LOGIN七年間、陸川辰巳(りくかわ たつみ)と恋愛してきたが、彼には絶えずスキャンダルがあった。 だが、彼のスマホは私が自由にいじれたし、出張先に確認の電話をしても嫌がらなかったので、私は誰かと一線を越えた証拠が一度も見つからなかった。 私たちの婚約の日までそうだった。 司会者は、辰巳がどうやって私の好きな白いバラをわざわざ海外から取り寄せたと語った。 その後、本来なら私たちの七年間の思い出映像が流れるはずのスクリーンから、突然赤ん坊の大きな泣き声が響いた。 映像には、病室で新生児を抱く辰巳の姿が映っていた。 その肩にもたれかかるのは秘書の小林詩乃(こばやし しの)で、その薬指には私と同じシリーズのダイヤの指輪が光っていた。 彼女は泣きながら、誤解だと私に弁解した。 辰巳も冷ややかな表情を浮かべた。 「詩乃はシングルマザーなんだ。上司としての義務で面倒を見ただけだ。お前もそこまでしつこく追及しなくてもいいだろ?」 会場は水を打ったように静まり返り、皆が私が取り乱すのを待っていた。 しかし、私は穏やかに指輪を外し、彼に差し出した。 「もちろんそんなことはしないわ。むしろお二人の幸せを願うわ」
View More“Kakak! Apa yang kamu sembunyikan di dalam celanamu?”
Sepuluh tahun berlalu, akhirnya Kiara kembali ke Nusantara. Kerinduan akan kehangatan pelukan kakaknya, membuatnya begitu bersemangat akan pertemuan mereka. Sengaja ia tidak memberitahu rencana kedatangannya, hanya untuk memberikan sebuah kejutan. Kiara menghela napas dengan kasar. Ia menatap tubuh lelaki yang terbaring tenang di atas sofa. Perlahan ia melangkah berusaha tak menimbulkan suara. Ia menatap wajah Hanson Luminto yang terpejam kelelahan. Dada bidangnya naik turun dengan teratur, memperlihatkan betapa lelap tidurnya. Perlahan ia mendekat dan menyentuhkan jemarinya di garis rahangnya yang terpahat indah tanpa cela bak dewa yunani. Cahaya lampu seolah menempa kulitnya hingga berwarna keemasan. Kiara menggigit bibirnya sendiri, tak dapat menahan gemuruh yang berisik di dalam hatinya. Perlahan ia mendekatkan bibirnya dan mengecup kening lelaki muda itu. “Kakak, lama tak bertemu. Apa … kakak juga merindukanku?” gumamnya nyaris seperti sebuah doa. Hanson mengerjapkan matanya. Dan sesaat kemudian dengan separuh kesadarannya, ia mendorong tubuh ramping itu menjauh dari hadapannya, sebuah reaksi yang dilakukannya pada setiap wanita yang berusaha mendekatinya. “Siapa kamu?” Kiara mengerucutkan bibirnya, sementara kedua tangannya bersedekap di dada. Gaya khas yang tak pernah berubah saat ia merasa kesal. “Kakak! Jadi kakak beneran sudah lupa sama aku?” Suara manja itu spontan membuat Hanson teringat pada gadis manis yang terus menempel padanya saat kecil dulu. Matanya membulat, seperti terkejut melihat sosok yang kini ada di hadapannya. Wajah ayu itu terlihat begitu mungil, rambutnya yang hitam tergerai bebas. Dan … tubuh mungil yang dulu kerap digendongnya, kini telah menjelma menjadi tubuh indah seorang wanita dengan lekuk