SAAT ISTRIKU MULAI BELAJAR MANDIRI

SAAT ISTRIKU MULAI BELAJAR MANDIRI

Oleh:  Reinee  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.8
Belum ada penilaian
75Bab
203.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Metta tidak menyangka bahwa kelemahan dan sifatnya yang selalu bergantung pada sang suami dalam setiap urusan justru dijadikan sebuah kesempatan bagi Bimo untuk berkhianat. Hal yang lebih menyakitkan, lelaki yang telah membersamainya selama bertahun-tahun itu berpaling untuk seorang wanita yang sangat dia kenal.  Bimo sendiri awalnya tak pernah merasa bersalah karena dukungan yang diberikan oleh keluarganya, terutama dua kakak perempuannya. Sementara ibunya lebih prihatin menghadapi masalah yang menimpa rumah tangga sang anak. Saat akhirnya Metta memutuskan untuk lepas dari suaminya, di situlah perlahan-lahan Bimo mendapatkan karma atas perbuatan jahatnya di masa lalu terhadap istrinya. 

Lihat lebih banyak
SAAT ISTRIKU MULAI BELAJAR MANDIRI Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
75 Bab
PART 1
 "Mama kamu mana, Bas?" tanyaku pada Ibas, anak lelakiku yang sedang asik bermain dengan ponselnya di teras rumah.   Aku sedikit keheranan saat pulang dari toko dan melihat rumah agak sepi. Biasanya Metta akan selalu menyambut dengan ceria, bahkan terkadang sebelum aku sempat turun dari mobil.   "Mama beli gas, Pah," sahut anakku sambil mengulurkan tangan kanannya untuk mencium punggung tanganku.   "Beli gas? Serius?" Aku mengerutkan dahi makin  heran. Selama ini Metta tak pernah mau melakukan hal itu, takut meledak katanya. Dia lebih suka menggangguku dengan menelpon, memintaku untuk pulang sebentar atau jika sedang sangat sibuk, aku akan menyuruh salah satu karyawan kami untuk datang ke rumah membantunya membeli gas sekaligus memasangkannya.   "Iya Pah, serius. Tuh, dah pulang tuh mama," tunjuk Ibas ke arah motor yang baru saja berhenti di garasi.   Memang t
Baca selengkapnya
PART 2
 Aku masih belum menghubungi Linda lagi setelah dia protes karena acara jalan-jalan kami kubatalkan. Dia pasti marah saat ini, tapi biarlah. Jauh lebih gampang meredakan amarah Linda daripada Metta.   Metta yang selama ini menjadi istri pertamaku yang manja cenderung lebih kolokan jika sedang marah. Kadang butuh waktu sampai berhari-hari untuk membuatnya kembali tersenyun lagi.   Namun Linda lain, selama hampir tahun menjadi istri keduaku, dia sepertinya lebih tau diri. Asalkan semua kebutuhannya dan Tiara kupenuhi dan sampai tidak telat, biasanya dia tidak pernah terlalu protes. Tetkadang jika marah, aku hanya cukup memberikannya sejumlah uang untuknya bersenang-senang, dan dia pun akan kembali ceria lagi.  Mengurus Linda memang segampang itu. Bahkan saat hari libur yang selalu kuputuskan untuk menjadi hariku dengan Metta dan Ibas, dia pun nampak tak pernah keberatan. Juga saat aku bilang padanya untuk jangan
Baca selengkapnya
PART 3
P.O.V Metta    Entah apakah aku ini adalah istri yang begitu menyedihkan atau keterlaluan jika ternyata aku baru mengetahui bahwa selama 3 tahun lebih aku telah diduakan oleh suami yang selama ini kukenal baik dan sangat setia.   Kaget? Tentu saja. Tapi apa aku harus langsung melabrak wanita kedua suamiku itu, sedangkan aku sendiri saja masih sangat bergantung hidup padanya?  Akhirnya aku memilih diam untuk sementara waktu, sambil memikirkan apa saja yang akan kulakukan untuk membuat semua orang yang mengkhianatiku itu menyesal.   Aku mengetahui pengkhianatan suamiku pertama kalinya saat siang itu tiba-tiba aku ingin sekali menemui mas Bimo di toko. Ada hal yang ingin kubicarakan segera dengannya mengenai masalah Ibas di sekolah.   Biasanya aku tak pernah mengganggunya dengan datang mendadak ke toko tanpa pemberitahuan. Tapi entahlah hari itu, mungkin memang sudah saatnya
