INICIAR SESIÓNHandaru Gama Atmadjiwo tidak tahu jika keputusannya untuk kembali ke Ibu Kota menimbulkan petaka. Baru satu hari tiba, dia sudah terlibat skandal dengan seorang gadis muda. Skandal yang membuat citra keluarga Atmadjiwo ternoda. Sialnya, dia harus bertanggung jawab untuk menikahinya. Pernikahan yang awalnya hanya sebatas di atas surat harus berubah ketika perasaan mulai terlibat. Tanpa Ndaru ketahui jika benang merah ternyata sudah lama terikat. Lalu ia pun dibuat bimbang untuk tetap memilih tinggal atau tak terlibat. "Apa yang kamu inginkan, Shana?" tanya Ndaru. "Saya mau Pak Ndaru menikahi saya." ***
Ver másTepat di pinggir sebuah danau, terdapat keramaian yang mencuri perhatian. Banyak anak-anak berlarian, para wanita sibuk dengan pergosipan, dan para pria yang sibuk dengan daging yang dipanggang. Namun ada hal lain yang lebih menarik perhatian. Harris Atmadjiwo. Pria itu tampak serius mengajari bayi untuk belajar berdiri. Bayi itu adalah Kanaya, anak kedua dari Putra bungsunya. Anak dari menantu yang dulu tak pernah ia anggap ada. "Ayo, Naya. Berdiri." Harris tampak bersemangat. Dia terkekeh begitu Naya kembali jatuh di rerumputan hijau. "Nggak apa-apa. Ayo, dicoba lagi. Nanti biar bisa main kejar-kejaran sama Mas Juna dan Mas Satria." Dari jauh, aksi Harris menjadi perbincangan para wanita. Mereka tampak duduk santai di gazebo dengan teh hangat di tangan. "Lihat, Papa." Yanti menunjuk Harris dengan dagunya. Shana terkekeh. "Tau gini, dari dulu aku suap pake bayi lucu." "Papa memang suka anak-anak," sahut Putri. "Oh, ya. Gimana sama Rama? Dia beneran mau kenalan sam
Hari yang Shana tunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari di mana film-nya akan tayang segera. Semua kesulitan dan prahara yang menimpa selama produksi seolah terbayar sudah. Rasa puas dan bangga pada diri sendiri pun menggetarkan semangat jiwa. Bisa dibilang film kedua Shana ini menguras tenaga dan pikiran. Mulai dari masalah Dito hingga masalah keluarganya ikut berperan. Shana bersyukur jika produksi film masih bisa dijalankan. Sampai akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun sudah melambaikan tangan. Kilat cahaya kamera mulai menyerang begitu Shana tiba. Tidak sendiri, dia datang bersama suami dan anaknya. Untuk pertama kalinya Ndaru mendampingi di acara istrinya. Selama ini Shana yang selalu menemani Ndaru. Namun khusus malam ini, di hari istimewa Shana, Ndaru siap sedia di sisinya. Menyisihkan segala kesibukannya di kantor untuk sang ratu hatinya. "Mbak Shana gimana perasaannya, Mbak?" tanya salah satu wartawan. "Seneng banget!" Shana memberikan senyum lebarnya. "Nggak sabar nonto
Suara benda jatuh membuat mata indah itu terbuka. Cahaya terang pun langsung menerpa. Sebenarnya lampu kamar belum menyala sepenuhnya. Hanya saja cahaya yang ada belum membuat matanya terbiasa. Shana menoleh pada sumber suara. Di sana seorang pria tampak berjongkok untuk mengambil sesuatu. Setelah itu pria itu menoleh padanya dan tersenyum tipis. "Maaf," ujarnya mendekat. "Jadi ganggu tidur kamu." Shana menggeleng dan merenggangkan tubuhnya. Dia mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya untuk menghalau rasa dingin. Dia tidak bohong, pagi ini memang terasa dingin. "Jam berapa?" tanya Shana mencari keberadaan ponselnya. "Setengah enam." Ah, pantas saja Ndaru sudah siap. Hari memang sudah pagi. Matahari pun juga sudah bekerja sedari tadi. "Lanjut tidur aja." Ndaru yang sudah berdiri di sisi kasur mengusap kepala istrinya. Shana menggeleng dan mulai tersenyum manis. "Selamat pagi, Mas." Ndaru membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis. Pemandangan indah
Hari ini Ndaru mengambil cuti setengah hari. Bukan untuk keluarga, melainkan ia akan hadir dalam pelantikan presiden. Sebagai wajah pengusaha yang peduli akan politik, dia harus menampakkan diri. Mewakili ayahnya yang memilih untuk bermain di belakang layar dan menikmati masa purnanya. Jalanan hari ini pasti akan penuh dengan para pendukung. Tentu kemacetan akan ikut mengurung. Oleh karena itu, Ndaru memilih untuk cepat bangun. Bersiap di kala langit masih gelap dan mendung. Ndaru masih sibuk bersiap, sedangkan Shana sibuk dengan masakan. Secara mendadak, Bibi Lasmi izin pulang kampung semalam. Dengan alasan cucunya yang berada di pondok pesantren sakit. Yang membuatnya khawatir dan memilih untuk pulang. Tak masalah bagi Shana dan Ndaru, toh Bibi Lasmi hanya izin satu hari. "Dasinya yang mana?" Ndaru muncul ke dapur dengan dua dasi di tangannya. Warnanya sama tetapi dengan motif yang berbeda. "Yang garis aja," ujar Shana kembali fokus memasak. Dia tengah membuat nasi go
Perbedaan itu begitu terasa. Rasa aneh itu begitu ketara. Ketika sosok itu menghilang secara tiba-tiba. Membuat semuanya seperti kembali ke semula. Membosankan. Ndaru tak menyangka jika kehidupan yang dulu ia anggap aman dan berada di zona nyaman ternyata sangat membosankan. Semua pandangan it
Suara televisi yang menyala hanya menjadi peramai suasana. Berita menarik yang ditampilkan juga bukan menjadi fokus utama. Wanita di depannya malah duduk meringkuk manja. Memeluk sang Kakak dengan selimut tebal yang menyelimutinya. Awalnya, Erina terkejut dengan kedatangan Shana di rumahnya tadi
Terjebak dalam situasi yang tak diinginkan memang menegangkan. Menimbulkan rasa sesak yang sulit untuk dihilangkan. Rasa pasrah pun turut menjadi bagian. Hingga lambai tangan seolah menjadi akhir pilihan. Akan tetapi… Jangankan untuk melambaikan tangan, lolos dari rengkuhan pun sepertinya ta
Seperti hari sebelumnya, rumah Harris Atmadjiwo tampak ramai akhir-akhir ini. Selain para cucu yang berlarian, anak-menantu juga ikut merapatkan barisan. Semua itu dilakukan demi keamanan. Harris tidak bisa menjamin keluarganya akan baik-baik saja jika di luar sana. Selama Nurdin dan Darma masih












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñasMás