menyayangi Reysa. Ia suka menggendongnya di pundak, menyanyi di kamar tidur saat malam, dan membacakan buku dongeng sebelum tidur. Mereka juga akan rajin melakukan kegiatan kecil bersama seperti, pergi piknik setiap akhir pekan, makan mie ayam favorit di sudut gang, dan berswafoto dengan wajah konyol. Itu semua dulu. Sebelum Bima mulai berubah. Sebelum cinta mulai pudar. Sebelum Resa datang dan mengambil segala miliknya, merebut kebahagiannya. Dalam lamunannya, Arsya melihat bayangan masa itu seperti potongan film lama, samar, retak, dan menyakitkan. Ia melihat wajah Bima yang dulu penuh cinta, perlahan berubah menjadi dingin dan asing, seperti bukan Bima yang sebelumnya. Ia melihat dirinya sendiri tersenyum meski dihancurkan, berdiri meski dipukul berkali-kali oleh kenyataan. Hingga akhirnya, ia melihat momen paling kelam dan menyakitkan, jasad Reysa di kamar mayat rumah sakit. Mata anaknya terpejam, wajahnya pucat, tubuh mungilnya dibungkus kain putih. Arsya menjerit histeris dalam mimpinya. Air mata membanjiri wajahnya yang tertidur, bahkan dalam ketidaksadaran. Ketika kesadarannya perlahan kembali, Arsya mencium aroma antiseptik dan mendengar bunyi alat monitor berdetak pelan. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya terbaring di sebuah ranjang rumah sakit dalam ruangan hangat. Di sudut ruangan, seorang pria duduk dengan pakaian setengah basah, matanya terus menatap ke arahnya. “Syukurlah kamu sadar,” ucap pria itu, suaranya lembut tapi tegas. Ia perlahan berjalan ke tepi ranjang, mendekat pada Arsya. Arsya memandangnya dengan mata bingung, tak mengenalnya pria itu. Melihat kebingungan Arsya membuatnya memperkenalkan diri “Saya Yasa, saya yang… menarikmu dari jembatan tadi.” jelasnya. Arsya memalingkan wajah, malu dan marah pada dirinya sendiri. Tapi yang paling kuat adalah rasa hampa itu… yang selalu kembali, bahkan saat ia mencoba lari. Yasa tidak berkata-kata lagi. Ia kembali duduk pada sofa yang berada di sudut ruangan, memberi ruang untuk Arsya, Tidak mencoba menghakimi. Tidak mencoba memaksa. Ia hanya diam, tapi dengan kehadiran yang tidak menyakitkan. Dalam hati kecilnya, Arsya bertanya-tanya, Mengapa pria ini menghentikannya? Mengapa seseorang peduli padanya? Ia tidak tahu jawabannya. