Masuk"สวยแบบนี้ค่าตัวเท่าไรล่ะ ผู้ชายโต๊ะนั้นให้คุณเท่าไร ผมจ่ายให้มากกว่าสองเท่า"ธรรศธรเอ่ยระราน "นี่คุณ ถ้าคุณเมาก็กลับไปซะ อย่ามายุ่งกับฉัน"มณีรินทร์ยังควบคุมอารมณ์ได้ดี แม้ภายในใจจะเริ่มหวาดกลัว "ปล่อย!"หญิงสาวเริ่มดิ้นหนักขึ้น เมื่อฝ่ามือใหญ่เริ่มไม่อยู่นิ่ง ธรรศธรเริ่มลูบไล้สีข้าง และสะโพกแน่นกลมกลึงอย่างมันมือ อกอวบอิ่มเบียดเข้าหาอกกว้าง เอวเล็กเบียดอยู่กับช่วงเอวสอบที่มีกล้ามเนื้อแน่นแบบคนที่ออกกำลังกายเป็นประจำ จากตอนแรกที่คิดจะแกล้งให้เธอกลัว กลับกลายเป็นความต้องการแบบที่ธรรศธรเองก็ยังไม่เข้าใจตัวเอง "ร้อนแรงอย่างนี้นี่เล่าพุฒิพัฒน์ถึงได้หลงจนหัวปักหัวปำ" "ปล่อย! ฉันบอกให้ปล่อยช่วย!..."เสียงตะโกนขาดหาย เมื่อริมฝีปากหนาฉกลงมาปิดปากอิ่ม มณีรินทร์เองก็นึกไม่ถึงว่าจะถูกคนแปลกหน้าคุกคามเธอแบบนี้ ความกลัวเริ่มเข้าเกาะกุมหัวใจ
Lihat lebih banyakJam dua siang, tapi langitnya gelap seperti sudah pukul setengah enam. Hujan baru saja turun dengan deras, lebatnya bukan main, sampai membuat ibuku modar-mandir melongok keluar jendela, takut bakal ada pohon yang tumbang . Maklum saja, di sekeliling gubuk kami memang ditumbuhi pohon alba yang menjulang. Mereka Jammeliuk ditiup angin yang lumayan berhembus kencang. Daun-daun kuning pada rontok, menambah pekerjaan menyapu untuk esok pagi.
Aku mengintip kedalam ruang tidur adikku yang remang. Ia tengah berbaring dalam gumpalan seprai yang ia jadikan selimut, meringkuk layaknya kepompong yang lucu. Kami sedang bertengkar, entah apa salahku tapi ia sudah mendiamkan ku selama dua hari. Jadi aku tidak bisa mendekat untuk berbaring bersamanya, atau sekedar membenarkan selimutnya yang berantakan. Dia benar-benar bisa sangat aktif ketika sedang tidur, aku sering dibuat geleng-geleng sendiri. Memilih untuk duduk di ruang depan, kulihat air meluncur dari seng yang menaungi teras depan rumah. Aku bersyukur atap itu masih bekerja dengan baik meski seminggu lalu habis terbang kena angin. Bapak harus bekerja keras memperbaikinya lagi karena kami tidak bisa membeli yang baru, harganya sangat mahal untuk sekarang. Di kejauhan sana, di tengah derai hujan yang semakin deras, bocah lelaki berkaus merah yang basah kuyup, berdiri di atas kursi plastik dengan sepotong kain kumal di tangannya yang kurus hitam. Bergerak lincah mengelap kaca rumahnya yang mungkin sudah setahun ini tidak dibersihkan. Ia jungkat-jangkit seolah tidak takut akan terjungkal dan jatuh dengan menyakitkan. Menarik kedua lutut keatas kursi, terus kuperhatikan bocah itu. Bocah yang lima bulan ini menyandang status anak yatim. Ayahnya meninggal di ladang, tidak ada yang tau apa sebabnya. Padahal dua hari sebelumnya anaknya yang kelima baru saja lahir sementara anak-anaknya yang lain masih begitu kecil-kecil bahkan