LOGIN"เมื่อดวงชะตาเล่นตลก แต่ความรักดันตกฟากมาที่เธอ" "จะเกิดอะไรขึ้น เมื่อบอสที่ไม่เชื่อเรื่องดวงต้องมาติดหนึบกับเจ้าแม่สายมู...ในร่างเดียวกัน"
View MoreJuned menatap kosong selembar surat PHK di atas meja kayu yang mulai kusam. Bayangan wajah istrinya dan suara Desi yang penuh nyinyir kembali melintas di benaknya.
Denting notifikasi ponsel mengalihkan perhatiannya pada sebuah pesan gambar dari temannya. Matanya membelalak melihat foto Desi yang sedang mendorong troli belanja bersama Andre di sebuah minimarket. Rahang Juned mengeras. Sudah enam bulan istrinya bekerja di Jakarta. Namun, ia tak menyangka kalau foto itu diterima. Foto yang dikirimkan supir di rumah majikan istrinya membuatnya naik pitam. Jari Juned bergetar saat meneruskan foto tersebut ke nomor W******p istrinya untuk meminta penjelasan. Ia menunggu dengan perasaan tidak keruan sampai status pesan tersebut berubah menjadi biru. "Ini maksudnya apa, Des?" tanya Juned melalui pesan singkat. Tak butuh waktu lama, balasan dari Desi muncul dengan nada yang sangat ketus dan seolah tanpa dosa. "Apa sih! Aku diajak belanja doang buat keperluan nyonya!" balas Desi di layar ponsel. Juned memejamkan mata sejenak, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya karena dikhianati seperti ini. Ia segera membalas pesan itu untuk mengingatkan statusnya sebagai suami yang sah. "Tapi Des, aku ini kan suamimu," balas Juned lagi. “Andre mantan kamu, kan?” Desi tak menjawab. “Sejak kapan Andre di Jakarta?” Desi tidak berhenti menyerang, ia justru mengirimkan balasan yang jauh lebih menyakitkan hati Juned. “Bukan urusan kamu! Aku disini tuh kerja! Gausah pikir aneh-aneh!” "Kamu nggak becus nyari duit! Segala kena PHK! Bikin malu aku aja!" bentak Desi lewat pesan tersebut. “Masih mending aku kerja di Jakarta!” “Mau makan darimana kalau gak ada duitnya!” Juned melempar ponselnya ke kasur dan memilih untuk mengakhiri perdebatan yang hanya menguras emosinya itu. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar bisa berpikir lebih jernih. "Sabar, Juned. Pasti ada jalan lain," batinnya sambil menyalakan keran air. Baru saja selesai berpakaian, ponsel Juned kembali berdering nyaring menampilkan temannya di layar. Teman senasibnya. "Ned, gue ada lowongan jadi supir di Jakarta. Lu kan bisa nyetir, mau nggak?" tanya Wahyu dari seberang telepon. Mendengar tawaran itu, semangat Juned yang sempat padam kini perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Juned