Zayn memijat pangkal hidungnya seraya menghela napas berat. Kepalanya sudah cukup berdenyut memikirkan intrik gila di rumah Adinata semalam, ia tidak punya energi lagi untuk mengurusi paranoid tambahan pagi ini.Zayn mencoba mengabaikan rasa janggal yang mengganjal di dadanya.Ia menarik napas panjang, mengunci pintu unitnya, lalu melangkah menyusuri lorong. Begitu menjejakkan kaki di area pelataran luar gedung apartemen, mata tajam Zayn menyapu sekeliling. Sosok bertopi hitam itu sudah tak berbekas. Lingkungan sekitar tampak sepi dan normal, hanya dihiasi beberapa penghuni yang bersiap menyambut rutinitas pagi.Tanpa membuang waktu lebih lama, Zayn mengenakan helmnya, menaiki motor sport-nya, dan menyalakan mesin.*Azalea mengayuh sepedanya menyusuri jalanan menuju sekolah. Kayuhan pedalnya santai, menikmati angin pagi yang membelai wajahnya. Ia bukan satu-satunya yang berangkat memakai sepeda, teman lainnya juga banyak. Tapi bedanya, mereka memakai sepeda karena memang rumahny
อ่านเพิ่มเติม