yang paling besarpun baru lulus sekolah dasar. Aku masih ingat betapa pilunya suara jeritan mbak Retno saat itu. Wanita tiga puluh dua tahun yang bekerja sebagai buruh pabrik dengan gaji tak seberapa, tiba-tiba harus ditinggalkan suami dan menjadi janda. Aku tidak tau sebanyak apa rasa sedih dan terpuruk yang musti ditanggung jika mengalami musibah seberat itu. Pun setelah tragedy itu ia hidup seperti orang linglung, sering sekali melamun. Aku pikir ia sangat frustasi juga syok berat tapi aku tak bisa apa-apa untuk menolongnya. Begitu juga saat dengan sembunyi sembunyi mba Retno datang mencegat ku saat akan pergi ke warung. Kedua matanya terlihat layu dengan tulang pipi menonjol. Belah bibirnya yang dulu selalu ter-poles gincu merah kini tampak pucat dan kering. Aku cukup terkejut dengan keadaannya kini, terlihat begitu menyedihkan dan lelah. “Tolong…” ia memohon. Jemarinya yang kurus mencengkeram erat lengan bajuku sampai nyaris sobek. “Lima ratus ribu saja. Susu untuk Dania sudah habis, aku tidak tau harus pinjam pada siapa lagi.” Kulihat ia hampir menangis. Aku tergugu, kebingungan. “Tapi aku tak punya, Mbak. Maaf …” aku melihatnya menunduk. Kini jemarinya berpindah untuk meremas baju dasternya sendiri. Sebenarnya aku tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, pekerjaanku yang hanya sebagai penjaga toko buku di kota tidak memberikanku uang lebih sebagai simpanan. Terkadang aku bahkan harus kelabakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan mendadak yang mendesak. “Ya sudah. “ Mbak Retno mengangguk samar. Kulihat ia mengelap pipinya. Aku pikir ia benar-benar sudah menangis. Aku semakin merasa bersalah jadinya. Sambil menggigit bibir dan menimbang-nimbang berbagai hal, kukeluarkan dompetku sambil celingukan. Takut kalau kalau ada Ibuku yang melihat. Dengan tergesa gesa kuambil dua lembar uang kertas dari dalamnya dan kuraih tangan mbak Retno. “Maaf, aku Cuma bisa bantu segini...” aku meringis ketika mbak Retno mendongakan wajah sembari melihat dua lembar uang seratus ribuan di tangannya. Kedua matanya kembali berkaca kaca. “Ndak apa-apa, Fi. Makasih ya…” Ia mencoba tersenyum di sela-sela tangisnya. Aku hanya diam sambil mengangguk. Setelah menepuk pundaknya untuk menguatkan, akupun pamit. Ibu dan bapak di rumah pasti sudah ngomel ngomel karena lama menunggu. Tadi mereka bilang pengen dimasakin telor balado. Padahal ini tanggal tua, telor pun harganya sedang naik. Mentang mentang anaknya sedang pulang kampung, malah ditodong beli ini itu. Tapi ya sudahlah, mungkin senin nanti aku bisa puasa untuk menghemat pengeluaran. “Padahal simpenan pak Lurah, masak cuma dikasih dua ratus,…” Sayup