LOGINรักเก่าที่สุดช้ำ ถ้าจะมีรักครั้งต่อไปต้องดีกว่าเก่า ถ้าหาดีไม่ได้ฉันขอเป็นโสดตลอดไป มีคนเคยกล่าวไว้ว่าสิ่งที่แน่นอนอาจไม่แน่นอนเสมอไป ความรักที่ยังยืนอาจไม่ยังยืน…เพราะฉนั้นควรเตรียมใจไว้เสมอ เหมือนดัง นิสาที่คิดว่าครอบครัวของตัวเองนั้นอบอุ่นสมบรูณ์มีสามีที่ดีและมีลูกที่น่ารัก แต่แล้วทุกอย่างก็พังทะลายลงเพียงชัวข้ามคืน...เมื่อวันหนึ่งคนเป็นสามีเดินเข้ามาบอกเธอว่าเขาไม่ได้รักเธอแล้วและเขาต้องการที่จะหย่า แล้วเธอจะทำอะไรได้อีกเมื่อเขาอยากไปก็ต้องปล่อยให้เขาไปถึงแม้จะรักเขามากก็ตาม เพราะชีวิตต้องเดินหน้าต้องดูแลลูกสาวที่รักเพื่อที่จะให้เขาเติบโตเป็นผู้ใหญ่ที่ดี "สาเราหย่ากันเถอะ" " คุณ...คุณพูดว่าอะไรนะ ? " "ผมไม่ได้รักคุณแล้ว...ผมไม่อยากฝืนหรือหลอกตัวเอง และผมไม่อยากหลอกคุณอีกต่อไปแล้ว"
View MoreHappy reading dan jangan lupa kritik juga saran nya ya
Tidak ada yang pernah benar-benar siap menghadapi hari pertama kerja apalagi kalau pekerjaan itu menempatkanmu tepat di samping pria yang reputasinya lebih tajam dari pisau bedah: Arkana Rivard.
Gedung Aude’C Group menjulang tinggi di kawasan bisnis Sudirman. Dinding kacanya memantulkan langit Jakarta yang muram pagi ini. Orang-orang bersetelan formal bergerak cepat keluar-masuk lobi, seolah tidak ada ruang untuk kesalahan atau keterlambatan.
Dan di sanalah Narine Aldira berdiri, menggenggam map biru tua berisi dokumen onboarding dan kontrak kerjanya pekerjaan baru yang ia dapat hanya tiga hari setelah keluar dari perusahaan lamanya karena fitnah yang menjatuhkan namanya dalam semalam.
Brakk
"De cepetan dong katanya mau mandiri masa jam 7 belum siap-siap juga, kan ini hari pertama lo kerja" Pagi ku disambut dengan omelan 'Rajan' ya dia kakak ku satu satunya.
Dengan berjalan didepan ku dia masih terus mengomel tanpa henti "Lagian kenapa gak di perusahaan gue sih de, kan lebih praktis tu tinggal masuk terus ngintilin gue kemana pun"
"Justru itu yang gue gak mau, ogah banget ngintilin lu" jawabku ketus
“Nama?” tanya resepsionis formal di front desk tanpa senyum.
“Narine Aldira. Hari ini mulai bekerja,” jawabnya.
Resepsionis itu mengetik cepat, lalu mengangguk. “Divisi Sekretariat Eksekutif. Lantai 39. Pakai lift kanan.”
Ucapan ‘selamat datang’ tampaknya tidak tersedia di gedung ini. Bagus, pikir Narine. Profesional. Tanpa basa-basi. Cocok.
Begitu lift terbuka, suasana berubah drastis. Interior lantai 39 didominasi kayu walnut dan kaca gelap, dengan suasana sunyi tegang seperti ruang pengadilan. Karyawan berjalan cepat sambil menenteng iPad atau dokumen, nyaris tidak ada yang bicara.
Di dekat pintu masuk lantai, seorang wanita berponi pendek menyapanya cepat. “Kamu Narine? Saya Helena, sekretaris senior. Ikut saya.”
Tanpa menunggu jawaban, wanita itu memutar badan dan melangkah cepat. Narine mengikutinya.
“Saya akan kasih kamu briefing singkat,” kata Helena dengan nada efisien, seperti seseorang yang tidak punya waktu untuk berbasa-basi. “Kamu sekretaris pribadi Pak Arkana. Harus selalu siap dipanggil kapan pun. Termasuk kalau dia butuh kamu di luar jam kantor.”
Narine mengangguk. “Baik.”
“Nomor ponselmu harus aktif 24 jam.”
“Baik.”
“Jangan tanya dua kali kalau dia sudah menjawab sekali. Jangan ulangi kesalahan. Jangan pernah buat asumsi.”
Narine kembali mengangguk, tapi dalam hati bertanya apakah dia melamar sebagai sekretaris atau robot personal?
