Masuk周藤光陽と婚約を解消したとき、誰もが口を揃えて言った。 元松紗江の人生はもう終わりだ、と。 彼に五年間尽くし、彼の期待に応えるために、自身の評判すら投げ捨てた。 そんな彼女を引き受けようとする男など、もうどこにもいないと誰もが思っていた。 やがて、光陽に新たな恋人ができたという噂が社交界に広がると、周囲の人々は当然のように、紗江が未練たらしく彼に縋りつくのを待っていた。 だが、誰も知らなかった。 紗江は自ら望んで、年若い妹の代わりに港市との政略結婚を引き受けたのだと。 嫁入り前、紗江は光陽から贈られた宝石箱をきちんと返却した。 少年の頃、彼が手作りで贈った空白の願い事カードさえも。 未練も、しがらみも、すべて綺麗に断ち切って旅立った。 それからずいぶんと時が経ったある日、光陽はふと紗江の名を口にした。 「ずっと音沙汰もない......紗江は、もう死んだのか?」 同時に、新婚の夫の熱い口づけで目を覚まされながら、紗江は甘く囁かれた。 「紗江、いい子だね。四回って約束したよね?一回も、減らしちゃだめだよ......」
Lihat lebih banyak“Four ...!”
“Three ...!”
“Two ...!”
Semua bersorak. Teriak serentak. Menghitung mundur dengan penuh penantian kala si pengantin wanita berdiri membelakangi stage, bersiap melempar buket bunga pengantinnya. Terutama bridesmaids sudah mulai saling sikut, tak sabar untuk saling rebut.
Namun tidak dengan Mei. Meski bibir wanita itu tersenyum, tetapi senyum itu tak mencapai matanya yang menyorot suasana itu dengan sendu. Meski begitu dia tetap bergabung dalam barisan besties yang berseragam kebaya merah terang.
“Gooo!”
Semua tanganpun melambai-lambai ke atas, siap menangkap disertai pekikan heboh. Tetapi. Semua kemudian terdiam. Semuanya bengong. Si pengantin wanita justru berbalik badan, mengulurkan buket bunga pengantin yang ditunggu-tunggu banyak orang itu kepada seorang lelaki yang berlari-lari kecil menghampiri untuk mengambilnya. Menciptakan berbagai tanya yang menggantung dalam pikiran semua orang yang melihatnya.
Dan ... tiba-tiba saja, lelaki itu dengan gentle membungkuk di depan Mei seraya berkata, “Meilani, will you marry me?” sambil mengulurkan buket bunga itu padanya.
Mei terperangah. Tak mengira Juna bakal bertindak sampai seperti ini.
Lelaki bernama Juna itupun menyeringai kecil dengan salah satu alis terangkat. Masih membungkuk dan menyodorkan bunga. Menantinya.
Seketika ballroom hotel diriuhkan teriakan orang-orang dalam satu ketukan irama komando.
“Yes!”
“Yes!”
“Yes!”
“Yes!”
Tepukan meriah dan siulan orang-orangpun saling bersahutan ramai kala tangan Mei akhirnya terulur jua, menerima buket bunga itu. Juna pun berdiri. Mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan meraih tangan kiri Mei. Lalu memasang cincin belah rotan bermata berlian yang berkilau cantik di jari manis wanita itu.
Mei berkedip-kedip, tatapannya beralih dari cincin itu ke wajah Juna yang tiba-tiba saja bergerak mendekat secepat kilat. Dan mendelik saat bibirnya terasa hangat di bawah kecupan Juna yang sedang mencuri ciumannya.
“Fans service,” bisik Juna di tengah jeritan ramai orang-orang yang menyoraki mereka.
Mei menelan ludah dan memalingkan wajah. Tatapannya pun membentur si pengantin pria yang berdiri di atas pelaminan sana, yang tak lain adalah Kevin. Pria itu tengah menatapnya setajam elang. Mengoyak perasaan Mei dengan ketidaknyamanan. Secepat kilat Mei pun mengalihkan tatapannya kepada Juna.