sayup aku mendengar suara lirih dari belakang. Ingin rasanya aku menoleh, tapi dengan sekuat tenaga ku tahan dan tetap mengayunkan langkah. “...Dasar pelit!” Sambil mengepalkan tangan, kurasakan air mataku meleleh. *** Aku tau ibu melirikku sedari tadi. Mungkin karena beliau sadar bahwa kedua mataku sedikit sembab. Namun aku mencoba tak peduli dan lanjut menata piring di atas meja makan. Aku baru selesai memasak balado telor kesukaan bapak, spesial ekstra pedas. “Kamu habis nangis , Ndok?” ibu akhirnya tak mampu menahan untuk bertanya. Aku hanya menggeleng sambil memberinya sebuah senyuman. “Enggak, Bu. Ini balado sambelnya dicampur cabe setan jadi pedesnya sampai ke mata, hehe,” aku menambahi sambil terkekeh. ”Bapak di mana?” “Lagi di belakang kayaknya, dari kemarin airnya mati ….” “ Ya sudah. Ibu aja dulu yang makan, aku mau manggil Bapak dulu.” Langit sudah menghitam saat aku membuka pintu belakang. Lampu bohlam kekuningan yang menggantung di langit langit sebelah sumur menampakan sosok bapak yang sedang berjongkok, memperbaiki entah apa aku tak terlalu mengerti. “Pak!” aku berseru. “Opo , Nduk?” si bapak menjawab tanpa menoleh. Terlihat masih sibuk dengan kegiatannya. “Makan malam dulu, Pak. Ibu sudah nungguin …” “Iya sebentar. Ini hampir selesai.” Untuk beberapa menit aku menunggui bapak sambil melihat kesekitar halaman rumah yang remang karena hari sudah menjelang malam. Suara jangkrik terdengar nyaring di telingaku. Beda sekali dengan keadaan di kota yang biasanya hanya terdengar suara mesin pabrik atau kendaraan yang bising. Ini sudah dua bulan semenjak kejadian waktu itu. Kejadian memalukan yang hampir mencoreng nama baik keluargaku. Di mana fotoku bersama sosok yang disegani di desa ini tersebar di media sosial dan menjadi gunjingan tiada henti. Ayah dan ibu tentu pasang badan paling depan dalam membelaku, mereka terus membantah, meluruskan pada masyarakat bahwa berita yang beredar hanyalah fitnah, itu pasti perbuatan dari salah seorang yang merasa iri. Dan lambat laun semuanya pun reda, meskipun aku tak membuka suara semuanya pun percaya bahwa berita yang entah bersumber dari mana itu hanyalah kebohongan belaka. Aku diam, bapak dan ibu tak pernah menuntut jawaban. Semuanya berlalu begitu saja, pun sampai aku kembali sekarang. “Ayo, Ndok.” Tau-tau bapak sudah ada di hadapanku. Rupanya aku keasyikan melamun. Aku menyingkir sedikit. Mempersilahkan bapak untuk masuk ke dalam rumah lebih dulu. Saat aku hampir menutup pintu, sayup-sayup kudengar deru halus sepeda motor yang lewat dari jalan samping rumah. Dari suaranya saja aku tau itu milik siapa. Tentu saja mas Suryo. Tanpa sadar aku tersenyum begitu ponsel yang kukantongi di saku baju bergetar menerima satu pesan masuk. ‘ketemu sebentar, yuk. Mamas kangen Sufi’ begitu tulisnya.