LOGIN聴力を取り戻したその日、紗寧は、自分が恋人に裏切られていたことを知った。 浮気男とその愛人に平手打ちを食らわせたあと、彼女は逃げ出した姉の代わりに、噂の「八角家の次男」へ嫁ぐことをあっさり承諾する。 世間では皆こう囁いていた。 蒼士は重病を患い、気性も荒く冷酷非情―― 嫁いだところで、生き地獄のような結婚生活になる、と。 だが新婚初夜。 男は彼女の細い腰を掴み、床まで届く窓へ押しつけながら低く囁いた。 「俺が『ダメ』って、誰に聞いた?」 その後の三日間。 脚が震えて立てなくなるほど甘く翻弄されて、紗寧はようやく理解した。 ――噂ほど当てにならないものはないのだと。 後日、パーティー会場では元カレが目を赤くしながら復縁を迫ってきた。 蒼士は悠然と錠剤を口へ放り込み、奥歯でバキバキと噛み砕く。 「横川、ナイフを。ちょうど発作が来た。今なら人を殺しても罪にならないだろ?」 ――誰もが彼を狂気じみた危険な男だと恐れていた。 けれど彼女だけは知っている。 その凶暴な激情の奥にあるのが、自分だけへ向けられた灼けつくような愛だということを。
View MoreNena kini sedang dirundung kesedihan, hatinya hancur berkeping-keping akibat pesan singkat dari pujaan hati yang telah menemaninya selama dua tahun terakhir.
Nena, selama hidup di kota ini sejak awal begitu bergantung pada Anjar, mantan kekasihnya. Hanya karena permintaan Anjar yang tidak bisa Nena turuti, dengan teganya dia memutuskan hubungan.
Dia diputuskan lewat pesan singkat satu jam yang lalu, saat hujan masih begitu derasnya.
[Kita putus!]
Setelah pesan tersebut, Nena sama sekali tidak bisa menghubungi nomor Anjar, bahkan pesannya pun hanya ceklis satu. Nomornya sudah diblok.
Tega!
Kejam!
Hujan di luar menambah kegalauan dirinya, walau sebenarnya sekarang hanya tersisa gerimis saja, mengingat dirinya yang mudah sekali sakit jika terkena hujan dia memilih untuk tetap berada di dalam kamar.
"Anjar, aku nggak bisa kamu giniin. Sakit banget tau, nomorku juga langsung kamu blok!" Tangisnya kembali pecah, bahkan ingusnya sudah ikutan meler. Dia tetap saja memilih untuk menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Dalam keadaan gerimis seperti ini, dia dengan samar-samar mendengar suara tangisan bayi. Astaga, apa karena patah hati dirinya jadi berhalu ria?
Dia mendongak, terlihat jelas matanya yang sembab karena tangisannya yang tidak henti, wajahnya begitu kusut, dan rambut yang disanggul asal.
Dia begitu takut untuk hanya sekadar mengintip dari jendelanya, takut jika tangisan tersebut hanya halusinasinya.
"Aku nggak mimpi, itu benar suara–."
Nena segera bangkit dan mencoba mengintip dari jendela kamarnya. Kondisi halaman yang agak gelap membuatnya kesusahan untuk melihat sekitar, tapi dia kembali mendengar tangisan tersebut.
"Siapa yang bawa bayi keluar? Masih gerimis pula. Seingatku juga Mbak Arum belum waktunya lahiran deh, masih juga delapan bulan."
Nena memilih untuk menjauh dari jendela setelah ada kilatan seram.
Dia kembali mengingat Anjar, diambilnya dengan kasar gawai yang masih tergeletak di karpet, dia masih memiliki harapan bahwa Anjar sudah bisa untuk dihubungi.
Berkali-kali mencoba untuk menghubungi tapi tetap saja tidak bisa, bahkan Nena sampai spam pesan begitu banyak untuk Anjar, tetap saja ceklis satu.
"Anjar brengsek!" pekiknya kesal. Gawai tak berdosa dia banting di atas tempat tidur dengan kasar. Nena masih sadar, jika dia membanting gawainya di lantai pastinya dia akan mengeluarkan biaya untuk membenarkannya karena rusak.