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah insiden yang membuatnya putus asa, Arsya tidak merasa benar-benar sendirian. Dan mungkin, itu adalah permulaan dari sesuatu. Sesuatu yang belum ia pahami. Sesuatu yang akan banyak mengubah hidupnya untuk selamanya.ห้าล้านสำหรับค่าตัวงั้นหรือ... เฮอะ ดีจริงๆ เมฆินทร์จ้องภรรยาตาเขม็งก่อนสอดฝ่ามือรั้งท้ายทอยเธอดึงเข้าหาด้วยแรงที่ไม่เบาเลย ดารินเผยอปากเตรียมสวดสามี แต่เขากลับไม่เว้นช่องว่างนั้นให้เธอได้เอื้อนเอ่ยคำใดขึ้นมาอีกการบดจูบที่เร่าร้อนแฝงไว้ด้วยอารมณ์ดิบเถื่อน ดารินเจ็บแปลบทั่วริมฝีปากนั่นเพราะคมเขี้ยวแหลมคมขบกัดอย่างแรงเรียวลิ้นร้ายเกี่ยวกระหวัดทั้งไล่ต้อนและดูดดุน น้ำลายและหยดเลือดถูกคละเคล้าด้วยกันจนได้รสชาติขมปร่าอบอวลในโพรงปาก เสียงเฉอะแฉะดังผสานอย่างต่อเนื่อง เป็นดารินที่ไม่อาจทนไหว เธอใช้มือดันหน้าสามีให้ออกห่าง“จูบหรือจงใจฆาตกรรมกันแน่” ถามหน้าบึ้งพลางใช้หลังมือเช็ดคราบน้ำลายออกจากขอบปากเมฆินทร์ยิ้มหยัน หากเขาฆ่าใครด้วยการจูบได้ เช่นนั้นเธอคงตายคาอกเขานับพันครั้ง“ตั้งห้าล้านเชียว เลือดออกนิดหน่อยทำบ่น” เขากดบั้นท้ายภรรยาไม่ให้ขยับเขยื้อนก่อนจะก้มหน้าลงอีกครั้ง ลิ้นชื้นปาดเลียตั้งแต่เนินอกลากยาวถึงยอดปทุมถันสีอ่อนจนมันลู่ไปกับผิวเนื้อ“อ๊า...” ดารินเชิดหน้าขึ้นหลุดเสียงครางแหบพร่าคนเจ้าเล่ห์เหลือบมองปลายคางมน ดวงตาคู่คมโค้งลงเป็นสระอิคล้ายถูกใจที่ทำเธอเสียการควบคุมได้ ยอดถัน
ดารินแต่งตัวภายในห้องน้ำ ด้วยเหตุนี้จึงไม่ได้ยินเสียงการเคลื่อนไหวด้านนอก เมื่อเปิดประตูออกมากลับพบว่า เธอไม่ได้อยู่เพียงลำพังกลิ่นเหล้าอ่อนๆ เจือกลิ่นน้ำหอมจากกายใหญ่แตะปลายจมูกสวย สายตาเธอกดต่ำมองเท้าเปลือยเลื่อนขึ้นไปยังไหล่กว้างของสามี เมฆินทร์นั่งเอนหลังบนขอบเตียง แขนทั้งสองข้างเท้ายันบนฟูกสปริงหกฟุต ใบหน้าคมคายยียวนสมเป็นเขานั่นแหละ จากสายตาดูแคลนที่จ้องมองมา เดาได้เลยว่าอีกฝ่ายคงไม่ได้มาดี“แค่มาอาบน้ำเดี๋ยวก็ไปแล้ว” เอ่ยบอกเสียงห้วนเมฆินทร์แสยะยิ้มมุมปาก “จะรีบไปไหนซะล่ะ นัดใครไว้เหรอแต่งตัวสวยเชียว” “ขอละคุณเมฆ อย่าชวนทะเลาะได้ปะ” เธอไม่พร้อมปะทะฝีปากในเวลานี้ เขาก็เหลือเกิน หายใจเข้าออกก็จ้องแต่จะหาเรื่องกัน ดารินเลิกสนใจสามี หยิบกระเป๋าตั้งใจจะไม่อยู่ทะเลาะกับเขาอีก แต่เสียงเข้มกลับเอ่ยขึ้นมาประโยคหนึ่ง“เธอยังไปไหนไม่ได้” มุมปากสวยกระตุกยิ้มหยัน เอี้ยวคอมองสามีที่นั่งหน้าระรื่นอยู่บนเตียง“มีสิทธิ์อะไรมาสั่งฉัน” “ว่าแล้วเชียวคนสวยต้องพูดคำนี้” เขาลุกจากเตียงก้าวเดินมายังภรรยา ดารินรู้สึกฉุนท่าทางสัพยอกนั้นเหลือเกินคิดจะมาไม้ไหนกันแน่แต่แล้วก็ต้องชะงัก เม