สองเดือนต่อมาวันทำงานพุฒิพัฒน์มักจะกลับบ้านเร็วเสมอ ถ้าวันไหนติดประชุมหรือต้องไปงานเลี้ยง ก็จะโทรมาบอกหรือไม่ก็ให้คนขับรถมารับเธอไปงานด้วยกัน วันหยุดก็ขลุกอยู่แต่กับบ้าน ไม่ว่าพิมพ์มาดาจะขยับตัวไปไหน เขาก็จะตามติด จนกลายเป็นเงาของเธอ คุณโชติคุณอรสาต่างก็ดีใจ ที่ลูกเขยกลับตัวเป็นคนดี ยิ่งคุณเกตุแก้วยิ่งไม่ต้องพูดถึง นางดีใจที่สุดที่สุดท้ายลูกชายก็ต้องขอบคุณที่รู้ว่านางเลือกสิ่งที่ดีที่สุดให้กับเขา เพลย์บอยไฮโซหนุ่มนักรัก กลายร่างมาเป็นลูกแมวเชื่องๆที่คอยเดินตามภรรยา ใครเห็นภาพนี้ต่างก็ตกใจกันทั้งนั้น วันหยุดพิมพ์มาดาจะมาหามณีรินทร์เสมอ ถ้าเธอไม่มามณีรินทร์กับครอบครัวก็จะมาหาเธอ หนูของขวัญน่ารักมาก น่ารักจนพิมพ์มาดายากมีลูกสักคน เธอไม่ได้คุมกำเนิดแต่ทำไมลูกถึงมาช้า ในขณะที่มณีรินทร์ทำท่าจะท้องลูกคนที่สอง พุฒิพัฒน์กับธรรศธรเปิดใจคุยกัน และทำให้เขารู้ว่าเรื่องราวที่เกิดขึ้นกับมณีรินทร์ เป็นเพราะธรรศธรอยากจะกันเธอออกจากชีวิตเขา แต่สุดท้ายธรรศธรก็หลงรักมณีรินทร์ จึงวางแผนจับเธอเป็นภรรยา เรื่องนี้พิมพ์มาดาไม่มีส่วนเกี่ยวข้อง เรื่องของเอวิกาที่ทำกับธรรศธร ทำให้พิมพ์มาดารู้สึกดีกับพุฒิพัฒน์
"ออกไปจากที่นี่ก่อนที่ผมจะเรียกตำรวจมาลากคอคุณ"ชายหนุ่มขู่คำราม ตาคู่คมมองใบหน้าที่ยิ้มสะใจของเอวิกาอย่างเดือดจัด ผู้หญิงคนนี้ไม่ได้รักเขา และก็ไม่ได้ต้องการเขาจริงๆ ร่างบางที่ยืนโงนเงนตรงบันไดพยายามตั้งสติ เธอจะไม่อ่อนแอให้ใครเห็นอีกแล้ว แม้จะเจ็บจนแทบเดินไม่ไหว แต่เธอจะไม่ยอมแพ้ จะไม่ยอมให้คนพวกนั้นมองเธอเป็นตัวตลก มือบางที่กำราวบันไดสั่นระริก เมื่อพยายามบังคับขาที่สั่น ให้ก้าวเดินไปอย่างมั่นคงที่สุด นี่จะเป็นความเจ็บปวดครั้งสุดท้าย เธอจะไม่ร้องไห้อีกแล้วเสียงเอะอะโวยวายของคนทั้งสองเงียบไปแล้ว เขาจะตกลงอะไรกันก็ช่าง มันไม่เกี่ยวกับเธอ"แอ้พี่ขอโทษ"เสียงนุ่มทุ้มมาพร้อมวงแขนแกร่งที่ช้อนเธอเข้าสู่อ้อมแขน แล้วพาเดินขึ้นชั้นบน ทำให้น้ำตาเธอไหลออกมาไม่หยุด ร่างบางสะอื้นจนตัวโยน เมื่อถูกรวบเอาไปกอดไว้ในอกกว้าง"พี่ขอโทษๆๆ"พุฒิพัฒน์พูดแต่คำว่าขอโทษซ้ำๆ เพราะมันเป็นคำเดียวที่เขาพูดได้ในตอนนี้"แอ้เจ็บค่ะ เจ็บมากจริงๆ พี่พุฒิหย่าให้แอ้นะคะ แอ้ไม่ได้ตั้งใจให้เป็นแบบนี้ แอ้ทำไปเพราะแอ้รักพี่ ไม่ได้ตั้งใจทำลายชีวิตพี่เลยจริงๆ"พูดปนเสียงสะอื้นเพราะเจ้าตัวไม่เก็บมันไว้อีกแล้ว คำพูดของผู้หญิงคนนั
ภาพที่ปรากฏตรงหน้าทำให้หญิงสาวตัวชาเหมือนถูกแช่แข็ง พุฒิพัฒน์ก็เช่นกัน ชายหนุ่มมองหน้าคนมาเยือน ก่อนจะกัดฟันเพื่อข่มความโกรธเอาไว้ ผู้หญิงสวยจัดแต่งตัวด้วยเสื้อผ้ารัดรูป ยืนฉีกยิ้มหวานส่งให้เธอ ก่อนจะยกมือไหว้ด้วยท่าทางอ่อนช้อย ดูก็รู้ว่าไม่ได้มาหาเธอแบบเป็นมิตร"สวัสดีค่ะคุณพี่ เอมี่มารบกวนหรือเปล่าคะ"แนะนำตัวอย่างเป็นทางการ ตาคู่เฉี่ยวมองพิมพ์มาดาอย่างเย้ยหยัน"มาทำไม!"