khasnya. “Kakak. Jangan bilang kalau kakak sudah nggak sayang lagi sama aku. Kakak hampir nggak pernah kirim kabar,” cicit Kiara dengan suara manjanya, “apa susahnya sih, balas chat Kiara.” Hanson menelan kasar ludahnya. Matanya mengerjap, seolah tak bisa membedakan antara kenyataan dan sebuah mimpi. Kiara menatap lelaki di hadapannya dari ujung kepala menurun hingga … suara teriakan itu terdengar. “Kakak! Apa yang kamu sembunyikan di dalam celanamu?” Hanson segera memegang pundak Kiara dan memutar badannya dengan cepat. “Kiara, keluar dari kamarku!” perintahnya, “dan jangan pernah masuk tanpa seijinku lagi!” “Tapi Kak–” Hanson mendorong si pemilik tubuh ramping itu keluar dari kamarnya tanpa ingin mendengarkan protes apapun. Pintu berdebum keras dan Hanson bernapas dengan lega. Dan saat menunduk, ia dapat melihat dengan jelas sesuatu sedang menampakkan keperkasaannya di bawah sana. “Sial! Kenapa kamu justru bereaksi ke adik sendiri,” kesalnya pada bagian tubuhnya yang menonjol di bawah sana. Selama ini tak ada satupun gadis yang bisa mencuri perhatiannya. Bahkan ia dikenal sedingin kulkas di Luminto Group. Beberapa sekretarisnya bahkan diberhentikan hanya karena berusaha mendekatinya. Air dingin yang mengguyur tubuh Hanson, seolah mengurangi pening di kepalanya. Napasnya mulai teratur seperti aliran darah yang mengalir di tubuhnya. Sementara itu, Kiara mendekap kimono dan pakaian dalamnya. Ia kembali masuk ke dalam kamar Hanson. Matanya tertuju pada kaca es yang membatasi ruangan itu dengan kamar mandi. Bayangan maskulin itu seolah memancingnya melangkah mendekat atau sekedar mengintip sosok di baliknya. Tapi Hanson menyadari seseorang masuk ke dalam ruangan yang sedang ia gunakan. Dan saat ia menoleh, matanya justru menangkap sosok Kiara berdiri dengan mata membulat menatapnya. “Ka – kakak! Maaf!” teriaknya dengan gugup sebelum menutup kembali pintu kamar mandi. Namun belum sempat Kiara menutup kembali pintu itu, Hanson sudah menangkap tangannya. Ia tidak akan membiarkan siapapun yang melihat tubuh telanjangnya pergi begitu saja. “Kamu dengar kataku, jangan sembarangan masuk ke dalam kamarku!” hardik Hanson. Ia tak dapat memahami perilaku adiknya. “Apa kamu memang sudah terbiasa masuk ke kamar pria tanpa ijin?” Hanson melepaskan tangan Kiara. Ia meraih handuk di rak kamar mandi untuk membalut