Juna justru menertawakan wajah Mei yang semerah tomat. “Jangan bilang kalau ... ini first kiss elu?” bisik cowok itu terdengar begitu meledek.
“Shut up,” desis Mei seraya berjinjit dan merangkul leher Juna. Membuat pria itu mematung kala sekonyong-konyong Mei melumat bibirnya yang menganga kaget.
Sekilas Juna melirik ke arah pelaminan, menangkap ekspresi sang pengantin wanita, yang tak lain mantan kekasihnya. Di sana, Raya terbelalak tak percaya sambil mencengkeram lengan Kevin yang juga terlihat jengah memalingkan wajah. Membuat Juna bersorak menang dalam hatinya, kemudian dia berbisik disela-sela ciumannya, “Good job, Mei.”
***
Dua jam sebelumnya,
Mei berbaur dalam suasana pesta yang sudah selayaknya dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun tidak dengan perasaannya kini. Entah sudah yang keberapa kali Mei mencuri tatap ke pelaminan dengan sorot sendu. Memandangi Kevin. Pria itu tampak begitu menawan dan gagah dalam balutan jas mahalnya. Bersisian dengan Raya yang begitu cantik, secantik gaun pengantinnya saat ini.
“Mereka cocok banget ya? Serasi,” celetuk Sarah yang diamini teman-temannya. Lalu keempat bridesmaid berseragam kebaya merah terang itu mulai membicarakan tekad mereka untuk saling rebut buket bunga pengantin dari Raya nanti, biar yang mendapatkan bisa lekas menyusul kawin. ‘Siapa tahu mitos itu jadi kenyataan?’ Begitu harapan mereka.
Mei ikut tertawa palsu bersama teman-temannya yang lain meski perasaannya berantakan. Kevin adalah cinta satu-satunya, yang sampai kini bertahta di hatinya. Namun, bukan salah pria itu yang pilih melabuhkan hatinya kepada Raya, sebab tiada komitmen apa-apa antara Kevin dengan Mei. Bahkan mungkin Kevin tak peduli bagaimana jantung Mei berdebar dalam setiap momen kebersamaan mereka.
Mei masih ingat rasanya. Saat Raya melempar bom itu padanya di sebuah acara reuni 2 minggu yang lalu. “Mei, ini undangan buat elu. Gue sama Kevin mo merit, lu wajib datang. Elu mau kan jadi bridesmaid gue?” ucap Raya dengan ceria, berbanding terbalik dengan Mei yang seketika memucat.
Tak ada angin, tak ada hujan. Lalu. Dari manakah badai ini datang?
“M-memangnya ...,” Mei menelan ludah pahit, “sejak kapan elu sama Kevin jadian?”
Raya tersenyum simpul. “Actually, kami tunangan setahun lalu di Amrik. Kami mulai dekat sejak kuliah bareng di kampus yang sama di sana.”
Pengakuan Raya terasa mencekik Mei hingga sulit berkata-kata. Komunikasinya dengan Raya memang tersendat sejak Raya melanjutkan study pasca sarjananya di Amerika. Dan kesibukan membuat keduanya menjadi sulit bertemu sekembalinya Raya ke Jakarta beberapa bulan lalu.
Mei terlalu terkejut sampai lupa memberi selamat. Tatapannya menelusuri undangan cantik nan wangi di tangannya. Jantungnya dipecut nyeri mendapati foto prewed Raya dan Kevin yang begitu mesra. Mei mengabaikan sosok Raya dalam foto itu, perhatiannya tertuju lurus-lurus pada wajah Kevin yang sedang tersenyum dengan teramat manis. Rahang tegas dan belahan dagunya yang khas, menyihir Mei dengan kekaguman seperti biasa. Mei pun membaca baris demi baris kalimat dalam undangan itu. Dan tatapannya terhenti, tertancap pada nama Kevin Febrian yang terukir indah dalam tinta emas. Seindah ukiran perasaan Mei terhadap pria itu selama ini. Tiba-tiba netra Mei terasa memanas. Sebelum air mata benar-benar menetes dan mempermalukan dirinya di depan Raya dan teman-teman, Mei lekas menyingkir menuju restroom. Lalu membasuh wajahnya dengan air kran. Mei mati-matian menahan. Tapi, air mata sialan itu meluncur juga. Bersama setiap nyeri yang menggigiti hati. Dan hari ini ..., rasa nyeri itu kian terasa menjadi.