'Gue jadi sekretaris apa jadi babysitter nih masa 24 jam anjir'
Helena melanjutkan dengan suara lebih pelan, seakan kalimat berikutnya rahasia kantor yang tidak boleh terdengar oleh dinding. “Satu lagi. Ada tiga aturan utama bekerja dengan Mr. Arkana Rivard.”
Narine menatapnya.
“Pertama, jangan pernah telat kamu harus tepat waktu. Kedua, jangan pernah menunda instruksi. Ketiga-” Helena menatap langsung, “usahakan jangan pernah salah.”
Nada itu membuat Narine sedikit mengeraskan rahangnya. “Saya bisa mengikuti standar kerja tinggi. Itu bukan masalah, kak.”
Helena tersenyum tipis. “Bukan standar kerja yang jadi masalah. Orangnya.”
Maksudnya apa?
Tapi sebelum Narine sempat bertanya, pintu ruang eksekutif terbuka. Seorang pria keluar dengan wajah memucat, memegang dokumen yang tampaknya baru saja dikoreksi. Kemeja birunya basah oleh keringat meski lantai ini ber-AC dingin.
Dia membisik pada Helena sebelum pergi, “Dia kenapa kayak bukan manusia.”
Helena hanya menepuk bahunya. “Dia masih hidup, ada-ada aja kamu”
Narine hampir tertawa sampai seseorang lewat di hadapannya.
Langkah panjang, jas hitam slim fit, aura tenang yang berbahaya. Sorot mata tajam. Rahang keras. Rambut hitam rapi sedikit berantakan seolah disentuh angin pagi. Arkana Rivard. Bahkan tanpa diperkenalkan pun semua orang akan tahu: dialah pusat gravitasi lantai ini.
Udaranya berubah saat pria itu lewat. Beberapa staf langsung menunduk. Ada yang pura-pura sibuk. Ada yang menahan napas. Sementara Narine berdiri diam.
Arkana nyaris melewatinya, tapi kemudian berhenti. Menoleh. Menatap Narine sebentar dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Bukan tatapan menggoda. Bukan juga tatapan ramah. Lebih mirip evaluasi instan dan dingin.
“Orang baru,” katanya datar pada Helena.
“Ya, ini Narine Aldira, sekretaris-”
“Follow me,” potong Arkana.
Begitu saja. Tanpa kata perkenalan, tanpa salam. Ia berbalik dan berjalan. Narine refleks mengikuti. Helena memberi isyarat halus, cepet ikutin.
Ruang kerja Arkana berada di sisi paling ujung. Pintu kacanya tertutup, dan saat terbuka otomatis, Narine langsung merasa masuk ke tempat dengan tekanan oksigen lebih rendah.
Tidak ada foto pribadi. Tidak ada dekorasi. Hanya kesempurnaan dingin rak buku hitam, meja kerja walnut besar, dan pemandangan Jakarta dari dinding kaca.
“Sit,” katanya pendek, tanpa melihat ke arah Narine yang masih berdiri. Ia membuka iPad dan file digital.
Narine duduk. Diam. Menunggu.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tidak ada suara selain suara notifikasi e-mail yang sesekali terdengar dari perangkat Arkana. Narine ingin bicara tapi tak punya alasan.
Akhirnya, pria itu angkat wajah.
“Saya tidak akan bicara dua kali,” ucapnya tiba-tiba.
Narine menatapnya heran. “Maaf?”
“Saya tidak ulangi instruksi,” ulangnya, datar.
“Sa-saya belum menerima—”
“Kamu sekretaris. Artinya kamu harus cepat tanggap. Mengerti?”
Narine menahan napas. Wow. Ini baru tiga menit bertemu, dan pria ini sudah membuatnya ingin melempar binder.
“Baik,” jawabnya singkat.
“Bagus.” Arkana menggeser iPad-nya. “Jadwal saya hari ini.”
Agenda itu muncul di layar yang diarahkan padanya penuh rapat, penuh negosiasi, penuh panggilan bisnis.
“Tugas pertama,” kata Arkana. “Siapkan dokumen kontrak dan proyeksi final untuk meeting jam sepuluh. Pastikan setiap lembar rapi, highlight poin negosiasi, dan tanda tangan direktur legal sudah ada sebelum pukul sembilan empat puluh.”
Narine mengecek jam tangannya. 08.52.
Sisa 48 menit?
“Dokumennya ada di server. Cari folder ‘Confidential’, subfolder ‘Aurum Merger’,” lanjut Arkana.
Narine mencatat cepat. “Passwordnya?”
Arkana menatapnya lama lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak ramah. Lebih mirip tantangan.
“Cari tau. Kalau kamu pantas duduk di ruangan ini, kamu harus bisa menemukan semuanya.”
