Ada tempat di pinggir sungai yang langsung menghidupkan kembali semua detail kecil — getaran perahu nelayan, bau lumpur setelah hujan, dan suara anak-anak mengejar capung di tepi. Aku membayangkan lokasi nyata itu adalah sebuah desa pesisir kecil atau kampung bantaran sungai di Jawa atau Sumatra yang masih mempertahankan ritme harian tradisional. Di sana ada jembatan kayu reyot tempat anak-anak meloncat ke air, warung kopi dengan meja kasar, dan lapangan tanah merah untuk bermain sepak bola sambil menunggu senja.
Detail-detail seperti bau pepaya matang, lantunan kambing di pagi hari, atau bunyi becak yang menepi saat hujan deras adalah petunjuk kuat. Jika harus menebak satu lokasi nyata, aku akan menyebut sebuah desa di delta sungai—mungkin di pesisir utara Jawa—di mana sawah bertemu tambak, dan kehidupan bergerak lambat namun penuh memori. Itu tempat yang terasa familiar bagi siapa pun yang tumbuh di pinggiran kota besar; kenangannya menempel seperti karat pada rantai sepeda masa kecil. Menyusuri jalan setapak di sana seperti membuka album foto lama, tiap sudut punya cerita sendiri.