“I know, Mei. Lu pernah ada something kan sama Kevin? So, kita senasib sekarang. Right?” tembak Juna yang tiba-tiba berdiri di sampingnya, membuat Mei terbatuk-batuk kaget.
“Sorry ...? What do you talking about?” Mei mencoba mengelak dari ucapan Juna, si cowok berisik yang kerap membuntuti dan menyogoknya dengan aneka coklat semasa SMA, demi sekulik info tentang Raya. Ya. Juna adalah penggemar berat Raya sejak dulu. Harusnya Mei iba mengingat betapa bucinnya Juna kepada Raya, tetapi pria itu tetap membesarkan hatinya untuk hadir di sini. Tetapi Mei jadi kesal karena Juna mengungkit-ungkit tentang dirinya dan Kevin.
“Mata itu jendela hati, Mei. You show it too clear. So I know, everybody know. Pernikahan ini menghancuranmu.”
Kata-kata Juna bagai panah yang menancap telak ke jantung Mei. Seketika kakinya gemetar. Sejelas itukah?
Seakan bisa mendengar isi pikiran Mei, Juna bergerak mendekatinya dan berkata. “I feel you, Mei. Posisi kita sama. Kita sama-sama dicampakkan. Kevin tahu banget elu masih suka sama dia. Raya juga tahu gue masih suka sama dia. Di mata mereka, kita ini pecundang. So, gimana kalau kita bersekutu? Come on, kita tunjukin ke mereka kalau kita udah move on and happy together. Bukankah tampak bahagia itu pembalasan dendam terbaik?”
“Ckckck. Teori dari Hongkong!” ketus Mei sambil beranjak pergi.
Juna mencekal lengan Mei. “I will pay you,” ucapnya membuat wanita itu terpaku di tempat. Lalu pria itu merundukkan kepala dan membisikkan sesuatu ke telinga Mei.
