Disisi lain,Eden memasuki perusahaan dengan rahang mengeras, tangannya terkepal erat seolah siap memukul lawan.Hentakan kakinya menggema bagaikan bom waktu. Setiap karyawan yang melihatnya langsung menepi, tak ada satupun yang berani menegur atau menyapa.Tampang Eden yang biasanya nampak bengis kini lebih pantas di sebut iblis. Wajah datar dan tatapan tajam, lengkap dengan sebuah pistol mengintip di saku kirinya.Seorang resepsionis datang terburu-buru ia membungkuk singkat, walau tubuhnya gemetar penuh takut ia tetap menyambut Eden."Selamat datang Tuan." Eden tak menjawab, langkahnya tetap fokus pada satu tujuan, yaitu Ruangan direktur.Bisik-bisik para karyawan terdengar di telinganya, namun yang lebih penting dari itu adalah segera membereskan kekacauan."Pak Eden sepertinya murka.""Iya ini pasti karena ibunya...""Memang kenapa ibunya?""kau tidak tahu? tadi pagi-pagi sekali nyonya besar Julia datang dan meminta ob untuk merubah ruangan Pak Eden,""Hah? serius?""Iya, mana t
Baca selengkapnya