sebagian tubuhnya yang terbuka. Namun saat ia berbalik, matanya justru melihat pundak si pemilik tubuh ramping itu terguncang. Kiara terisak. “Kakak, maaf. Tadi Kiara pikir … mau numpang mandi di kamar kakak. Kamar mandi di kamar Kiara nggak bisa nyala. Mungkin karena terlalu lama nggak dipakai.” “Kakak boleh marah sama Kiara. Kiara emang salah. Kiara emang pantas dihukum,” lanjut Kiara masih dengan isakan manjanya, “Kiara mau lakuin apa saja asal kakak nggak marah lagi sama Kiara.” Hanson memutar tubuh Kiara hingga berhadapan langsung dengannya. Ia menatap mata bulat yang berair itu dengan perasaan kacau. Mata itu begitu cantik, berpadu dengan hidungnya yang tinggi dan bibir merahnya yang terlihat mungil. Lelaki itu menelan kasar ludahnya, saat matanya tak dapat berpaling dari bibir mungil yang justru terlihat seperti mengundang sebuah kecupan. “Kamu … mau melakukan apapun?” ulang Hanson seperti tak percaya pada apa yang didengarnya. Kiara menganggukkan kepalanya. Ia menelan ludahnya dengan sekuat tenaga, seolah melakukannya butuh segenap keberaniannya. “Kalau gitu, aku mau kamu tidak masuk lagi ke dalam kamarku, tanpa seijinku,” ucap Hanson dengan menekan suaranya, “mengerti!” Kiara menganggukkan kepalanya. Tapi sesaat kemudian tangisnya meledak. Kimono dan pakaian dalam yang dipeluknya, dibiarkannya jatuh begitu saja. “Diam! Diam Kiara!” kesal Hanson. Lelaki itu meraupkan tangannya ke wajahnya sendiri dengan perasaan frustasi. “Kakak nggak suka dengar tangisan!” Kiara menutup mulutnya rapat-rapat. Tapi bahunya masih berguncang dan cairan bening itu terus melintas di pipinya. Hanson tak dapat mengendalikan diri. Tangannya terangkat, meraih dagu Kiara dan ibu jarinya menyapu sisa cairan bening itu. “Sudah, Kakak nggak marah. Asal kamu nggak ulang lagi,” ucap Hanson dengan suara lebih lembut, yang bahkan tak pernah dilakukan pada siapapun. Kiara menyeka sisa air matanya dengan punggung tangannya. Ia menarik sudut bibirnya, menyuguhkan seulas senyumannya. “Kakak … Kiara paling takut kalau Kakak nggak sayang lagi sama Kiara. Kiara takut Kakak nggak peduli dan nggak mau lagi sama Kiara,” ucap Kiara. Ucapan itu seperti mengaduk-aduk jiwa Hanson. Ia tahu, setelah kedua orang tuanya meninggal, hanya dirinyalah sandaran Kiara. Hanson mengusap puncak kepala adiknya. Ia balas memberikan senyuman – yang terlihat canggung – pada Kiara. “Kakak paling sayang sama Kiara. Tapi … kita sudah dewasa. Kiara nggak boleh sembarangan masuk kamar Kakak. Dan … Kakak juga nggak bisa sembarangan masuk kamar Kiara.” “Tapi Kak –” Lidah Kiara terasa kelu seketika. “Sekarang Kiara mandi. Kakak mau buat sup ayam kesukaan kamu untuk makan malam,” lanjut Hanson tanpa memberikan kesempatan Kiara untuk membantah. Gadis itu menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba kedua tangannya melingkar begitu saja di pinggang Hanson. Kepalanya bersandar di dada bidangnya. ‘Kakak memang satu-satunya yang paling baik sama Kiara,” ucapnya sementara pelukan itu semakin mengetat di pinggang Hanson. Tiba-tiba saja handuk yang membalut separuh bagian tubuhnya melorot. Jantung Hanson seperti berhenti seketika. Ia tidak ingin Kiara tahu bahwa bagian tubuhnya di bawah sana telah mengeras sempurna. Tapi ….彼は赤く腫れた目で私を見つめた。「由依、久しぶりだな」私は第一反応で梨緒の手を取り、すぐにここを離れようとした。しかし辰巳は幽霊のようで、私が簡単に逃げることはできなかった。彼は私に触れようとはせず、ただ後ろからひたすら謝罪し続けた。最後には言葉が詰まって嗚咽するほどになったが、それでも諦めなかった。その夜は雪が降った。私は梨緒と、借りた小さなアパートで夜食に鍋をつついた。閉めきれなかったカーテンの隙間から、辰巳の蒼白な顔が覗いていた。彼は雪の中で跪き、私に会わせてくれと懇願した。しかし私は会いたくなく、彼を一晩中跪かせたままにした。雪が晴れた翌日は、陽光がまぶしかったが、気温は低かった。私は急いで会社に向かい、コートを羽織るのを忘れていた。辰巳はよろめきながら追いかけてきて、コートを脱ぎ私の肩にかけた。私が見返すと、彼は無理に笑顔を作った。「着てくれ。病気になったら心配だ」私は眉をひそめて前に進むと、そのコートがかつて私が贈ったものであることに気づいた。袖口には私が心を込めて縫い付けた薔薇の刺繍があった。しかし当時、彼は嫌がっていたので、この服は長年クローゼットの奥に眠ったままだった。辰巳の目は寂しさで光った。「俺は目が節穴だった。お前の贈り物を大切にできなかった。由依、チャンスをくれ。俺はお前しか愛してないことを証明させてくれ」彼の目には希望の光が瞬いていたが、私の冷徹な視線を受けると、それはあっという間に千切れ散り、無数の冷たい欠片となって消えていった。私は唇を吊り上げ、皮肉を込めて言った。「辰巳、以前はクズ男という言葉はただの名詞だと思っていた。でもあなたを知って、その本当の意味がわかったわ。あなたにぴったりの言葉ね」一筋の涙が彼の目尻を伝った。辰巳は頑なに顔を背け、私に見せまいとした。彼のしつこい追及のせいで、私は仕事で度々ミスをした。仕方なく、私は彼をカフェに呼んだ。辰巳は落ち着かず、私を見ようとしつつも、私の冷たい目線に怯えていた。私は眉をひそめながら、水を一口飲み、先に口を開いた。「辰巳、もう私に会ったのよ。帰っていいわ」「いや!由依、俺は行かない。許してくれ。昔のこと、全部俺のせいだった。感情が揺れ動くべきじゃなかった。関係な
私の離脱がすべて彼女のせいだと悟った辰巳は、怒りが心から湧き上がった。「詩乃、奈々はお前の娘だ。俺の娘じゃない。これからはもう俺に電話してくるな!それに、明日人事に行って退職手続きを済ませろ。俺の会社から出ていけ!」これは辰巳が私のために初めて詩乃を拒絶した瞬間だ。辰巳は拒否するのが意外と簡単だと気づいた。では、なぜ彼は私を失ったのか。辰巳は家に戻ると、空っぽの家を見渡し、床にしゃがみこんで頭を抱えて泣き崩れた。キッチンのオーブンには、私が焼いたクランベリークッキーがまだ残っていた。私はクッキーが大好きだ。しかし、辰巳は毎回、栄養のないものを食べるなと叱っていた。彼はクッキーを手に取り、涙と一緒に咀嚼して飲み込んだ。「由依、戻ってきてくれ。本当にすまなかった」私の消息を探すために派遣された人たちは、何も得られなかったと報告した。辰巳は私が寝ていたベッドに沈み、茫然と天井を見つめた。突然、彼は私に親しい友人がいることを思い出した。急いで立ち上がり、梨緒の家へ車を飛ばした。神経が混乱した辰巳を見ても、梨緒は少しも驚かなかった。彼が口を開く前に、彼女はスクリーンショットを取り出して見せた。