Menjadi Istri Muda Si Tuan Muda

Menjadi Istri Muda Si Tuan Muda

By:  icher  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9.9
Not enough ratings
257Chapters
187.5Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

(Area 21+++) Kehidupan Olivia berubah drastis saat ia memutuskan untuk menerima tawaran Albert untuk menjadi isterinya, untuk menyelamatkan Ayahnya dari ambang kebangkrutan. Setelah sah menjadi isteri seorang CEO yang kaya raya namun bersikap dingin itu, Olivia baru mengetahui bahwa dirinya hanya isteri kedua Albert. Sementara, Monic sang isteri pertama selalu berusaha merusak kepercayaan Albert terhadap Olivia. Hingga sebuah rencana jahatnya berhasil membuat Albert mengusir Olivia. Bagaimana reaksi Albert setelah 3 tahun berpisah, lalu bertemu Olivia saat menggandeng sepasang anak kembar, yang salah satunya sangat mirip dengan Albert? #salahsasaran

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
257 chapters
Aku ingin dia menjadi isteriku.
Di sebuah rumah yang terbilang cukup mewah. Sedang duduk beberapa orang yang tampak sangat serius membicarakan sesuatu."Baik, aku akan membantumu. Tapi, tentu saja aku memiliki syarat. Apa kau sanggup memenuhi syarat dariku?" Tanya pria itu dengan tatapan yang tidak bersahabat.Olivia yang mendadak pulang dari kampus, karena mendapat kabar tentang kebangkrutan Ayahnya, melihat ada tulisan, " RUMAH INI DISITA BANK" di depan pagar rumahnya.'Ternyata berita itu benar.' Olivia berkata dalam hatinya. Lalu ia bergegas masuk ke dalam rumah, tepat saat Ayahnya selesai bertanya pada pria yang duduk di hadapannya itu."Apa syarat dari anda, Tuan Muda?" Tanya Willson, Ayah Olivia.Olivia berjalan ke arah kursi dimana Ibunya sedang duduk. Pria itu menatap sangat dalam pada wajah Olivia. Ya, meskipun agak tomboy, tapi Olivia memiliki wajah yang sangat cantik dan body yang bisa dibilang sangat bagus untuk kalangan wanita-wanita yang diidamkan pria."Seb
Read more
Aku butuh waktu, Bu.
Setelah mendapat kecupan di keningnya dari Clara dan Willson, Olivia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Clara memandang kepergian Olive dengan tatapan sendu. Sungguh, ia tak menyangka jika takdir akan mempermainkan kebahagiaan Putrinya seperti ini. Saat sampai di kamar, Olivia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Sejujurnya, dia masih sedikit syok dengan kejadian siang ini.Dalam hitungan jam, ia akan menjadi isteri seorang pria yang tidak dia kenal. Bahkan, namanya saja dia tak tau. Terbesit penyesalan di hatinya, kenapa dengan mudahnya ia menyetujui untuk menikah dengan pria itu. Namun, saat memikirkan kedua orang tuanya, Olivia merasa telah mengambil keputusan yang sangat tepat.Namun tetap saja, muncul kegundahan di dalam hatinya. Bagaimana dengan kuliahnya nanti? Apa yang harus dia katakan pada Tristan, kekasihnya? Apa dia harus menceritakan semua ini pada Zara, sahabat baiknya? Pertanyaan- pertanyaan itu muncul di dalam pikiranya.Tak
Read more
Dasar, pria mesum.
Keesokan harinya, Olivia terlihat sudah rapi dikamarnya. Dia sudah bersiap untuk berangkat ke kampus, saat Ibunya datang memanggilnya untuk turun. "Olive, apa kau sudah siap, Nak? Tuan Muda itu sudah menuggumu di bawah." Tanya Clara dengan sedikit berteriak saat mengetuk pintu kamar.  Dengan ekspresi terkejut dan heran, Olivia membukakan pintu. "Apa maksud ibu, pria yang kemarin siang itu? Yang akan menjadi suamiku?" "Benar, sayang. Namanya, Tuan Muda Albert Jay Cammerun. Dia putra sulung keluarga Cammerun. Dia CEO termuda dengan kekayaan yang tidak akan pernah habis selama tujuh generasi."  "Oh ya? Tapi, percuma dia mendapatkan semua keberhasilan itu, jika masih ada sifat angkuh dan sombong didalam dirinya." Olivia terlihat tidak tertarik sama sekali dengan hal menakjubkan yang baru saja di terangkan Clara.  Saat dia berjalan keluar kamar, ternyata Albert ada diluar kamarnya itu. Clara menjadi gugup, mengingat apa yang baru saj
Read more
Iya, Tuan Suami.
