Cerita Cinta Sang Janda Muda
"Aku berpikir puluhan bahkan mungkin ratusan kali. Andai aku memiliki kesempatan kedua, aku ingin membiarkanmu menjadi dirimu yang utuh. Aku ingin kau mengeluarkan amarahmu tanpa takut mengecewakanku. Aku ingin kau menunjukkan kesedihanmu, runtuh dan menangis di pundakku tanpa khawatir membebaniku. Aku ingin kau bahagia, tanpa harus menunggu kebahagiannku."
Airmata sialan ini tiba-tiba menetes perlahan membasahi pipiku. Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa di dengar padahal tidak mengatakan apapun?
Alex meraih tanganku, lalu meremasnya dengan lembut.
"Apakah boleh aku meminta kesempatan kedua? Aku tidak meminta hal besar, mari kita pelan-pelan saja."