ภายในรถ ดารินกลืนน้ำตาตัวเองหลายอึก เธออธิบายทุกอย่างเท่าที่จะทำได้ให้ลูกชายทั้งสองเข้าใจ การันต์ไม่ชอบใจเลยยามเห็นแม่มีน้ำตา เด็กน้อยปีนขึ้นตักมารดาใช้หลังมือป้อมๆ เช็ดคราบน้ำตาออกให้อย่างแผ่วเบาดารินปล่อยโฮออกมาในที่สุด เธอกอดร่างนุ่มนิ่มไว้แนบแน่น รู้สึกเหมือนจะขาดใจตายเดี๋ยวนั้น“แม่...แม่ไม่ได้อยากให้เรื่องเป็นแบบนี้เลย พี่ภูมิ การันต์ แม่ขอโทษจริงๆ ถึงแม่จะไม่ได้อยู่บ้านหลังนี้แล้ว แต่เราก็ยังเจอกันเหมือนเดิมทุกวันนะ แม่จะไปรับที่โรงเรียนทุกวันเลยดีมั้ย เสาร์อาทิตย์เราก็ไปหาอะไรกินกันเหมือนเดิม”ภูมินทร์แม้เขาจะแค่เจ็ดขวบ แต่ก็พอทำความเข้าใจได้ และเขาไม่ได้โกรธแม่ แต่แค่ไม่เข้าใจว่าทำไม พ่อกับแม่ต้องหย่ากัน“แม่ไม่ได้รักพ่อแล้วเหรอครับ” เขาถาม“...” ดารินยกมือปาดน้ำตาออกจากใบหน้าก่อนจะตอบไปว่า“เรื่องนั้นมันไม่สำคัญหรอกพี่ภูมิ แม่อยากให้พี่ภูมิมั่นใจว่า แม่จะไม่ทอดทิ้งพวกหนูอย่างแน่นอน”อ้อมแขนของดาริน ใบหน้ากลมอิ่มซบอกมารดาแขนขาอ่อนเปลี้ยด้วยเจ้าตัวเข้าสู้ห้วงนิทราไปแล้วเธอกระชับอ้อมแขนมองเจ้าก้อนอย่างอ่อนใจ เด็กก็คือเด็กจริงๆ นั่นแหละ...“ทุกคืนต่อจากนี้จะไม่มีแม่แล
ดารินมารอรับลูกชายทั้งสามตามแผนการเดิมที่วางไว้ ในขณะเดียวกันเธอรู้สึกเจ็บแปลบบริเวณอกด้านซ้ายยามเห็นใบหน้ากลมแฉล้มเดินยิ้มแย้มมาแต่ไกล ริมฝีปากเธอสั่นระริก ยากเย็นเหลือเกินกว่าจะกลั่นกรองรอยยิ้มสดใสตอบรับพวกเขา“แม่มาแล้ววว” เสียงยานคางของการันต์พร้อมกับอ้อมแขนเล็กจิ๋วสวมกอดหน้าขามารดาแน่น ดารินยอบลงตัวปัดเส้นผมชื้นเหงื่อออกจากกรอบหน้ากลมอิ่มเรียวแขนเล็กดูบอบบาง ทว่าอุ้มการันต์ได้อย่างมั่นคง “คิดถึงจังเลยคนเก่งของแม่”ระหว่างเดินทางไปโรงพยาบาล ดารินถามไถ่เรื่องการเรียนของเจ้าแฝดไปพลางๆ และไม่นานหลังจากนั้นการันต์ที่นั่งคาดเข็มขัดอยู่เบาะหน้ากับมารดาก็เข้าสู่ห้วงนิทราด้วยความอ่อนล้า ดารินปรับเบาะให้ลูกชายเพื่อให้เจ้าตัวเล็กนอนได้ถนัดมากขึ้น ก่อนเอ่ยถามภูมินทร์กับภูเบศวร์ว่า“หิวหรือยังเด็กๆ แวะทานอะไรก่อนขึ้นไปเยี่ยมคุณยายไหม” ภูเบศวร์ “มีไก่ทอดมั้ยครับ”“ช่วงนี้อินกับไก่ทอดเหรอ” ภูมินทร์หันมองเสี้ยวหน้าน้องชายที่เกิดทีหลังเขาถึงสิบห้าวินาที“อือ อยากกิน”“พี่ภูมิล่ะเอาด้วยมั้ยคะ”“ภูมิเอาเนื้อน่องครับ เขาว่าเนื้อตรงนั้นนุ่มสุด”ภีมอ้าปากล้อเลียนพี่ชาย “เขาน่ะใครเหรอ” ไม