Setibanya di kantor catatan sipil. Mereka berdua segera masuk ke dalam kantor ketua pengurusan akta nikah. Karena Albert orang yang sangat berpengaruh di kota ini, tentu saja mudah baginya mendapatkan surat nikah itu hanya dalam waktu semalam. Setelah membubuhi tanda tangan di kertas selembar itu, mereka segera keluar. Saat Albert membukakan pintu mobil untuk Olivia, dia dengan cepat memberikan penawaran. "Bisakah aku pergi dengan taxi saja? Aku akan langsung ke kampus. Aku ada kelas pagi ini." "Masuk!" Titah Albert terdengar menakutkan. "Tapi, kau tidak mungkin kan mengantarku ke kampus menggunakan mobil super mewah ini?" Olivia takut menjadi tontonan satu kampus karena turun dari mobil yang hanya ada tiga unit di dunia ini. "Masuk atau aku akan..." "Iya.. iya.. aku masuk. Kau puas sekarang?" Olivia masuk ke mobil itu dengan wajah cemberut. Tersungging senyum di bibir Albert melihat tingkah Olivia yang menurutnya sangat lucu.
Read more
Dasar sinting!
Mike sudah menunggu di depan kampus dengan mobil baru, yang tidak terlalu mencolok. Meski begitu, mobil sport yang di bawa Mike saat ini masih terbilang mewah. Karena hanya ada seratus unit di dunia. Setidaknya, Olivia tidsk terlalu risih seperti menaiki mobil yang hanya ada tiga unit di dunia itu. Saat Mike melihat Olivia keluar dari gerbang kampus, ia segera keluar untuk membuka kan pintu mobil. Olivia sedang bersama Tristan saat ini. Saat melihat Mike sudah menunggunya, Olivia menjadi sangat gugup. "Olive, apa kau mendengar yang baru saja kukatakan?" Pertanyaan Tristan membuat Olivia semakin gugup. "Em.. itu, bagaimana jika kita pergi lain kali saja? Ada hal penting yang harus kukerjakan sekarang!" Olivia tidak tau harus berbuat apa saat ini. "Tapi, aku sudah memesan tiket untuk sore ini. Apa kau lupa, film ini hanya di tayangkan satu kali di bioskop." Tristan memegang tangan Olivia. "Aku benar-benar tidak bisa kali ini, aku harus p
Read more
Isteri kedua?
Mike tidak tau harus bagaimana menghadapi tingkah Olivia. Mike mengeluarkan ponselnya, berencana untuk melaporkan pada Albert bahwa Olivia sudah selesai makan malam. Olivia yang melihat Mike akan menelpon, lantas berkata "Kadukan saja pada pria sombong itu, aku tidak takut sama sekali. Kau memang anak buah yang sangat berbakti, Mike."  "Itu sudah menjadi tugasku, Nona." Mike membungkuk, kemudian pergi dari ruang makan. Meninggalkan Olivia yang masih menggerutu karena kesal. Akhirnya Olivia kembali ke kamarnya. "Apa yang bisa aku lakukan di sini?" Olivia bertanya pada dirinya sendiri saat sedang berbaring di atas ranjangnya. Layar ponselnya menyala, Olivia menjangkau ponsel yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Panggilan masuk dari sebuah daftar kontak bernama Tristan. Dengan cepat Olivia mengatur posisinya menjadi duduk. Olivia ragu-ragu namun akhirnya menggeser layar ke tombol angkat. "Hallo.. my sweety."
Read more
Jadi, aku hanya isteri kedua?