ชายหนุ่มถามด้วยน้ำเสียงไม่เบาเลย คนฟังรู้ดีว่าเขากำลังโกรธจัด"เห็นคุณไม่รับโทรศัพท์ เอมี่เลยมาหา เลยถือโอกาสมาทำความรู้จักกับคุณพี่ด้วย วันนั้นที่คอนโดเห็นคุณพี่รีบกลับ เลยไม่ทันได้ทักทาย เอมี่นะคะ เอวิกาค่ะคุณพี่คงคุ้นหน้าเอมี่จากรูปถ่ายแล้ว"เอวิกาพูดหน้าตาเฉย จงใจเน้นคำว่ารูปถ่ายชัดๆ จนคนที่ยืนข้างๆหญิงสาวเย็นวาบไปทั้งตัว"รูปถ่ายอะไร!"พุฒิพัฒน์ถามเสียงเย็น กรามแกร่งขบเข้ากันจนเป็นสันนูน เอวิกาทำอะไรลับหลังเขาอีกแล้วหรือ"กลับไป! ก่อนที่ผมจะหมดความอดทนกับคุณ"พุฒิพัฒน์เอ่ยปากไล่ เมื่อเห็นพิมพ์มาดายังเฉย เขาก็ยิ่งรู้สึกผิด"แหมคุณพี่ยังไม่พูดอะไรสักคำ พุฒิอย่าใจร้ายสิคะ"เอวิกาท้าทาย "ลูกฉันไม่พูด แต่ฉันนี่แหละจะพูด
"สนุกไหมลูก"เสียงที่ร้องถามมาก่อนตัว ทำให้คนที่ลงจากรถกลอกตาไปมาอย่างแสนงอน คุณหญิงอรสายิ้มกริ่ม เมื่อลูกเขยขับรถพาลูกสาวมาจอดหน้าบ้าน"ไปเที่ยวมาทำไมทำหน้าแบบนี้คะ ไม่สนุกเหรอ""สนุกคะ ถ้าแอ้ได้เที่ยวกับเพื่อนๆ""อ้าว...แล้วพวกยายก้อยไม่ไปเหรอคะ""ไปคะ...แต่"พิมพ์มาดาหยุดคำพูดไว้แค่นั้น เกือบไปแล้วจะให้แม่รู้ได้ยังไง ว่าเธอถูกพุฒิพัฒน์ขังให้อยู่แต่ในห้อง แล้วเสิร์ฟเซ็กให้เธอทั้งก่อนและหลังอาหาร"ว่าไงคะคุณพุฒ..."กระซิบถามลูกเขย แต่ได้ค้อนวงโตจากลูกสาวเป็นคำตอบ"ไม่พลาดครับคุณแม่"ชายหนุ่มตอบพร้อมกับยักคิ้วให้คนแก่ คุณหญิงอรสาหน้าบาน เมื่อได้คำตอบที่ถูกใจ"อย่าลืมโทรบอกคุณอาเกตุนะคะแม่"พูดประชดใส่มารดาก่อนจะเดินเข้าบ้านไป"เก่งมากค่ะคุณพุฒิ ที่คุยกันไว้ตกลงค่ะ แม่ยกโทษให้ ทีนี้ก็เหลือแต่ยายแอ้ แม่เอาใจช่วยค่ะ ขอตัวก่อนนะคะ"พูดจบก็เดินจากไป ชายหนุ่มส่ายหัวให้แม่ยาย เพราะรู้ว่านางจะไปไหน เรื่องนี้แม่เขาก็ต้องรู้ ร่างสูงถอนหายใจ ก่อนจะเดินตามคนร่างบางเข้าบ้าน 7 วัน 7 คืนที่เชียงใหม่ เขาจัดหนักจัดเต็มให้เธอ นึกว่าจะยกโทษให้บ้าง ที่ไหนได้กับโกรธหนักกว่าเดิม จะมีก็แต่เวลาบนเตียงเท่านั้นที่ยอ
"อื้อ..."ร่างบางขยับเมื่อรู้สึกรำคาญ เมื่อมีอะไรมากวนไม่หยุด มือบางปัดสิ่งกวนใจเหล่านั้นออก แต่มันก็ยังกลับมาอีก แถมยังเพิ่มความรำคาญให้เธอหนักขึ้น"ตื่นได้แล้วคนขี้เซา ไม่ไปงานเพื่อนเหรอ"เสียงแหบพร่ากระซิบชิดใบหู ก่อนจะส่งลิ้นร้อนเข้าไปหยอกล้อกับติ่งหูเล็ก"อื้อ..."รู้สึกเจ็บร้าวไปทั่วท้องน้อย เมื
กว่าพุฒิพัฒน์จะยอมปล่อยออกมาจากห้องพักก็ผ่านไปจนเย็น พสิกากับปานไพรินมองหน้าเพื่อนอย่างต้องการจับผิด นอกจากใบหน้าที่อิดโรยแล้ว ตามเนื้อตัวยังมีรอยสีกุหลาบกระจายไปทั่ว ทั้งที่เธอสำรวจตัวเองแล้ว ยังพลาดให้เพื่อนเห็นจนได้"ตกลงที่แกมาช้าเนี่ยเพราะมัว'นอน'กันอยู่ใช่ไหม"ปานไพรินถามจงใจเน้นคำว่านอนชัดๆ เ
"คิดอะไรอยู่"ถามเมื่อคนในอ้อมแขน เลิกขัดขืนแล้วนั่งนิ่งเป็นหุ่น"ทำไมถึงทำแบบนี้คะ""แบบนี้...แบบไหน จูบเหรอครับ"จมูกโด่งฝั่งลงที่ซอกคอหอมกรุ่น ก่อนจะไซ้ไปมา "ต้องการอะไรจากแอ้คะ""ถ้าพี่บอกว่าต้องการหัวใจแอ้จะเชื่อไหม""ไม่เชื่อค่ะ"ตอบรัวเร็วโดยที่ไม่เสียเวลาคิดเลยสักนิด"คิดก่อนตอบก็ได้นะ""แอ้ร
เมื่อกำหนดการเดินทางมาถึง หญิงสาวก็ต้องแปลกใจ เมื่อมีกระเป๋าผ้าเพิ่มขึ้นจากที่เธอเตรียมเอาไว้ เธอบอกกับเพื่อนว่าจะนั่งเครื่องตามไป แล้วไปเจอกันที่เชียงใหม่จะได้ไม่ต้องให้ใครมารับเธอ แต่ดูเหมือนว่าทุกอย่างจะผิดแผน เมื่อร่างสูงใหญ่เดินออกมาจากตัวบ้าน กระเป๋าผ้าทั้งหมดถูกขนไปใส่ในรถเขา และที่สำคัญวันน