tersenyum girang, pasalnya ia memang butuh uang. Meskipun belum memiliki anak dengan Desi, bukankah ia juga harus membahagiakan istrinya segera? Belum lagi hatinya kian tak tenang istrinya tak pulang-pulang. Bisa sekalian jemput istrinya pulang kan di Jakarta? Benar. Juned mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa seolah baru saja mendapatkan napas baru di tengah himpitan masalah. Ia merasa tawaran kerja ini adalah jawaban tuhan setelah istrinya sendiri mencampakkannya begitu saja. "Akhirnya ada jalan keluar juga," gumam Juned sambil mulai mengemas pakaiannya ke dalam tas. Juned memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas ranselnya dengan gerakan cepat. Tanpa ragu, ia mengetik pesan singkat untuk istrinya sebelum benar-benar meninggalkan rumah kontrakan mereka. "Aku mau kerja ke Jakarta," tulis Juned singkat di layar ponselnya. “Tunggu aku bawa kamu pulang.” Ia langsung menyampirkan tas ke bahu dan berjalan menuju jalan raya tanpa mempedulikan apakah pesannya akan dibalas atau tidak. Tekadnya sudah bulat untuk membuktikan bahwa dirinya bisa sukses meski baru saja dihina oleh istrinya sendiri. “Akan aku buktikan, Desi." gumam Juned sambil menaiki bus jurusan kota. Setelah perjalanan memakan waktu seharian, bus akhirnya berhenti di terminal kota yang tampak sangat ramai dan bising. Juned segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomor calon majikannya yang diberikan oleh temannya. "Selamat malam, Bu. saya Juned yang ingin bekerja menjadi supir. Apa saya bisa datang malam ini atau tunggu besok pagi saja?" tanya Juned dengan nada bicara yang sangat sopan. Di seberang telepon, suara seorang wanita terdengar memberikan jawaban yang membuat hati Juned merasa sedikit lega. Ternyata calon majikannya tidak keberatan jika ia langsung datang ke lokasi pada malam itu juga. "Datang saja malam ini, saya ada di rumah kok," jawab suara wanita tersebut dari balik telepon. Juned langsung mencari pengemudi ojek yang sedang mangkal di pinggir terminal untuk mengantarnya sesuai alamat. Ia merasa sangat bersemangat dan tidak sabar untuk memulai hidup barunya di kota besar ini. "Pak, ke alamat ini ya. Tolong agak cepat sedikit," ucap Juned sambil menyerahkan ponselnya yang menunjukkan peta lokasi. Juned berdiri mematung di depan gerbang tinggi yang menjulang, menatap bangunan megah di hadapannya dengan rasa tidak percaya. Ia menekan bel di samping pagar beberapa kali hingga seorang wanita