Pagi ini, Olivia bangun lebih awal. Dia ingin memasak sendiri sarapan yang ingin dia makan. Meski para pelayan dan para koki sudah melarangnya, bukan Olivia namanya jika menyerah. Akhirnya para pelayan dan koki hanya mengawasi saja apa yang di lakukan Olivia. Sesekali Olivia akan meminta mereka untuk membantu mengerjakan sesuatu. Jam setengah tujuh pagi, sarapan telah tersaji di meja makan. Olivia sengaja membuat dua piring sarapan. Dia ingin memberikannya untuk Mike sebagai sogokan pagi ini. Ada informasi yang harus dia ketahui dari Mike. Setelah Olivia selesai mandi dan berpakaian rapi, dia kembali turun dan langsung menuju meja makan. Dia duduk dan mencium aroma masakannya sendiri.  "Hhmmm.. aromanya sangat menggoda. Masakanku memang selalu tak tertandingi." Ucap Olivia lalu menyuap satu sendok bubur yang terbuat dari tepung beras dan di siram gula merah di atasnya. Aroma pandannya sangat kuat. Hingga Mike pun bisa mencium aroma bubur itu dari
Read more
Apa itu penting bagimu?
Di dalam jet, saat perjalanan pulang, Albert tak henti-henti menatap jarum yang bergerak di jam tangannya. "Dasar, gadis manja. Kali ini, apa lagi yang membuatnya bertingkah." Albert menggeram pelan, namun kata-kata itu masih terdengar dengan jelas di telinga Lucy. "Siapa yang di maksud oleh Tuan Muda? Itu tidak mungkin Ny. Monic kan? Jika itu Ny. Monic, Tuan tidak akan meninggalkan rapat penting seperti tadi hanya demi menemuinya. Siapa gadis yang Tuan maksud? Aku harus mencari tau informasinya nanti." Lucy begitu penasaran dengan ucapan Albert. Lucy merasa saingannya bertambah satu orang lagi, setelah Monica. Karena cuaca bagus pagi ini, mereka sampai dengan cepat. Seorang sopir sudah menunggu di bandara.  "Lucy, kembali lah ke perusahaan menggunakan taxi. Aku akan pulang ke mansion terlebih dahulu." Titah Albert lantas segera masuk ke mobil, tanpa perlu menunggu jawaban dari Lucy. "Pulang ke mansion? Apakah gadis yang Tuan Muda sebut t
Read more
Membuat rendang.
Olivia tidak bersemangat lagi hari ini. Bahkan, ia tidak mengikuti satu pun kelasnya hari ini. Olivia merenungi apa saja yang telah terjadi pagi tadi, semua terasa begitu cepat. "Bagaimana dia bisa menganggap itu seakan bukan lah hal yang penting untuk kuketahui?" Olivia berbicara pada bayangannya di cermin. Setelah kejadian menggemparkan pagi tadi, Albert memutuskan untuk kembali ke kantor pusat.  Di kantor, para karyawan sudah biasa melihat wajah kaku dan dingin Albert. Meskti tidak pernah dijawab, para pekerja akan tetap menyapa atau memberi hormat saat mereka melihat Albert. "Lucy, apa kau sudah membereskan masalah di London pagi ini? Jangan lupa, beri tau mereka kembali bahwa aku mengundang mereka dalam peresmian cabang hotel yang akan di laksanakan dua hari lagi. Sebagai permintaan maafku atas kejadian pagi ini, segera kau kirim undangan beserta sebotol anggur tahun 1940." Albert memerintahkan Lucy untuk menyelasaikan urusan itu. "B
Read more
Biar aku yang membawanya.
Diam-diam, Mike merekam momen itu. Lalu mengirimnya kepada Albert. Semenit kemudian, Albert mengirim pesan. "Untuk apa kau mengirimiku video itu? Aku tidak peduli apa yang di kerjakannya, aku lebih peduli pada dapurku. Jangan sampai dia membuat dapur atau mansionku hancur, Mike." Balasan dari Albert membuat Mike tertawa pelan. "Tuan, aku yakin anda sangat peduli pada Nona Muda. Jika tidak, anda tidak akan mengirimiku pesan seperti ini." Bathin Mike sambil terus memperhatikan gerak gerik Olivia dari kejauahan. "Mike, kemari lah." Panggil Olivia, membuat Mike sedikit terkejut. "I-iya, Nona." Jawabnya gugup. "Kenapa kau hanya berdiri di sana sejak tadi? Apa yang kau pikirkan?" Tanya Olivia saat Mike sudah berada di depannya. "Maaf, Nona. Saya hanya mengawasi anda. Karena dapur adalah salah satu tempat yang berbahaya untuk anda." Ucap Mike, membuat Olivia sedikit heran. "Berbahaya? Bagaimana dapur bisa di sebut berbahaya? Ini hanya tempat
Read more
DMCA.com Protection Status