Mendengar itu Narine hanya bisa tersenyum lebar dan bergumam dalam hati
'Akhhhhhh! gila ni orang yang punya password kan dia, gitu aja suruh gue yang mikir'
บ่ายวันอาทิตย์ที่แสนสดใส ภายในคฤหาสน์นราวิชญ์ดูจะคึกคักเป็นพิเศษ โดยเฉพาะเจ้าของห้องนอนเล็กอย่าง น้องกวิน ที่วันนี้ลุกขึ้นมาแต่งหล่อตั้งแต่ไก่โห่ เด็กน้อยตัวอ้วนกลมในวัย 8 ขวบ สวมเสื้อเชิ้ตลายสกอตทับด้วยสเวตเตอร์สีครีม ดูสะอาดสะอ้านและหล่อเหลาถอดแบบปะป๊าวิชมาเป๊ะ ๆ"ปะป๊าครับ ผมเซตผมตรงนี้หล่อหรือยัง" กวินเอ่ยถามพลางส่องกระจกเช็กความเรียบร้อยรอบที่สิบ"หล่อแล้วครับลูกพี่ แต่นี่เรานัดสาวมาบ้านนะ ไม่ได้ไปงานพรมแดง ใจเย็น ๆ ลูก" วิชหัวเราะร่าพลางตบบ่าลูกชายเบา ๆทันทีที่เสียงรถของครอบครัวณัฎเลี้ยวเข้ามาในรั้วบ้าน กวินก็แทบจะพุ่งตัวออกไปรอที่ประตูหน้าบ้านทันที นิสาที่เดินอุ้มเจ้าตัวเล็กลูกชายคนรองที่เพิ่งลืมตาดูโลกได้ไม่นานเข้ามาในบ้าน โดยมี น้องลูกขวัญ เดินจูงมือของพ่ออย่างณัฎตามเข้ามาด้วยท่าทางเขินอาย"น้องลูกขวัญครับ! พี่กวินซื้อดอกไม้มาฝาก"กวินวิ่งเข้าไปหาเป้าหมายทันที พร้อมกับชูดอกกุหลาบสีแดงสดที่เขาอ้อนวอนให้ปะป๊าพาไปซื้อจากหน้าโรงเรียนเมื่อวานนี้ส่งให้เด็กหญิงตัวน้อย น้องลูกขวัญรับดอกไม้ไปด้วยท่าทางเก้อเขินก่อนจะขอบใจเบา ๆ ทำให้พี่กวินยิ้มแก้มปริจนเห็นลักยิ้มภาพเด็กสองคนจูงมือกัน
สามเดือนต่อมา... กาลเวลาหมุนผ่านนำพาความสุขมาสู่ชายหาดสีครามที่อบอวลไปด้วยกลิ่นไอรัก รดาในชุดเจ้าสาวแสนสวยเดินเคียงคู่มากับนราวิชญ์ เจ้าบ่าวที่ยิ้มกว้างอย่างมีความสุขที่สุดในชีวิต โดยมีไอ้ต้าวตัวอ้วนกลมอย่าง น้องกวิน ในชุดสูทจิ๋วรับหน้าที่สำคัญเป็นผู้เชิญแหวน เดินเตาะแตะนำหน้าด้วยท่าทางขึงขังจนแขกเหรื่อต่างพากันเอ็นดูในกลุ่มแขกเหรื่อที่มาร่วมยินดี นิสา เพื่อนรักของรดาเดินควงคู่มากับ ณัฎ สามีของเธอ พร้อมกับลูกสาวตัวน้อยอย่างน้องลูกขวัญ ถึงแม้นิสากำลังตั้งครรภ์อ่อนๆ จนดูอิดโรยไปบ้าง แต่ใบหน้าเธอกลับประดับด้วยรอยยิ้มกว้าง"ดีใจด้วยนะรดา ในที่สุดแกก็มีความสุขจริงๆ เสียที" นิสาเอ่ยพลางกุมมือเพื่อนรักไว้แน่นขณะรดามองเพื่อนอย่างซึ้งใจ เพราะไม่คาดคิดว่าเพื่อนจะมางานของตัวเองก็ดูสิเพื่อนของเธอแพ้ท้องจนใบหน้าซีดเซียวเหมือนคนไม่มีแรงยังอุตส่าห์ หอบตัวเองมาร่วมงานอีก "ขอบใจมากนะนิสาที่อุตส่าห์มา ทั้งที่ยังแพ้ท้องอยู่แท้ๆ รดาเกรงใจจังเลย""เกรงใจอะไรกัน เพื่อนรักแต่งงานทั้งที ต่อให้แพ้ท้องจนเดินไม่ไหว ฉันก็นั่งรถเข็นมาหาแกจนได้แหละ!" นิสาบอกปนขำ ทำเอาสองสาวหัวเราะออกมาพร้อมกันในขณะที่ผู้ใหญ่กำล