muncul dari balik pintu utama. "Kamu Juned ya? Silahkan masuk," ucap wanita itu seraya membukakan pagar. Juned terpana melihat sosok di depannya yang mengenakan daster tipis mewah dengan lekuk tubuh yang sangat jelas terlihat. Ia segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan rasa gugupnya namun tetap melangkah mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah. Juned memejamkan matanya, ingat dirimu Juned! Wanita itu berjalan dengan anggun membelakangi Juned, membiarkan aroma parfumnya memenuhi ruangan yang mereka lewati. Ia sesekali menoleh sedikit untuk memastikan supir barunya itu tidak tertinggal jauh di belakang. "Dari kampung jam berapa, Ned?" tanya Wanita itu tanpa menghentikan langkahnya. Juned berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar gemetar sambil matanya tetap tertuju pada pinggul Wanita itu yang bergoyang pelan. "Dari jam sembilan, Nyonya," jawab Juned dengan nada bicara yang sopan. "Hmmm.. Jauh juga ya." Jawab Wanita itu sambil menoleh ke arah Juned. Mereka tiba di ruang tamu luas yang diisi dengan perabotan mahal. Wanita itu mempersilahkan Juned untuk duduk di salah satu sofa empuk sementara ia sendiri mengambil posisi tepat di hadapan Juned. "Silakan duduk," ucap Ratna sambil menyilangkan kakinya dengan santai. Juned segera meletakkan tas ranselnya di lantai dan duduk dengan posisi yang sangat kaku di ujung sofa. "Baik, Nyonya. Terima kasih," sahut Juned pelan. "Nama saya Ratna, saya pemilik rumah ini," ucap wanita itu memperkenalkan diri dengan nada suara yang tenang. Juned mengangguk sambil berusaha menjaga pandangannya agar tetap sopan meski daster tipis itu terus mengalihkan fokusnya. "Tugasmu di sini antar jemput saya dan anak saya, Maudy," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat. "Di rumah ini hanya ada saya dan Maudy, anak saya. Mbak bebersih rumah dan masak cuma di siang hari. Tugasmu disini antar jemput kami dan melayani semua kebutuhan kami," jelas Ratna sambil menatap Juned lekat-lekat. "Jadi, kamu harus memastikan kalau tubuhmu selalu dalam kondisi bugar dan ... kuat."บรรยากาศ ณ คฤหาสน์ตระกูลวรโชติเมธีในเช้าวันมงคลช่างดูราวกับสรวงสวรรค์บนดิน แสงทองอร่ามของอาทิตย์อุทัยอาบไล้ไปทั่วสนามกอล์ฟหมื่นล้านที่บัดนี้ถูกเนรมิตให้กลายเป็นอาณาจักรแห่งความรักที่ผสานความเนี๊ยบระดับลักชูรีเข้ากับศาสตร์แห่งสิริมงคลอย่างลงตัว ตามคำสั่งของ ปราบ และการกำกับดูแลของ โลมา เลขาสาวที่บัดนี้กำลังจะก้าวขึ้นเป็น "นายหญิง" อย่างเต็มตัวพิธีเช้า: มงคลแฝดและด้ายสายสิญจน์แห่งโชคชะตาฤกษ์นพเก้า เวลา 09.09 น. คือเวลาที่ซินแสและหลวงตาเห็นพ้องว่าเป็น "ฤกษ์มังกรคาบแก้ว" ขบวนขันหมากของปราบเคลื่อนผ่านกรีนสนามกอล์ฟอย่างยิ่งใหญ่ เสียงกลองยาวประยุกต์ดังประสานไปกับเสียงลมหวีดหวิวที่พัดพาเอากลิ่นดอกมะขามหอมชื่นใจมาเป็นระยะปราบในชุดไทยประยุกต์สีเทาเงิน ตัดเย็บด้วยผ้าไหมปักธงชัยชั้นเลิศ ดูสง่างามสมเป็นผู้นำทัพธุรกิจ เขาเดินผ่านประตูเงินประตูทองที่กั้นโดยเหล่าพนักงานสนามกอล์ฟที่ยิ้มแย้มแจ่มใส จนกระทั่งถึงประตูสุดท้ายที่ ชัย และคนสนิทกั้นไว้ด้วยสายสิญจน์ถักทอง"บอสครับ... อยากผ่านประตูนี้ ต้องบอกก่อนว่าต่อจากนี้ใครจะเป็นใหญ่ในบ้านครับ" ชัยเอ่ยเย้าปราบยิ้มมุมปาก แววตาคมกริบแต่เปี่ยมสุขมองไปที่ห้
ท่ามกลางสวนกุหลาบสีขาวบริสุทธิ์ที่ส่งกลิ่นหอมฟุ้งตัดกับไอเย็นยามเช้า ปราบ ในชุดสูทสีน้ำเงินเข้มเนี้ยบกริบทุกระเบียดนิ้วยืนรอ โลมา อยู่ตรงซุ้มไม้เลื้อยที่เขาจัดเตรียมไว้เป็นพิเศษ ชายหนุ่มสูดลมหายใจเข้าลึกเพื่อเรียกความมั่นใจ แววตาที่เคยแข็งกร้าวในโลกธุรกิจบัดนี้อ่อนโยนลงอย่างเห็นได้ชัดเมื่อโลมาเดินเข้ามาในชุดเดรสสีครีมละมุนตา ยังมีสไตล์ของตัวเอง ห้อยสร้อยคอ แม้กระทั่งข้อมือ เธอชะงักไปเล็กน้อยเมื่อเห็นบอสหนุ่มยืนนิ่งพร้อมรอยยิ้มที่เธอไม่ค่อยได้เห็นบ่อยนัก"บอสจ๊ะ... เรียกหนูมาที่สวน มีงานด่วนอะไรหรือเปล่าจ๊ะ" โลมาถามพลางพยายามสังเกตทิศทางลมตามสัญชาตญาณ"ไม่มีงานด่วนครับ... แต่มีเรื่องสำคัญกว่างาน" ปราบเดินเข้ามากุมมือเล็กของเธอไว้ "โลมา... ที่ผ่านมาชีวิตผมเหมือนอยู่ในเขาวงกต ผมหลงทาง ผมสับสน และเกือบจะเสียศูนย์ไปหลายครั้ง""แต่เป็นคุณที่คอยดึงผมไว้ คอยเป็นแสงสว่าง... และเป็นความโชคดีที่สุดในชีวิตของผม"ปราบค่อย ๆ คุกเข่าลงข้างหนึ่งท่ามกลางความตกตะลึงของเลขาสาว เขาหยิบกล่องกำมะหยี่สีแดงสดออกมา เปิดออกให้เห็นแหวนเพชรน้ำงามที่ล้อมด้วยทับทิมสีแดงเข้ม"ผมไม่ได้เลือกแหวนวงนี้เพียงเพราะมันสว
ปราบจอดรถตนเองทิ้งไว้ห่างจากจุดหมายร่วมร้อยเมตร เขาไม่ได้รอสัญญาณจากชัยหรือกำลังตำรวจที่กำลังตามมา เพราะทุกวินาทีที่เสียไปหมายถึงลมหายใจของโลมาที่สั้นลง ชายหนุ่มก้าวเดินฝ่าพงหญ้าท่ามกลางความมืดมิด มีเพียงแสงจันทร์รำไรที่ลอดผ่านหมู่เมฆทึบ"ทางนี้... อ้อมไปทางซ้ายสิไอ้หนุ่ม อย่าเดินดุ่ม ๆ เข้าไปตรงกลาง มันตั้งศูนย์เล็งแกอยู่"เสียงกระซิบของ เจ้าแม่มะขามทอง ดังแว่วมากับสายลมเย็นเยียบ ปราบชะงักฝีเท้าแล้วหมอบตัวลงต่ำตามคำเตือนทันที ใจเขาเต้นระรัวจนแทบจะหลุดออกมาจากอก แต่ความเยือกเย็นที่ฝึกฝนมาทำให้เขายังคุมสติได้"ขอบพระคุณครับเจ้าแม่" ปราบพึมพำ ก่อนจะค่อย ๆ ลัดเลาะไปตามแนวพุ่มไม้ขรุขระ จนกระทั่งเขาเห็นเงาตะคุ่มของโขดหินใหญ่และแสงไฟฉายที่วางทิ้งไว้บนพื้นดิน"อาขจร ผมมาแล้ว" ปราบตะโกนก้องพลางก้าวออกมาจากเงามืดอย่างองอาจ เขาชูมือขึ้นเหนือศีรษะเพื่อแสดงว่าเขาเดินเข้ามาเพียงคนเดียวและไม่มีอาวุธในมือ "ผมมาตัวเปล่า โลมา ปล่อยโลมาซะ"ขจร ที่นั่งพิงโขดหินอยู่สะดุ้งสุดตัว เขาใช้แขนล็อกคอ โลมา ให้ลุกขึ้นยืนพลางถอยหลังหนี กระบอกปืนในมือสั่นระริกแต่ยังคงกดแน่นอยู่ที่ขมับของหญิงสาว"มาคนเดียวจริง ๆ ด้