Aneh baginya ketika dia masih mendengar suara tangisan bayi tersebut. Penasaran dengan asal suara tangisan itu, Nena dengan penampilan yang pantas disebut tak layak memilih keluar kamar dengan berbekal payung pemberian Anjar.
Di luar, dia melihat Hady anak pemilik kost tempatnya tinggal menggendong entah apa. Buru-buru dia berlari mendekat karena begitu penasaran.
"Bang, itu ... astaga, bayi!" Nena tidak pernah menyangka jika memang benar ada bayi di halaman rumah.
Hady menyerahkan bayi yang hanya berbalut baju dan jaket tersebut kepada Nena. "Eh, Bang, kok aku?" Dirinya bingung karena dia belum ada pengalaman menggendong bayi.
"Gendong dulu, saya tidak bisa gendong bayi!" Dengan terpaksa dia menerima bayi tersebut walaupun rasanya begitu kesusahan mengingat tangan sebelahnya membawa payung.
Hady kini sedang berjongkok, di hadapannya terdapat keranjang bayi, dia meminta Nena untuk menidurkan bayi tersebut di sana.
"Kenapa nggak dari tadi, Bang?" kesalnya. Hadi hanya mengangkat bahunya.
Pertanyaannya sekarang, ini bayi siapa? Siapa yang tega menaruh bayi tak berdosa di halaman rumah orang lain? Di mana orang tuanya?
"Ayo kita bawa dia masuk," ajak Hady. Wajahnya masih saja jutek.
Nena bergeming. "Bang, di sini cuma ada kita berdua. Aku takut nanti ada yang salah paham, gimana? Bu Elok dan Mbak Susi kan nggak ada di rumah."
Hady mengerutkan keningnya, dia tidak habis pikir dengan gadis kucel di hadapannya. Dalam keadaan begini dia masih saja memikirkan masalah seperti itu.
"Apa kamu nggak kasihan sama bayinya? Lihat dia sudah menggigil, pasti dia udah lama di sini. Ayo," ajaknya. Hady sampai memilih berdiri di belakang Nena dan mendorong punggungnya pelan.
"Bang, aku masih takut. Kalau ini jebakan buat kita gimana?" Hady tidak mau memedulikan apa-apa dulu. Sekarang dipikirannya, dia harus menyelamatkan bayi tidak berdosa tersebut secepatnya. Naluri dokternya meronta.
Tidak mendapat respons dari Hady, Nena akhirnya memilih untuk menurut. Hady membawa dirinya dan sang bayi ke ruang tamu rumahnya dengan pintu yang dia biarkan terbuka.
"Kamu tunggu di sini, saya mau ke dapur sebentar." Nena hanya mengangguk, dia memilih menaruh keranjang bayi tersebut di sampingnya.
Bayi yang imut tidak berdosa, siapa yang tega meninggalkannya.
Hady begitu sibuk mencari susu yang dia ingat dua hari lalu belikan untuk anak kucingnya yang sakit. Bukan susu kucing, tapi susu bayi dan dia rasa bisa dia berikan pada sang bayi.
Sementara, di ruang tamu Nena dirundung ketakutan. Beberapa menit setelah kepergian Hady, beberapa warga datang dan kini berada di dalam ruang tamu.
Nena, melindungi bayi tersebut. "Jadi kalian selama ini melakukan hal yang tidak bermoral di sini?!" Salah seorang mulai menginterogasi Nena, mata mereka dipenuhi kecurigaan pada Nena.
"Iya, nggak sangka. Mbak Nena yang kelihatannya polos ternyata bisa berbuat mesum sama anak pemilik kost-nya sendiri." Yang lain ikut menyahut.
Mereka mengira bahwa Nena dan Hady akan membuang bayi tersebut. Tadi saat mereka sedang di halaman ada tetangga yang melihat ngelagat aneh keduanya.
"Bapak-bapak salah. Saya dan Bang Hady nggak ngelakuin hal itu. Ini bayi tadi kami temukan di luar gerbang," sangkal Nena. Bayi tersebut kini berada di gendongan seorang ibu.
"Bohong, kita nggak percaya ucapan kamu!" Seorang bapak berbadan gemuk menyela ucapan Nena. Dia terlihat paling ngotot.