Baca selengkapnya
PART 4
Sebagai istri, Metta sebenarnya tidak mengecewakan. Wanita yang kupacari 2 tahun sebelum akhirnya kunikahi itu berparas ayu dan juga cukup pandai merawat diri. Walaupun tetap saja, kecantikan Linda msh satu tingkat di atasnya.   Namun bukan hanya karena fisik yang  sebenarnya menjadi penyebab aku sampai menduakan Metta.   Berawal dari 4 tahun yang lalu, saat adik lelakiku satu-satunya meninggal karena kecelakaan dan meninggalkan seorang istri yang baru dinikahinya beberapa bulan sebelumnya. Itulah awal dari semua yang kualami ini. ... Dua bulan usai kepergian Seno, ibu memanggilku ke rumah. Dan di sana ternyata sudah berkumpul dua kakak perempuanku dan juga istri dari almarhum adikku.   Linda nampak sedang terisak saat aku datang. Sepertinya ke empat wanita itu memang sedang membicarakan hal yang serius.   "Linda ternyata sedang mengandung anak Seno,  Bim."
Baca selengkapnya
PART 5
Linda sepertinya benar-benar sangat marah kali ini. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya lagi hari ini lewat telepon, namun sebanyak itu pula dia menolak panggilanku.  Khawatir ngambeknya akan berlarut-larut, akhirnya kuputuskan untuk mengunjunginya lagi siang ini.   "Joko, Ira mana?" tanyaku pada salah satu karyawan senior di tokoku.   "Mbak Ira kan hari ini ijin, Pak," jawab si Joko.   "Oiya, ya," aku menepuk dahiku pelan. Aku lupa kalau hari ini karyawan paling seniorku itu minta ijin karena harus membawa ibunyaa mendadak ke rumah sakit.   Kuhela nafas sebentar sambil berpikir. Biasanya saat pergi, aku selalu menitipkan operasional toko ini pada Ira, karena dia yang paling paham dan bisa dipercaya. Aku bahkan tak pernah khawatir meninggalkan toko seharian penuh jika ada Ira. Semua akan berjalan lancar tanpa kendala di tangannya.   Jika Ira tidak
Baca selengkapnya
PART 6
P.O.V Metta    Sore itu entah kenapa aku begitu lelah. Biasanya saat-saat sedang seperti ini, dulu aku akan akan pergi ke rumah orang tuaku untuk sekedar melepaskan kepenatanku di sana.   Namun sejak bapak meninggal lima tahun yang lalu, kemudian disusul ibu 3 tahun setelahnya, praktis aku tak punya lagi sandaran untuk kelu kesahku. Aku yang anak tunggal ini juga tak terlalu banyak punya teman, apalagi setelah menjadi istri mas Bimo. Kehidupanku sepenuhnya kuhabiskan untuk mengabdi pada suami dan mengurus anak semata wayang kami, Ibas, yang kini telah duduk di kelas 5 SD.  Dipersunting mas Bimo adalah impianku sejak baru masuk kuliah, karena mas Bimo adalah laki-laki yang dulu membuatku jatuh hati pada pandangan pertama saat kami sama-sama memasuki bangku kuliah. Walaupun kemudian kami baru dekat dua tahun menjelang kami lulus, namun mas Bimo langsung melamarku usai acara wisuda kami.   Dari no
Baca selengkapnya
PART 7