ท่ามกลางความมืดมิดของคืนที่ไร้ดาว ท้ายสนามกอล์ฟซึ่งเป็นเขตป่าละเมาะรอยต่อกับพื้นที่รกร้างกลายเป็นสมรภูมิแห่งความแค้น ขจร ในสภาพที่เหมือนคนเสียสติ ผมเผ้ายุ่งเหยิงและนัยน์ตาแดงก่ำจากการไม่ได้นอน นั่งกำปืนในมือแน่นอยู่ข้างหลังโขดหินใหญ่ เขาใช้โทรศัพท์ของลูกน้องคนสนิทส่งข้อความลวงหา โลมา โดยอ้างว่า “บอสปราบถูกจับตัวมาที่ท้ายสนามกอล์ฟ มีคนงานได้รับบาดเจ็บสาหัส รีบมาช่วยด่วน ห้ามแจ้งตำรวจไม่งั้นบอสไม่รอด”เสียงแจ้งเตือนข้อความที่ดังขึ้นท่ามกลางความเงียบในห้องทำงาน ทำให้ โลมา สะดุ้งสุดตัว เธอรีบคว้าโทรศัพท์ขึ้นมาดูด้วยลางสังหรณ์บางอย่าง และเมื่อเห็นข้อความจากเบอร์แปลก ดวงตาจิ้มลิ้มก็เบิกกว้างด้วยความตกใจ"บอส บอสจ๊ะ" โลมาอุทานเสียงสั่น มือเล็กๆ สั่นเทาขณะรัวนิ้วพิมพ์ตอบกลับไปอย่างรวดเร็ว'บอสเป็นยังไงบ้าง ใครจับไป ตอนนี้อยู่ที่ไหนจ๊ะ ตอบหนูหน่อย'เธอกดส่งซ้ำแล้วซ้ำเล่า แต่หน้าจอที่เงียบสนิทกลับไม่มีข้อความใดตอบกลับมา มีเพียงเครื่องหมายว่าข้อความถูกอ่านแล้ว ยิ่งทำให้ความกังวลทวีคูณจนแทบหายใจไม่ออก โลมาเดินวนเวียนอยู่กลางห้อง ใจหนึ่งอยากจะโทรแจ้งตำรวจ แต่อีกใจก็กลัวเหลือเกินว่า "ชีวิต" ของคนท
ตอนที่ 53 : สัมผัสที่หกของโลมาช่วยไว้ท่ามกลางความเงียบงันของค่ำคืนที่ดูเหมือนจะสงบสุข ภายใต้เงาตึกระฟ้าใจกลางเมือง นลิน นั่งจ้องมองหน้าจอโน้ตบุ๊กด้วยดวงตาที่แดงก่ำจากการไม่ได้พักผ่อน แสงสีฟ้าจากหน้าจอสะท้อนใบหน้าที่อาบไปด้วยความพยาบาท เธอตัดสินใจกด 'ส่ง' ไฟล์ข้อมูลมหาศาลที่แอบเจาะและรวบรวมไว้ผ่านท
ทันทีที่สิ้นคำกล่าว ลมที่เคยพัดกระโชกกลับหยุดนิ่งลงอย่างน่าอัศจรรย์ แสงแดดรำไรสาดส่องลงมาที่ตัวโลมาและปราบจนดูราวกับมีออร่าสีทองล้อมรอบ ตาบุญที่เคยยืนด่ากลับนิ่งอึ้งไป เพราะเขาเห็น "งูจงอางเผือก" ตัวเขื่องที่ชาวบ้านนับถือว่าเป็นบริวารเจ้าที่ เลื้อยออกมาจากโพรงใต้ต้นไทร แต่มันไม่ได้พุ่งฉกกลับหมอบนิ่
บรรยากาศที่เคยสดใสในห้องทำงานของปราบกลับกลายเป็นตึงเครียดขึ้นมาอีกครั้ง เมื่อประตูห้องถูกเปิดออกโดยชายวัยกลางคนท่าทางภูมิฐาน ท่วงท่าการเดินเต็มไปด้วยอำนาจและความกดดันจนพนักงานหน้าห้องต่างพากันก้มหน้าหลบสายตา คุณปรีดา พ่อของปราบ เดินทางกลับจากต่างประเทศทันทีที่ทราบข่าวเรื่องความวุ่นวายในสนามกอล์ฟ แล
คืนนั้น ท่ามกลางความเงียบสงัดของคฤหาสน์ ปราบนั่งอยู่บนเตียงกว้างในห้องนอนของเขา เขาเปิดประตูเชื่อมระหว่างระเบียงทิ้งไว้เพื่อให้ได้ยินเสียงพึมพำแผ่วเบาจากห้องข้างๆ เสียงโลมาสวดมนต์ชินบัญชรด้วยน้ำเสียงใสๆ มันทำให้เขารู้สึกสงบอย่างประหลาดเขาหยิบด้ายแดงที่ข้อมือขึ้นมาลูบเบา ๆ แม้ตอนนี้จะกลับร่างเดิมแล




![พิศวาสรักลูกหนี้ (NC20+) [ซีรีส์ พิศวาสรัก 1/4]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