"Kita tunggu saja Pak RT datang, mau kita apakan mereka berdua. Di mana Hady, apa dia sembunyi? Hady!" teriak bapak berbadan gemuk tersebut.
Tidak lama, Hady menuju ke ruang tamu. Aneh baginya banyak orang di sana. "Nah ini salah satu pelakunya juga." Hady yang membawa botol susu itu kebingungan, pelaku apa?
Dia melihat Nena yang menunduk ketakutan dan bayi yang mereka temukan berada di gendongan tetangganya. "Ada apa ini, Pak, Bu. Kenapa kalian semua berkumpul di rumah saya?" Ibu yang sedang menggendong sang bayi merampas botol susu di tangan Hady dan segera memberikan pada bayi yang ternyata sedang kehausan.
Nena mengangkat wajahnya, wajahnya yang kusut semakin kusut saja. "Bang, kita dituduh mereka mau menelantarkan bayi itu," tunjuknya pada bayi tersebut.
"Kita nggak nuduh, kita ada buktinya kalau kalian mau buang bayi itu. Kalian sudah mencemarkan lingkungan sini dengan berbuat mesum dan sekarang kalian dengan tega mau membuang hasil kejahatan!"
Kepala Hady begitu pusing sekarang, niat baiknya hanya untuk menolong malah disalahartikan oleh tetangga.
"Pak, itu bukan bayi kita. Saya dan dia temukan bayi itu di depan."
"Alah, maling mana mau ngaku sih, udah kita tunggu Pak RT saja."
Mereka tetap ngotot tidak mau mendengarkan pembelaan keduanya.
"Saya juga sudah hubungi Bu Elok, dia malam ini juga langsung pulang."
Firasat Hady sudah tidak enak. Ibunya sudah tahu. "Kamu hubungi orang tuamu," perintah salah seorang tetangga pada Nena. Nena hendak bangun dan langsung dicegah oleh mereka.
"Mau ke mana? Kabur ya?"
"Mau ambil ponsel di kamar, Pak Broto," kesal Nena. Pak Broto pria yang berbadan gemuk itu yang sejak tadi paling berisik.
"Nggak usah, biar pakai ponsel Mas Hady saja. Kamu di sini!" Pak Broto segera merampas gawai yang baru saja Hady keluarkan dari kantong celananya dan memberikannya pada Nena.
Lama dirinya hanya menatap layar ponsel tersebut. Siapa yang akan dia hubungi sekarang, ibunya kah atau ayahnya. Dia tidak begitu dekat dengan keduanya setelah mereka memilih bercerai.
"Ayo, kenapa lama?" desak mereka di sana. Sebelum Nena menekan ikon warna hijau untuk memanggil, dia melirik sesaat pada Hady. Dilihatnya pria tersebut sedang frustrasi sekarang. Karena begitu lama menunggu Nena, Pak Broto mengambil paksa gawai Hady dari tangan Nena dan segera menghubungi nomor yang sudah Nena ketik di sana.
"Halo, saya tetangga anak Anda, Nena. Bisa Anda datang sekarang ke tempat tinggalnya? Ada hal penting yang harus Anda tahudan tidak bisa ditunda." Belum sempat orang di seberang panggilan tersebut berbicara, Pak Broto segera mematikannya.
Tidak lama Pak RT datang bersama bidan, dia melihat Nena dan Hady yang sudah duduk bersampingan dengan Nena menggendong bayi yang sudah kenyang tersebut.
"Ada apa ini sebenarnya? Apa benar Mas Hady dan Mbak Nena melakukan hal yang tidak baik di sini?" tanya Pak RT. Dia tidak mau ikut menyudutkan kedua orang yang terduduk lesu tersebut.
"Pak RT bisa lihat sendiri, mereka mau membuang bayi hasil hubungan terlarang mereka," jelas bapak berkeoala botak.
"Benar Mas, Mbak?"
Hady menghela napas kasar. Dia menatap manik Pak RT penuh harap. "Kita tidak melakukan hal yang Bapak dan Ibu katakan itu. Kita menemukan bayi ini di depan rumah," jelasnya.
"Alah maling mana mau ngaku!"
"Iya tuh, benar."
Mereka yang berada di dalam ruang tamu itu semakin memperkeruh suasana. Nena sudah tidak dapat menahan tangisnya lagi, sayang air matanya sudah terkuras habis karena tadi.