「あなたと由依が婚約する前のバレンタイン、彼女はこの投稿を見たの。小林にプリザーブドフラワーを贈り、永遠に枯れない愛と書いた投稿よ。あなたは由依をブロックすれば知らないと思った?陸川、あなたって本当に笑える。由依はその晩すぐに知ったけど。回転レストランで閉店まであなたを待っていたの。彼女は妊娠したことをあなたと共有したかっただけなのに、この投稿のせいで、流産しかけたのよ」辰巳の心は張り裂けそうになり、唇を噛んで声を出さずに耐えた。梨緒は彼を睨みつつ、心を抉る事実を語り続けた。「その日に私は彼女に諦めるよう説得した。でも由依はどう言ったと思う?」辰巳は視線を逸らし、梨緒の目を直視できなかった。梨緒は鼻で笑い、皮肉を込めて言った。「由依は言ったのよ。彼女はあなたを信じてる。あなたは彼女を救うために命の危険を冒したから。あなたが愛してるのは彼女だと!」彼女が言い終えると、辰巳の涙がこぼれ落ちた。彼は目を赤くして、謝罪を繰り返した。「梨緒、頼む、彼女の親友として、彼女がどこにいるか
「由依も大人になったな」吐き気をこらえながら、私は彼に優しく笑いかけた。彼が去った後、私は不快感を押さえながら立ち上がり、洗面所に向かった。手を八回洗って、ようやく少し落ち着いた。その後、前もって用意していた荷物を持ち、計画通り空港へ向かった。飛行機が離陸する前に、辰巳からメッセージが届いた。翌朝に何を食べたいかを聞く内容だ。私は返信せず、即座に彼をブロックした。親友に行程を伝え、海外への旅立ちに足を踏み出した。辰巳は私からの返信を一度も受け取れず、ずっとぼんやりとスマホを見つめていた。ついに七度目に画面を確認したとき、詩乃の鼻声が聞こえてきた。「社長、どうしても由依さんが心配なら、見に行ってあげてください。私一人でも大丈夫ですから」辰巳は顔を上げ、発熱で泣き止まない奈々を見て逡巡した。「電話をかけて、すぐ戻る」なぜか、彼は夜に病室を出てから、右まぶたがずっとピクピクしている。最近の私の冷たい態度を思い出してから、今夜突然態度を変えた私を思い出すと、辰巳は息が苦しくなった。電話をかけたが、結果的に電子音声のアナウンスが流れてきた。辰巳はぽかんとし、眉をひそめながらもう一度ビデオ通話を試みたが、かけることすらできなかった。ついに、彼は私にブロックされたことに気づいた。挨拶すらできず、辰巳はアクセルを踏み込み、病室へ急行した。整えられたベッドに私の姿がないのを見て、彼の頭は真っ白になった。彼は風のようにナースステーションへ駆けつけ、看護師の手首を乱暴に掴んだ。「304号室の患者はどこだ!どこに行った!」看護師は痛みに顔をしかめ、冷たい手を振り払った後、カルテを差し出した。「患者さん本人が退院同意書にサインして、少し前に出ました」辰巳はカルテの繊細なサインを見て、私の文字だと認識した。彼はよろめきながら二歩下がり、頭を抱えて呟いた。「退院だって?ありえない。由依はもう許したはずなのに、どうして勝手に退院したんだ?彼女は家に帰ったんだ。そう、家に帰ったんだ!」辰巳は階段に向かって走り、スリッパの片方を落としても振り返らなかった。看護師は私の指示を思い出し、声を上げて彼を止めた。辰巳は立ち止まり、喜びの声で尋ねた。「由依がどこに行ったか知ってるのか?
彼が私の目の奥の真剣さを見てしまい、もう私と視線を合わせられなくなった。「俺が言ったんだから必ずやる!ゆっくり休め、あとでまた来るから」そう言い残し、辰巳は逃げるように病室を出て行った。私は目尻の涙を拭い、かすかに呟いた。「もう無理よ」辰巳が出て行った後、詩乃が入ってきた。彼女は優雅に私のそばのソファに腰かけ、頬杖をついて私を眺めた。「由依さんって本当に策士ね。辰巳の愛を私から奪うために、中絶なんて手まで使うとは、私には到底真似できないわ」そう言って、彼女は手を叩いた。私は淡々と彼女を見た。まるで価値のないゴミを見るようだ。「もし自慢しに来ただけなら、今すぐ帰っていいわ。私と辰巳はもう関係ない。そのクズ、欲しいならあげる」詩乃は一瞬ぽかんとしたが、それから含み笑いを浮かべ、何も言わずに立ち上がって部屋を出て行った。翌日は詩乃の娘である奈々のお食い初めだ。暇つぶしにツイッターを眺めていたら、その祝いの生配信が目に入った。よく見ると、会場は私たちが婚約式を挙げたあのホールだ。会場はピンク色に装飾されていた。客で溢れ、来ていた記者たちも有名どころばかりだ。辰巳は陸川グループの幹部たちと正装で姿を現した。彼は終始詩乃のそばに付き添い、深い気配りをもって世話をしていた。最後に記者が質問した。「陸川社長は部下思いですね」辰巳は大勢のメディアの前で弁解した。「奈々は父親を失った。詩乃は俺の妹のような存在で、当然支えるべきだ」私は鼻で笑いながら、その場面を録画した。昨日、詩乃と距離を置くと約束した男が、今日は堂々と彼女のために奔走している。男は嘘ばかりだという言葉の意味を、私は骨身に染みて理解した。もし彼がまた顔を出してしつこくまとわりつくなら、この動画を突きつけてやろう。配信の後半はもう見ず、私は昔のデザイン基礎の教材を開いて一から学び直した。宴会が終わったのだろう。詩乃から知らない番号でメッセージが届いた。動画だった。そこには、私が辰巳をクズだと言った場面が録画されており、それを見た辰巳が顔を曇らせながら、机の上の書類を全て叩き落とす瞬間が映し出されていた。「俺がクズだと?一体誰が誰にふさわしくないのか、彼女は分かってないのか!」私は白い目を向け、最後
reviews