Ketika Aku Memilih Dunia Gelap
Para tamu yang beberapa saat lalu berebut mengucapkan selamat kini menatapku dengan campuran rasa iba, rasa ingin tahu, dan ketertarikan yang nyaris kejam.
Lalu mataku tertahan pada sebuah meja di sudut ruangan. Seorang pria duduk di sana. Rambut gelapnya tersisir rapi ke belakang, sementara mata abu-abu yang dalam mengamati kekacauan ini dengan ketenangan yang mengusik. Ada aura kekuasaan yang melekat padanya. Begitu kuat hingga terasa bahkan saat dia hanya duduk diam. Tubuhnya yang menjulang hampir tak tertampung oleh setelan jas berpotongan sempurna, seolah pakaian itu sekadar mengikuti, bukan membentuk wibawanya.