"Baiklah, Bapak dan Ibu sekalian harap tenang. Bu Asih saya minta tolong cek kondisi bayi tersebut ya sembari kita menunggu Bu Elok yang katanya sudah masuk gang.
Pikiran Hady semakin kacau. Ibunya dalam hitungan menit sudah akan tiba di rumah. Bagaimana begitu cepat?
Bu Asih selaku bidan sudah selesai memeriksa keadaan bayi berjenis kelamin laki-laki itu. Katanya keadaan bayi sehat.
Pandangan mereka tidak lepas pada kedua orang tersangka yang seperti sedang duduk di kursi panas menunggu hasil sidang.
Mereka sudah dua jam lebih masih memilih untuk bertahan menunggu kedua orang tua mereka datang.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam, Bu Elok sudah datang. Silakan masuk, Bu." Mereka memberikan jalan untuk pemilik rumah.
Bu Elok segera menghampiri keduanya. Dia langsungmenjewer kesal putranya itu sampai mengaduh kesakitan. Nena dan yang berada di sana hanya bisa menahan tawanya agar tidak pecah melihat perlakuan Bu Elok pada Hady.
"Anak nakal, kenapa kamu tega berbuat begitu sama gadis polos ini?" Bu Elok menatap Nena dengan iba. Dielusnya pipi Nena dengan penuh kasih sayang.
Mendapatkan perlakuan lembut dari orang lain membuat hati Nena terenyuh, dia ingin memeluk wanita paruh baya tersebut tapi urung dilakukan.
"Bapak dan Ibu maafkan kesalahan putra saya. Pak RT saya janji akan menikahkan mereka berdua secepatnya." Nena dan Hady spontan menolak dengan keras.
"Nggak!" Keduanya begitu kompak.
"Jangan didengarkan ucapan mereka. Setelah orang tua Nena hadir saya akan membicarakan masalah ini sama mereka."
"Baik Bu. Kita tinggal menunggu orang tua Nena ke sini, sudah hampir tiga jam ini."
Hady melirik sekilas ke arah Nena, gadis yang begitu jauh dari kriterianya selama ini. Dirinya tidak menyangka ibunya memilih untuk tidak membela mereka.
Tepat pukul dua belas malam, mobil orang tua Nena memasuki pekarangan rumah. Mereka langsung disambut dengan tanda tanya melihat ramainya rumah tersebut.