ทันทีที่ถึงคอนโด นราวิชญ์ก็ไม่ยอมเสียเวลาแม้แต่วินาทีเดียว เขาจัดการช้อนอุ้มร่างบางขึ้นในวงแขนกว้างแล้วสาวเท้าฉับๆ ตรงดิ่งเข้าห้องนอนด้วยความเร็วสูงจนรดาตั้งตัวไม่ทัน ทว่าทันทีที่แผ่นหลังบางสัมผัสกับความนุ่มของที่นอน คนตัวเล็กก็รีบเบี่ยงตัวหลบสัมผัสร้อนแรงนั้นทันควัน"ไหนว่าจะเล่าให้ฟังไงคะ! ตั้งแต่ขึ้นรถจนถึงห้อง พี่วิชยังไม่ยอมเล่าสักคำเลยนะคะ" รดาเอ่ยท้วงเสียงหลงพลางใช้มือยันหน้าอกเขาไว้ "ตกลงพี่รู้เรื่องที่สามีเขาตามมาได้ยังไง""โธ่... รดาครับ ขอพี่ก่อนได้ไหม พี่อยากทำรักกับรดาจะแย่แล้วเนี่ย”คนหน้าหล่อเอ่ยบอกเสียงอ้อนวอนใบหน้าที่ดี้ด้าในคราวแรกกับเศร้าสร้อยราวกับเด็กถูกขัดใจ แต่รดากลับลุกขึ้นนั่งตัวตรงกอดอก ใบหน้าหวานเชิดขึ้นเล็กน้อยอย่างคนถือไพ่เหนือกว่า"ถ้าไม่เล่าให้ฟังตอนนี้ ก็เชิญพี่วิชกลับไปนอนที่บ้านเลยค่ะ! รดาจะล็อกห้องด้วย" เธอสั่งเสียงเข้มพลางชี้นิ้วไล่ไปทางประตู"โอเคครับๆ เล่าแล้วครับ ยอมแพ้แล้ว" วิชหัวเราะออกมาอย่างเอ็นดูพลางเอื้อมมือไปบีบจมูกรั้นๆ ของคนช่างซักอย่างหยิกแกมหยอกนราวิชญ์จำต้องยอมจำนน เขาขยับขึ้นไปนั่งพิงหัวเตียงแล้วรั้งร่างบางเข้ามากอดไว้ในอ้อมอก ก่อนจ
ภายในห้องทำงานชั้นบนสุดของตึกระฟ้าใจกลางเมือง บรรยากาศเต็มไปด้วยความกดดันจนน่าอึดอัด นราวิชญ์ ประธานหนุ่มผู้นิ่งขรึมนั่งอยู่หลังโต๊ะทำงานไม้ตัวใหญ่ ใบหน้าหล่อเหลาบัดนี้เรียบเฉยทว่านัยน์ตากลับวาวโรจน์ด้วยรังสีคุกคาม เขาต่อสายเรียก ‘ชัย’ ลูกน้องคนสนิทให้เข้ามาพบทันที"ไปสืบเรื่องวิไลลักษณ์มาให้ละเอียดที่สุด... ฉันต้องการรู้ทุกย่างก้าวของเขานับตั้งแต่ทิ้งกวินไปจนถึงวินาทีที่เหยียบสนามบินสุวรรณภูมิ หาจุดอ่อนของเขามาให้ได้!" น้ำเสียงทุ้มสั่งการเฉียบขาดขณะลูกน้องคนสนิทรับปากก่อนจะเดินออกไปทำงานตามที่เจ้านายสั่งเพียงไม่กี่ชั่วโมง ร่างสูงของชัยก็กลับเข้ามาพร้อมซองเอกสารสีน้ำตาลหนาปึก ข้อมูลภายในทำให้รอยยิ้มเย็นเยือกปรากฏขึ้นบนมุมปากของนราวิชญ์ทีละน้อย"ได้เรื่องแล้วครับนาย... เรื่องที่เธออ้างว่าเลิกกับสามีฝรั่งเพราะเข้ากันไม่ได้น่ะเรื่องโกหกทั้งนั้น จริงๆ แล้วเธอไปแอบมีชู้เป็นหนุ่มบาร์จนสามีมหาเศรษฐีชาวเยอรมันจับได้ รายนั้นโหดเอาเรื่องครับ เขาซ้อมเธอจนปางตายแล้วสั่งขังไว้ในคฤหาสน์ตัดขาดการติดต่อทุกทาง"ชัยรายงานและเว้นวรรคเล็กน้อยก่อนจะขยับแว่นตา "แต่เมื่อเดือนก่อน เธออาศัยจังหวะที่การ์ดเผลอ