***
また一年が過ぎて、紗江の母親の命日がやってきた。紗江は深志と共に飛行機で東都市を訪れて、亡き母を偲ぶため、墓前へと向かった。写真の中の母親は、生前と変わらぬ優しい笑みを浮かべていた。紗江は供花と供物をそっと墓前に置き、ここ数ヶ月の出来事をひとつひとつ語りかけた。夕陽が山の端に落ちかかるまで、彼女は名残惜しそうに語り続けた。帰路につこうと山を下っていると、ふいに周藤光陽の姿が目に入った。やつれ切った顔、整っていた身なりも見る影もなく、すっかり落ちぶれた様子だった。今や周藤家も、彼を完全に見放したという話だった。お酒とギャンブルに溺れた放蕩者は、もはや家族の重荷でしかなかったのだ。「紗江......」呆然とした様子で彼女を見つめて、数歩近づいてきたかと思えば、ふと何かを思い出したように立ち止まった。紗江は冷ややかなまなざしで彼を見つめながらも、心の奥底では一抹の感慨を拭えなかった。かつての彼は、若き俊英だった。常に人々の注目を一身に集めていた。だが今や、彼の背後に人影はなく、かつての仲間たちもすでに四散していた。この結末は、誰のせいでもない。すべて自業自得だった。光陽はしばらく紗江を見つめた後、彼女の隣に立つ深志に視線を向けた。深志は彼女の腰に腕を回し、毅然とした姿で寄り添っていた。堂々たる体躯に、凛とした顔立ち。誰が見ても非の打ち所のない男だ。やがて光陽の顔に滲み出たのは、深い苦悩だった。「少しだけ、紗江と二人きりで話せないかな?場所を変えなくてもいい、財前さんに少し席を外してもらえれば......」「彼は私の夫だ。隠すことなど何もない」紗江は深志の手をぎゅっと握りしめて、きっぱりと答えた。「話があるなら、ここでどうぞ」その言葉に、光陽は寂しげに笑った。「紗江......俺は謝って、過去の過ちを償うと誓えば、君は戻ってきてくれると思っていた。ずっと信じてた......この世で最後まで自分のそばにいてくれるのは、君だけだって」その表情に浮かぶのは、確かに真実の後悔と、許しを乞う気持ちだった。だが、それもすべて遅すぎた。もう何も意味はなかった。「光陽、いつまでも、同じ場所で待ってる人なんて、いないわ。前に進んで。もう、振り返らないで。」その言葉を
紗江静かに聞いていた。何も言わずに、ただ深志の傷口に薬を塗る手は止まらなかった。「紗江?」深志は何度も彼女を呼んだが、ようやく彼女は顔を上げた。紗江の瞳の中に、彼女自身の反射とともに、赤く腫れた目元が映っているのが見えた。深志は手を伸ばして、優しく愛おしそうに紗江の頬を撫でた。紗江は深志を押しのけて、手が震えながら言った。「あなたは自分を危険にさらして、もし彼らの手に落ちたら、最初に殺されることを考えなかったの?」深志はもう一度紗江を強く抱きしめた。彼女の顔に軽いキスを何度も落として、低い声で囁いた「ごめん、考えが足りなかった。君を危険にさらしてしまって、後悔してる。これからは、もう絶対にこんなことはしない。どんなことでも、事前に君と相談するから、いい?」紗江の鼻がますますつらくなり、堪えていた涙が一気にあふれ出した。まるで糸が切れた珠のように、涙が次々と落ちていった。深志の声がますます優しくなるほど、紗江はさらに激しく泣いた。まるでこの一生の涙を全部流し尽くしてしまうかのように。紗江は深志の胸に飛び込むと、彼のシャツを強く握りしめながら泣き続けた。「深志」「ここにいるよ」「深志!」「ここにいるよ」紗江は何度も彼の名前を呼び、彼も何度も飽きることなく答えた。泣き疲れた紗江は、深志の胸で眠りに落ちた。目を覚ました時、ベッドの横に温かな灯りがともり、深志がベッドのそばに座っていた「紗江、目が覚めたか?」紗江はすぐに彼の胸に飛び込んだ。「お腹すいたか?ご飯を持ってこようか?」紗江は答えず、ただ仰向けになって彼を見上げた。「深志」「うん?」「廊下の先の部屋の写真、見たよ」紗江は顔を上げて深志のあごに軽くキスをして、ほんのり赤くなった目の奥に深い笑みを浮かべた。「あなた、ずっと私のことが好きだったんでしょ?」危険な状況に直面したとき、人は無意識に本音が出るものだ。深志も、そして紗江も。それ以前から、紗江は深志の好きだという気持ちをどこかで感じていたし、写真からも彼の深い愛情を覗き見ていた。ただ前の恋愛で傷つきすぎて、無意識に逃げていた。今日、危険な目にあって、もし自分の気持ちを彼に伝えられなかったら、どれほど後悔するだろうかと気づいた。深