Mereka masuk ke dalam rumah yang terasa sesak. "Permisi, maaf Bapak saya orang tua Nena. Ada apa sampai–" Belum selesai wanita paruh baya itu berbicara, Pak Broto sudah menyela.
"Anak Anda berbuat asusila di sini. Dia hamil di luar nikah dan mau membuang bayi mereka!" Nena menunduk dalam, dia begitu takut dengan tatapan tajam ibunya sendiri.
"Apa?!"
黒いマイバッハが浅水区画を離れる頃には、すっかり日が落ちていた。港の両岸にはネオンの光が帯のように連なり、海面に映り込んでは砕けた星屑のように揺れている。紗寧は窓際に座り、ガラスに映るぼやけた自分の横顔を見つめながら、こっそり隣の蒼士へ視線を向けた。彼はシートにもたれ、目を閉じて休んでいた。流れる街の灯りが横顔を切り取るたび、その輪郭はいっそう際立つ。長いまつ毛は目元に淡い影を落とし、まるで黒い蝶が静かに羽を休めているかのようだった。どう見ても、重病で厄払いの結婚が必要な人には見えない。だがその一方で、先ほど車内で何でもない顔をしながら薬を飴玉のように噛み砕いていた姿も思い出す。いったい彼は、どんな病気なのだろう。そんなことを考えていると、不意に低く落ち着いた声が響いた。「何を考えている?」紗寧は反射的に顔を上げる。すると、澄んだ漆黒の瞳とちょうど視線がぶつかった。「いえ、別に......」慌てて目を逸らした彼女は、車が停まったことに気づき、窓の外へ視線を向けた。「ここは?」蒼士は口元をわずかに緩め、ほんのり赤く染まった耳先を一瞥した。「家だ。降りよう」先に横川が車を降りてドアを開ける。何か注意しようとした矢先、蒼士はすでに紗寧の手を取って中へ歩き出していた。屋敷は驚くほど壮麗だった。モダンな和風様式を基調とし、一面の大きなガラス窓には庭園のライトや波打つプールの水面が映り込んでいる。その時だった。庭の奥から突然、何匹もの犬の吠え声が次々と響いてきた。横川の顔色が変わる。「貝原さん、気をつけ――」言い終わる前に、一つの黒い影が茂みの中から勢いよく飛び出してきた。巨大なジャーマンシェパードだった。肩までの高さは紗寧の腰近くに達し、盛り上がった筋肉と艶やかな毛並みを持っている。その鋭い眼差しはまるで狼のようで、見るだけで背筋が寒くなるほどだった。「きゃっ――」紗寧は思わず声を上げて後ずさった。しかし次の瞬間、背中は温かく硬い胸板にぶつかる。蒼士の体がわずかに強張った。鼻先をくすぐるのは少女の甘い香り。柔らかな体が隙間なく彼に寄り添っている。喉仏が静かに上下する。だが腕は離さなかった。横川は思わず息を呑み、前へ出ようとした。
彼女の問いかけに、一穂は再び紗寧へ顔を向けた。「咲良ちゃんはずっと海外で勉強していたのよね?どこだったかしら?」「ヨーロッパです」紗寧は即座に答えた。咲良はここ数年ずっとイギリスへ留学しており、今月の初めにようやく港江へ戻ってきたばかりだった。そのため彼女を直接知る人間はほとんどおらず、それこそが紗寧が身代わり結婚を引き受ける決心をした大きな理由でもあった。一穂は満足そうに頷いた。「何を専攻していたの?」「アートマネジメントです」「なるほどね。どうりで品のある雰囲気をしているわけだわ」紗寧はようやく胸を撫で下ろしかけた。だが、その時だった。隣にいた慶子が不意に口を開いた。「そういえば、お母さま」慶子は微笑みながら彩未へ視線を向けた。「この前、彩未が慈善パーティーに出席したでしょう?確か貝原さんにも会ったって言ってなかったかしら」紗寧の胸がどくりと跳ねた。彩未はソファに座ったままスマホを眺めていたが、その言葉を聞いて顔を上げる。唇を緩やかに弧に描きながら、どこか意味深な笑みを浮かべた。「ええ。あの日の貝原さん、とても目立っていましたもの」紗寧の背中に冷たい汗が滲んだ。慈善パーティーなど、彼女はまったく知らない。「あの日は......人が多かったので」どうにか平静を装いながら答える。「彩未さんには気づかなかったのかもしれません」彩未の口元がわずかに吊り上がった。「そういえば、あの夜は面白い出来事もありましたよね。貝原さん、覚えていらっしゃいますか?」喉がひどく乾く。それでも声だけは自然に聞こえるよう努めた。「あの日は......少し気分が優れなくて。あまりよく覚えていないんです」「覚えていない?」慶子はティーカップを持ち上げ、ゆっくりと一口飲んだ。その視線が紗寧の顔をなぞる。笑っているようで、笑っていない。「まだ半月も経っていない出来事なのに。貝原さんは少し物覚えが悪いのね」場の空気が微妙に張り詰めた。紗寧は頭皮が痺れるような感覚を覚え、何とか言い繕おうとしたその時。蒼士の手の中にあったライターが、カチッと音を立てて閉じられた。彼はゆっくり顔を上げ、慶子を見た。その眼差しは淡々としていたが、慶子は思わずティーカップを