 Hari minggu pagi kulihat Metta sudah bersiap akan pergi. Tak lupa dia juga sudah menyiapkan Ibas untuk diajaknya serta.   "Jadi pergi, Mah?" tanyaku basa basi. Padahal sebenarnya betapa inginnya aku mendengarnya membatalkan acaranya itu hingga aku bisa meredakan amarah Linda dengan mangajak jalan-jalan bersama Tiara hari ini.   "Jadi, Pah," jawabnya singkat tanpa menengok ke arahku.   "Eh tunggu, itu matamu kenapa, Mah?" Saat sekilas tadi memperhatikan seperti ada sedikit bengkak di mata Metta, aku pun bertanya dengan keheranan.   "Nggak apa-apa, Pah," sahutnya cepat seolah ingin menghindar dariku. Lalu dia pun segera melangkah sambil memanggil-manggil anak kami.  "Bas, ayok berangkat! Udah siap belum?" tanyanya.   "Udah, Mah."   Tak berapa lama terlihat Ibas keluar dari kamarnya dengan pakaian rapinya. &nb
Baca selengkapnya
PART 8
P.O.V Metta    Seperti yang disarankan Rima, hari ini aku mengunjungi rumah ibu mertuaku. Sengaja aku tak mengajak mas Bimo karena acaraku hari ini sebenarnya memang bukan ke rumah ibu, melainkan ingin membahas sesuatu dengan salah satu sahabatku yang seorang pengacara.   Saat sampai di rumah ibu, rupanya mbak Norma, mbak Nani dan anak-anaknya sedang berada di sana.  "Nggak sama Bimo, Met?" tanya mbak Norma menyambut kedatanganku.   "Enggak, Mbak," aku menggeleng, lalu menyalami mereka satu per satu dan bergabung di ruang tengah itu.  "Bimo kemana memangnya?" giliran mbak Nani yang bertanya.   "Mau ada acara sebentar tadi katanya. Nggak tau kemana, Mbak," bohongku. Nggak enak juga mengatakan kalau mas Bimo di rumah saja sementara aku di sini.  "Kamu bawa mobil sendiri, Met? Hebat kamu, sudah bisa nyetir?" Ibu yang kemudian berkomentar d
Baca selengkapnya
PART 9
"Bim, kamu bisa ke rumah ibu nggak sekarang?" ucap Mbak Norma ditelepon pagi itu saat aku baru saja sampai di toko.   "Ada apa, Mbak?" tanyaku keheranan. Perasaanku masih kalut dari kemarin karena kelakuan Linda yang sampai sekarang masih tetap tak bisa kuhubungi.   "Kamu sudah di toko apa masih di rumah?" tanya mbak Norma balik.   "Baru sampai toko, Mbak. Ada apa sih?" tanyaku sedikit kesal karena tak kunjung diberi jawaban.  "Ini penting, Bim. Soal Metta sama Linda," ucapannya terdengar sedikit panik. Aku mendesah pelan, meskipun sebenarnya aku tak tahu persoalan apa yang akan disampaikan oleh mbak Linda sebenarnya.   "Sebentar lagi deh, Mbak. Aku baru aja sampai di toko. Satu atau dua jam lagi aku ke situ," kataku kemudian.   Usai kututup telepon, kulihat salah satu karyawan seniorku baru saja datang dengan wajah kusutnya.   "
Baca selengkapnya
PART 10
Setelah dari rumah ibu, aku langsung meluncur menemui Linda. Hanya satu yang ada dalam pikiranku saat ini. Memberitahu Linda bahwa kami harus lebih berhati-hati setelah ini. Namun rupanya Linda masih menyimpan kekesalannya padaku, karena dia menyambutku dengan malas-malasan saat aku datang.   "Masih marah?" tanyaku.   "Menurut mas?" sahutnya tanpa menoleh sedikitpun padaku.   "Lin, jangan kayak anak kecil gitu dong. Masa' iya marah sama suami, nomernya pake diblokir segala?" sindirku membercandainya.   "Kenapa memangnya? Nyesel nikahin anak kecil? Aku kan memang masih kecil," ujarnya sewot.   "Udah dong, Lin. Nggak perlu diperpanjang masalah ini. Kita masih punya masalah yang lebih besar dibanding ngambek-ngambekan nggak jelas kayak gini."   "Ngambek nggak jelas, kata mas? Jadi menurut mas aku marahnya nggak serius? Cuma ngambek nggak guna? Gitu?"
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status