およそ十分後、外で騒がしくなった。紗江は手に持っていた木の棒を握りしめて、無意識に深志を自分の後ろにかばうようにし、表情をさらに緊張させた。扉の鍵が開き、五人の男たちが入ってきた。そのうちの一人は大きな刃物を手にしていて、残りの四人はすべて野球バットを持っていた。彼らはすぐに、隅に隠れていた紗江と深志を見つけた。扉が開くと、深志は背中を壁に預け、斜めに紗江に寄りかかっていた。紗江は深志がわざと隙を見せて、相手を油断させようとしていることを理解し、協力的に振る舞った。案の定、あの連中はすぐに嘲笑し始めた。「こいつは役立たずだな、見ろ、立つこともできないくせに、女に守られなきゃならないなんて」「本当にクズだな」リーダーの男は紗江をじっと見つめて、刀を隣の部下に渡して言った。「こんな障害者がこんな美しい妻を持ってるなんて、普段は見るしかできないだろう?ならば俺がいただこう」言いながら、男は紗江の腕を引こうと手を伸ばした。その瞬間、深志は一歩前に出て、男の顔に一発を浴びせた。その動きは非常に速く、紗江は男の鼻骨が折れる音を聞いた。次に、深志はその男を足で蹴飛ばし、地面に倒れさせた。他の数人が前に進もうとしたその時、警察とボディガードが間に合って到着した。混乱の中で、紗江は倒れた男をずっと見ていた。さっき彼が近づいてきた時、腰に銃を隠し持っているのをぼんやりと見た。やっぱり、彼はいつの間にか銃を抜tいて、深志に向けて発砲した。紗江は考える暇もなく、頭が真っ白になった。ただ本能的に、深志の身に飛び込んで、致命的な一発を彼のために防ごうとした。銃声とともに、紗江は自分の心臓の音が聞こえた。ドクンドクンと激しく鳴っていた。でも、予想していた痛みは襲ってこなかった。紗江は呆然と深志を見つめて、言葉が出なかった。「紗江、紗江......」深志は、突然彼女を強く抱きしめて、その体をしっかりと腕の中に押さえつけた。震えるような声には明らかな恐怖の余韻が滲んでいた。「紗江......無事でよかった。もし何かあったら、一生自分を許せなかった」紗江は深志の顔に手を伸ばして、シャツににじんだ血を指先で感じた瞬間、抑えていた涙が一気にあふれ出した。「深志......怪我した?」「ち
深志に起こされた時、紗江はかろうじて意識を取り戻したが、頭は依然としてぼんやりと痛んでいた。「紗江、今は少し楽になったか?」彼は心配そうに尋ねて、紗江は無意識に答えた。「あなたはどう?怪我してない?」彼が動けないことを思い出し、さらに焦りが募った。すぐに彼の姿を上から下まで確認した。彼のスーツはどこかに消えていて、シャツは乱れ、ボタンがいくつか取れていた。腕時計も見当たらず、いつも完璧だった髪も少し乱れている。「俺は大丈夫、怪我してないよ。安心して、俺の体には位置情報の装置をつけてあるから、最長でも一時間以内には誰かが助けに来る。怖がらないで、俺がいるから」こんな状況でも、深志は冷静さを失わなかった。そのおかげで、紗江の心の中の不安も少し和らいだ。紗江は無理やり体を起こして、周りの環境を確認した。そこは廃工場で、周囲は空いていて老朽化していて、地面には錆びた小さな部品や木材の廃材が散乱していた。工場の外からはかすかな声が聞こえてきたが、声が小さすぎて何を言っているのかは分からなかった。紗江は力を振り絞って立ち上がって、大きな扉に近づいてみた。扉の外側には鍵がかかっており、内側からは開けられなかった。窓は高くて、手を伸ばしても届かない。工場内には何もそれを補うものがない。困っていると、突然、力強い腕にしっかりと抱き上げられた。驚きの声が喉に詰まって出なかった。それは深志だ。でも、彼は歩けないはずなのに......彼女は疑問と驚きを強く押し込めながら、窓の隙間から外の景色を見て、その様子を彼に伝えた。深志はすぐに位置を特定した。彼は彼女を降ろして、声を低くして言った。「あと十五分で誰かがここに来る。安心して」紗江は頷いて、深志の足に視線を向けた。新婚初夜、紗江はすでに彼の足に萎縮の兆しがないことに気づいていた。その時はただ丁寧に看護されているだと思い、深くは考えなかった。深志の気持ちを傷つけたくないため、足のことについて尋ねることはなかった。今となっては、深志の足に何も問題がないことがわかった。そして、深志がその間ずっと冷静だったことから、紗江もだいたいの予想がついた。「このことは帰った後にゆっくり説明する。今は、安全を確保して、救助を待と
Ulasan-ulasan