浅水区画の八角家邸宅は、重厚で風格に満ちた佇まいだった。白い外壁にアーチ状の回廊、庭には背の高いヤシの木が立ち並び、その向こうには陽光を受けてきらめくプライベートプールが見える。回廊を抜けると、八角家のメインリビングへと続いていた。クリスタルのシャンデリアが室内を昼間のように明るく照らし、黒革のソファには数人が腰を下ろしている。上座には銀髪の八角家の祖母・八角一穂(ほずみ かずほ)が座っていた。笑みを浮かべながらも気品と威厳を失わず、その隣には叔母である慶子(けいこ)と慶子の娘、彩未(あやみ)が控えている。蒼士が紗寧の手を引いて入ってくると、その場にいた全員の視線が一斉に向けられた。「この子ったら、来るなら一言くらい連絡しなさいよ」一穂は孫を甘やかすように笑いながら軽くたしなめたが、その視線はすでに紗寧へ向いていた。「この子が貝原家のお嬢さんね?さあ、こっちへいらっしゃい。おばあちゃんによく見せてちょうだい」紗寧が数歩前へ進むと、その手を一穂が優しく握った。しばらく眺めたあと、一穂は目を細めて嬉しそうに笑った。情というものがある。ましてや蒼士は孫たちの中でも群を抜いて優秀な存在だ。そんな一番可愛がっている孫が、これほど美しい娘を連れてきたのだから、嬉しくないはずがなかった。紗寧は少し汗ばんだ手を握り返しながら、軽く頭を下げた。「初めまして、おばあさま。貝原咲良です」その横で、慶子は彼女を上から下までゆっくりと見回した。白いワンピースは装飾のないシンプルなデザインだったが、その分だけ彼女の均整の取れた体のラインを美しく際立たせている。細く絞られた腰は片手で抱えられそうなほど華奢で、裾から覗く足首は白磁のように繊細だった。そして何より目を引くのはその顔立ちだった。雪のように白い肌。丹念に描き上げた整った五官。澄み切った瞳は光を宿し、目尻は生まれつきわずかに上がっていて、本人に自覚のない艶やかさを自然と漂わせている。「本当に綺麗な子ね」慶子は微笑みながら口を開いたが、その声音にはどこか含みがあった。「蒼士が厄払いの嫁として迎えることを承諾したのも納得だわ」厄払いの嫁?紗寧は思わず目を瞬かせ、反射的に蒼士を見た。厄払いって、何のこと?その時の蒼士はソファに
紗寧は蒼士に続いて市役所を後にした。午後の港江の陽射しは目が眩むほど白く、湿った熱気が空気の中に揺らめいている。冷房の効いた室内とはまるで別世界だ。黒いマイバッハが木陰に静かに停まっている。蒼士は後部座席のドアを開け、そのまま彼女を待った。木漏れ日が枝の隙間から差し込み、彼の眉目に細かな影を落とす。そこに立つ姿は、まるで鞘に収まった刃のようだった。静かで内に秘めているのに、いつでも抜き放たれ人を傷つけられる――そんな危うさを纏っている。紗寧が身をかがめて車に乗り込むと、彼の視線が自分に向けられているのを感じた。重くはない。が、強烈な存在感があった。「先に本家へ向かう。祖母が君に会いたがっている」蒼士も後から乗り込み、ドアが閉まる鈍い音とともに外の熱気が遮断される。紗寧は頷き、何か言おうとしたその時だった。バッグの中のスマホが突然震えた。表示されたのは北城の見知らぬ番号。動きが止まる。胸の奥が妙にざわついた。嫌な予感がする。よりにもよって今、このタイミングで――蒼士の淡い視線が一度だけこちらへ流れる。紗寧は考えるより先に通話を切った。だが数秒もしないうちに、また同じ番号から着信が入る。彼女は唇を引き結び、通話ボタンを押した。「紗寧!」繋がった瞬間、真洋の苛立った声が飛び込んできた。数日間押し殺していた怒りが滲んでいる。「退院したのにどうして家に帰らないんだ?どこへ行った?俺が何度電話したと思って――」紗寧の胸が重く沈む。思わず隣へ目を向けた。蒼士はいつの間にか視線を外し、手の中のライターを弄んでいる。何もしていない。ただ静かに座っているだけだ。こちらを見てもいない。それなのに、その何気ない存在感だけで妙な圧迫感を覚える。彼女はすぐにスマホを耳から少し離し、声を落とした。「何か用?」「何か用だと?」真洋の声が一段高くなる。「紗寧、お前もいい加減にしろ。機嫌を損ねるにも限度があるだろう!」「......」「あの日の件は確かに俺も悪かった。だが、お前は詩帆を殴った。父さんも母さんもこの数日ずっと騒いでてな、詩帆に謝れって――いや、それは後だ。今どこにいる?迎えに行くから、一度ちゃんと話そう」詩帆に謝れ。その言葉が細い